perjalanan seorang @rousyan dalam menjadi insan solutif (dan rendah hati)

Inkubator Ide dan Inovasi Mahasiswa ITB

Beberapa Keping Mimpi yang Tercecer di Kampus

Di tahun ketiga saya, entah angin mana yang membawa saya, pada akhirnya saya bersama teman-teman yang saya kumpulkan ada pada sebuah keluarga baru. Di keluarga baru itu, kami berbagi gagasan tentang mahasiswa ITB yang semakin kreatif, imajinatif dan visioner. Yang kami bicarakan di situ bukan lagi banyak ribut tentang hal yang selama ini sering diperdebatkan, seperti masalah diksi, esensi, dan tujuan. Yang banyak kami bicarakan di sana adalah hal-hal gila. Ide gila.

 

Satu hal yang hingga kini saya imani dan yakini. Gagasan dan mimpi adalah awal dari segalanya. Saya sendiri tak pernah menduga bahwa gagasan-gagasan yang waktu itu saya temui, begitu mempengaruhi hidup saya. Sampai akhirnya ketika lulus, saya menyadari bahwa banyak di antara pencapaian penting saya adalah berkat pertemuan saya dengan ide dari mahasiswa-mahasiswa yang telah lebih dahulu meninggalkan kampus ini.

Ketika pertama kali saya didaulat menjadi Presiden I3M, saya mendapatkan warisan berupa ide-ide proyek yang direkomendasikan untuk dilanjutkan. Di antaranya adalah proyek “Multitouch-Screen”, “CampusChannel” dan “Inspire”. Ya, tiga proyek itu adalah proyek “lungsuran” yang sudah antah berantah keadaannya. Anggota proyek yang sudah berkelana entah kemana, atau pimpinan proyeknya susah dihubungi, dan kami saat itu benar-benar kesulitan untuk mem-follow up proyek lungsuran tersebut.

Tapi, ternyata memang benar, mimpi adalah kunci untuk menaklukkan dunia. Mimpi memberikan energi yang lebih bagi seorang manusia. Bagi seseorang yang bisa memiliki pandangan ke depan, mimpi bukanlah omong kosong. Mimpi adalah sebuah gagasan dengan tahapan pencapaian yang jelas. Nyata. Mimpi adalah masa depan yang bisa diprediksi. Dan masa depan ummat manusia, ditentukan oleh mimpi-mimpi yang ada saat ini. Peradaban ditentukan oleh apa yang sedang dikerjakan para ilmuwan, insinyur, sosiolog, pengusaha, pemerintah, dan seluruh lapisan masyarakat pada tempatnya masing-masing. (lagi…)


Filosofi#3 Inovasi

The term innovation derives from the Latin innovatio, the noun of action from innovare. The Etymology Dictionary further explains innovare as dating back to 1540 and stemming from the Latin innovatus, pp. of innovare “to renew or change,” from in- “into” + novus “new”.”

Sebenarnya apa sih inovasi itu? Pertanyaan ini adalah sebuah pertanyaan yang sering muncul dalam diri saya ketika itu. Saya pun melakukan sedikit pencarian melalui internet dengan membaca buku-buku, maupun video-video. Setelah setahun menjalankan roda kepengurusan I3M, saya akhirnya dapat menyimpulkan beberapa hal. Tulisan ini berasal dari pemikiran subjektif saya, saya tidak akan menyertakan referensi ilmiah dari statemen yang saya tulis :D

who invented the first wheel? img source = http://www.johnlund.com/images/CSM002829.jpg

Inovasi pada dasarnya adalah suatu pembaharuan. Pembaharuan ini dilakukan melalui penerapan dari ide atau gagasan yang baru. Ya, inovasi itu tidak melulu tentang invensi, tetapi juga tentang penambahan nilai tambah. Jika invensi adalah manifestasi ide dalam bentuk proses, alat, atau komposisi yang baru, inovasi lebih berbicara tentang perubahan yang terjadi dalam suatu sistem. Yang perlu digarisbawahi di sini, inovasi adalah implementasi dari ide-ide tersebut. Artinya, ide tersebut harus direalisasikan dan berhasil menyentuh subjek-subjek yang menjadi target inovasi tersebut. Kalau misalnya kita berbicara tentang inovasi sosial, seharusnya ide yang ada mampu menyelesaikan permasalahan di masyarakat atau memberikan nilai tambah dalam cara hidup masyarakat. Kalau misalnya kita berbicara tentang inovasi produk, tentu saja produknya harus bisa dikomersialisasi dan ada penggunanya.

(lagi…)


Filosofi#2 Pendidikan

Kalau teman-teman pernah membaca proposal I3M (bisa juga dibaca di sini http://otakkurusak.wordpress.com/2008/04/12/pusat-inkubator-ide-dan-kreativitas-mahasiswa-itb/), pasti teman-teman akan sangat tertohok. Terutama paragraf ini:

“Bisa Anda bayangkan jika terdapat satu komunitas, dimana dalam komunitas tersebut terdapat sepuluh ribu pemuda pilihan dari sekitar dua ratus juta yang ada (1:20000). Kita akan lanjutkan bayangan kita, menurut Anda bagaimana profil orang-orang pillihan tersebut. Menurut Anda apa yang bisa mereka lakukan, bayangkan saat anda harus menyeleksi satu orang dari dua puluh ribu orang. Kualitas pemuda seperti apa yang Anda bayangkan.

Bayangkan lebih jauh lagi, kemudian orang-orang tersebut dikumpulkan dalam sebuah komunitas. Seberapa hebat komunitas tersebut menurut Anda. Sepuluh ribu orang terseleksi dari negeri ini berkumpul di sebuah tempat. Mungkin Anda akan membayangkan mereka sebagai pasukan elit yang bisa mengatasi masalah apapun, menyelesaikan semua misi, atau bahkan menggerakkan bangsa ini.

Jika bayangan Anda seperti itu, lebih baik Anda buang jauh-jauh. Bayangan Anda meleset, Anda hanya akan menemukan pemuda-pemuda tanggung yang bahkan tidak tahu siapa diri mereka sebenarnya, apa peran mereka disana, apa tanggung jawab mereka disana, bahkan mereka tidak tahu apa tujuan sebenarnya mereka disana. Itulah ITB.”

Krisis Identitas, itulah yang terjadi sekarang. Sistem pendidikan formal yang ada telah mengekang kreativitas, minat, dan bakat yang sesungguhnya dari diri sendiri. Kita terbiasa memandang IPA lebih baik daripada IPS. Kita terbiasa menganggap sekolah adalah sebuah tingkatan formal yang memang harus dilewati agar nantinya kita dapat bekerja dan hidup.

Pendidikan telah bergeser maknanya. Padahal orang-orang bijak jaman dahulu berkata bahwa pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia, bagaimana setiap manusia dapat menemukan arti keberadaannya sendiri berupa misi hidup. Ya, setiap orang seharusnya terus mencari apa yang bisa ia perbuat agar keberadaannya berarti. Sekali berarti, sudah itu mati. (lagi…)


Filosofi#1 Sebuah Gagasan

Di akhir tahun 2010 saya sempat berpikir, bagaimana sih seharusnya gerakan mahasiswa ITB? Bukan tanpa alasan, ketika itu saya sedang berdiskusi dengan Ikhsan Abdusyakur yang hendak mencalonkan diri sebagai MWA Wakil Mahasiswa ITB. Sebagai salah seorang yang pernah terlibat dalam Diklat Aktivis Terpusat KM ITB, saya merasa tergelitik dengan topik ini.

Kalau dipikir-pikir, alangkah luar biasa kayanya potensi yang ada di kampus ITB. Orang-orang yang pintar, fasilitas yang dimiliki, jaringan dari para alumni-alumninya. Menurut saya itu adalah cerminan ragam potensi yang dimiliki kampus ini. Lihat saja bidang ilmu yang dimiliki kampus ini, sains, teknologi, seni rupa dan desain, ditambah lagi bisnis dan manajemen. Ini adalah sebuah kombinasi yang menurut saya sangat maut di mana sains bisa menjadi dasar bagi penerapan teknologi yang lebih advance tanpa melupakan sentuhan seni dan kebudayaan bangsa. Dan ditambah bisnis dan manajemen, seharusnya kita dapat menghasilkan sangat banyak inovasi. Bukan hanya invensi, tapi lebih ke inovasi yang tepat dalam menyasar pasarnya, baik itu komersial maupun sosial.

Setelah menyadari kayanya potensi ITB, saya pun kembali berpikir. Beberapa kali saya ngobrol dengan orang-orang, saya menjadi tersadar bahwa sampai saat ini sepertinya ITB belum bisa memberikan dampak yang besar bagi pengembangan peradaban di kota Bandung. Ya, permasalahan di sekitar kita masih sangat banyak, dan kita yang masih mahasiswa ini hanya berkutat dengan debat kusir yang setiap tahun selalu diulang-ulang di kampus. Banyak bacot singkatnya.

Inkubator Ide dan Inovasi Mahasiswa

Nah menurut saya seharusnya ada yang berperan sebagai pihak yang mengelola potensi-potensi yang ada agar dapat menjadi solusi bagi permasalahan bangsa. Pihak tersebutlah yang mendata potensi yang dimiliki kampus ini, segala potensi dari segala elemen yang dimiliki oleh kampus ini. Lalu, pihak itu juga yang berperan untuk menjodohkan potensi tersebut dengan masalah-masalah yang ada. Oiya, artinya si pihak ini juga harus memiliki pendataan masalah-masalah tersebut ya. Ya, inventaris! (lagi…)


Regenerasi?

Sebelum membaca tulisan ini ada baiknya Anda membaca dengan tenang. Jangan lupa siapkan gula karena mungkin isinya sangat pedas.

Di organisasi kemahasiswaan seperti KM ITB, regenerasi selalu terjadi. Hal ini disebabkan karena mahasiswa bukanlah status abadi, dia terbatas oleh waktu. Sebagai pengamat kemahasiswaan (karena saya bukan aktivis, saya hanya pengamat), saya merasa dalam beberapa tahun terakhir belum terjadi perubahan yang cukup signifikan. Kemahasiswaan (sekali lagi saya bukan aktivis jadi jangan tanya saya apa artinya kemahasiswaan) ITB seperti melempem. Bisa saya katakan tidak progresif.

Beberapa hari yang lalu saya nonton (saya hanya pengamat loh) forsil kaderisasi. Dan hasilnya, tidak jauh berbeda ketika dua tahun lalu saya mengikuti forum serupa. Dalam setiap forum pasti selalu muncul pertanyaan, “apa tujuan diadakan forum ini?”. Nah, saya jadi bingung sendiri siapa yang bodoh sekarang. Pertanyaan seperti itu muncul karena yang punya forum belum ngasih tau tujuannya, atau peserta forum yang memang lupa mendengar atau membaca tujuan forum. Apakah sebegitu buruk kemampuan komunikasi mahasiswa ITB? Belum lagi durasi forum. Apakah sudah sebanding antara waktu yang dihabiskan untuk berdiskusi dan debat kusir dengan kesimpulan dan follow up yang diperoleh.

Lucu memang, organisasi kemahasiswaan yang dijalankan oleh sebagian mahasiswa ITB (yang katanya pinter-pinter) ini tidak memiliki suatu knowledge management yang baik. Regenerasi yang ada tidak diimbangi dengan aliran informasi dan pengetahuan yang bagus. Sehingga bisa terjadi yang namanya “Kesepakatan Sampah”. Kenapa sampah? Karena hal yang dulu telah disepakati oleh angkatan atas, kini kembali diperdebatkan oleh adik-adiknya. Entah kenapa sering banget saya merasa deja vu. Pernah saya dateng ke forsil suatu kegiatan, ada kahim yang baru kepilih, dan dia dengan sotoy dan begonya nanyain pertanyaan yang udah pernah diajukan pada forsil pertama (yang saat itu si dia belum jadi kahim). Siapa yang salah? Pengurus yang lama nggak ngasih tau atau dia yang emang gak baca LPJ pengurus sebelumnya? Saya berani bertaruh (taruhannya permen aja deh), kalau semua notulensi forum-forum di ITB ini dikumpulkan per-tahunnya, pasti banyak yang isinya mirip-mirip. Mau itu yang dibahas kongres, mau itu yang dibahas kabinet. Siapa yang mau membuktikan sok dicoba aja. Ini menurut analisis saya sebagai seorang pengamat saja loh, siapa tahu salah.

Saya jadi teringat kata-kata seorang angkatan yang cukup jauh di atas saya, “Kahim di ITB itu sampah. Sampah karena mereka nggak punya power untuk mengendalikan massa-nya. Kahim mungkin sepakat akan sesuatu, tetapi mereka tidak bisa membuat massanya menjalankan kesepakatan tersebut.” Nahlo, di himpunan kalian masih kayak gini nggak? Kalo masih berarti kemahasiswaan kita ya masih sampah.

Yah, kita memang tidak ada yang sempurna. Pasti banyak salah. Mau gimana lagi, iya nggak? Wajarlah kalau kondisinya kayak gini, toh organisasi kemahasiswaan itu cuman tempat buat menuh-menuhin CV, sepakat? Kemahasiswaan kan tempat di mana kita bisa menghamburkan uang untuk bikin acara yang kelihatannya meriah, sepakat?

Ketika kaderisasi dan kegiatan organisasi hanya dianggap sebagai event semata, tidak akan muncul perkembangan dalam organisasi kemahasiswaan dan anggotanya. Kesalahan demi kesalahan yang telah dilakukan angkatan sebelumnya terus diulangi oleh angkatan yang muda. Sumber daya manusia pun tidak dikembangkan sesuai dengan kebutuhan jaman. Kalau sudah begini, mana mungkin kampus ini bisa melahirkan banyak pemimpin bangsa? NGAREP APA?


Alumni, Reuni, dan Inovasi

Indonesia Berinovasi. Frasa tersebut merupakan tema kegiatan yang akan dilakukan oleh alumni ITB ’81 memperingati 30 tahun sejak tahun tersebut. Salah satu kegiatan yang akan dilakukan adalah pembangunan Desa Inovasi dengan melibatkan mahasiswa. Oleh karena itu, Kabinet KM ITB dan beberapa himpunan diundang pada 8-1-2011 untuk mengikuti Focus Group Discussion dengan tema kompas inovasi.

Alumni dan Institusi

Besarnya suatu institusi pendidikan tidak lepas dari campur tangan alumninya. Kata-kata inilah yang (katanya) selalu diucapkan oleh rektor ITB dengan berkaca dari MIT, Harvard dan universitas kelas dunia lainnya. Besarnya nama institusi dibangun oleh kebesaran nama masing-masing alumninya. Dan sebaliknya, tak jarang, nama institusi pun ternoda oleh perbuatan tercela yang dilakukan alumninya.

Pada kesempatan kali ini Indosat dan Teknologi Riset Global menyumbangkan lab untuk ITB. Kebetulan Direktur Indosat adalah alumni ITB 81. Saya lupa lab apa yang disumbangkan Indosat, yang jelas TRG menyumbangkan Lab untuk Cloud Computing. Selain menyumbangkan lab tersebut, TRG juga mempropose pembangunan Indonesia Cloud Computing Center untuk Technopark di bekasi. Jadi simpelnya semacam pengen ngetag lahan di sana buat lab riset di bidang cloud computing yang lebih berorientasi bisnis.

Menariknya, Pak Suhono (Ketua Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan ITB, alumni ITB 81) sempat nyeletuk kalau Indosat mau nyumbang sesuatu prosesnya ribet karena Indosat itu PT, harus RUPS, dan lain-lain, sedangkan kalau perusahaan tertutup seperti TRG kalau nyumbang bisa langsung dan bisa disebut sebagai sumbangan alumni 81. Saya pun jadi berpikir, apa yang bisa dilakukan angkatan 2007 kelak?  30 tahun nanti, sebesar apa circle of power dan circle of influence alumni 2007? Berapa entrepreneur? Berapa direktur? Hal ini membuat saya tersadar bahwa apa yang kita lakukan di kampus ini tidak ada apa-apanya dibandingkan apa yang akan kita lakukan setelah lulus. Tentu saja, pada awalnya kita perlu membangun kemandirian diri sendiri terlebih dahulu sebelum bisa berbuat lebih untuk orang lain, atau mungkin melakukannya secara paralel.

Setelah itu dilanjutkan dengan sambutan oleh Ketua Panitia kegiatan ini, Ibu Sofi kalau tidak salah namanya. Setelah itu giliran Pak Hasan dari Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan, dan Alumni (WRKMA) memberikan sambutan sekaligus meresmikan kegiatan tersebut. Selain itu Pak Hasan juga mengungkapkan kebutuhan utama ITB: beasiswa. Meskipun pembangunan lab dan renovasi ruangan adalah hal yang bagus, tetapi ternyata kebutuhan utama ITB adalah beasiswa. Hal ini terjadi karena memang 50% mahasiswa ITB berasal dari golongan menengah ke bawah. ITB berkomitmen untuk tetap menyelenggarakan pendidikan bagi mereka yang bahkan tidak mampu membayar, selama mereka masih memiliki kemampuan dalam menempuh pendidikan di ITB. Oleh karena itu, dukungan dari alumni-alumni ITB sangat diharapkan.

Reuni dan Inovasi

Yang namanya reuni pasti penuh dengan canda, tawa, dan kenangan. Hal ini juga yang terjadi pada focus group discussion para alumni tersebut. Beberapa fokus dan bersemangat, namun tidak sedikit yang ngobrol sendiri dan ketawa-ketawa. Saya juga sempat berpikir, ini alumni 81 hebat juga ya, reuni aja masih mikirin inovasi, kalau saya pribadi sampai detik ini masih membayangkan bahwa reuni itu pasti isinya ketawa-ketawa dan cengcengan. Tapi salut, setidaknya mereka semua punya semangat untuk memberikan inovasi bagi negeri ini. Kalaupun di antara beliau-beliau bercanda tawa, pasti itu bukan karena mereka tidak serius dalam menjalankan program ini. Saya hanya bisa berasumsi, sebagai orang yang cerdas, alumni-alumni tersebut mungkin kurang suka dengan hal-hal yang sifatnya masih konseptual seperti FGD, mungkin mereka langsung ingin melakukan tindakan konkretnya. Mungkin.

Melihat inisiatif yang dilakukan oleh ITB 81, saya pun berpikir, apa jadinya kalau setiap angkatan melakukan hal serupa. Setiap tahun pasti ada desa yang dibina dan dikembangkan! Dan, apa jadinya kalau seluruh alumni perguruan tinggi terkemuka di tanah air melakukan hal serupa?

Waaaw!

Belum lagi jika semua kegiatan tersebut melibatkan tenaga segar mahasiswa. Pasti mahasiswa Indonesia benar-benar bisa menjadi mahasiswa -bukan sekedar siswa biasa- yang langsung mengamalkan ilmunya pada kehidupan bermasyarakat. Tentu saja, mahasiswa harus mendapatkan apresiasi yang layak juga, bisa berupa kredit kuliah, dan lain-lain.

Hanya waw dan waw, yang keluar pada saat saya berkhayal. Tapi apa daya, itu semua hanya khayalan jika tidak ada yang mau mencoba mewujudkannya. Siapa yang mau?

Tulisan ini ditulis tanggal 9 Januari 2011. Berita resmi dari ITB bisa dilihat di sini http://www.itb.ac.id/news/3074.xhtml


“Ini Cara Gue” – DAT 2011

Sebuah gagasan yang tadi pagi saya coba untuk bagi kepada para peserta DAT2011:

Tadi pagi saya dipasangkan dengan dua orang alumni yang sudah benar-benar berkarya nyata di masyarakat. Mereka adalah Kak Yuri (FSRD angkatan 2006-2010) dan Kak Radeya (SBM 2006-2009). Kak Yuri bercerita tentang aktivitasnya sebagai Social Entrepreneur, dia juga bercerita bagaimana dia pernah disambar petir dan masih mendapat second life(beberapa temannya meninggal). Kak Radeya banyak menceritakan tentang masih tertinggalnya ITB di dunia, dan sedikit menceritakan tentang Satoe Indonesia yang pernah dipimpinnya.

Saya sendiri sebelum ke atas panggung ngerasa grogi berat, dan agak nggak pede. Untung ada yang memberikan motivasi, entah asli entah palsu yang membuat saya semangat. Mereka adalah panitia DAT, termasuk LO saya. Setelah sampai di panggung, saya masih grogi. Namun, grogi itu akhirnya hilang ketika saya mulai masuk ke slide awal di mana saya bercerita tentang pengalaman saya menjadi peserta, dan panitia DAT.

Huff, saya jadi teringat, dulu ketika saya menjadi panitia DAT, saya pernah berkhayal untuk menjadi pemateri DAT. Saya yang waktu itu sedang mengikuti korindo dan PKM, bercita-cita dapat mengisi materi DAT sebagai mahasiswa yang berprestasi di bidang roket dan robot.  Yah, apa daya, semuanya nggak menang, saya pun tidak berhasil mengisi materi DAT sebagai mana yang saya cita-citakan. Tetapi di sisi lain, saya akhirnya menjadi pembicara di DAT dengan tema alternatif gerakan mahasiswa. Sangat senang bisa berbagi gagasan dengan para aktivis-aktivis muda. Saya yakin di antara mereka akan ada orang-orang yang menggantikan posisi saya sekarang. Dan saya sangat senang bisa menularkan semangat yang diwariskan oleh para pendiri Inkubator Ide dan Inovasi Mahasiswa kepada mereka. Senang : ) Hehe

Selain itu saya juga senang karena feedback yang saya terima sangat positif. Ada yang bilang bahwa slide dan presentasinya keren, memberikan banyak wawasan baru, tidak seperti materi-materi yang lain. Dan, lagi-lagi ada yang mendoakan saya supaya jadi orang paling konkret se-itb. Walaupun sepertinya sangat imajiner, saya aminkan saja doa itu.

Dan kembali, setelah saya berbagi gagasan dengan banyak orang, berusaha membuat gagasan-gagasan itu menjadi nyata adalah konsekuensinya. Dan saya harus bekerja ekstra keras untuk itu!

Ini Cara Gue!!


Kader-isasi 11 Januari

“Kak, kalo kak Faisal udah ngitung segala macemnya, buat apa saya ikut?,” tanya Yuri SI 08.

“Kamu harus ikut biar kamu udah ngerasain gimana ngimplementasiin keprofesian.”

“Lagian, katanya Iwan, ke depannya himpunan bakal fokus ke kegiatan keprofesian dan pengabdian masyarakat. Jadi perlu transfer pengetahuan,” Jawab Faisal SI 07.

Begitulah pelajaran yang bisa saya bagi dari survey PLTMH di Gununghalu.

“Gimana ya kak, sebenernya materi Popope ini udah dari jaman OSKM, terus Osjur, dikasih melulu. Ampe muak. Maksudnya gimana ya, gw tau lah apa yang diomongin, tapi gimana ya cara ngimplementasiinnya?”

“Eh kak, yang tadi bercanda loh,” tutur salah seorang peserta DAT 2011.

Begitulah pelajaran yang bisa saya bagi dari mentoring DAT 2011 di Ciburial.

“Percuma lo ngejar nilai A, kalo akhirnya ga ada nilai tambah di diri lo,” tutur seseorang yang pertama kali mendapatkan nilai D dengan IPKnya yang masih deket cumlaude.

Begitulah pelajaran yang bisa saya bagi dari melihat nilai saya yang sejauh ini kombinasi antara beberapa A, AB, dan satu buah D.


Sekolah Inovator Muda

Kepemimpinan itu bakat?

Saya rasa tidak. Menurut saya kepemimpinan itu adalah perwujudan tekad. Seorang pemimpin adalah seseorang yang memiliki cita, cara, dan cinta. Memiliki cita berarti punya pemikiran. Seorang pemimpin bertindak sebagai kepala yang akan menggerakkan badan, maka dari itu dia harus punya pemikiran. Memiliki cara berarti mengetahui jalan yang harus ditempuh untuk mewujudkan cita.

Cinta. Dengan cinta, seorang pemimpin akan rela berada di garis terdepan. Berada di garis terdepan bukanlah hal yang mudah. Berada di garis terdepan berarti menanggung seluruh pasukan. Berdiri di garis terdepan artinya tidak ada punggung orang lain yang bisa dilihat ketika memandang ke depan. Mau melangkah ke mana? Tugas seorang pemimpin untuk terus melangkah meskipun lelah. Tanpa cinta dan ketulusan, rasa lelah akan menghentikan langkah seorang pemimpin. Sebaliknya, ketika melihat ke belakang, akan ada saudara dan saudari yang harus terus dijaga agar tetap berada di koridor yang diinginkan. Dan tentu saja, mereka seorang pemimpin harus mencintai mereka, berusaha mengayomi dan memahami kondisi mereka. (lagi…)


I3M Creative Portal

Pernahkah teman-teman mengetahui ide apa saja yang dipunyai oleh anak ITB?

Apakah teman-teman tahu karya aplikatif dan inovatif apa saja yang sudah dihasilkan mahasiswa ITB ? (dalam hal ini mungkin s1)

I3M sebagai Inkubator Ide dan Inovasi Mahasiswa ITB memiliki kewajiban untuk dapat menginventarisasi potensi yang dimiliki oleh mahasiswa ITB. Potensi ini dapat berupa karya atau inovasi yang siap untuk diimplementasikan. Tentu saja potensi ini perlu dihubungkan dengan stakeholder lain agar dapat termanfaatkan secara luas.

Selain sebagai intermediator inovasi, I3M juga berperan sebagai (lagi…)


Sedikit Pemikiran dan Perjalanan Bersama KM ITB

Melalui tulisan ini saya berusaha menuliskan pemikiran saya yang selama ini selalu muncul di kepala saya tentang KM ITB. Tulisan ini subjektif dari sudut pandang saya, sehingga maaf sekali kalau mungkin Anda tidak sepakat dengan saya. Tentu saja sesubjektif-subjektifnya pendapat saya, pasti ada unsur objektifnya.

Saya bukanlah seorang aktivis, meskipun saya sempat terjerumus menjadi peserta Diklat Aktivis Terpusat, menjadi panitia di Diklat berikutnya, dan terancam menjadi mentor di Diklat yang akan berlangsung Januari ini. Awalnya saya bukanlah orang yang punya pikiran untuk KM ITB. Bagaimana mau peduli kalau baru sampai di kosan, saya sudah dicekoki dengan berbagai pandangan bahwa KM = Keluarga Monyet, anak KM itu pada nggak bener, dan pandangan negatif lainnya.

benarkah kami keluarga monyet? (lagi…)


Setengah Jalan di I3M (1)

Tidak terasa sudah setengah jalan perjalanan saya sebagai Presiden Inkubator Ide dan Inovasi Mahasiswa ITB periode 2010/2011. Begitu banyak cerita yang mungkin tidak bisa diwakilkan hanya dengan LPJ 6 Bulan dan semua LPJ Bulanan. Lebih banyak cerita yang terkandung daripada sekedar kumpulan kata yang ada pada I3M Creative Portal.

Dan, di antara pencapaian I3M pada 6 bulan yang telah dilalui ini, ada salah satu yang sangat menarik dan agak nyeleneh buat saya :) Hal ini adalah dimuatnya foto kami di http://www.itb.ac.id/news/3001.xhtml. Memang benar, gambar ini:

bertemakan PKM atau PIMNAS, dan gambar itu merupakan hasil rancangan dari Faikar Izzani, DKV 07, Kepala Bidang Media Inkubator Ide dan Inovasi Mahasiswa ITB. Tetapi, sesungguhnya foto yang satu lagi adalah foto kami saat Presenticcon selesai:

Begitu banyak cerita dan hikmah yang saya dapatkan dari 6 Bulan keberjalanan I3M ini. Tentang kepemimpinan, tentang inovasi, tentang networking, dan sebagian besar tentang perjalanan yang sulit untuk mewujudkan mimpi yang tinggi.

Seorang senior saya berkata, “Jalan Idealis adalah jalan yang sulit.” Dan memang benar, konsekuensi dari bermimpi tinggi ada dua:

1. Anda harus bekerja lebih keras karena mimpi Anda sangat tinggi.

2. Anda harus siap untuk tidak meraih mimpi tersebut karena mimpi Anda mungkin terlalu tinggi sehingga tidak mungkin dicapai di waktu itu.

Lalu, bagaimana I3M di setengah tahun kepengurusan ini? Sudahkah mimpi-mimpi yang melambung tinggi itu mendarat di alam nyata?

Nantikan kelanjutan cerita ini :)


Kapan Ganesha Unjuk Gigi?

“ITB menjadi lembaga pendidikan tinggi dan pusat pengembangan sains, teknologi dan seni yang unggul, handal dan bermartabat di dunia, yang bersama dengan lembaga terkemuka bangsa menghantarkan masyarakat Indonesia menjadi bangsa yang bersatu, berdaulat dan sejahtera.”

Pernahkah teman-teman mendengar kutipan di atas? Kutipan di atas merupakan visi ITB, yang seharusnya juga divisualisasikan oleh mahasiswa ITB sebagai bagian dari organisasi bernama ITB.  Universitas riset, world class university, adalah suatu cita-cita yang seharusnya berusaha diwujudkan oleh seluruh elemen ITB.
Sekarang, pernahkah teman-teman mendengar sebuah kegiatan bernama PKM? PKM merupakan sebuah wahana yang disediakan oleh Dikti dalam mengintegrasikan kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang selama ini sarat dengan partisipasi aktif mahasiswa. Berikut merupakan kutipan tentang PKM yang saya ambil dari buku pedoman PKM:
“PKM dikembangkan untuk mengantarkan mahasiswa mencapai taraf pencerahan kreativitas dan inovasi berlandaskan penguasaan sains dan teknologi serta keimanan yang tinggi. Dalam rangka mempersiapkan diri menjadi pemimpin yang cendekiawan, wirausahawan serta berjiwa mandiri dan arif, mahasiswa diberi peluang untuk mengimplementasikan kemampuan, keahlian, sikap tanggung jawab, membangun kerjasama tim maupun mengembangkan kemandirian melalui kegiatan yang kreatif dalam bidang ilmu yang ditekuni.”

(lagi…)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 563 pengikut lainnya.