perjalanan seorang @rousyan dalam menjadi insan solutif (dan rendah hati)

Karya

Fulan Tak Jadi Berhenti Mengaji

Fulan adalah seorang pendosa. Dia telah melakukan begitu banyak dosa selama hidupnya. Nah, kebetulan suatu ketika Fulan sedang merasa begitu dicoba. Kadang sebagai pendosa, dia mengharapkan segala cobaan yang dialami ini sebagai pencucian atas dosa-dosanya. Fulan terus bertanya kepada Tuhan, benarkah ujian itu memang perlu bagi dia? Apakah memang dicoba adalah sebuah konsekuensi?

Dan tentunya sebagai seorang pendosa ulung, Fulan terus bertanya kepada Tuhan, mungkinkah dosa-dosanya ini diampuni? Ia merasa dosanya ini begitu hina. Ini adalah aib. Akankah Tuhan mengampuni dosa-dosa ini? Malu rasanya. Ia mengaku beriman, tetapi masih sering menuruti ajakan setan.

Malam itu Fulan melihat seorang kawannya sedang mengaji. Ia pun jadi teringat, sudah lama ia tidak mengaji. Semenjak dia berpikir mengaji dengan melagukan bahasa yang seperti bahasa arab itu tidak berfaedah apa-apa, dia mulai jarang mengaji. Entahlah. Dulu ia rajin mengaji, tapi sudah bertahun-tahun ia lupakan mengaji. Buat dia mengaji tidak lebih dari relaksasi belaka.

Tapi, siapa yang pernah menyangka bahwa Tuhan punya rencana? Hati Fulan mendadak tergerak untuk mengikuti jejak temannya. Mengaji. Ia ambil Al-Quran dengan terjemah. Dengan kemampuan bahasa arab pas-pasan dia merasa sia-sia kalau mengaji Al-Quran yang tidak ada terjemahannya. Kebetulan juga ia masih punya sisa wudhu sehabis sholat fardhu.

Bingung mau mengaji apa. Ia bolak-balik halaman demi halaman Al-Quran dengan terjemahan itu. Tiba-tiba saja dia sampai pada surat Al-Ankabut, tepat di halaman pertama, ayat pertama. Sejenak dalam hati ia berpikir, wah Al-Ankabut, Laba-laba, kayaknya keren nih, sembari terbayang spiderman.

Memulai ngajinya dengan taawudz, Fulan berharap Tuhan mau mengenyahkan setan yang ada di sekelilingnya. Ia mau setan itu pergi selamanya, ia takut jika setan-setan itu membujuknya untuk terjerumus dalam dosa. Selain itu, Fulan berharap agar dia benar-benar mendapat sesuatu dari mengaji. Kalau hari ini dia tidak mendapatkan sesuatu, sempat terbersit di pikirannya, tidak akan pernah mengaji lagi. (lagi…)


Tiga Bagian Malam

*Originally posted in my tumblr

Di rumah itu anak-anak kecil masih lelap tertidur. Sementara senyap menghampiri seluruh kampung, seorang muadzin dengan teguhnya masih berada di langgar. Dinginnya malam ia kalahkan dengan tebalnya iman yang ia kenakan. Tak pernah surut semangatnya untuk menyeru warga sekitar agar bangun. Bangun untuk memiliki waktu privat dengan Tuhan. Memohon dimudahkan segala urusan.

Di rumah yang terdiri atas dua lantai itu, seorang kakak terbangun di kamarnya. Entahlah, sepertinya malam memang dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah ketika anak-anak kecil mulai tertidur. Bagian kedua adalah ketika anak yang lebih besar serta orang-orang tua mulai tertidur. Dan bagian ketiga adalah ketiga tiga manusia di rumah itu terbangun. Terbangun saat tiga orang manusia lain yang masih belia, terlarut dalam mimpinya, kadang mimpi baik, namun terkadang buruk.

Malaikat masih bekerja. Sekalipun kebanyakan manusia tengah tertidur lelap. Malaikat tak pernah mengenal rasa lelah, sebuah kelebihan yang membuatnya tak henti melaksanakan perintah Tuhan. Maka dari itu, malam ini malaikat tetap mengawasi pergerakan semesta. Di antara mereka, ada yang ditugaskan untuk menjaga agar bulan terang benderang. Lalu, sekelompok malaikat dengan seribu sayap diperintahkan Tuhan untuk turun dari langit. Ada tugas besar yang mereka emban.

(lagi…)


Untuk Pambudi

Pada hari ini, salah satu sahabat saya yang bernama Fitrian Pambudi berulang tahun. Pambudi itu seperti selayaknya manusia biasa, ada kelebihannya dan ada kekurangannya. Pambudi itu terkadang memiliki sifat polos, dan mungkin terkadang jadi tidak peka. Sisi positif dari hal ini adalah Pambudi menjadi orang yang cuek dan pantang menyerah dalam mengejar mimpinya. Tak peduli apa yang dikatakan orang lain, Pambudi yang seorang pekerja keras terus berusaha untuk membuat kata-katanya menjadi nyata.

Pambudi adalah seorang pejuang mimpi di kemahasiswaan. Dia adalah seorang Ketua Angkatan DAT, Deputi Pendidikan Kabinet KM ITB 2009/2010, dan Ketua HME 2010/2011. Selain aktif di organisasi, Pambudi juga berprestasi. Pambudi pernah menjadi salah seorang juara lomba menulis di ITB Fair 2010, serta memenangkan kompetisi desain logo ITB Ecocampus. Kalau teman-teman lihat logo ITB Ecocampus, logo tersebut merupakan karya Pambudi. Oh iya, kalau teman-teman ingin membaca tulisan inspiratif dari Pambudi, teman-teman bisa mengunjungi blognya di http://fitrianp.wordpress.com/.

Atas inspirasi yang saya peroleh dari persistensi Pambudi, saya pun menciptakan sebuah lagu. Hari ini lagu ini resmi saya berikan kepada Pambudi melalui wall facebook.

Lagu ini saya rekam di HME, makanya ada backsound yang rada kacau :) Yah, pesan saya untuk Pambudi mah simpel aja, semoga Pambudi bisa terus ingat Tuhan.

Aku Pambudi! Pejuang Mimpi!


Gerakan Indonesia Berkarya

Karya.


Karya adalah salah satu kata yang bagi saya sangat menarik. Saya juga tidak tahu persis di mana daya tarik dari kata karya. Tetapi, yang jelas, “karya” lah yang membuat manusia berbeda dengan makhluk lain di muka bumi. Manusia memiliki kemampuan untuk berkarya, mencipta. Ya, atas belas kasih dari Tuhan sang Maha Pencipta, manusia telah diberikan kesempatan untuk menciptakan sesuatu, berkarya.

Saya mulai menyadari hal ini ketika saya pernah berpartisipasi dalam Pemilu HME ITB. Saat itu saya berpikir, apa sih sebenarnya himpunan itu. Jawaban yang saya temukan ternyata memberikan pertanyaan baru sampai akhirnya saya sampai pada hal yang paling mendasar dari sesosok makhluk: alasan keberadaan.

Percaya atau tidak, segala sesuatu diciptakan dengan alasan yang spesifik. Kalau teman-teman ingat, Einstein juga pernah berkata bahwa Tuhan tidak bermain dadu. Begitu pula manusia, saya percaya bahwa setiap manusia memiliki alasan keberadaannya masing-masing. Setiap manusia dibekali potensi dan bakat tertentu agar dirinya bisa berbuat sesuatu di muka bumi ini. Dan itulah definisi berkarya menurut saya, memaksimalkan potensi yang dimiliki agar bisa memberikan dampak (beramal) bagi lingkungannya. (lagi…)


Aku Seorang Koruptor

Aku berada di sebuah restoran di kota Bandung. Di depanku berdiri seorang Kepala Sekolah Dasar di daerah tertinggal di Jawa Barat. Sambil meneguk secangkir kopi, saya memulai pembicaraan, “Gimana Pak, anak-anak masih sekolah?”

“Susah Pak, orang tua mereka sepertinya udah nyerah. Gak kuat ngebiayain.”

“Hmm, dana bantuan yang dari Diknas belum turun Pak?”

“Wah itu dia Pak, sampai sekarang dana yang dijanji-janjikan itu belum turun. Yah, anak-anak sih udah mulai nyambi ngamen sekarang.”

***

Setahun berlalu. Kini aku dijerat hukum. Aku dituntut atas kasus korupsi yang aku lakukan pada saat menjabat sebagai anggota DPR. Kini tiba saatnya orang-orang yang ada di wahana keadilan itu mencercaku dengan pertanyaan yang mungkin akan membuatku mendekam sangat lama di bui. Akhirnya pertanyaan dilontarkan oleh panji keadilan,”Ke mana larinya dana yang saudara terima?”

“Dana itu saya berikan kepada suatu Sekolah Dasar di daerah Jawa Barat. Uang tersebut saya gunakan untuk mengembangkan SD tersebut. Rinciannya bisa dicek.”

***

Hanya sebuah cerita fiksi singkat yang saya tulis setelah mengobrol dengan @irfahlevi.

 

 

 


Peta Interaktif Budaya Indonesia

Temen-temen inget nggak kalau dulu pas jaman SD suka beli buku tentang budaya Indonesia gitu buat pelajaran IPS ? Bukunya biasanya berisi tarian, senjata, adat, dan lain-lain tentang seluruh provinsi di Indonesia. Nah, saya pernah mencoba membuat versi digitalnya bersama dengan Imam Reiza Fahlevi dan Seto Prabowo.

Kisah ini bermula ketika Amy Hadiastuti menjadi panitia Pagelaran Seni Budaya ITB 2010. Tadinya ensiklopedia ini mau ditambahin macem-macem lagi, terus dimasukin ke CD dan dibagikan ke khalayak ramai. Tetapi, karena satu dan lain hal akhirnya mandek.

Nah, beberapa bulan yang lalu hard disk eksternal saya rusak. 320GB data hilang, termasuk file-file ensiklopedia ini. Sedih juga karena membuatnya telah mengorbankan beberapa hal dan bukan sesuatu yang gampang. Dan ternyata hilang begitu saja. Hilang.

Eh eh eh..

Tapi akhirnya saya menemukan satu potongannya loh! Beruntung saya dapat menyelamatkan satu file ini. Silahkan dinikmati:

Peta Interaktif Budaya Indonesia

Alhamdulillah.


Surat buat V

10 tahun yang lalu V pernah bilang kalau V suka sama M, ngga tau kenapa saat itu M kecil yang lugu juga jadi suka sama V. Padahal, V itu orangnya nyebelin. V suka seenaknya sendiri dan ngga pernah mikirin perasaan orang lain, bahkan orang yang V suka.

Mungkin saat itu V dan M terlalu kecil untuk mengenal cinta. Kita terlalu memaksakan hubungan yang ngga seharusnya terjadi.

Meskipun saat itu M masih kecil, M masih ngga ngerti apa itu “cinta” kepada lawan jenis yang bukan keluarga, tapi, M merasa bahagia bisa bersama V dulu. V cinta pertama M, bukan Cuma cinta monyet seperti yang orang-orang bilang.

Waktu V telpon M malem-malem, sebenernya jantung M berdetak sangat kencang. M ngga tau kenapa. Waktu V bilang V suka sama M, sebenernya M pengen teriak saking senengnya. Tapi, M sok jaim di depan V. Waktu V cium tangan M untuk minta maaf karena suatu hal,M juga terus kepikiran V, di kelas M jadi ngga konsen,sampe rumah juga pikiran M dipenuhi oleh V. Waktu ada gosip V dan I, sebenernya M sakit banget dengernya, M pengen nangis, tapi M pura-pura ngga peduli.

Waktu pulang dari pesta perpisahan di villa, dan tiba-tiba V bilang V uda ngga suka lagi sama M, hati M sakit banget. M nangis seharian. Dan waktu V meninggalkan M ke J untuk melanjutkan sekolah, Mila sangat kehilangan V. (lagi…)


Bohong

Hey kau
Iya, kau yang sedang duduk termangu
Tak usahlah kau berpura-pura padaku
Tawa palsu mu tak akan mampu mengelabui pikirku

Aku ini raja pembohong
Tipu daya mu itu aku sudah tahu semuanya
Siang mau kau jadikan gelap
Malam mau kau jadikan bolong

Aku sudah hapal kisah ini
Bahkan sejak sebelum novel picisan itu kau tuliskan
Bahkan aku sudah bisa menebak seperti apa sampulnya
Bahkan siapa saja yang akan membaca  pun aku mengetahui

Sudahlah tipu-tipu ini tidak berguna
Untuk apa kau tuliskan semua yang tidak akan pernah kau sanggup lakukan
Untuk apa kau perjuangkan sesuatu yang masih belum samar
Sementara saat ini kau punya waktu dan kesempatan
Dan waktu ini kau belum manfaatkan
Sangat mengecewakan

Kau tahu yang benar
Tetapi kau belum melakukan
Masih ada waktu kawan
Sudahkan tipu mu, bawa kembali realita

Bungkus ia dengan indah
Dan jadikan itu kado buatku
Aku akan sangat berbahagia
Karena kau sebenarnya dari dulu memang temanku

hanya sajak tidak jelas yang ada di kepala saya saat ini..(dan bukan untuk siapa-siapa)


Buku Catatan @rousyan 2010

Walaupun tampilannya masih salah tidak apa-apalah, yang penting belum basi. Hehe. Nanti akan direvisi. Dengan bangga saya mempersembahkan Buku Catatan @rousyan 2010. Silahkan didownload, save as saja karena tebalnya 361 Halaman :D

Tahun 2010 diwarnai dengan berbagai aktivitas saya, mulai dari HME, I3M, Lomba PLC, PKM, MBC, dan Percintaan yang akhirnya kandas. Hahaha. Yah apapun kondisinya, kita harus berusaha menjadi lebih baik di tahun mendatang!


Portfolio Online di Behance

Beberapa minggu lalu, teman saya bernama Seto (@setoprabowo) memperkenalkan saya kepada sebuah website dengan alamat http://www.behance.net/. Di website ini kita dapat membuat portfolio dari hasil kerja kreatif kita, selain itu kita juga bisa melihat portfolio milik orang lain. Situs ini bekerja sebagaimana situs social network, kita dapat memfollow orang lain, dan memiliki lingkaran jejaring sendiri. Konsep yang sangat menarik, di mana perusahaan-perusahaan dapat melihat karya kita dan hubungan profesional pun dapat terjalin melalui behance. Salah satu slogan yang diangkat tentang platform behance network ini adalah:

Where the world’s top talent meets the greatest opportunities

Saya sendiri akhirnya mendapatkan account di behance setelah menunggu beberapa hari. Portfolio saya dapat dilihat di http://www.behance.net/rousyan. Saat ini baru terdapat tiga buah project yang ada di sana:

Logo Dewan MWA Wakil Mahasiswa ITB 2010/2011.

Logo ITB Open XII versi awal.

Layout majalah energi, kalau tidak salah yang saya masukkan di sini belum fixnya. Sebab, finishing sendiri dilakukan oleh Aban (@abanuaji).


I3M Creative Portal

Pernahkah teman-teman mengetahui ide apa saja yang dipunyai oleh anak ITB?

Apakah teman-teman tahu karya aplikatif dan inovatif apa saja yang sudah dihasilkan mahasiswa ITB ? (dalam hal ini mungkin s1)

I3M sebagai Inkubator Ide dan Inovasi Mahasiswa ITB memiliki kewajiban untuk dapat menginventarisasi potensi yang dimiliki oleh mahasiswa ITB. Potensi ini dapat berupa karya atau inovasi yang siap untuk diimplementasikan. Tentu saja potensi ini perlu dihubungkan dengan stakeholder lain agar dapat termanfaatkan secara luas.

Selain sebagai intermediator inovasi, I3M juga berperan sebagai (lagi…)


Malaikat Hidupku

Jikalau ada lentera yang menyala di pagi hari
tentu itulah dirimu
Engkau bukan mentari yang mampu menerangi semesta raya
namun dengan cahaya kasihmu
kau terangi sudut hatiku
yang kelam dengan kegalauan
yang redup karena keputusasaan
(lagi…)


Lukisan Pagi

Aku masih terpaku pada kanvas yang sudah tidak putih ini. Coretan merah telah kutoreh begitu banyak. Ini sudah kanvas keenam, dan aku belum bisa melukis seindah apa yang ada di bayanganku. Warna yang ada di bayanganku tak sama dengan merah yang ada di lukisanku.

Aku masih ingin melanjutkan ke kanvas yang ketujuh untuk melukiskan imaji yang terlintas. Namun kali ini aku harus serius, sebab kanvas yang tersisa tinggal empat. Sebaiknya aku berhenti setelah kanvas ketiga, karena nampaknya kanvas keempat akan membuatku tidak enak hati.

Mengubah bayangan menjadi sesuatu yang nampak jelas oleh kedua bola mata memang bukan pekerjaan mudah. Huff, nampaknya aku butuh istirahat sejenak.

Aku keluar dari ruang imajinasiku. Menyaksikan silaunya mentari menembus renda-renda yang ada di jendela rumahku. Tak kusangka, rumah ini begitu kotor. Aku terlalu asyik melukis, sampai-sampai rumahku tak ada yang merawat. Aku terlalu lama berada di ruang lukisku, sampai-sampai rumahku telah menjadi rumah laba-laba. Langit-langit, lantai, dan dinding, semuanya terdapat sarang laba-laba. Di sudut-sudut terdapat bungkus rokok dan makanan. Aku pun berjalan menuju pintu. Rasanya aku ingin lari dari semua ini. Dari suasana yang begitu kotor dan suram. Dari imajinasi yang tak kunjung bisa ku lukis.

Daun pintu telah ku genggam. Ku putar besi itu sembari mendengar bunyi yang membuat telingaku sakit. Aku tendang pintu itu karena memang engselnya sudah berkarat sehingga tak akan bisa didorong.

Pintu itu terbuka. Perlahan udara sejuk mulai memasuki hidungku. Betapa nikmatnya ketika aku menghirup udara itu. Beruntung udara itu gratis, sehingga aku bisa menghirupnya hingga memasuki paru-paruku. Segar dan nikmat rasanya. Kesegarannya membunuh rasa kesal yang ada di dadaku. Mataku masih terpejam. Aku belum siap melihat apa yang akan aku lihat beberapa saat lagi. Namun, perlahan mataku tak sanggup lagi menahan godaan dari berkas-berkas sinar matahari yang masuk ke dalamnya. Aku membuka mata pelan-pelan. Silaunya begitu menggoda.

Aku telah membuka mataku lebar-lebar, namun aku masih ingin membukanya lebih lebar. Ini seperti mimpi. Ketika aku berhenti mengutuk lukisanku, aku justru mendapatkan lukisan itu. Inilah yang ingin ku lukis sejak kanvas nomor satu, Lukisan Pagi.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 563 pengikut lainnya.