Masa-masa

January 18, 2010

di masa ini saya mulai menemukan arah. menemukan mimpi. mencoba mengira-ngira apa takdir saya.

di masa inilah puncak dari usaha saya untuk sebuah mimpi yang akhirnya gagal terealisasi. dan di situlah saya mendapat pukulan pertama bahwa takdir yang saya kira ternyata salah.

di masa ini saya merasakan mendapatkan banyak pembelajaran. mengenai cinta, rasa sayang, rasa kepemilikan, serta keikhlasan.

tiba-tiba saja saya sudah berdiri lagi bersama alat yang bisa mengeraskan suara, berbicara kepada orang yang mana saya ada di posisi mereka setahun lalu.  berbicara padahal sendirinya kehilangan arah.

namun saya senang bisa berada di antara mereka :)

Mengapa?

January 1, 2010

Mengapa sampai detik ini perjuangan saya masih kurang keras?

Mengapa sampai detik ini saya masih terjebak dalam penyesalan?

Mengapa sampai detik ini saya masih suka mengeluh?

Mengapa sampai saat ini saya masih belum menghargai waktu?

Mengapa sampai saat ini saya masih mencari kebahagiaan dari luar diri?

Mengapa sampai saat ini masih ada kata “tidak bisa” dan “tidak mungkin” di kamus saya?

Mengapa sampai saat ini saya masih bermimpi dan belum bangun untuk mewujudkannya, menukar pengorbanan dengan mimpi yang saya inginkan?

dan terakhir

Mengapa saya belum menguasai ilmu ikhlas?

Pejalan dan Perjalanannya

December 16, 2009

Ini malam. Seperti biasanya malam membawa segenap kesedihan dan perenungan. Peratapan akan jalan yang sudah ditempuh dan penyesalan atas kesalahan-kesalahan pun terjadi. Pejalan masih berjalan di tengah malam. Pejalan mencoba memahami teka-teki hati atas pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban beserta hal-hal yang tak pernah terselesaikan.

Pejalan tersadar, betapa seringnya ia melupakan petuah yang diberikan oleh malaikatnya. Pejalan hampa. Dirinya tak mampu memaknai kata demi kata yang diucapkan ibundanya. Ia hanya bisa berkata “iya”, “iya”, dan “iya. Pejalan sudah memiliki peta, namun hingga kini ia masih tersesat karena tak mau atau tak serius menggunakan petanya.

Pejalan dan perjalannya yang masih jauh dari ujung. Kompas hatinya terombang-ambing karena hal-hal yang sebenarnya tidak penting untuk dapat membuatnya terombang-ambing. Sementara jam pasir yang ada masih terbalik. Memberikan isyarat bahwa sisa waktu terus berkurang tanpa dapat bertambah. Namun pejalan masih di sini. Belum beranjak dari sifat-sifat buruk yang menempel pada dirinya. Pejalan masih di sini, terperangkap dalam angan, penyesalan, dan keluhan.

Redupnya lilin tak berarti redupnya semangat. Paradigma menjadi dasar awal untuk menggerakkan roda-roda hidup. Begitulah teorinya. Namun praktek sangat jauh dari teori. Hal ini terjadi karena teori diciptakan dalam sudut pandang aman. Sudut pandang yang terlepas dari variabel-variabel yang sangat sulit dikendalikan. Mungkin ini sebabnya perjalanan ini disebut peperangan terbesar. Musuh tak ada di depan mata. Musuh ada dalam diri sendiri.

Salah satu musuh itu adalah rasa cinta. Kecintaan kepada hal-hal lain selain tujuan adalah penghalang dalam perjalanan ini. Entah apakah rasa itu merupakan penolong atau penghalang, di ujung jalan baru kita temu jawabnya.

Bertemu pejalan lain terkadang mengasyikkan. Berbagi cerita dan pengalaman menjadi hal yang mengasyikkan. Berbagi pengetahuan demi melanjutkan perjalanan. Dan terkadang ada pejalan lain yang sepertinya menarik. Menarik bagi pejalan untuk berjalan bersamanya. Dan ketika pejalan lain itu enggan berjalan bersama, pejalan tak tahu harus berbuat apa.

Mungkin lebih baik pejalan beristirahat sejenak. Membenahi kompas hatinya, menata kembali perbekalannya, serta mempraktekkan kiat-kiat yang telah diperolehnya. Selagi pasir yang ada di bagian atas belum turun seluruhnya ke bagian bawah. Selagi Sang Cinta masih memberikan kasihnya.

Gadis ..

December 11, 2009

Engkau wanita tercantikku yang pernah ku temukan

Wajahmu mengalihkan duniaku

Kata-kata seperti tidak pernah cukup. Semua kata sepertinya sudah terpakai semua namun tidak cukup. Tidak akan cukup. Mungkin berlebihan. Tapi kenyataannya kau beri warna pada hidupku. Sehingga bisa kukembangkan lagi senyumku ini. Ada yang bilang rusuk yang hilang itu telah menjadi seseorang, yang tak pernah melalaikan tugasnya untuk menjaga hati. Terima kasih karena kau masih ingat tugas-tugasmu.

Untuk engkau yang pernah mendengar bagian dari lirik ini secara langsung pada bulan-bulan lalu

Analisis Bioritmik

December 10, 2009

Analisis bioritmik saya.

Mungkin ini yang menyebabkan saya lemah fisik dan emosi beberapa hari ini.

Goblok

December 10, 2009

Daun berguguran dan hidup tetap berjalan. Masalah telah mendewasakan manusia. Pilihan-pilihan selalu ada. Tak jarang, di antara hitam dan putih terdapat abu-abu.

Manusia adalah pemimpi. Manusia bermimpi untuk mengubah dunia. Tahun demi tahun berlalu. Manusia tak mampu mengubah dunia. Ia memilih untuk mengubah negaranya saja. Tahun demi tahun berlalu. Manusia tak mampu mengubah negaranya. Ia memilih untuk mengubah kotanya saja. Tahun demi tahun berlalu. Manusia tak mampu mengubah kotanya. Ia memilih untuk mengubah rumahnya saja. Tahun demi tahun berlalu. Manusia bahkan tak mampu mengubah rumahnya. Ia pun memilih untuk mengubah dirinya sendiri. Tahun demi tahun berlalu. Manusia berhasil mengubah dirinya sendiri. Kini manusia kembali bermimpi, “Seandainya aku punya mesin waktu, aku akan kembali ke awal perjalananku dan akan mulai mengubah diriku sendiri, agar dapat berubah rumahku, kotaku, negaraku, dan juga duniaku.”

Beruntunglah ada mesin waktu. Sebuah mesin yang mampu membuatnya terus berputar tanpa bisa berputar balik. Beruntunglah ada mesin waktu yang demikian sehingga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah manusia di atas.

Goblok saya kalau mau merubah sistem, memperbaikinya tanpa mau mengubah diri sendiri.
Dan saya tidak ingin jadi orang goblok!
Saya boleh lemah, tapi saya tidak boleh goblok!
Saya boleh lemah, tapi bersama Tuhan saya akan kuat!

Sebuah Percakapan

December 9, 2009

xxxxxxxxxx1x: wujudkan mimpi yg kau punya
d_ril_tin_kr: gak ada xxx*nama orangnya*
d_ril_tin_kr: udah abis
xxxxxxxxxx1x: menurutmu apa itu mimpi?
xxxxxxxxxx1x: aku belum pernah menemukan org yg punya passion akan mimpinya
xxxxxxxxxx1x: kecuali
xxxxxxxxxx1x: saat aku melihat cakahim yg pertama mengambil form
xxxxxxxxxx1x: dy g peduli apa kata org
xxxxxxxxxx1x: dy struggle dgn mimpinya
xxxxxxxxxx1x: sayang dy udah g ada skrg

mungkin orang itu memang sudah tidak ada lagi

Kisah ini terjadi dua hari yang lalu, hari jumat bertepatan dengan Iedul Adha. Hari itu dimulai dengan sebuah (mungkin) kesialan. Di saat sholat berjamaah akan dimulai, saya sakit perut. Memang beberapa hari ini saya mengalami masalah pencernaan, sebab yang saya makan memang tidak jauh-jauh dari mie goreng, roti bakar coklat, siomay, dan susu (mendadak teringat kasus saudara Lestian dengan susu Rizalbro-nya). Dan sangat menyakitkan ketika saya sudah selesai membuang air, lalu saya keluar dari pintu rumah kos, dan saya mendapati bahwa sholat Iedul Adha telah selesai. Di depan jalan cisitu lama saya tertegun menyaksikan jamaah-jamaah sholat yang memandangi saya dengan ekspresi aneh, seolah ingin memberi tahu bahwa “Sholatnya udah beres mas… -_-”". Yah, sangat disesalkan memang.

Cukup sampai di sini cerita kali ini. Semoga teman-teman bisa mengambil hikmah atas apa yang terjadi pada saya hari ini, yaitu makanlah makanan yang halal lagi baik.

Bukan! Read the rest of this entry »

Cintahim

October 28, 2009

“Rumah ini akan tetap menjadi rumahku. Setiap ruangnya adalah kamarku. Setiap orang di sini adalah keluargaku. Setiap detiknya adalah tempat belajarku. Rumah ini adalah jalan menuju Tuhanku.”

Malam ini, kembali saya terduduk di sebuah tempat favorit saya. Teringat setahun lalu, ketika saya pertama kali diterima untuk menjadi bagian dari rumah ini. Entah mengapa rasanya sulit menuliskankata-kata di sini. Begitu banyak kenangan yang telah diraih selama setahun. Betapa saya sangat terikat dengan rumah ini. Betapa saya mencintai rumah ini, dengan segala sifat penghuninya, dengan segala kekurangan dan ketidaknyamanannya, dengan apa adanya. Abstrak dan begitu egosentrik. Saya terikat dengan benda tidak konkret.

Menginap di rumah ini adalah sebuah pengalaman yang sangat saya nantikan. Di awal masuknya saya ke rumah ini, Tuhan memberikan saya kesempatan untuk menjaga rumah ini. Rumah ini menjadi saksi terlelapnya saya sementara ada ujian dan tugas yang harus diselesaikan esok hari. Rumah ini menjadi saksi tawa dan canda saya dengan kakak-kakak saya. Rumah ini menjadi saksi atas pembelajaran yang saya dapati setahun ini. Rumah ini menjadi saksi dipertemukannya saya dengan orang-orang hebat. Rumah ini begitu berarti.

Saya suka tinggal di sini, dan saya tak bisa berpaling dari sini. Rumah ini dan keluarga di sini, saya menyesal tidak dapat berkorban dengan maksimal untuk mereka. Saya menyesal tidak dapat menjaga kebersihan rumah ini. Saya menyesal karena tidak dapat hadir di rumah ini setiap saat. Saya menyesal karena saya tidak berhasil mengangkat nama rumah ini.

Rumah ini. Semoga tetap menjadi rumahku.

Nasib Transformasi

October 26, 2009

bagaimanakah nasib transformasi yang ditulis di sini 14 Agustus 2009?

sedangkan sekarang telah sampai pada 26 Oktober 2009?

Ternyata

August 14, 2009

Ternyata saya terlalu lunak pada diri sendiri

Ternyata saya belum siap berkorban demi meraih visi

Ternyata selama ini saya hanya menjadi tong kosong yang berbunyi nyaring

Ternyata selama ini..

Dan

Hanya ada satu kata..

TRANSFORMASI!!!

Setelah membaca beberapa buku. Berpikir kembali, apa itu sukses? Benarkah sukses tersebut pantas diperjuangkan?