Filosofi#3 Inovasi
“The term innovation derives from the Latin innovatio, the noun of action from innovare. The Etymology Dictionary further explains innovare as dating back to 1540 and stemming from the Latin innovatus, pp. of innovare “to renew or change,” from in- “into” + novus “new”.”
Sebenarnya apa sih inovasi itu? Pertanyaan ini adalah sebuah pertanyaan yang sering muncul dalam diri saya ketika itu. Saya pun melakukan sedikit pencarian melalui internet dengan membaca buku-buku, maupun video-video. Setelah setahun menjalankan roda kepengurusan I3M, saya akhirnya dapat menyimpulkan beberapa hal. Tulisan ini berasal dari pemikiran subjektif saya, saya tidak akan menyertakan referensi ilmiah dari statemen yang saya tulis

who invented the first wheel? img source = http://www.johnlund.com/images/CSM002829.jpg
Inovasi pada dasarnya adalah suatu pembaharuan. Pembaharuan ini dilakukan melalui penerapan dari ide atau gagasan yang baru. Ya, inovasi itu tidak melulu tentang invensi, tetapi juga tentang penambahan nilai tambah. Jika invensi adalah manifestasi ide dalam bentuk proses, alat, atau komposisi yang baru, inovasi lebih berbicara tentang perubahan yang terjadi dalam suatu sistem. Yang perlu digarisbawahi di sini, inovasi adalah implementasi dari ide-ide tersebut. Artinya, ide tersebut harus direalisasikan dan berhasil menyentuh subjek-subjek yang menjadi target inovasi tersebut. Kalau misalnya kita berbicara tentang inovasi sosial, seharusnya ide yang ada mampu menyelesaikan permasalahan di masyarakat atau memberikan nilai tambah dalam cara hidup masyarakat. Kalau misalnya kita berbicara tentang inovasi produk, tentu saja produknya harus bisa dikomersialisasi dan ada penggunanya.
Filosofi#2 Pendidikan
Kalau teman-teman pernah membaca proposal I3M (bisa juga dibaca di sini http://otakkurusak.wordpress.com/2008/04/12/pusat-inkubator-ide-dan-kreativitas-mahasiswa-itb/), pasti teman-teman akan sangat tertohok. Terutama paragraf ini:
“Bisa Anda bayangkan jika terdapat satu komunitas, dimana dalam komunitas tersebut terdapat sepuluh ribu pemuda pilihan dari sekitar dua ratus juta yang ada (1:20000). Kita akan lanjutkan bayangan kita, menurut Anda bagaimana profil orang-orang pillihan tersebut. Menurut Anda apa yang bisa mereka lakukan, bayangkan saat anda harus menyeleksi satu orang dari dua puluh ribu orang. Kualitas pemuda seperti apa yang Anda bayangkan.
Bayangkan lebih jauh lagi, kemudian orang-orang tersebut dikumpulkan dalam sebuah komunitas. Seberapa hebat komunitas tersebut menurut Anda. Sepuluh ribu orang terseleksi dari negeri ini berkumpul di sebuah tempat. Mungkin Anda akan membayangkan mereka sebagai pasukan elit yang bisa mengatasi masalah apapun, menyelesaikan semua misi, atau bahkan menggerakkan bangsa ini.
Jika bayangan Anda seperti itu, lebih baik Anda buang jauh-jauh. Bayangan Anda meleset, Anda hanya akan menemukan pemuda-pemuda tanggung yang bahkan tidak tahu siapa diri mereka sebenarnya, apa peran mereka disana, apa tanggung jawab mereka disana, bahkan mereka tidak tahu apa tujuan sebenarnya mereka disana. Itulah ITB.”

Krisis Identitas, itulah yang terjadi sekarang. Sistem pendidikan formal yang ada telah mengekang kreativitas, minat, dan bakat yang sesungguhnya dari diri sendiri. Kita terbiasa memandang IPA lebih baik daripada IPS. Kita terbiasa menganggap sekolah adalah sebuah tingkatan formal yang memang harus dilewati agar nantinya kita dapat bekerja dan hidup.
Pendidikan telah bergeser maknanya. Padahal orang-orang bijak jaman dahulu berkata bahwa pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia, bagaimana setiap manusia dapat menemukan arti keberadaannya sendiri berupa misi hidup. Ya, setiap orang seharusnya terus mencari apa yang bisa ia perbuat agar keberadaannya berarti. Sekali berarti, sudah itu mati. (lagi…)
Filosofi#1 Sebuah Gagasan
Di akhir tahun 2010 saya sempat berpikir, bagaimana sih seharusnya gerakan mahasiswa ITB? Bukan tanpa alasan, ketika itu saya sedang berdiskusi dengan Ikhsan Abdusyakur yang hendak mencalonkan diri sebagai MWA Wakil Mahasiswa ITB. Sebagai salah seorang yang pernah terlibat dalam Diklat Aktivis Terpusat KM ITB, saya merasa tergelitik dengan topik ini.
Kalau dipikir-pikir, alangkah luar biasa kayanya potensi yang ada di kampus ITB. Orang-orang yang pintar, fasilitas yang dimiliki, jaringan dari para alumni-alumninya. Menurut saya itu adalah cerminan ragam potensi yang dimiliki kampus ini. Lihat saja bidang ilmu yang dimiliki kampus ini, sains, teknologi, seni rupa dan desain, ditambah lagi bisnis dan manajemen. Ini adalah sebuah kombinasi yang menurut saya sangat maut di mana sains bisa menjadi dasar bagi penerapan teknologi yang lebih advance tanpa melupakan sentuhan seni dan kebudayaan bangsa. Dan ditambah bisnis dan manajemen, seharusnya kita dapat menghasilkan sangat banyak inovasi. Bukan hanya invensi, tapi lebih ke inovasi yang tepat dalam menyasar pasarnya, baik itu komersial maupun sosial.
Setelah menyadari kayanya potensi ITB, saya pun kembali berpikir. Beberapa kali saya ngobrol dengan orang-orang, saya menjadi tersadar bahwa sampai saat ini sepertinya ITB belum bisa memberikan dampak yang besar bagi pengembangan peradaban di kota Bandung. Ya, permasalahan di sekitar kita masih sangat banyak, dan kita yang masih mahasiswa ini hanya berkutat dengan debat kusir yang setiap tahun selalu diulang-ulang di kampus. Banyak bacot singkatnya.

Nah menurut saya seharusnya ada yang berperan sebagai pihak yang mengelola potensi-potensi yang ada agar dapat menjadi solusi bagi permasalahan bangsa. Pihak tersebutlah yang mendata potensi yang dimiliki kampus ini, segala potensi dari segala elemen yang dimiliki oleh kampus ini. Lalu, pihak itu juga yang berperan untuk menjodohkan potensi tersebut dengan masalah-masalah yang ada. Oiya, artinya si pihak ini juga harus memiliki pendataan masalah-masalah tersebut ya. Ya, inventaris! (lagi…)