Catatan yang Tak Pernah Selesai
Bumi Medika Ganesha, 28 Maret 2012 2:33
Tak terasa, 7 April 2011 telah lama berlalu. Hari itu begitu berkesan bagi saya. Di hati itu, seorang PJS Ketua Kongres mengirimkan message facebook yang berisi surat keputusan kongres bahwa saya telah resmi menjabat sebagai PJS MWA Wakil Mahasiswa Periode 2011.
Tanpa terasa, waktu berjalan begitu cepat membawa banyak perubahan yang tidak terduga sebelumnya. Mulai dari saya yang berencana lulus Oktober 2011, MWA yang direncanakan akan berakhir di bulan September 2011, serta wacana mengenai akan disahkannya RUU PT di tahun tersebut. Setelah di bulan Januari 2012 lalu saya lulus sidang tugas akhir, kini status saya adalah calon wisudawan April 2012. Sejujurnya, saya sudah membayangkan dari bulan Februari 2012, bahwa perubahan ini terlalu cepat dan tak terduga sehingga apa yang saya takutkan kini terjadi. Yakni, MWA masih ada dan belum ada yang akan menggantikan saya meskipun saya sudah akan wisuda.
Tak apa, ini merupakan bagian dari dinamika kemahasiswaan yang harus dihadapi. Dan, melalui tulisan ini saya hendak berbagi tentang sedikit pembelajaran, dan menceritakan sedikit cerita seru selama saya menjabat menjadi PJS MWA Wakil Mahasiswa 2011.
Pemira yang Gagal
Berbeda dengan MWA Wakil Mahasiswa beberapa tahun ke belakang, saya tidak mengikuti rangkaian pemira KM ITB. Pemira KM ITB di kala itu telah gagal memilih MWA Wakil Mahasiswa yang baru. Tidak seperti tahun sebelumnya, kali ini Presiden tak lagi diduetkan dengan MWA Wakil Mahasiswa. Entahlah, ketika itu kalau saya tidak salah dengar, alasannya adalah ranah kerja keduanya berbeda, dan juga karena sistem tersebut akan menghalangi calon presiden atau calon MWA yang tidak punya pasangan.
Alasan pertama mungkin benar. Ranah kerja keduanya berbeda, MWA WM merupakan representasi dari mahasiswa ITB di MWA sedangkan Presiden merupakan pimpinan eksekutif KM ITB. Keduanya memang berbeda, namun sangat berkaitan erat. Segala kebijakan yang dibuat di MWA akan memberikan pengaruh bagi KM ITB. Sedangkan yang memiliki wewenang untuk memimpiin dan mengkoordinasikan seluruh lembaga di KM ITB adalah kabinet.
Jika teman-teman mahasiswa mengharapkan ada dampak yang signifikan dari adanya mahasiswa di MWA, maka seharusnya MWA WM dan kabinet haruslah memiliki hubungan yang sangat erat. Harus ada konsistensi dari KM ITB dalam memperjuangkan aspirasi mahasiswa. Tidak heran, sebelum ini Presiden dan MWA Wakil Mahasiswa sempat dijabat oleh orang yang sama. Namun, ketika seseorang merangkap dua jabatan ini, ia haruslah memiliki skill manajemen yang baik dan bisa menempatkan diri dengan baik.
Kantin Salman 3:52
Sedangkan alasan kedua, bisa jadi relevan bisa jadi tidak. Apabila pemisahan keduanya justru mempersulit organisasi dalam mencapai tujuannya maka saya rasa alasan itu tidak relevan. Namun, apabila memang setelah pemisahan tidak terjadi permasalahan, seharusnya pemisahan tersebut tidak perlu dilakukan.
Faktanya adalah pemilu MWA WM mengalami kegagalan. Sedangkan menurut isu terkini kala itu, MWA akan segera berakhir pada September 2011. Oleh karena itu, akhirnya kongres memutuskan untuk menunjuk saya sebagai PJS MWA Wakil Mahasiswa periode 2011.
MWA Belajaran
Dari awal
Keresahan
Catatan ini tak pernah selesai. Sama seperti petualangan saya yang belum selesai. Sama halnya dengan saya yang masih penasaran tentang banyak hal, tentang kemahasiswaan, tentang ITB, tentang Pendidikan, tentang Hukum, tentang Republik Indonesia. Namun, batas waktunya sudah tiba, selesai atau tidak selesai, catatan itu harus saya kumpulkan. Saya harus memulai sekolah baru, dengan kelas yang baru, pelajaran yang baru. Namun spirit dan roh ke-ITB-an tak boleh padam. Semua pelajaran dan kebijaksanaan yang dapat di masa lalu akan terus saya bawa dalam diri saya.
Semoga kelak catatan ini bisa selesai..
Beberapa Keping Mimpi yang Tercecer di Kampus
Di tahun ketiga saya, entah angin mana yang membawa saya, pada akhirnya saya bersama teman-teman yang saya kumpulkan ada pada sebuah keluarga baru. Di keluarga baru itu, kami berbagi gagasan tentang mahasiswa ITB yang semakin kreatif, imajinatif dan visioner. Yang kami bicarakan di situ bukan lagi banyak ribut tentang hal yang selama ini sering diperdebatkan, seperti masalah diksi, esensi, dan tujuan. Yang banyak kami bicarakan di sana adalah hal-hal gila. Ide gila.
Satu hal yang hingga kini saya imani dan yakini. Gagasan dan mimpi adalah awal dari segalanya. Saya sendiri tak pernah menduga bahwa gagasan-gagasan yang waktu itu saya temui, begitu mempengaruhi hidup saya. Sampai akhirnya ketika lulus, saya menyadari bahwa banyak di antara pencapaian penting saya adalah berkat pertemuan saya dengan ide dari mahasiswa-mahasiswa yang telah lebih dahulu meninggalkan kampus ini.
Ketika pertama kali saya didaulat menjadi Presiden I3M, saya mendapatkan warisan berupa ide-ide proyek yang direkomendasikan untuk dilanjutkan. Di antaranya adalah proyek “Multitouch-Screen”, “CampusChannel” dan “Inspire”. Ya, tiga proyek itu adalah proyek “lungsuran” yang sudah antah berantah keadaannya. Anggota proyek yang sudah berkelana entah kemana, atau pimpinan proyeknya susah dihubungi, dan kami saat itu benar-benar kesulitan untuk mem-follow up proyek lungsuran tersebut.

Tapi, ternyata memang benar, mimpi adalah kunci untuk menaklukkan dunia. Mimpi memberikan energi yang lebih bagi seorang manusia. Bagi seseorang yang bisa memiliki pandangan ke depan, mimpi bukanlah omong kosong. Mimpi adalah sebuah gagasan dengan tahapan pencapaian yang jelas. Nyata. Mimpi adalah masa depan yang bisa diprediksi. Dan masa depan ummat manusia, ditentukan oleh mimpi-mimpi yang ada saat ini. Peradaban ditentukan oleh apa yang sedang dikerjakan para ilmuwan, insinyur, sosiolog, pengusaha, pemerintah, dan seluruh lapisan masyarakat pada tempatnya masing-masing. (lagi…)
Catatan PJS MWA – 1 Februari 2012 (1)
Perjalanan hari ini dimulai dengan mengantarkan sepupu saya yang sedang berkunjung ke Bandung. Dia bersama kawan-kawan dari HMTI Universitas Brawijaya kebetulan mampir ke Bandung setelah ekskursi. Saya mendapatkan banyak cerita tentang kemahasiswaan terpusat di UB yang nampaknya mendapatkan support yang cukup banyak untuk kegiatan-kegiatannya. Bahkan untuk acara sekelas pemilu raya saja rektoratnya pun menyumbang dana. Selain itu, untuk beasiswa, kemahasiswaan terpusatnya memiliki kekuatan untuk menentukan siapa yang berhak mendapatkan beasiswa. Ya, saya rasa ada beberapa poin dari kemahasiswaan UB yang tidak dimiliki oleh kemahasiswaan ITB.
Setelah selesai mengantarkan sepupu saya dan kawannya ke Tokema dan berkunjung ke MTI ITB untuk menjalin network, saya mengantarkan mereka menuju angkot Cisitu, sebab mereka harus kembali ke Cihampelas untuk bertemu dengan kawan-kawannya. Saya yang kebetulan sudah ada janji untuk melihat RKA untuk kemahasiswaan di Direktorat Perencanaan pun langsung meluncur ke Gedung Annex dengan mencegat angkot Caheum-Ledeng.
Baru berjalan sebentar, angkot sudah harus berhenti, harus ngetem untuk mencari penumpang di gerbang belakang ITB. Dan, tanpa dinyana, saya bertemu dengan Inta dari Kominfo Kabinet.
“Mau ke mana ta?”
“Mau ke Ganyang tapi gue males jalan. Hehe”
“Gimana kabar Kominfo”
“Sekarang lagi nyiapin biar bisa nendang di akhir”
“Yazeek, nendang”
“Iya kan. Kan bulan-bulan awal adaptasi dulu, terus ya di akhir harus ada sesuatu yang nendangnya.”
Wajar. itulah realitasnya. Semua butuh waktu untuk adaptasi dan belajar sebelum akhirnya bisa melakukan sesuatu. Dan untuk organisasi kemahasiswaan timbul satu masalah. Permasalahannya adalah bagaimana untuk mempersingkat waktu tersebut. Sebab, waktu yang dimiliki dalam satu kepengurusan kemahasiswaan hanyalah satu tahun untuk setiap periodenya. Yang menjadi perhatian di sini adalah bagaimana agar transfer ilmu yang baik serta kematangan pribadi dari pengurus suatu organisasi dapat membantu mempercepat masa adaptasi sehingga pengurus tersebut akhirnya ahli dan dapat membuat sebuah gebrakan. Dan ini pula yang membuat kebijakan rektorat mengenai rotasi pegawai menjadi aneh. Setiap kali di-rotasi tentu akan ada waktu yang dibutuhkan untuk beradaptasi sebelum pegawai dapat perform dengan bagus.
Mengapa Amanah itu Diberikan kepada Saya?
Pertanyaan di atas diungkapkan pada khotbah jumat pagi tadi. Pernahkah Anda mempertanyakan, mengapa Anda mendapatkan peranan tertentu sebagai seorang manusia? Misalnya, mengapa dari jutaan pemuda, Anda terpilih menjadi mahasiswa? Mengapa Anda bisa terpilih menjadi bagian dari 18% yang dapat mengenyam perguruan tinggi?
Lalu ketika Anda dipercaya menjadi ketua tugas kelompok, pernahkah Anda bertanya, mengapa Anda? Ketika dipercaya memegang jabatan pada suatu organisasi, pernahkah Anda mempertanyakan satu pertanyaan itu. Mengapa amanah itu diberikan kepada saya?
Sampai detik ini saya masih teringat masa-masa ketika saya akhirnya menjadi PJS MWA Wakil Mahasiswa. Terkadang saya tidak bisa menjawab pertanyaan sesimpel itu, “Fik, kenapa sih lo mau jadi MWA? Kenapa harus elo?”
Tembok Alasan
Kalau boleh menjawab dengan akal, tentunya saya bisa menjawab dengan lancar. Ya, kebetulan dulu saya sempat berpikir bisa melakukan sesuatu sebagai seorang MWA Wakil Mahasiswa. Saya yang sebelumnya menjabat sebagai Presiden Inkubator Ide dan Inovasi Mahasiswa melihat bahwa banyak hal yang bisa disinergikan antara mahasiswa ITB dengan rektorat, alumni, dan stakeholder. Banyak sekali potensi yang ada di kemahasiswaan, dan untuk bisa melahirkan solusi dari potensi tersebut, mahasiswa tidak bisa sendiri. Dari pemikiran tersebut, saya memang sempat memiliki intensi ke arah sini.
Namun, seiring dengan berjalannya waktu, saya merasa bahwa saya bukanlah sosok pemimpin yang cukup baik. Dari segi kematangan pribadi dan integritas, saya masih sangat kurang. Setengah tahun keberjalanan kepengurusan saya di I3M, saya merasa bahwa itu adalah akhir kontribusi struktural saya di KM ITB . Saya merasa ironi, di satu sisi saya berbicara inovasi, tetapi di sisi lain saya sendiri belum merasa sudah bisa membuat inovasi. Saya pun bekerja keras untuk itu, saya memilih untuk bisa lebih mendalami disiplin ilmu saya, Teknik Elektro. Selain itu, selama dipercaya memegang jabatan struktural di berbagai organisasi, saya merasa banyak kekurangan. Skill komunikasi dan kepemimpinan saya masih begitu kurang, belum lagi pribadi saya yang masih belum matang. Atas dasar inilah, saya mulai melupakan intensi untuk menjadi MWA Wakil Mahasiswa. (lagi…)
Seburuk itu kah Pengembangan Karakter Mahasiswa ITB? (2)
Kebetulan tadi sore saya habis mendatangi pertemuan informal dengan MWA ITB. Dan di sana terjadi beberapa diskusi seputar masalah pengembangan karakter mahasiswa ITB. Ketika mencoba brainstorming kondisi existing dari pembangunan karakter mahasiswa ITB, ada beberapa hal yang menjadi sorotan:
Mau jadi apa sih?
Jika Anda mahasiswa ITB, tahukah Anda, sebenarnya apa nilai yang diharapkan ada pada diri Anda setelah lulus dari ITB? Tahukah Anda, ITB ini ingin membentuk sarjana yang seperti apa? Jika Anda tidak tahu, lalu sedang apa Anda di ITB? Apakah Anda menjalani proses pendidikan?
Atau anda hanyalah robot yang terdaftar sebagai mahasiswa, hadir di kelas, mendapatkan nilai, lalu lulus, dan tinggal menunggu pekerjaan apa yang membutuhkan Anda, tanpa tahu sebenarnya apa potensi Anda dan Anda ingin menjadi siapa? (lagi…)
Seburuk itu kah Pengembangan Karakter Mahasiswa ITB? (1)
Ir. Sukarno, idjazah ini dapat robek dan hantjur mendjadi abu disatu saat. Ia tidak kekal. Ingatlah, bahwa satu-satunja kekuatan jang bisa hidup terus dan kekal adalah karakter dari seseorang. Ia akan tetap hidup dalam hari rakjat, sekalipun sudah mati.” -Ir. G. Klopper M.E.
Baru-baru ini sebuah artikel yang berkomentar tentang karakter lulusan ITB sedang menjadi isu yang cukup hangat, setidaknya di kalangan civitas akademika ITB. Mahasiswa, alumni, hingga dosen pun memberikan tanggapan beragam. Di sini saya mencoba menggali sedikit tentang pengembangan karakter mahasiswa ITB dari sudut pandang seorang mahasiswa ITB yang tengah menempuh pendidikan di ITB dan berkesempatan menjadi anggota MWA ITB.
Penting kah? Benarkah ITB Berperan?
Pengembangan karakter mahasiswa selalu menjadi isu penting. Hampir semua pihak secara lisan menyatakan bahwa pengembangan karakter adalah hal terpenting. Rekan-rekan saya sesama mahasiswa menganggap pengembangan karakter itu penting, kata mereka, “untuk itulah ada organisasi kemahasiswaan“. Dosen-dosen pun mengatakan pengembangan karakter itu penting, katanya, “untuk itulah kami berikan tugas yang harus dikerjakan secara berkelompok“. Rektor dan jajarannya juga berkata bahwa pengembangan karakter itu penting, katanya, “untuk itulah kami adakan seminar motivasi.” Dan di MWA ITB sendiri saya sering mendengar kalimat seperti ini, “Kita jangan memikirkan pembangunan infrastruktur terus bu, pengembangan karakter itu harus kita pikirkan. Itu yang terpenting!“
Ya. Hampir semua stakeholder ITB mengatakan bahwa pengembangan karakter mahasiswa ITB itu penting. Bahkan pada naskah akademik ART ITB BHMN dituliskan bahwa salah satu hakikat dan peran ITB adalah sebagai berikut:
ITB selain melaksanakan fungsi pendidikan tinggi untuk menghasilkan sumber daya mahasiswa bermutu calon pemimpin bangsa dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, serta ilmu sosial dan kemanusiaan, harus mampu melaksanakan moral force, ikut memberikan kritik sosial dan menjadi bagian integral dan organik dari lingkungan fisik dan sosial. Pengelolaan baru ITB harus memungkinkan ITB mengenal dinamika dan permasalahan yang dihadapi masyarakat, sehingga ITB dapat ikut memandu perubahan budaya bangsa, dan memperkuat kemampuan masyaakat untuk perubahan yang menerus (continuous self renewal).
Masih belum percaya bahwa ITB turut berkewajiban mengembangkan karakter mahasiswa ITB? Mari kita lihat pasal 18 dari executive summary RIP ITB:
Kampus ITB adalah sebuah lingkungan yang merupakan tempat terjadinya interaksi kreatif antara peneliti, mahasiswa dan dunia luar kampus (best academic talents). Kampus yang mempunyai lanskap beserta bangunan-bangunannya yang merefleksikan idealism institusi dan dampak terhadap proses pendidikan. Dalam perjalanannya menuju cita-cita ITB World Class University, ITB perlu mewujudkan kampus yang inspiring yang mempunyai kemampuan aktif ‘membangun karakter’ bagi siapapun yang ada di dalamnya. Kampus yang dapat menjadi ‘arena belajar dan berkarya’, yang mampu mengajarkan kepada setiap insan yang ada di dalamnya tentang nilai-nilai kampus yang dicita-citakan oleh visi ITB, yaitu terwujudnya bangsa Indonesia yang cerdas, berdaya juang sangat tinggi dan berbudaya luhur bangsa Indonesia.
Oke, marilah kita asumsikan bahwa ITB seharusnya memiliki andil yang cukup besar dalam pembangunan karakter mahasiswanya, apalagi hal ini diungkapkan pada dasar hukum dan rencana pengembangan ITB.

IQ Tinggi, EQ Rendah
Percayakah teman-teman bahwa kata-kata di atas adalah salah satu yang harus direvisi dari laporan eksekutif ITB 2010? Pada rapat pleno pertama yang saya datangi hal ini dibahas. Fakta ilmiah menunjukkan bahwa ITB menerima masukan berupa pedang yang sangat tajam, yakni manusia Indonesia dengan IQ tinggi, kecerdasan di atas rata-rata. Namun, fakta menggembirakan itu juga dibarengi dengan satu fakta lain yakni, fakta bahwa rata-rata mahasiswa baru memiliki EQ yang rendah. (lagi…)
Merekam Perjalanan
Januari 2012.
Memasuki tahun baru, setiap orang menemukan momen untuk melakukan introspeksi atas perjalanan hidup selama setahun belakangan. Tahun baru juga menjadi momen untuk merencanakan apa saja yang akan dilakukan setahun ke depan. Bagi saya sendiri tahun 2011 adalah tahun yang istimewa. Sangat banyak pembelajaran hidup yang saya dapatkan dari perjalanan hidup di tahun 2011. Salah satu bab krusial dari perjalanan hidup saya setahun yang lalu adalah menjadi penanggung jawab sementara Majelis Wali Amanat Wakil Mahasiswa ITB (PJS MWA WM).
Menjadi PJS MWA WM adalah salah satu pengalaman terpenting yang saya dapatkan. Wawasan dan pemikiran saya banyak terbuka setelah memegang amanah ini. Hal ini menyebabkan munculnya keinginan untuk bisa mengumpulkan pembelajaran yang saya peroleh, lalu membaginya kepada banyak orang, terutama mahasiswa ITB. Sejak awal menjabat, saya telah berencana untuk membuat kumpulan catatan perjalanan saya selama menjadi PJS MWA WM, apalagi sepertinya saya akan menjadi penutup sejarah MWA WM di kampus ini.
Sayangnya, hingga tahun 2011 berakhir, saya belum bisa menjalankan niat tersebut. Entahlah, mungkin saya memang terlalu sibuk mengurusi hal lain atau memang tekad saya kurang kuat untuk membuat catatan perjalanan tersebut. Yang jelas, saya telah lama menunda rencana ini dengan berpikir, “Nanti aja deh bikinnya, kalau saya udah mau turun.”

Kini, tahun masehi telah memasuki hitungan ke 2012. Saya pun kembali tersadar bahwa tidak baik menunda-nunda sesuatu. Sama seperti tugas akhir, jika kita tidak memulai dan terus menunda, maka dia tidak akan pernah selesai. Oleh karena itu saya memutuskan untuk memulai membuat kumpulan catatan perjalanan selama saya menjadi MWA. Tulisan ini yang berjudul “Merekam Perjalanan” akan menjadi tulisan pembuka dari kumpulan catatan ini. (lagi…)
Filosofi#3 Inovasi
“The term innovation derives from the Latin innovatio, the noun of action from innovare. The Etymology Dictionary further explains innovare as dating back to 1540 and stemming from the Latin innovatus, pp. of innovare “to renew or change,” from in- “into” + novus “new”.”
Sebenarnya apa sih inovasi itu? Pertanyaan ini adalah sebuah pertanyaan yang sering muncul dalam diri saya ketika itu. Saya pun melakukan sedikit pencarian melalui internet dengan membaca buku-buku, maupun video-video. Setelah setahun menjalankan roda kepengurusan I3M, saya akhirnya dapat menyimpulkan beberapa hal. Tulisan ini berasal dari pemikiran subjektif saya, saya tidak akan menyertakan referensi ilmiah dari statemen yang saya tulis

who invented the first wheel? img source = http://www.johnlund.com/images/CSM002829.jpg
Inovasi pada dasarnya adalah suatu pembaharuan. Pembaharuan ini dilakukan melalui penerapan dari ide atau gagasan yang baru. Ya, inovasi itu tidak melulu tentang invensi, tetapi juga tentang penambahan nilai tambah. Jika invensi adalah manifestasi ide dalam bentuk proses, alat, atau komposisi yang baru, inovasi lebih berbicara tentang perubahan yang terjadi dalam suatu sistem. Yang perlu digarisbawahi di sini, inovasi adalah implementasi dari ide-ide tersebut. Artinya, ide tersebut harus direalisasikan dan berhasil menyentuh subjek-subjek yang menjadi target inovasi tersebut. Kalau misalnya kita berbicara tentang inovasi sosial, seharusnya ide yang ada mampu menyelesaikan permasalahan di masyarakat atau memberikan nilai tambah dalam cara hidup masyarakat. Kalau misalnya kita berbicara tentang inovasi produk, tentu saja produknya harus bisa dikomersialisasi dan ada penggunanya.
Ajar
Percayakah Anda bahwa kata “ajar” dan “inspirasi” punya hubungan yang sangat dekat?
Ya, saya saat ini seharusnya saya sedang mengerjakan tugas akhir, mempelajari cara membuat aplikasi untuk multi-touch table top. Namun karena sedang penat, saya refreshing sejenak, salah satunya dengan menulis blog. Tulisan kali ini akan mengupas tentang inspirasi yang saya peroleh hari ini, dan inspirasi itu berkaitan erat dengan kata “ajar”.
Cerita dimulai ketika saya menunggu seorang teman di daerah Tubagus Ismail. Saya memarkir motor saya di pinggir jalan. Tiba-tiba seorang anak perempuan mendatangi saya. Anak itu bertanya, “Kak Fikri kan?”. Saya sangat bingung, saking bingungnya, saya jawab”Iya, siapa ya?”. Ini adalah kelemahan terbesar saya. Dengan muka sangat tidak ramah, nada bicara yang songong, ditambah kebingungan, saya sukses menjadi orang yang sangat arogan.
“Saya yang dulu diajar sama Kak Fikri di ITB,” anak perempuan itu menjawab.
“Hah, ngajar? kapan ya?” saya menjawab dengan kebingungan.
“Iya yang dulu ngajar di ITB, yang main itu loh”
“Hmm, bentar kapan ya?” yang ada di pikiran saya adalah, saya tidak pernah mengajar, yang pernah saya lakukan adalah memberikan training. Oh, iya, mungkin anak ini waktu SSDK kebagian saya sebagai co-trainernya. Tapi, kalau dilihat-lihat, dia masih kecil, nggak mungkin anak kuliahan. Hmm, saya juga tidak pernah mengajar sebagai guru les. Sampai akhirnya, saya tersadar dengan frasa terakhir yang dilontarkan anak perempuan itu. Ya, saya pernah ikut meramaikan program adik asuh dari HME ITB, tapi saya hanya mau kebagian ice breaking. Saya bukan orang yang sangat serius sehingga saya hanya mengajarkan mereka bermain senam otak dan beradu menyanyikan lagu “Burung Kakak Tua” dan “Topi Saya Bundar”. Dialog di pikiran saya ini berlangsung sangat singkat, hingga akhirnya saya bisa mengatakan, “Oh iya! Iya iya! Wah, tapi kan saya udah jarang dateng.. “

Saya mengisi ice breaking dengan brain gym. Waktu itu kegiatan adik asuh ini bertempat di kos Nursita Setiawati (EP 09). Makasih tempatnya ya Sita, Makasih juga buat Pengmas HME, dan Makasih Syakur yang udah ngajak saya dateng
Yang membuat saya kaget adalah tiba-tiba anak perempuan itu memperlakukan saya seperti guru. Apa yang dilakukannya saat itu membuat saya teringat masa SD. Di masa SD, yang namanya guru itu selalu dihormati dan hal itu dibuktikan dengan sebuah tindakan nyata yang sangat simpel, salim. Masih segar di ingatan saya ketika saya selalu menyalimi guru-guru saya tiap setelah berbaris masuk kelas pada masa SD. Dan di luar itu, pasti saya selalu menyalami guru yang bertemu di mana pun. Masih sangat segar di ingatan saya momen dimana mama atau eyang putri atau bude-bude saya berkata, “Salim dong sama bu guru,” ketika sedang bertemu bu guru, baik itu di rumah, di mall, dimanapun.
Dan jujur, yang ada di pikiran saya adalah sebuah pertanyaan apakah saya dianggap sebagai seorang guru oleh anak ini. Kalau iya, saya merasa sangat cupu. (lagi…)
Filosofi#2 Pendidikan
Kalau teman-teman pernah membaca proposal I3M (bisa juga dibaca di sini http://otakkurusak.wordpress.com/2008/04/12/pusat-inkubator-ide-dan-kreativitas-mahasiswa-itb/), pasti teman-teman akan sangat tertohok. Terutama paragraf ini:
“Bisa Anda bayangkan jika terdapat satu komunitas, dimana dalam komunitas tersebut terdapat sepuluh ribu pemuda pilihan dari sekitar dua ratus juta yang ada (1:20000). Kita akan lanjutkan bayangan kita, menurut Anda bagaimana profil orang-orang pillihan tersebut. Menurut Anda apa yang bisa mereka lakukan, bayangkan saat anda harus menyeleksi satu orang dari dua puluh ribu orang. Kualitas pemuda seperti apa yang Anda bayangkan.
Bayangkan lebih jauh lagi, kemudian orang-orang tersebut dikumpulkan dalam sebuah komunitas. Seberapa hebat komunitas tersebut menurut Anda. Sepuluh ribu orang terseleksi dari negeri ini berkumpul di sebuah tempat. Mungkin Anda akan membayangkan mereka sebagai pasukan elit yang bisa mengatasi masalah apapun, menyelesaikan semua misi, atau bahkan menggerakkan bangsa ini.
Jika bayangan Anda seperti itu, lebih baik Anda buang jauh-jauh. Bayangan Anda meleset, Anda hanya akan menemukan pemuda-pemuda tanggung yang bahkan tidak tahu siapa diri mereka sebenarnya, apa peran mereka disana, apa tanggung jawab mereka disana, bahkan mereka tidak tahu apa tujuan sebenarnya mereka disana. Itulah ITB.”

Krisis Identitas, itulah yang terjadi sekarang. Sistem pendidikan formal yang ada telah mengekang kreativitas, minat, dan bakat yang sesungguhnya dari diri sendiri. Kita terbiasa memandang IPA lebih baik daripada IPS. Kita terbiasa menganggap sekolah adalah sebuah tingkatan formal yang memang harus dilewati agar nantinya kita dapat bekerja dan hidup.
Pendidikan telah bergeser maknanya. Padahal orang-orang bijak jaman dahulu berkata bahwa pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia, bagaimana setiap manusia dapat menemukan arti keberadaannya sendiri berupa misi hidup. Ya, setiap orang seharusnya terus mencari apa yang bisa ia perbuat agar keberadaannya berarti. Sekali berarti, sudah itu mati. (lagi…)
Filosofi#1 Sebuah Gagasan
Di akhir tahun 2010 saya sempat berpikir, bagaimana sih seharusnya gerakan mahasiswa ITB? Bukan tanpa alasan, ketika itu saya sedang berdiskusi dengan Ikhsan Abdusyakur yang hendak mencalonkan diri sebagai MWA Wakil Mahasiswa ITB. Sebagai salah seorang yang pernah terlibat dalam Diklat Aktivis Terpusat KM ITB, saya merasa tergelitik dengan topik ini.
Kalau dipikir-pikir, alangkah luar biasa kayanya potensi yang ada di kampus ITB. Orang-orang yang pintar, fasilitas yang dimiliki, jaringan dari para alumni-alumninya. Menurut saya itu adalah cerminan ragam potensi yang dimiliki kampus ini. Lihat saja bidang ilmu yang dimiliki kampus ini, sains, teknologi, seni rupa dan desain, ditambah lagi bisnis dan manajemen. Ini adalah sebuah kombinasi yang menurut saya sangat maut di mana sains bisa menjadi dasar bagi penerapan teknologi yang lebih advance tanpa melupakan sentuhan seni dan kebudayaan bangsa. Dan ditambah bisnis dan manajemen, seharusnya kita dapat menghasilkan sangat banyak inovasi. Bukan hanya invensi, tapi lebih ke inovasi yang tepat dalam menyasar pasarnya, baik itu komersial maupun sosial.
Setelah menyadari kayanya potensi ITB, saya pun kembali berpikir. Beberapa kali saya ngobrol dengan orang-orang, saya menjadi tersadar bahwa sampai saat ini sepertinya ITB belum bisa memberikan dampak yang besar bagi pengembangan peradaban di kota Bandung. Ya, permasalahan di sekitar kita masih sangat banyak, dan kita yang masih mahasiswa ini hanya berkutat dengan debat kusir yang setiap tahun selalu diulang-ulang di kampus. Banyak bacot singkatnya.

Nah menurut saya seharusnya ada yang berperan sebagai pihak yang mengelola potensi-potensi yang ada agar dapat menjadi solusi bagi permasalahan bangsa. Pihak tersebutlah yang mendata potensi yang dimiliki kampus ini, segala potensi dari segala elemen yang dimiliki oleh kampus ini. Lalu, pihak itu juga yang berperan untuk menjodohkan potensi tersebut dengan masalah-masalah yang ada. Oiya, artinya si pihak ini juga harus memiliki pendataan masalah-masalah tersebut ya. Ya, inventaris! (lagi…)
Pecundang, Mimpi, dan Kata
Percayakah teman-teman bahwa semuanya diawali dari mimpi, dari ide, dari gagasan, dari sesuatu yang tidak nyata?

Saya adalah orang yang percaya bahwa masa depan dibangun oleh sekumpulan gagasan yang secara konsisten coba ditampakkan dalam dunia nyata. Beberapa tahun lalu ketika saya masih di-osjur, seseorang telah menancapkan mimpinya ke alam pikiran orang banyak. Mimpi tersebut adalah kejayaan HME akan terjadi ketika dipegang oleh angkatan 2007. Kejayaan seperti apa? Setiap orang mungkin memiliki khayalan masing-masing tentang “Kejayaan” tersebut.
Oke, sekarang saya akan sedikit memberikan gambaran yang sangat nyata di HME ITB. Beberapa bulan sebelum olimpiade, sekumpulan anggota HME mulai mendiskusikan strategi agar olah raga HME ITB lebih terorganisir. Sebuah semboyan yang diusung adalah, “demi emas olimpiade kita kawan”. Gagasan itu telah dibuat tampak sangat nyata di HME ITB. Mulai dari papan kayu di depan himpunan yang bertuliskan “Best Supporter is Ours”, lalu membuat sebuah replika piala raksasa, sampai dengan menyingkirkan piala lama di lemari piala dan menuliskan, “Untuk Prestasi HME di tahun 2011″, sebagai latar belakang lemari piala. Waw. Dan hasil akhirnya adalah, HME ITB juara Olimpiade, dan meraih Best Supporter.
Kejayaan? Apa bukan kejayaan namanya kalau HME ITB berhasil menyabet banyak gelar juara? Bagi saya itu sudah cukup mencerminkan kata “Kejayaan”. Dan ingat, kejayaan itu terpetik karena ada yang menanam. Sabetan juara itu bukan hanya hasil jerih payah Badan Pengurus saat ini, tetapi segudang prestasi tersebut merupakan batu bata yang ditata semenjak kepengurusan sebelum-sebelumnya. Buah yang dipetik saat ini adalah gagasan yang telah tumbuh dan berkembang, mengakar di hati kami, massa HME ITB, dilantangkan melalui lagu-lagu juara, dan semboyan juara, “OK CHAMP!”
Sudah tahu mimpi adalah benih kenyataan di esok hari? Kenapa takut untuk bermimpi? Toh yang terpenting adalah kita berusaha mewujudkan mimpi tersebut kan? Dua tahun lalu juga HME ITB sudah bermimpi untuk menjadi juara Olimpiade, tapi toh akhirnya parkir di urutan kedua. Tapi, semangat untuk terus bermimpi tidak pudar. Dan kini, mimpi itu tercapai. Kita tidak pernah tahu masa depan akan seperti apa. Tidak ada salahnya bermimpi. Tidak ada salahnya berusaha. Hasilnya? Serahkan saja pada Yang Di Atas. Tidak akan ada penyesalan jika kita sudah melakukan yang terbaik. Toh, gagal itu hanya soal mindset kan?
So, tidak adakah yang mau memberikan sebuah wacana tentang masa depan? Masa depan KM ITB, ITB, Bandung, Jawa Barat, dan Indonesia? Masihkah kita mau jadi pecundang yang takut untuk punya cita-cita? Masihkah kita mau jadi pecundang yang hanya bisa berkata-kata tanpa berbuat?
PECUNDANG!!
Regenerasi?
Sebelum membaca tulisan ini ada baiknya Anda membaca dengan tenang. Jangan lupa siapkan gula karena mungkin isinya sangat pedas.
Di organisasi kemahasiswaan seperti KM ITB, regenerasi selalu terjadi. Hal ini disebabkan karena mahasiswa bukanlah status abadi, dia terbatas oleh waktu. Sebagai pengamat kemahasiswaan (karena saya bukan aktivis, saya hanya pengamat), saya merasa dalam beberapa tahun terakhir belum terjadi perubahan yang cukup signifikan. Kemahasiswaan (sekali lagi saya bukan aktivis jadi jangan tanya saya apa artinya kemahasiswaan) ITB seperti melempem. Bisa saya katakan tidak progresif.
Beberapa hari yang lalu saya nonton (saya hanya pengamat loh) forsil kaderisasi. Dan hasilnya, tidak jauh berbeda ketika dua tahun lalu saya mengikuti forum serupa. Dalam setiap forum pasti selalu muncul pertanyaan, “apa tujuan diadakan forum ini?”. Nah, saya jadi bingung sendiri siapa yang bodoh sekarang. Pertanyaan seperti itu muncul karena yang punya forum belum ngasih tau tujuannya, atau peserta forum yang memang lupa mendengar atau membaca tujuan forum. Apakah sebegitu buruk kemampuan komunikasi mahasiswa ITB? Belum lagi durasi forum. Apakah sudah sebanding antara waktu yang dihabiskan untuk berdiskusi dan debat kusir dengan kesimpulan dan follow up yang diperoleh.
Lucu memang, organisasi kemahasiswaan yang dijalankan oleh sebagian mahasiswa ITB (yang katanya pinter-pinter) ini tidak memiliki suatu knowledge management yang baik. Regenerasi yang ada tidak diimbangi dengan aliran informasi dan pengetahuan yang bagus. Sehingga bisa terjadi yang namanya “Kesepakatan Sampah”. Kenapa sampah? Karena hal yang dulu telah disepakati oleh angkatan atas, kini kembali diperdebatkan oleh adik-adiknya. Entah kenapa sering banget saya merasa deja vu. Pernah saya dateng ke forsil suatu kegiatan, ada kahim yang baru kepilih, dan dia dengan sotoy dan begonya nanyain pertanyaan yang udah pernah diajukan pada forsil pertama (yang saat itu si dia belum jadi kahim). Siapa yang salah? Pengurus yang lama nggak ngasih tau atau dia yang emang gak baca LPJ pengurus sebelumnya? Saya berani bertaruh (taruhannya permen aja deh), kalau semua notulensi forum-forum di ITB ini dikumpulkan per-tahunnya, pasti banyak yang isinya mirip-mirip. Mau itu yang dibahas kongres, mau itu yang dibahas kabinet. Siapa yang mau membuktikan sok dicoba aja. Ini menurut analisis saya sebagai seorang pengamat saja loh, siapa tahu salah.
Saya jadi teringat kata-kata seorang angkatan yang cukup jauh di atas saya, “Kahim di ITB itu sampah. Sampah karena mereka nggak punya power untuk mengendalikan massa-nya. Kahim mungkin sepakat akan sesuatu, tetapi mereka tidak bisa membuat massanya menjalankan kesepakatan tersebut.” Nahlo, di himpunan kalian masih kayak gini nggak? Kalo masih berarti kemahasiswaan kita ya masih sampah.
Yah, kita memang tidak ada yang sempurna. Pasti banyak salah. Mau gimana lagi, iya nggak? Wajarlah kalau kondisinya kayak gini, toh organisasi kemahasiswaan itu cuman tempat buat menuh-menuhin CV, sepakat? Kemahasiswaan kan tempat di mana kita bisa menghamburkan uang untuk bikin acara yang kelihatannya meriah, sepakat?
Ketika kaderisasi dan kegiatan organisasi hanya dianggap sebagai event semata, tidak akan muncul perkembangan dalam organisasi kemahasiswaan dan anggotanya. Kesalahan demi kesalahan yang telah dilakukan angkatan sebelumnya terus diulangi oleh angkatan yang muda. Sumber daya manusia pun tidak dikembangkan sesuai dengan kebutuhan jaman. Kalau sudah begini, mana mungkin kampus ini bisa melahirkan banyak pemimpin bangsa? NGAREP APA?
Alumni, Reuni, dan Inovasi
Indonesia Berinovasi. Frasa tersebut merupakan tema kegiatan yang akan dilakukan oleh alumni ITB ’81 memperingati 30 tahun sejak tahun tersebut. Salah satu kegiatan yang akan dilakukan adalah pembangunan Desa Inovasi dengan melibatkan mahasiswa. Oleh karena itu, Kabinet KM ITB dan beberapa himpunan diundang pada 8-1-2011 untuk mengikuti Focus Group Discussion dengan tema kompas inovasi.
Alumni dan Institusi
Besarnya suatu institusi pendidikan tidak lepas dari campur tangan alumninya. Kata-kata inilah yang (katanya) selalu diucapkan oleh rektor ITB dengan berkaca dari MIT, Harvard dan universitas kelas dunia lainnya. Besarnya nama institusi dibangun oleh kebesaran nama masing-masing alumninya. Dan sebaliknya, tak jarang, nama institusi pun ternoda oleh perbuatan tercela yang dilakukan alumninya.
Pada kesempatan kali ini Indosat dan Teknologi Riset Global menyumbangkan lab untuk ITB. Kebetulan Direktur Indosat adalah alumni ITB 81. Saya lupa lab apa yang disumbangkan Indosat, yang jelas TRG menyumbangkan Lab untuk Cloud Computing. Selain menyumbangkan lab tersebut, TRG juga mempropose pembangunan Indonesia Cloud Computing Center untuk Technopark di bekasi. Jadi simpelnya semacam pengen ngetag lahan di sana buat lab riset di bidang cloud computing yang lebih berorientasi bisnis.
Menariknya, Pak Suhono (Ketua Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan ITB, alumni ITB 81) sempat nyeletuk kalau Indosat mau nyumbang sesuatu prosesnya ribet karena Indosat itu PT, harus RUPS, dan lain-lain, sedangkan kalau perusahaan tertutup seperti TRG kalau nyumbang bisa langsung dan bisa disebut sebagai sumbangan alumni 81. Saya pun jadi berpikir, apa yang bisa dilakukan angkatan 2007 kelak? 30 tahun nanti, sebesar apa circle of power dan circle of influence alumni 2007? Berapa entrepreneur? Berapa direktur? Hal ini membuat saya tersadar bahwa apa yang kita lakukan di kampus ini tidak ada apa-apanya dibandingkan apa yang akan kita lakukan setelah lulus. Tentu saja, pada awalnya kita perlu membangun kemandirian diri sendiri terlebih dahulu sebelum bisa berbuat lebih untuk orang lain, atau mungkin melakukannya secara paralel.
Setelah itu dilanjutkan dengan sambutan oleh Ketua Panitia kegiatan ini, Ibu Sofi kalau tidak salah namanya. Setelah itu giliran Pak Hasan dari Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan, dan Alumni (WRKMA) memberikan sambutan sekaligus meresmikan kegiatan tersebut. Selain itu Pak Hasan juga mengungkapkan kebutuhan utama ITB: beasiswa. Meskipun pembangunan lab dan renovasi ruangan adalah hal yang bagus, tetapi ternyata kebutuhan utama ITB adalah beasiswa. Hal ini terjadi karena memang 50% mahasiswa ITB berasal dari golongan menengah ke bawah. ITB berkomitmen untuk tetap menyelenggarakan pendidikan bagi mereka yang bahkan tidak mampu membayar, selama mereka masih memiliki kemampuan dalam menempuh pendidikan di ITB. Oleh karena itu, dukungan dari alumni-alumni ITB sangat diharapkan.
Reuni dan Inovasi
Yang namanya reuni pasti penuh dengan canda, tawa, dan kenangan. Hal ini juga yang terjadi pada focus group discussion para alumni tersebut. Beberapa fokus dan bersemangat, namun tidak sedikit yang ngobrol sendiri dan ketawa-ketawa. Saya juga sempat berpikir, ini alumni 81 hebat juga ya, reuni aja masih mikirin inovasi, kalau saya pribadi sampai detik ini masih membayangkan bahwa reuni itu pasti isinya ketawa-ketawa dan cengcengan. Tapi salut, setidaknya mereka semua punya semangat untuk memberikan inovasi bagi negeri ini. Kalaupun di antara beliau-beliau bercanda tawa, pasti itu bukan karena mereka tidak serius dalam menjalankan program ini. Saya hanya bisa berasumsi, sebagai orang yang cerdas, alumni-alumni tersebut mungkin kurang suka dengan hal-hal yang sifatnya masih konseptual seperti FGD, mungkin mereka langsung ingin melakukan tindakan konkretnya. Mungkin.
Melihat inisiatif yang dilakukan oleh ITB 81, saya pun berpikir, apa jadinya kalau setiap angkatan melakukan hal serupa. Setiap tahun pasti ada desa yang dibina dan dikembangkan! Dan, apa jadinya kalau seluruh alumni perguruan tinggi terkemuka di tanah air melakukan hal serupa?
Waaaw!
Belum lagi jika semua kegiatan tersebut melibatkan tenaga segar mahasiswa. Pasti mahasiswa Indonesia benar-benar bisa menjadi mahasiswa -bukan sekedar siswa biasa- yang langsung mengamalkan ilmunya pada kehidupan bermasyarakat. Tentu saja, mahasiswa harus mendapatkan apresiasi yang layak juga, bisa berupa kredit kuliah, dan lain-lain.
Hanya waw dan waw, yang keluar pada saat saya berkhayal. Tapi apa daya, itu semua hanya khayalan jika tidak ada yang mau mencoba mewujudkannya. Siapa yang mau?
Tulisan ini ditulis tanggal 9 Januari 2011. Berita resmi dari ITB bisa dilihat di sini http://www.itb.ac.id/news/3074.xhtml
“Ini Cara Gue” – DAT 2011
Sebuah gagasan yang tadi pagi saya coba untuk bagi kepada para peserta DAT2011:
Tadi pagi saya dipasangkan dengan dua orang alumni yang sudah benar-benar berkarya nyata di masyarakat. Mereka adalah Kak Yuri (FSRD angkatan 2006-2010) dan Kak Radeya (SBM 2006-2009). Kak Yuri bercerita tentang aktivitasnya sebagai Social Entrepreneur, dia juga bercerita bagaimana dia pernah disambar petir dan masih mendapat second life(beberapa temannya meninggal). Kak Radeya banyak menceritakan tentang masih tertinggalnya ITB di dunia, dan sedikit menceritakan tentang Satoe Indonesia yang pernah dipimpinnya.
Saya sendiri sebelum ke atas panggung ngerasa grogi berat, dan agak nggak pede. Untung ada yang memberikan motivasi, entah asli entah palsu yang membuat saya semangat. Mereka adalah panitia DAT, termasuk LO saya. Setelah sampai di panggung, saya masih grogi. Namun, grogi itu akhirnya hilang ketika saya mulai masuk ke slide awal di mana saya bercerita tentang pengalaman saya menjadi peserta, dan panitia DAT.
Huff, saya jadi teringat, dulu ketika saya menjadi panitia DAT, saya pernah berkhayal untuk menjadi pemateri DAT. Saya yang waktu itu sedang mengikuti korindo dan PKM, bercita-cita dapat mengisi materi DAT sebagai mahasiswa yang berprestasi di bidang roket dan robot. Yah, apa daya, semuanya nggak menang, saya pun tidak berhasil mengisi materi DAT sebagai mana yang saya cita-citakan. Tetapi di sisi lain, saya akhirnya menjadi pembicara di DAT dengan tema alternatif gerakan mahasiswa. Sangat senang bisa berbagi gagasan dengan para aktivis-aktivis muda. Saya yakin di antara mereka akan ada orang-orang yang menggantikan posisi saya sekarang. Dan saya sangat senang bisa menularkan semangat yang diwariskan oleh para pendiri Inkubator Ide dan Inovasi Mahasiswa kepada mereka. Senang : ) Hehe
Selain itu saya juga senang karena feedback yang saya terima sangat positif. Ada yang bilang bahwa slide dan presentasinya keren, memberikan banyak wawasan baru, tidak seperti materi-materi yang lain. Dan, lagi-lagi ada yang mendoakan saya supaya jadi orang paling konkret se-itb. Walaupun sepertinya sangat imajiner, saya aminkan saja doa itu.
Dan kembali, setelah saya berbagi gagasan dengan banyak orang, berusaha membuat gagasan-gagasan itu menjadi nyata adalah konsekuensinya. Dan saya harus bekerja ekstra keras untuk itu!
Ini Cara Gue!!
Kader-isasi 11 Januari
“Kak, kalo kak Faisal udah ngitung segala macemnya, buat apa saya ikut?,” tanya Yuri SI 08.
“Kamu harus ikut biar kamu udah ngerasain gimana ngimplementasiin keprofesian.”
“Lagian, katanya Iwan, ke depannya himpunan bakal fokus ke kegiatan keprofesian dan pengabdian masyarakat. Jadi perlu transfer pengetahuan,” Jawab Faisal SI 07.
Begitulah pelajaran yang bisa saya bagi dari survey PLTMH di Gununghalu.
“Gimana ya kak, sebenernya materi Popope ini udah dari jaman OSKM, terus Osjur, dikasih melulu. Ampe muak. Maksudnya gimana ya, gw tau lah apa yang diomongin, tapi gimana ya cara ngimplementasiinnya?”
“Eh kak, yang tadi bercanda loh,” tutur salah seorang peserta DAT 2011.
Begitulah pelajaran yang bisa saya bagi dari mentoring DAT 2011 di Ciburial.
“Percuma lo ngejar nilai A, kalo akhirnya ga ada nilai tambah di diri lo,” tutur seseorang yang pertama kali mendapatkan nilai D dengan IPKnya yang masih deket cumlaude.
Begitulah pelajaran yang bisa saya bagi dari melihat nilai saya yang sejauh ini kombinasi antara beberapa A, AB, dan satu buah D.
Saya, Elektron, dan Khayalan
Ini adalah sekelumit kisah tentang saya dan Elektron. Alkisah di sebuah kampung bernama Electricity, terdapatlah sebuah legenda. Dalam legenda tersebut dikisahkan bahwa Electricity pernah memiliki sebuah senjata yang Maha dahsyat. Dituturkan bahwa senjata tersebut mampu memberikan energi positif bagi negeri Garuda. Kekuatan senjata tersebut mampu membuat keberadaan Electricity diakui oleh rakyat negeri Garuda. ”Elektron,” begitulah penduduk Electricity menyebutnya.
Tahun demi tahun berlalu, senjata maha dahsyat tersebut terkurung. Senjata tersebut terkurung dalam sebuah peti raksasa. Peti itu tak kunjung juga dibuka oleh empunya. Menyalakan kembali Elektron ternyata bukanlah hal yang mudah. Orang-orang yang memiliki akses untuk membuka peti tersebut tak kunjung berhasil menyalakan kembali Elektron. Senjata maha dahsyat tersebut masih belum dapat menerangi negeri Garuda dari gelap dan gulita.
Bergantinya hari-hari membuat pelita Elektron meredup. Terkurungnya Elektron dalam peti tersebut membuat orang-orang mulai melupakannya. Beberapa penduduk Electricity bahkan menginginkan peti yang menyimpan Elektron untuk dimusnahkan saja.
Meskipun Elektron sedang terkurung, ternyata beberapa rakyat negeri Garuda masih ada yang ingat kepada Elektron. Mereka masih mengharapkan senjata ini akan sekali lagi menerangi negeri Garuda. Demikian halnya dengan beberapa penduduk Electricity, ada yang masih percaya tentang kemahadahsyatan Elektron. Mereka adalah para penjaga yang selama ini terus menjaga peti raksasa yang menyimpan Elektron. Mereka adalah sedikit di antara orang-orang yang percaa bahwa Elektron masih diperlukan dan akan bersinar sekali lagi. Hanya orang-orang yang mau melakukan ritual khusus yang dapat membukanya.
Orbit. Begitulah nama ritual ini. Dan suatu ketika, para penjaga memberikan kesempatan bagi penduduk Electricity untuk menjalankan ritual ini. Saya pun akhirnya mengikuti ritual tersebut. Saya bukanlah orang yang hebat. Banyak kesalahan yang saya lakukan ketika menjalankan ritual tersebut.
Saya sudah di ujung tanduk ketika Orbit memasuki gerbang terakhir. Saya sempat merasa lemah, dan kalah. Saya merasa tidak akan mampu membuka gerbang tersebut. Saya kembali berpikir-dan terus berpikir. Berat rasanya untuk mengangkat kunci Elektron yang sangat kecil tersebut. Bukan kuncinya yang berat, tetapi tangan ini terlalu lemah untuk dapat mengangkat. Sebab, setelah saya membuka gerbang terakhir ini, saya akan menjadi penjaga peti raksasa tersebut. Ketika pada akhirnya saya melewati gerbang ini, saya akan menjadi satu dari sekitar 20 orang yang menjaga Elektron. Saya akan menjadi salah satu orang yang bertanggung jawab untuk menggunakan senjata mahadahsyat bernama Elektron. Bukan tanggung jawab yang ringan.
Zap!
Akhirnya saya membuka kunci tersebut. Saya menjadi salah seorang penjaga Elektron. Saya telah memilih mengambil tanggung jawab tersebut.
Waktu berlalu, dan akhirnya saya menjadi salah seorang yang membuka peti raksasa itu. Senjata bernama Elektron itu kini telah keluar dari penjara. Para penjaga pun larut dalam euforia. Kami tenggelam dalam rasa senang karena berhasil sekali lagi membuka peti tersebut. Senjata itu kini telah kembali hidup.
Kami bahagia.
Kami terlarut.
Dan, kami melupakan satu hal. Senjata ini menjadi bermakna ketika sinarnya telah mampu menerangi negeri Garuda. Dan kami lupa itu. Dan itulah sebuah tantangan bagi kami sekarang. Sebuah tantangan yang akan kami jawab.
Elektron yang sekarang bukan Elektron yang dulu pernah menyinari negeri Garuda. Elektron yang sekarang adalah Elektron yang memulai lembaran baru, yang akan mencoba menyinari negeri ini sekali lagi. Satu kali lagi.
Saya, Elektron, dan Presenticcon
Kunci Terakhir Ritual Orbit:
TEDxBandung Videos
1. Qamaruzzaman – Experience of Developing Renewable Energy System in Indonesia
3. Mira Kusumarini – Ashoka Indonesia
4. Tita Larasati – Shaping Our Future With Bamboo
Ideas Worth Spreading!
Sekolah Inovator Muda

Kepemimpinan itu bakat?
Saya rasa tidak. Menurut saya kepemimpinan itu adalah perwujudan tekad. Seorang pemimpin adalah seseorang yang memiliki cita, cara, dan cinta. Memiliki cita berarti punya pemikiran. Seorang pemimpin bertindak sebagai kepala yang akan menggerakkan badan, maka dari itu dia harus punya pemikiran. Memiliki cara berarti mengetahui jalan yang harus ditempuh untuk mewujudkan cita.
Cinta. Dengan cinta, seorang pemimpin akan rela berada di garis terdepan. Berada di garis terdepan bukanlah hal yang mudah. Berada di garis terdepan berarti menanggung seluruh pasukan. Berdiri di garis terdepan artinya tidak ada punggung orang lain yang bisa dilihat ketika memandang ke depan. Mau melangkah ke mana? Tugas seorang pemimpin untuk terus melangkah meskipun lelah. Tanpa cinta dan ketulusan, rasa lelah akan menghentikan langkah seorang pemimpin. Sebaliknya, ketika melihat ke belakang, akan ada saudara dan saudari yang harus terus dijaga agar tetap berada di koridor yang diinginkan. Dan tentu saja, mereka seorang pemimpin harus mencintai mereka, berusaha mengayomi dan memahami kondisi mereka. (lagi…)
I3M Creative Portal
Pernahkah teman-teman mengetahui ide apa saja yang dipunyai oleh anak ITB?
Apakah teman-teman tahu karya aplikatif dan inovatif apa saja yang sudah dihasilkan mahasiswa ITB ? (dalam hal ini mungkin s1)
I3M sebagai Inkubator Ide dan Inovasi Mahasiswa ITB memiliki kewajiban untuk dapat menginventarisasi potensi yang dimiliki oleh mahasiswa ITB. Potensi ini dapat berupa karya atau inovasi yang siap untuk diimplementasikan. Tentu saja potensi ini perlu dihubungkan dengan stakeholder lain agar dapat termanfaatkan secara luas.
Selain sebagai intermediator inovasi, I3M juga berperan sebagai (lagi…)
Sedikit Pemikiran dan Perjalanan Bersama KM ITB
Melalui tulisan ini saya berusaha menuliskan pemikiran saya yang selama ini selalu muncul di kepala saya tentang KM ITB. Tulisan ini subjektif dari sudut pandang saya, sehingga maaf sekali kalau mungkin Anda tidak sepakat dengan saya. Tentu saja sesubjektif-subjektifnya pendapat saya, pasti ada unsur objektifnya.
Saya bukanlah seorang aktivis, meskipun saya sempat terjerumus menjadi peserta Diklat Aktivis Terpusat, menjadi panitia di Diklat berikutnya, dan terancam menjadi mentor di Diklat yang akan berlangsung Januari ini. Awalnya saya bukanlah orang yang punya pikiran untuk KM ITB. Bagaimana mau peduli kalau baru sampai di kosan, saya sudah dicekoki dengan berbagai pandangan bahwa KM = Keluarga Monyet, anak KM itu pada nggak bener, dan pandangan negatif lainnya.

benarkah kami keluarga monyet? (lagi…)
Setengah Jalan di I3M (1)
Tidak terasa sudah setengah jalan perjalanan saya sebagai Presiden Inkubator Ide dan Inovasi Mahasiswa ITB periode 2010/2011. Begitu banyak cerita yang mungkin tidak bisa diwakilkan hanya dengan LPJ 6 Bulan dan semua LPJ Bulanan. Lebih banyak cerita yang terkandung daripada sekedar kumpulan kata yang ada pada I3M Creative Portal.
Dan, di antara pencapaian I3M pada 6 bulan yang telah dilalui ini, ada salah satu yang sangat menarik dan agak nyeleneh buat saya
Hal ini adalah dimuatnya foto kami di http://www.itb.ac.id/news/3001.xhtml. Memang benar, gambar ini:

bertemakan PKM atau PIMNAS, dan gambar itu merupakan hasil rancangan dari Faikar Izzani, DKV 07, Kepala Bidang Media Inkubator Ide dan Inovasi Mahasiswa ITB. Tetapi, sesungguhnya foto yang satu lagi adalah foto kami saat Presenticcon selesai:

Begitu banyak cerita dan hikmah yang saya dapatkan dari 6 Bulan keberjalanan I3M ini. Tentang kepemimpinan, tentang inovasi, tentang networking, dan sebagian besar tentang perjalanan yang sulit untuk mewujudkan mimpi yang tinggi.
Seorang senior saya berkata, “Jalan Idealis adalah jalan yang sulit.” Dan memang benar, konsekuensi dari bermimpi tinggi ada dua:
1. Anda harus bekerja lebih keras karena mimpi Anda sangat tinggi.
2. Anda harus siap untuk tidak meraih mimpi tersebut karena mimpi Anda mungkin terlalu tinggi sehingga tidak mungkin dicapai di waktu itu.
Lalu, bagaimana I3M di setengah tahun kepengurusan ini? Sudahkah mimpi-mimpi yang melambung tinggi itu mendarat di alam nyata?
Nantikan kelanjutan cerita ini
Kapan Ganesha Unjuk Gigi?
Sebuah Percakapan
xxxxxxxxxx1x: wujudkan mimpi yg kau punya
d_ril_tin_kr: gak ada xxx*nama orangnya*
d_ril_tin_kr: udah abis
xxxxxxxxxx1x: menurutmu apa itu mimpi?
xxxxxxxxxx1x: aku belum pernah menemukan org yg punya passion akan mimpinya
xxxxxxxxxx1x: kecuali
xxxxxxxxxx1x: saat aku melihat cakahim yg pertama mengambil form
xxxxxxxxxx1x: dy g peduli apa kata org
xxxxxxxxxx1x: dy struggle dgn mimpinya
xxxxxxxxxx1x: sayang dy udah g ada skrg
mungkin orang itu memang sudah tidak ada lagi


