perjalanan seorang @rousyan dalam menjadi insan solutif (dan rendah hati)

Pemikiran

On Becoming a Better Person

I can’t take the speed it’s moving in
I know I can’t
But honestly won’t someone stop this train

Don’t know how else to say it, don’t want to see my parents go
One generation’s length away
From fighting life out on my own

Bait di atas merupakan potongan lagu John Mayer yang akhir-akhir ini begitu terngiang-ngiang di kepala saya. Selain karena saya sedang belajar memainkan lagu ini dengan gitar, saya juga sedang sering-seringnya berkontemplasi tentang lagu ini. Walaupun tidak sepenuhnya sama dengan kondisi saya, tapi lagu ini cukup mencerminkan mengenai perjalanan hidup seseorang. Bukan hanya tentang menjadi tua lalu mati, tetapi untuk berkembang menjadi lebih dewasa.

Tua itu pasti, dewasa itu pilihan. Saya tidak ingin menghabiskan waktu saya untuk menjadi orang yang sombong. Saya tidak ingin kelak, mungkin lima atau sepuluh tahun lagi, ketika saya memperoleh jabatan, harta, serta keluarga yang begitu diidamkan orang, saya menjadi sombong. Saya tidak ingin terjatuh dan mundur. Saya tidak ingin masa tua nanti saya habiskan dengan tidak mengenal arti perjuangan dan tanggung jawab. Kelak saya akan menjadi role model bagi anak-anak saya. Ya, saya memang masih muda, bahkan kepala dua saja pun belum. Tapi, bukan berarti saya harus berhenti belajar bagaimana menjadi manusia dewasa. Masih muda, bukan berarti saya bisa bersenang-senang saja dan larut dalam euforia jiwa muda.

Muda. Saya harus bersyukur. Di usia semuda ini saya telah diberikan berbagai contoh jahat dan baik. Beruntung saya telah mengenal dengan betul mana yang benar dan salah. Sayangnya, perjuangan tidak cukup berhenti sampai di situ. Tidak cukup untuk hanya bisa membedakan yang benar dan salah. Tantangan selanjutnya adalah, hidup memberikan kita pilihan, akankah kita mengikuti kebenaran atau kesalahan? Yang jelas, banyak orang berpikir bertobat itu menunggu tua. Banyak orang berpikir menjadi lebih baik adalah urusan nanti. Muda. Itulah mengapa Tuhan memberikan credit tersendiri bagi manusia yang semenjak masa mudanya telah terbiasa untuk membaca ayat-ayat-Nya serta mengisi hari-hari dengan menyebut nama-Nya.

Namun, lagi-lagi hidup adalah sebuah perjalanan. Hidup adalah tentang kemajuan. Hidup adalah tentang berkembang. Dan muara hidup hanyalah satu, yakni pengabdian kepada Yang Maha Esa. Namun, Tuhan pun telah menetapkan kehidupan manusia ke dalam berbagai tahapan-tahapan. Lahir, tumbuh, dewasa, tua, hingga mati. Sepanjang perjalanan itu, manusia mengalami berbagai fasa dalam hidup. Dan ya, saya merasa bahwa saya sedang berpindah fasa. Dan saya merasakan begitu banyak ketidaknyamanan?

Is it easy to leave our comfort zone? It never is. Finally, i really have to fight on my own. I have to stop complaining and just fight.

Dan saya, sejujurnya masih seorang tukang mengeluh. Apalagi di hari-hari sekarang. Saya yang sedang memulai fasa baru dalam hidup masih terbayang oleh banyak hal di fasa yang lampau. Saya belum bisa legowo untuk meninggalkan urusan-urusan yang telah menemui deadline. Saya mendengar dengan jelas bahwa Bapak Guru telah mengatakan,

“Selesai nggak selesai kumpulkan ya”

Tapi, saya masih belum bisa mengumpulkannya. Entahlah, yang jelas saat ini saya telah berada di kota yang baru. Saya memulai aktivitas baru, pekerjaan baru, teman-teman baru, dengan segala tantangan baru. Saya yang pemalas ini harus belajar untuk bekerja keras. Saya yang begitu semau gue, harus belajar untuk diatur. Sudah terlalu lama saya menjebak diri dalam zona nyaman. Nyaman dalam segala aturan yang dibuat sendiri, nyaman dengan segala kekurangan yang dapat direkayasa sehingga nampak seperti kelebihan.

Ikhlas? Ya saya masih belajar. Terkadang untuk menuruti perintah ibu saja saya masih belum ikhlas. Semalam misalnya. Saya baru datang jam tujuh malam di kos, lalu ibu saya yang sedang di apartemen om saya di Juanda menyuruh saya menginap di sana karena beliau sendirian. Saya sendiri sempat mengeluh. Saya banyak kerjaan, ada web yang harus dikerjakan, ada proposal riset yang mendadak harus dibuat, ada bahan-bahan yang harus dibaca; semalam saya baru datang di malam hari, sudah harus bekerja di malam hari; sebelumnya lagi saya baru dari Bandung; sebelumnya lagi saya baru saja rapat pimpinan KM ITB hingga dini hari; dan saya capek. Namun, jika mengingat apa sebenarnya muara kehidupan ini, saya pun belajar untuk tidak mendengarkan keluhan itu. Saya harus memaksa diri, keluar dari zona nyaman. Saya harus memaksa diri untuk mengabdi kepada orang tua, sebab Tuhan menyuruh saya demikian, dan seharusnya hidup saya untuk Tuhan.

Sesungguhnya, ketika kita tahu bahwa tidak ada yang sia-sia di dunia ini, tidak ada kebaikan yang tidak terbalas, tidak mungkin Tuhan membiarkan kita seperti ini tanpa alasan, maka kita akan malu untuk mengeluh. Ketika menyadari esensi bahwa hidup ini hanyalah sarana agar kita menjadi berpengalaman dalam ber-Tuhan, maka hidup akan terasa ringan. Sayangnya, kesadaran itu tak selamanya ada. Sayangnya kesadaran itu tidak tetap. Yah, sayangnya setan akan terus memusuhi kita hingga mati, dan keimanan pun akan naik turun. Ditambah roda kehidupan yang selalu memaksa kita untuk memilih dari begitu banyak pilihan, dengan investasi, konsekuensi, dan risikonya masing-masing.

Sebelum meninggal, perjalanan ini belum berakhir. Sebelum meninggal, kita tak boleh berhenti belajar. Dan untuk itu, kita tak boleh henti dan lelah berkontemplasi. Tiada boleh menyerah dalam berjuang. Tak boleh sedikit pun kita mengendurkan diri, sebenarnya. Sebenarnya.

Dan, perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.

..life is about progress on becoming a better person.  

Ditulis di McD, sebelum berangkat ke IBM, sambil minum kopi. Ditulis setelah memulai fasa baru sebagai peserta IBM Apprenticeship 2012, sebuah kenyataan yang harus saya syukuri. Alhamdulillah


Tentang Gagal dan Sukses Di Kampus

Siapa bilang orang yang sukses adalah orang yang tidak pernah gagal? Siapa bilang kegagalan itu buruk?

Kegagalan adalah anugerah, sebab kita diberikan pembelajaran ekstra. Jika kita bisa menyikapi kegagalan dengan positif, maka kita akan dapat menjadi sosok yang lebih tangguh dari sebelumnya. Persis seperti suku Saiya di komik Dragon Ball yang bertambah kuat jika hampir mati. Persis seperti apa yang dikatakan oleh dosen saya,

“What doesn’t kill you will makes you stronger”

Segala kegagalan, selama kita masih hidup setelah kegagalan itu, akan bisa membuat kita jauh lebih kuat juga kita berhasil melewatinya. Saya sendiri merasakan hal itu di kampus. Mulai dari ditolak cewek, mengulang mata kuliah, gagal dalam pemilihan, gagal dalam lomba, semuanya membuat saya menjadi pribadi yang lebih tangguh, dan lebih kuat dari sebelumnya.

Dahulu, boleh dibilang hidup saya perfect. Kegagalan minor tidak pernah berarti dalam kehidupan saya, dan tak pernah mengusik zona nyaman. Saya pun terlena. Menduduki bangku kuliah, saya yang masih merasa sombong dengan hidup yang sempurna, mulai  menerima akibatnya. Segala usaha yang kurang membuat saya gagal. Dan bahkan saya gagal di bidang akademik. Dimulai dari ip semester pertama yang jauh dari target saya, lalu semangat saya yang mulai hilang untuk berkuliah. Saya bahkan merasa ingin pindah. Saya terlalu perfeksionis. Dan parahnya, ketika saya tidak berhasil mencapai kesempurnaan tersebut, saya memilih untuk lari.

Hasilnya adalah tingkat dua saya yang hancur. Bahkan semester empat saya lalui dengan NR dibawah 2.00. Itu adalah suatu pukulan yang berat buat saya. Ditambah lagi, mimpi saya untuk menjadi sesuatu pun gagal, dan juga ada beberapa masalah keluarga yang saya alami. Saat itu, saya merasa dunia sedang terjungkir balik. Saya merasa kecil, lemah, dan begitu terkungkung dalam keterbatasan. Saya ingin lari. Saya ingin memulai lembaran baru di kampus lain, dimana saya masih bisa mendapatkan ip yang sempurna, dimana saya ingin mendapatkan teman-teman baru yang belum memiliki asumsi apapun tentang saya, dimana saya bisa memulai mimpi-mimpi baru.

Ya, saya berpikir untuk kabur dan berlari. Saya berpikir untuk meninggalkan apa yang saya mulai. Saya sempat berpikir untuk menjadi pecundang yang berpikir bahwa dirinya sudah kalah, padahal sisa waktu yang ada masih banyak. Jika diibaratkan bermain billiard bola delapan, saya sudah ingin quit ketika lawan sudah memasukkan empat bola, dan saya belum memasukkan satu bola pun. Padahal toh saya masih bisa menang. Saya tidak memiliki daya juang. Mungkin saat itulah saat dimana saya mengalami down yang parah.

Beruntung. Lingkungan saya, terutama ibu dan eyang, selalu memotivasi saya. Kebetulan mereka selalu menyuruh saya untuk belajar bersyukur, dan salah satu cara untuk bersyukur adalah dengan tidak pernah berhenti berjuang. Peperangan melawan rasa malas, melawan ego, dan pesimisme adalah peperangan yang mulia. Jika kita hanya lari dari suatu keadaan yang buruk tanpa berusaha memperbaikinya, maka ketika ada di lingkungan yang baru pun kita hanya akan menjadi sampah. Dan lebih jauh lagi, sebenarnya, ini semua bukan tentang mengejar nilai yang tinggi, bukan tentang mendapatkan citra dan pengakuan di mata manusia, melainkan bagaimana kita bisa berjuang dalam ber-Tuhan. (jadi inget notes curcol http://www.facebook.com/note.php?note_id=62026805519_ dan http://www.facebook.com/note.php?note_id=104647870519)

Dan ya, waktu itu saya akhirnya mulai berpikir, ini adalah tentang perjuangan. Ini adalah tentang proses, bukan hasil. Bisa saja seseorang meraih hasil yang bagus karena memang dari awal dia tidak pernah berbuat kesalahan. Tapi, seseorang yang bisa bangkit dari kegagalan memiliki nilai tersendiri. Bangkit dari kegagalan dan keterpurukan itu bukan hal yang mudah. Di sinilah karakter sejati seseorang diuji. Dan bahkan Tuhan sendiri telah mengatakan bahwa setiap orang yang mengaku beriman, pasti akan diuji.

Ya, terkadang di dunia ini Tuhan menguji kita dengan kegagalan. Dia buat seluruh mimpi kita hangus. Dia jauhkan kita dari orang yang kita sayangi. Dia ambil apa yang selama ini terus menerus ada di pikiran kita, segala hal yang kita pikirkan siang dan malam, dari kepala kita. Diberikan oleh-Nya kegagalan, meskipun terkadang kita melakukan semua dengan benar, hanya untuk menguji, seberapa kita percaya akan Dia, seberapa kita bisa mengabdi kepada-Nya dan senantiasa mengingat-Nya.

Tapi, jika dipikir-pikir, sebenarnya kita perlu meninjau, apakah proses yang kita lakukan sudah benar atau belum. Kegagalan dengan kesalahan itu ternyata berbeda. Kegagalan adalah suatu kondisi ketika kita sudah berusaha melakukan yang terbaik tapi rencana kita tetap tidak membuahkan hasil. Sedangkan kesalahan adalah ketika kita belum berusaha maksimal. Meskipun keduanya berbeda, keduanya tetap merupakan ujian dari Tuhan. Jika yang terjadi sesungguhnya adalah yang pertama, yang menjadi tantangan adalah, masihkah kita berprasangka baik kepada Tuhan? Jika yang terjadi adalah yang kedua, bisakah kita belajar dari kesalahan tersebut dan menjadi pengabdi yang lebih baik?

Hasil itu bukanlah akhir dari usaha. Gagal atau sukses dalam berusaha sebenarnya sama saja. Yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana kita bisa menyikapi kegagalan atau kesuksesan dalam mengerjakan rencana kita? Masihkah kita bisa berbagi dengan sesama baik itu di masa kita sedang di atas, maupun di bawah? Bagaimana kita bisa berbagi meskipun kita sendiri masih kekurangan? Bagaimana kita bisa tetap berbuat baik? Bagaimana kita bisa berbagi hikmah dengan sesama manusia?

Maka sejak saat itu, saya berubah.

Saya menjalani hidup dengan mental yang baru. Buat saya kesuksesan bukanlah pencapaian. Kesuksesan adalah sebuah kondisi mental dimana saya dapat menyikapi segala hal dengan positif dan menjalani hidup dalam suka cita. Dan, saat itu ada satu misi yang saya emban:

Saya harus jadi trainer SSDK

Saya ingin mahasiswa baru mendapatkan motivasi, tidak hanya dari orang yang selam hidup di kampus selalu lempeng dalam akademik dan tidak pernah terpuruk. Ya, saya ingin memberikan motivasi kepada mereka bahwa, hidup tak selamanya mudah. Bahwa roda tak selalu di atas, namun kita selalu bisa bangkit.

Dan hasilnya.. Tuhan mengabulkan doa saya. Akhirnya saya berhasil menjadi co-trainer untuk penerimaan mahasiswa baru. Nah, mungkin di sana semua orang mengira bahwa setiap yang menjadi trainer itu selalu ber-IP bagus dan tidak pernah dapet IP jelek. Pada saat training, kebetulan ada mahasiswa yang bertanya tentang bagaimana kalau kita gagal. Saya yakin rekan saya juga tidak pernah menyangka kalau saya pernah mendapatkan ip dibawah 2.00. Tapi saya rasa, saya perlu menceritakan ini buat mereka. Maka dari itu saya ceritakan sedikit tentang bagaimana cara untuk bangkit dari keterpurukan. Saya yakin, perlu ada contoh dari orang sukses yang pernah gagal. Jika semua orang sukses tidak pernah gagal, siapa yang bisa menjadi teladan bagi orang-orang gagal untuk bangkit dari keterpurukannya?

Foto bareng para trainer

Sekarang, kalau teringat masa-masa itu, saya hanya bisa tersenyum. Betapa Tuhan tahu bahwa keterpurukan itulah yang saya butuhkan agar saya bisa menjadi seperti sekarang :)

Sekarang boleh dibilang, apa yang menjadi visi saya tercapai. Saya mendapatkan ip di atas tiga, memperoleh beberapa penghargaan selama berkuliah, serta mendapatkan banyak kesempatan untuk belajar di organisasi yang saya ikut. Saya yakin semua ini ada hikmah dan kaitannya dengan tujuan penciptaan saya. Dan yang terpenting adalah, saya mulai belajar untuk lebih mengenal Tuhan :)

Dan pada akhirnya saya puas telah menimba ilmu di kampus ITB. Puas karena saya telah belajar banyak tentang kehidupan. Di sini saya tidak hanya belajar menjadi mahasiswa yang bisa mengerjakan ujian, mengerjakan tugas akhir dan lulus saja. Di kampus ini saya banyak belajar tentang bagaimana menjadi seorang manusia, dan segala pembelajaran yang saya dapatkan telah merubah definisi sukses dan gagal di kepala saya :)


Beberapa Keping Mimpi yang Tercecer di Kampus

Di tahun ketiga saya, entah angin mana yang membawa saya, pada akhirnya saya bersama teman-teman yang saya kumpulkan ada pada sebuah keluarga baru. Di keluarga baru itu, kami berbagi gagasan tentang mahasiswa ITB yang semakin kreatif, imajinatif dan visioner. Yang kami bicarakan di situ bukan lagi banyak ribut tentang hal yang selama ini sering diperdebatkan, seperti masalah diksi, esensi, dan tujuan. Yang banyak kami bicarakan di sana adalah hal-hal gila. Ide gila.

 

Satu hal yang hingga kini saya imani dan yakini. Gagasan dan mimpi adalah awal dari segalanya. Saya sendiri tak pernah menduga bahwa gagasan-gagasan yang waktu itu saya temui, begitu mempengaruhi hidup saya. Sampai akhirnya ketika lulus, saya menyadari bahwa banyak di antara pencapaian penting saya adalah berkat pertemuan saya dengan ide dari mahasiswa-mahasiswa yang telah lebih dahulu meninggalkan kampus ini.

Ketika pertama kali saya didaulat menjadi Presiden I3M, saya mendapatkan warisan berupa ide-ide proyek yang direkomendasikan untuk dilanjutkan. Di antaranya adalah proyek “Multitouch-Screen”, “CampusChannel” dan “Inspire”. Ya, tiga proyek itu adalah proyek “lungsuran” yang sudah antah berantah keadaannya. Anggota proyek yang sudah berkelana entah kemana, atau pimpinan proyeknya susah dihubungi, dan kami saat itu benar-benar kesulitan untuk mem-follow up proyek lungsuran tersebut.

Tapi, ternyata memang benar, mimpi adalah kunci untuk menaklukkan dunia. Mimpi memberikan energi yang lebih bagi seorang manusia. Bagi seseorang yang bisa memiliki pandangan ke depan, mimpi bukanlah omong kosong. Mimpi adalah sebuah gagasan dengan tahapan pencapaian yang jelas. Nyata. Mimpi adalah masa depan yang bisa diprediksi. Dan masa depan ummat manusia, ditentukan oleh mimpi-mimpi yang ada saat ini. Peradaban ditentukan oleh apa yang sedang dikerjakan para ilmuwan, insinyur, sosiolog, pengusaha, pemerintah, dan seluruh lapisan masyarakat pada tempatnya masing-masing. (lagi…)


Pelajaran yang Sulit untuk Diajarkan

Hikmah adalah ilmu tertinggi, sulit untuk diajarkan.

Siapa bisa melihat sisi positif dari sebuah perceraian? Siapa bisa melihat sisi positif dari sebuah kebangkrutan? Siapa bisa melihat sisi positif dari sebuah ketidaklulusan? Siapa bisa melihat sisi positif dari sebuah penolakan?

Satu. Lalu,

Pernahkah rasanya ada yang kurang, sekalipun kita berkecukupan? Pernahkah rasanya masih belum puas meskipun kita sudah menjadi yang terbaik? Pernahkah ada keluhan, meskipun semuanya serba nyaman dan penuh keberuntungan?

Nilai Sebuah Kejadian

Pada hakikatnya, setiap kejadian itu netral, tidak ada nilainya. Yang membuat sebuah kejadian menjadi baik atau buruk, benar atau salah, adalah mindset dan value yang kita anut. Ketika kita memiliki kerangka berpikir bahwa musibah selalu negatif, maka kita akan fokus kepada efek negatif dari suatu musibah. Dan tentunya ketika kita dapat memberikan nilai negatif kepada suatu kejadian, artinya kita memiliki informasi pendukung mengenai nilai negatif dari suatu kejadian.

Sebagai contoh, waktu kecil kita banyak mencoba berbagai hal. Sekali waktu, kita mencoba untuk memecahkan gelas. Ketika itu memecahkan gelas merupakan hal yang netral, kita belum memiliki pandangan dan memberikan value kepada aktivitas tersebut. Setelah gelas pecah, bisa jadi orang tua kita memarahi kita. Dari situ, kita mulai mendapatkan informasi dari luar bahwa memecahkan gelas adalah tindakan buruk. Namun, mendapatkan informasi ini bukan berarti menghentikan kita dari memecahkan gelas. Kita masih ingin memecahkan gelas untuk satu kali lagi. Gelas pun pecah kembali. Bedanya, kali ini pecahan belingnya mengenai telapak kaki kita. Hasilnya, kita berdarah dan merasakan sakit. Dari situ, akhirnya kita menyadari bahwa memecahkan gelas itu tindakan negatif yang membahayakan dan merugikan.

Seiring dengan berjalannya waktu, perasaan kita pun terasah. Kita mulai dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain terkait suatu hal. Empati pun mulai terbentuk. Empati ini yang dapat membuat kita turut bersedih ketika orang lain sedih. Sebagai contoh, seorang adik ikut menangis ketika kakaknya dimarahi oleh bapaknya. Munculnya empati ini juga membuat kita menjadi lebih gampang menerima informasi dari luar dan memasukkannya ke dalam value kita. Sehingga, ketika ada seseorang yang menangis, bisa saja kita menganggap orang tersebut adalah pihak yang tersakiti. Kita bisa saja menganggap seseorang yang sebenarnya salah sebagai orang yang benar karena kita berempati.

Dari kumpulan informasi dan empati inilah pola pikir, sudut pandang, serta nilai kita terbentuk. Kemudian dari sini, kita akan dapat memberikan “label” atau “nilai” terhadap segala kejadian yang menimpa kita. Ya, begitulah cara kita memandang dunia. Karena kita tak punya sudut pandang yang komprehensif atas segala sesuatu, kita hanya bisa menilainya secara parsial, sesuai dengan mindset serta value yang kita anut. Kamera kita hanya sebatas itu.

(lagi…)


Mengapa Amanah itu Diberikan kepada Saya?

Pertanyaan di atas diungkapkan pada khotbah jumat pagi tadi. Pernahkah Anda mempertanyakan, mengapa Anda mendapatkan peranan tertentu sebagai seorang manusia? Misalnya, mengapa dari jutaan pemuda, Anda terpilih menjadi mahasiswa? Mengapa Anda bisa terpilih menjadi bagian dari 18% yang dapat mengenyam perguruan tinggi?

Lalu ketika Anda dipercaya menjadi ketua tugas kelompok, pernahkah Anda bertanya, mengapa Anda? Ketika dipercaya memegang jabatan pada suatu organisasi, pernahkah Anda mempertanyakan satu pertanyaan itu. Mengapa amanah itu diberikan kepada saya?

Sampai detik ini saya masih teringat masa-masa ketika saya akhirnya menjadi PJS MWA Wakil Mahasiswa. Terkadang saya tidak bisa menjawab pertanyaan sesimpel itu, “Fik, kenapa sih lo mau jadi MWA? Kenapa harus elo?”

Tembok Alasan

Kalau boleh menjawab dengan akal, tentunya saya bisa menjawab dengan lancar. Ya, kebetulan dulu saya sempat berpikir bisa melakukan sesuatu sebagai seorang MWA Wakil Mahasiswa. Saya yang sebelumnya menjabat sebagai Presiden Inkubator Ide dan Inovasi Mahasiswa melihat bahwa banyak hal yang bisa disinergikan antara mahasiswa ITB dengan rektorat, alumni, dan stakeholder. Banyak sekali potensi yang ada di kemahasiswaan, dan untuk bisa melahirkan solusi dari potensi tersebut, mahasiswa tidak bisa sendiri. Dari pemikiran tersebut, saya memang sempat memiliki intensi ke arah sini.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, saya merasa bahwa saya bukanlah sosok pemimpin yang cukup baik. Dari segi kematangan pribadi dan integritas, saya masih sangat kurang. Setengah tahun keberjalanan kepengurusan saya di I3M, saya merasa bahwa itu adalah akhir kontribusi struktural saya di KM ITB . Saya merasa ironi, di satu sisi saya berbicara inovasi, tetapi di sisi lain saya sendiri belum merasa sudah bisa membuat inovasi. Saya pun bekerja keras untuk itu, saya memilih untuk bisa lebih mendalami disiplin ilmu saya, Teknik Elektro. Selain itu, selama dipercaya memegang jabatan struktural di berbagai organisasi, saya merasa banyak kekurangan. Skill komunikasi dan kepemimpinan saya masih begitu kurang, belum lagi pribadi saya yang masih belum matang. Atas dasar inilah, saya mulai melupakan intensi untuk menjadi MWA Wakil Mahasiswa. (lagi…)


Manusia Seperti Sebuah Buku

Ini adalah salah satu analogi yang paling saya suka. Salah satu bahan renungan yang memberikan optimisme dan rasa syukur :)

Cover depan adalah tanggal lahir. Cover belakang adalah tanggal kematian. Tiap lembarnya, adalah tiap hari dalam hidup kita dan apa yang kita lakukan.

Ada buku yang tebal, ada buku yang tipis. Ada buku yang menarik dibaca, ada yang sama sekali tidak menarik.Sekali tertulis tidak akan pernah bisa diedit lagi

Tapi hebatnya, seburuk apapun halaman sebelumnya, selalu tersedia halaman selanjutnya yang putih bersih, baru dan tiada cacat. Sama dengan hidup kita, seburuk apapun kemarin, Tuhan selalu menyediakan hari yang baru untuk kita.

Kita selalu diberi kesempatan baru untuk melakukan sesuatu yang benar dalam hidup kita setiap harinya. Kita selalu bisa memperbaiki kesalahan kita dan melanjutkan alur cerita ke depannya sampai saat usia berakhir, yang sudah ditetapkan-Nya.

Terima kasih Tuhan untuk hari yang baru ini :)

Syukuri hari ini dan isilah halaman buku kehidupanmu dengan hal yang baik semata.

Serta jangan pernah lupa untuk selalu bertanya kepada Tuhan, tentang apa yang harus ditulis setiap harinya.

Supaya pada halaman terakhir buku kehidupan kita selesai, kita dapati diri ini sebagai pribadi yang berkenan kepada-Nya.

Dan buku ehidupan itu layak untuk dijadikan teladan bagi anak-anak kita dan siapapun setelah kita nanti.

Selamat menulis di buku kehidupanmu. Menulislah dengan tinta cinta dan kasih sayang, serta pena kebijaksanaan.

Aku berdoa dan berharap agar Tuhan selalu menyertai setiap langkahmu.

Karena,

Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa langit itu selalu biru,

Bunga selalu mekar,

dan mentari selalu bersinar.

Tapi ketahuilah bahwa dia selalu

memberi pelangi di setiap badai,

senyum di setiap air mata,

nerkah di setiap cobaan,

dan jawaban di setiap doa

Jangan pernah menyerah, terus berjuanglah, dengan suka cita :)


Menghadapi Konflik

Siapa sih yang tidak takut berkonflik?

sumber gambar: milis-bicara.blogspot.com

Satu mindset yang salah dalam organisasi adalah ketika kita berpikir bahwa konflik itu buruk dan lebih baik menghindari konflik. Kalaupun ada konflik lebih baik berkonflik dengan diri sendiri. Pemikiran ini biasanya didasari oleh ketakutan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Rasa tidak enak hati sering kali menghinggapi.

Padahal, yang namanya konflik itu adalah sesuatu yang biasa. Bagaimana tidak, banyak orang dikumpulkan dalam sebuah kapal, setiap orang memiliki karakter dasar yang berbeda-beda, keperluan pribadi yang berbeda-beda, namun disuruh mengerjakan sesuatu bersama-sama, pasti akan ada konflik yang terjadi. Ditambah lagi dalam hidup ini tidak ada yang ideal. Perencanaan sematang apapun akan mengalami ujian dan hambatan. Dan ketika masalah datang, setiap orang akan menyikapinya dengan beragam. Ada yang menyikapinya dengan positif ada yang dengan negatif. Setiap orang melihatnya dari sudut pandang yang berbeda-beda tergantung pengalaman dan pemahaman hidup yang dimiliki.

Nah, ketika pemahaman ini berbeda-beda, konflik tak jarang terjadi. Ketika dihadapkan dengan suatu masalah, sudut pandang yang berbeda ini berpotensi menimbulkan konflik. Potensi akan benar-benar menjadi konflik setelah seseorang mengambil tindakan dari sudut pandang yang berbeda-beda tersebut. Ini adalah suatu hal yang pasti terjadi.

Dengan menyadari bahwa konflik adalah suatu hal yang biasa dan pasti terjadi, kita bisa mengesampingkan rasa sungkan. Proses pencarian resolusi, meskipun terkadang nampak berat, akan jauh lebih bermanfaat daripada penghindaran terhadap konflik. Jika kita terus menghindar dari konflik, masalah yang ada tidak akan pernah selesai. Kita akan bekerja dengan ganjalan di hati, tidak enak. Sedangkan jika kita mau mencari resolusi, mungkin kita akan sedikit berkonflik dengan keras untuk durasi tertentu, namun setelahnya tidak ada lagi yang mengganjal sehingga kita bisa bekerja dengan tenang.

Ya konflik pasti ada, namun yang membedakan adalah bagaimana menyikapi konflik tersebut. Apakah dipendam saja, tidak ditampakkan, atau justru dikomunikasikan langsung sehingga dapat dicari solusinya.

Kesimpulan yang dapat kita ambil adalah jangan pernah takut berkonflik. Bisa jadi konflik lah yang akan menyebabkan kita menjadi lebih mengenal seseorang sehingga ke depannya kita bisa belajar untuk memahami bagaimana mereka bersikap dan menjadi tahu bagaimana untuk menanggapi mereka. Dan dalam penyelesaian konflik, komunikasi menjadi penting. Kita harus memastikan bahwa pihak yang berkonflik memiliki frame yang sama, dan solusi yang timbul benar-benar bisa diterima oleh pihak tersebut.


Kekuatan Visualisasi

*ditulis pertama kali untuk blog chordeo

Percayakah Anda bahwa visualisasi sebuah ide atau gagasan dapat membantu membuatnya menjadi nyata?

Percayakah Anda bahwa kondisi Anda di masa kini dibentuk oleh pemikiran Anda di masa lalu?

Ade Harnusa, CEO Chordeo

Saya pernah merasakan betul bahwa sebuah gagasan, jika divisualisasikan, akan lebih mudah menjadi nyata. Jika teman-teman pernah membaca buku atau menonton video tentang Law of Attraction, tentu teman-teman memahami bahwa pikiran memiliki energi yang sangat kuat. Pikiran bawah sadar jauh lebih kuat daripada pikiran sadar. Sehingga, apa yang ada dalam pikiran bawah sadar kita akan memiliki daya tarik yang lebih besar dan lebih dapat menarik pikiran tersebut menjadi kenyataan.

Pikiran bawah sadar tidak dapat membedakan imajinasi dan kenyataan. Oleh karena itu, kita tentu sering mendengar sebuah kutipan yang berbunyi

Whether you think you can or can’t, you’re right,”

dari Henry Ford. Maka dari itu, jangan pernah takut untuk bermimpi dan berimajinasi.

(lagi…)


Indeks Prestasi, itu Privasi?

Kawan-kawan sekalian, beberapa hari yang lalu muncul suatu kehebohan di twitter. Bukan. Kali ini bukan terjadi kehebohan karena trending topics aneh berasal dari Indonesia. Kejadian menggemparkan tersebut adalah munculnya isu bahwa kita dapat melihat Indeks Prestasi seluruh mahasiswa di Indonesia. Wah? Bukankah IP itu privasi?

Ya, IP yang selama ini menjadi privasi dan menggenapi SARA menjadi SARIP kini diumbar dengan bebas. Siapa yang membeberkan info paling privat dari seluruh calon menantu di Indonesia? Jawabannya cukup mengejutkan, informasi tersebut dapat diakses oleh siapapun di sebuah situs pemerintah. Bisa diasumsikan, pemerintah mengambil kebijakan untuk menjadikan IP sebagai informasi yang bebas diakses publik. :D (lagi…)


Ajar

Percayakah Anda bahwa kata “ajar” dan “inspirasi” punya hubungan yang sangat dekat?

Ya, saya saat ini seharusnya saya sedang mengerjakan tugas akhir, mempelajari cara membuat aplikasi untuk multi-touch table top. Namun karena sedang penat, saya refreshing sejenak, salah satunya dengan menulis blog. Tulisan kali ini akan mengupas tentang inspirasi yang saya peroleh hari ini, dan inspirasi itu berkaitan erat dengan kata “ajar”.

Cerita dimulai ketika saya menunggu seorang teman di daerah Tubagus Ismail. Saya memarkir motor saya di pinggir jalan. Tiba-tiba seorang anak perempuan mendatangi saya. Anak itu bertanya, “Kak Fikri kan?”.  Saya sangat bingung, saking bingungnya, saya jawab”Iya, siapa ya?”. Ini adalah kelemahan terbesar saya. Dengan muka sangat tidak ramah, nada bicara yang songong, ditambah kebingungan, saya sukses menjadi orang yang sangat arogan.

“Saya yang dulu diajar sama Kak Fikri di ITB,” anak perempuan itu menjawab.

“Hah, ngajar? kapan ya?” saya menjawab dengan kebingungan.

“Iya yang dulu ngajar di ITB, yang main itu loh”

“Hmm, bentar kapan ya?” yang ada di pikiran saya adalah, saya tidak pernah mengajar, yang pernah saya lakukan adalah memberikan training. Oh, iya, mungkin anak ini waktu SSDK kebagian saya sebagai co-trainernya. Tapi, kalau dilihat-lihat, dia masih kecil, nggak mungkin anak kuliahan. Hmm, saya juga tidak pernah mengajar sebagai guru les. Sampai akhirnya, saya tersadar dengan frasa terakhir yang dilontarkan anak perempuan itu. Ya, saya pernah ikut meramaikan program adik asuh dari HME ITB, tapi saya hanya mau kebagian ice breaking. Saya bukan orang yang sangat serius sehingga saya hanya mengajarkan mereka bermain senam otak dan beradu menyanyikan lagu “Burung Kakak Tua” dan “Topi Saya Bundar”. Dialog di pikiran saya ini berlangsung sangat singkat, hingga akhirnya saya bisa mengatakan, “Oh iya! Iya iya! Wah, tapi kan saya udah jarang dateng.. “

Saya mengisi ice breaking dengan brain gym. Waktu itu kegiatan adik asuh ini bertempat di kos Nursita Setiawati (EP 09). Makasih tempatnya ya Sita, Makasih juga buat Pengmas HME, dan Makasih Syakur yang udah ngajak saya dateng :)

Yang membuat saya kaget adalah tiba-tiba anak perempuan itu memperlakukan saya seperti guru. Apa yang dilakukannya saat itu membuat saya teringat masa SD. Di masa SD, yang namanya guru itu selalu dihormati dan hal itu dibuktikan dengan sebuah tindakan nyata yang sangat simpel, salim. Masih segar di ingatan saya ketika saya selalu menyalimi guru-guru saya tiap setelah berbaris masuk kelas pada masa SD. Dan di luar itu, pasti saya selalu menyalami guru yang bertemu di mana pun. Masih sangat segar di ingatan saya momen dimana mama atau eyang putri atau bude-bude saya berkata, “Salim dong sama bu guru,” ketika sedang bertemu bu guru, baik itu di rumah, di mall, dimanapun.

Dan jujur, yang ada di pikiran saya adalah sebuah pertanyaan apakah saya dianggap sebagai seorang guru oleh anak ini. Kalau iya, saya merasa sangat cupu. (lagi…)


Panggilan Takdir

“Ketetapan Setelah Terjadi”

(arti kata takdir yang selalu saya jawab pada pelajaran agama, dari SD, SMP, SMA)

Setiap manusia pasti punya keinginan. Dari keinginan tersebut, manusia perlahan menyusun deretan rencana, untuk suatu hal yang dikira miliknya: hidup. Manusia punya yang namanya pemikiran akan hal-hal yang ideal, idealisme. Dan pastinya, manusia ingin mengejar keidealan itu dalam hidupnya. Perencana unggul. Manusia berusaha menjadi seorang sutradara dalam hidupnya, berbagai skenario dirancang mulai dari A sampai Z. Dalam hidupnya.

Bertanya tentang masa depan, tidak ada yang pasti. Yang pasti adalah setiap orang bisa berkata dan berbuat di masa sekarang. Mungkin apa yang diperbuatnya dipengaruhi oleh masa yang lampau, tetapi apa yang dilakukannya tidak akan pernah merubah masa lampau. Dan sekali lagi, apapun yang dilakukan manusia di masa kini, tidak dapat menjamin seperti apa masa depannya tersusun. Batu bata yang berisi sederet target dan skenario yang dirancang tidak pernah tahu, apakah dirinya akan tersusun rapi menjadi sebuah rumah yang indah di masa depan.

Kasus yang kini sering saya temui adalah sebuah pernyataan atau pertanyaan di masa lalu yang pada akhirnya tidak sesuai dengan apa yang terjadi sekarang. Salah atau tidak saya tidak tahu. Ketika hari ini kita berkoar-koar tentang nasionalisme, tidak ada jaminan di masa mendatang kita tidak menjadi koruptor. Tapi, ketika hari ini kita tidak berkoar tentang nasionalisme, tidak ada jaminan di masa mendatang kita masih memiliki sedikit saja rasa nasionalisme. (lagi…)


Untuk Musuh Saya

“Jihad terbesar adalah melawan diri sendiri”

Sebulan ini saya merasa mendapatkan banyak pembelajaran yang sangat berharga, mulai dari memaknai “sakit”, hingga memaknai tanggung jawab sebagai seorang “manusia”. Saya menulis ini untuk diri saya, siapapun dia nanti, berapapun usianya, dan dimanapun ia berada.

Ingatlah kembali bahwa pada hakikatnya kita tidak memiliki apa-apa. Bahkan diri kita sendiri pun bukan punya kita. Semua bukan milik kita. Jangan pernah sombong dengan menganggap bahwa kita telah melakukan sesuatu, karena sebenarnya tanpa daya dan upaya dari Allah, kita tidak akan bisa melakukan sesuatu, bahkan bernapas. Maka dari itu kita harus senantiasa bersyukur atas segala hal kecil yang merupakan karunia Tuhan. Jangan pernah memaksa-maksa Tuhan, karena Tuhan itu yang Maha Kuasa dan berkehendak. Berusaha itu harus, tetapi menentukan takdir bukanlah urusan kita. Ikhlas dan serahkan semua hasil jerih payahkita kepada Tuhan.

Dunia. Dunia adalah tempat di mana kita diturunkan dan diuji keimanannya. Masihkah kita akan menjadi pengabdi Tuhan yang setia. Dunia harus kita kendalikan dan kita mainkan, jangan biarkan dunia mempermainkan kita. Ingat kembali kewajiban untuk senantiasa mengingat Allah di kala duduk, berdiri, maupun berbaring. Jangan pernah lupa bahwa ke manapun kita memandang, di situlah terdapat wajah Tuhan. Dengan mengingat bahwa semua adalah wajah Tuhan, kita tidak akan pernah meremehkan makhluk. Teman kita, hewan, tanaman, dan benda mati harus kita pandang sebagai wajah Tuhan yang senantiasa membuat kita teringat akan posisi kita sebagai makhluk yang lemah. Dengan senantiasa mengingat Tuhan, sudah seharusnya kita menjaga akhlak dengan senantiasa berbuat ikhsan di ardh. Kita diturunkan bukan untuk dipermainkan dunia, tetapi untuk menjadi seorang khalifah.

Bersihkan hati untuk selalu mencari keridhoan Tuhan, karena hanyalah ridho Tuhan yang menjadi maksud dan tujuan kita. Kita bukan diciptakan untuk mengejar surga, tetapi untuk mengabdi kepada Tuhan. Jangan sepelekan dan lupakan urusan keTuhanan, selesaikan urusan keTuhanan dan Tuhan akan menyelesaikan urusan kita.

Jangan lupa untuk memuliakan Al-Quran, bukan hanya di pikiran sadar tetapi juga bawah sadar. Masih ada kesempatan untuk bertaubat selama ajal belum menjemput. Dan tidak ada kesempatan taubat ketika nyawa sudah meregang, yang ada hanya sesal. Tuhan memberikan pilihan, apakah kita akan lolos ujian? Semoga Tuhan memberikan karunia berupa hati yang bersih agar kelak ketika roh terlepas dari jasad kita, kita tidak tersesat. Semoga rohani ini terisi dengan dzikir sehingga kelak akan berkumpul bersama para ahli dzikir untuk kembali kepada isi dzikir itu sendiri. Amin.

Semoga Tuhan berkenan memberikan wasilah-Nya agar kami tidak menjadi orang-orang yang tersesat, yang tersesatkan oleh kesombongan dalam beragama, merasa benar sendiri, merasa kuat sendiri, dan menganggap diri ini Tuhan secara tidak sadar.


Empower

Sumber daya manusia adalah problem klasik dari banyak organisasi kemahasiswaan di ITB. Bagi angkatan muda yang masih berpikir ideal, pasti kaget dengan kenyataan bahwa organisasi kemahasiswaan yang diikutinya tidak se “wah” yang dia bayangkan. Apalagi, kalau organisasi tersebut memang masih baru dan masih membangun sistem. Tapi, di sini saya akan memberikan beberapa pengalaman saya yang mungkin bisa dipraktekkan di organisasi yang sedang teman-teman geluti. Pengalaman yang sangat minim ini semoga berguna untuk memberdayakan manusia yang ada di organisasi teman-teman.

Mengapa saya harus merekrut dan memberdayakan banyak SDM?

Saya yakin, organisasi atau komunitas apapun yang teman-teman ikuti pasti memiliki sebuah tujuan. Entah tujuan tersebut benar atau salah, saya optimis bahwa tujuan organisasi tersebut baik. Ketika teman-teman merasakan manfaat dari organisasi yang diikuti teman-teman, coba pikirkan kembali, betapa meruginya orang-orang yang tidak mendapatkan manfaat itu. Pernah nggak sih teman-teman berpikir bahwa, “Wah, saya dapet manfaat banyak dari organisasi X, seharusnya orang lain juga merasakan manfaat ini. Sayang banget kalo mereka nggak dapet pengalaman gini gini dan gini.”

Singkatnya adalah kita perlu merekrut dan memberdayakan banyak orang agar kita bisa saling berbagi manfaat. Selain itu, organisasi yang berkembang dan produktif tentunya membutuhkan banyak orang untuk menjalankan roda organisasi. Tentu saja ini bukanlah alasan utama. Karena, sebenarnya bagi saya, yang riil dari suatu organisasi adalah manusia-manusianya. Organisasi tersebut dikatakan gagal apabila tidak mampu mengembangkan diri manusia-manusianya dalam upaya mencapai tujuan bersama.

Rekrut!

Biasanya SDM direkrut melalui dua jalur, closed recruitment atau open recruitment. Nah, yang perlu dilakukan dalam proses perekrutan tersebut adalah membuat calon anggota tertarik. Banyak kejadian orang-orang memasuki organisasi yang sebenarnya tidak memiliki daya tarik buat mereka sehingga mereka masuk organisasi tersebut untuk keluar, bukan untuk mencoba bertahan.

Suatu organisasi akan menarik ketika ia memiliki value. Value inilah yang harus ditentukan, dan dikomunikasikan kepada calon anggota. Manfaat dan fasilitas dari organisasi yang diperoleh pun termasuk sebagai value yang bisa dijual. Hal ini memiliki peran penting dalam membangkitkan rasa penasaran dari calon anggota suatu organisasi. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa penasaran dan rasa ingin tahu adalah awal dari semua petualangan. Oh iya, sampai pada batas tertentu eksklusivitas suatu organisasi juga bisa menjadi value  menarik yang bisa menjadi pembeda suatu organisasi dengan organisasi lain.

Berikan First Impression yang Bagus

Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda. Kesan pertama adalah awal dari pembentukan mindset. Ketika menyambut anggota baru, tunjukkan bahwa teman-teman telah mempersiapkan diri dengan baik untuk menyambut mereka. Jangan sampai ketika anggota baru masuk, mereka mendapati diri mereka tidak dihargai. Setiap manusia ingin diapresiasi dan salah satu cara mengapresiasi anggota yang baru masuk ke dalam suatu organisasi adalah dengan menyambut mereka dengan baik.

Persiapan yang teman-teman lakukan tidak harus mewah, yang pasti, dengan cara apapun, tunjukkan kepada mereka bahwa teman-teman serius dalam menyambut mereka. Tepat waktu di kumpul perdana adalah sebuah keharusan! Selain itu, agenda pertemuan juga harus jelas, jangan sampai kumpul jadi garing dan geje. Setelah itu selain memberikan impresi, teman-teman juga harus dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai organisasi tersebut. Dalam porsi yang pas, teman-teman juga perlu memberitahu ketidakidealan yang ada di organisasi tersebut, sehingga mereka tidak berekspektasi lebih, namun tidak juga berekspektasi terlalu rendah (hal ini dapat menimbulkan kekecewaan).

Buat Mereka Berperan

Memberikan tanggung jawab adalah awal dari pemberdayaan anggota. Membuat mereka berperan dalam organisasi adalah hal yang sangat penting bagi aktualisasi diri anggota. Dengan demikian, mereka dapat merasa keberadaannya dalam suatu organisasi berarti. Jangan sampai mereka berpikir, “saya tidak diperlukan di organisasi ini”. Nah, tentu saja seperti biasa, tanggung jawab yang diberikan harus jelas scopenya.

Setelah memberikan tanggung jawab tersebut, tentunya teman-teman harus dapat memberikan jaminan bahwa mereka bisa melaksanakan tanggung jawab tersebut. Beberapa anggota baru di organisasi biasanya masih belum percaya diri untuk memegang amanah tertentu. Oleh karena itu, teman-teman harus dapat menunjukkan bahwa si anggota baru tersebut akan dapat melaksanakan amanah tersebut. Berikan jaminan bahwa teman-teman sebagai orang yang memiliki tanggung jawab lebih besar siap membantu mereka jika ada kesulitan. Setelah memberikan jaminan, hal yang harus teman-teman lakukan adalah membuktikan bahwa jaminan itu ada. Sering di suatu organisasi, pemimpin memberikan jaminan di awal namun di tengah-tengah proses jaminan tersebut hanya menjadi omong kosong belaka.

Dan setelah mereka berperan, tentunya perlu mendapatkan apresiasi. Gagal atau suksesnya mereka dalam menjalankan amanah harus mendapatkan apresiasi yang pas.

Kenali Personal dan Bangun Kenyamanan

Dalam organisasi kemahasiswaan yang berazas kekeluargaan, ikatan personal antar anggota merupakan hal terpenting yang akan terus bermanfaat bahkan hingga lulus nanti. Oleh karena itu, kedekatan antar personal perlu dibangun, sebab organisasi kemahasiswaan bukan berazaskan profesionalitas semata. Sering terjadi di organisasi kemahasiswaan, seorang anggota bertahan bukan karena tujuan organisasi dan visi yang sama, tetapi karena sudah nyaman dengan orang-orangnya.

Setiap orang memiliki kepribadiannya masing-masing dan caranya masing-masing dalam berkontribusi di organisasi. Hal inilah yang perlu digali, karena setiap orang adalah unik. Kita tidak bisa memperlakukan semua orang dengan cara yang sama, tetapi kita juga mungkin tidak bisa mengakomodasi semua keinginan personal. Hal inilah yang perlu diramu dengan baik untuk dapat menjalin suatu ikatan personal dalam organisasi dalam rangka membangun kenyamanan dalam bekerja sama.

Ketika Konflik Terjadi

Dalam dinamisasi organisasi, pasti terdapat konflik. Jangan alergi dengan konflik. Konflik adalah hal yang wajar, namun harus disikapi dengan bijak. Konflik ini bisa saja terjadi dalam diri satu anggota yang dapat mengganggu keberjalanan organisasi. Selain itu, dapat pula terjadi dalam diri beberapa anggota, atau konflik dalam tim. Nah, kuncinya adalah menyelidiki penyebab konflik ini dan selesaikan dengan cara yang baik. Ada kalanya memang teman-teman tidak dapat memaksakan kehendak dengan terus mempertahankan orang yang mungkin sudah tidak nyaman atau mengganggu kenyamanan di organisasi. Hal ini harus diputuskan dengan baik-baik.

Demikianlah tulisan saya kali ini. Mungkin hanya beberapa poin-poin yang tidak terlalu banyak penjelasannya. Memang masih ada beberapa pengalaman dan pelajaran lagi yang ingin saya bagi. Jika kelak saya ada waktu dan sempat menuliskannya, mungkin akan ada part 2 dari tulisan ini atau mungkin revisi dari post ini. Semoga saya sempat dan tidak lupa :)


Appreciate Yourself

Suatu hari di kelas Bahasa Inggris semasa saya SMA, saya melanggar beberapa aturan yang diberikan oleh Pak Guru. Hal ini mungkin biasa saja untuk pelajaran lainnya, namun untuk pelajaran Bahasa Inggris, hal ini merupakan sesuatu yang sangat gawat. Pak Indro, guru Bahasa Inggris saya, merupakan guru dari ibu saya pada saat ibu saya masih bersekolah di SMA saya. Selain itu, Pak Indro juga merupakan guru dari adik ibu saya pada saat adik ibu saya juga masih bersekolah di sini. Dan, boleh dibilang Pak Indro adalah guru yang sangat disiplin. Sangat disiplin. Saya ulangi sekali lagi, sangat disiplin.

Dalam kelas Pak Indro, terdapat dua benda yang wajib dibawa oleh para murid. Benda yang pertama adalah sebuah name tag, dan benda kedua adalah sebuah buku kumpulan latihan TOEFL yang dibuat beliau. Kedua benda sakti tersebut adalah pusaka yang harus kami bawa jika ingin mendapatkan tiket mengikuti kelas beliau.

Dan benar. Pagi itu saya baru menyadari bahwa saya tidak membawa kedua benda pusaka tersebut. Saya adalah orang yang sangat malas sehingga bahkan saya tidak mempersiapkan buku-buku sekolah ketika berangkat sekolah. Dan satu lagi kesalahan saya, saya lupa bahwa hari ini ada kelas Pak Indro.

Apa yang anda lakukan jika kurang dari beberapa menit lagi Anda diminta untuk mengenakan name tag? Saya yang saat itu masih berusia 14 tahun memutuskan untuk membuat name tag sendiri. Saya membuatnya dari sobekan block note. Dengan skill origami yang terbatas, saya akhirnya berhasil membuat name tag tersebut. Saya tidak bohong, name tag yang saya buat sangat jelek. Sangat jelek. Apalagi tulisan “FIKRI” di name tag tersebut. Meskipun bolpen yang digunakan adalah bolpen Hi-Tech, tulisan tersebut sangat jelek. Font-typenya sangat tidak jelas dan tidak indah. Belum lagi arsiran yang tidak rapi yang mengisi font tersebut.

Buku? Ya, bagaimana dengan buku kumpulan latihan TOEFL? Saya tidak mungkin meminjam teman sekelas karena mereka juga membutuhkan buku tersebut untuk mengikuti kelas Pak Indro. Oh Crap! Akhirnya saya hanya bisa pasrah dan berdoa supaya Pak Indro tidak menyadari bahwa saya tidak membawa buku tersebut. Ide sederhananya adalah saya akan menggunakan buku lain di atas meja dan berpura-pura bahwa buku tersebut merupakan buku kumpulan latihan TOEFL. Sesimpel itu.

Saya lupa apakah saat itu kami memakai LCD projector atau tidak, yang jelas, kelas sangat gelap. Saya duduk di bangku paling belakang di kursi sebelah kanan pada barisan paling kiri. Di sebelah kanan saya ada Catur yang rambutnya sangat gondrong sekali. Ombak di rambut Catur sudah sangat tidak beraturan, dan sudah beberapa kali ia diperingatkan oleh Guru.

Kelas akhirnya dimulai pada saat Pak Indro menginjakkan kaki memasuki pintu. Suasana sangat mencekam buat saya. Di kelas yang gelap tersebut saya bersembunyi dari ketakutan diusir dari kelas karena saya tidak membawa barang yang seharusnya saya bawa. Pak Indro mulai mengajar. Saya pun berakting seolah-olah saya sama seperti murid lainnya, membawa dua barang wajib tersebut.

Kelas masih mengerikan dan sangat mengancam saya. Kondisi tersebut berlangsung stabil, sampai akhirnya Pak Indro mendekat ke arah saya. Jantung saya semakin berdebar dengan kencang. Saya mencoba senyum ramah seolah tanpa dosa. Tapi, Pak Indro sama sekali tidak melirik ke arah saya. Saya masih sangat cemas, sampai akhirnya Pak Indro berhenti di samping Catur, di sebelah kanan saya. Pak Indro menyentuh rambut Catur. Saya tidak tahu pasti, tetapi dari sepengamatan saya seperti sedikit menarik rambut Catur.

Beberapa saat kemudian Catur keluar dari kelas. Pak Indro menyuruh Catur untuk mencari Pak Suwondo. Catur baru diperkenankan mengikuti kelas jika rambutnya sudah dicukur oleh Pak Suwondo. Huff. Saya bernapas lega. Napas yang pertama saya tarik karena saya tidak diusir oleh Pak Indro. Sedangkan napas yang kedua saya tarik karena, Alhamdulillah, Catur diusir dari kelas. Mengapa Alhamdulillah? Apakah saya senang jika teman saya diusir dari kelas? Bukan, saya bersyukur bukan karena Catur diusir dari kelas. Tetapi, saya bersyukur karena akhirnya ada buku kumpulan latihan TOEFL yang menganggur. Ya, tentu saja Catur meninggalkan bukunya di kelas!

Kini degup jantung saya sudah tidak sekencang tadi. Di atas meja saya sudah terdapat salah satu benda wajib Pak Indro. Selain itu, saya toh sudah membuat name tag abal-abal yang saya kenakan di saku baju. Saya lega.

Seperti kegiatan belajar mengajar pada umumnya, pertanyaan sangat sering diajukan secara klasikal oleh guru. Tentu saja biasanya kelas menjawab pertanyaan tersebut dengan kontak dan serempak. Kontak mata guru dan murid pun menjadi hal yang tak terhindarkan di kelas.

Pak Indro kembali berjalan ke arah saya. Kali ini terjadi kontak mata. Saya berusaha mengikuti teman yang lain, menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan oleh Pak Indro. Saya merasa aman. Tapi, di tengah rasa aman tersebut, ancaman justru terjadi.

Pak Indro akhirnya melihat ke arah name tag saya. Saya hanya bisa terdiam dan berusaha tersenyum. Saat itu kata-kata bijak yang saya imani adalah, senyum adalah senjata yang paling baik bahkan di saat yang paling sulit. Namun sayang, orang bijak tersebut belum pernah berhadapan dengan Pak Indro. Senyum tersebut tidak berguna sedikit pun. Pak Indro mengambil name tag abal-abal saya dari saku. Beliau meremas-remas name tag tersebut menjadi sebuah bola. Setelah itu beliau menyobeknya lalu meletakkan sobekan kertas tersebut di atas meja saya. Lalu, dengan dinginnya beliau berkata,

“If you dont appreciate yourself, nobody will.”


Merayakan Hidup

Siapa di antara Anda yang pernah berada dalam suatu seminar motivasi, lalu di sana Anda disuruh memetakan hidup Anda untuk beberapa tahun ke depan? Siapa yang pernah disuruh membuat milestone hidup pertahunnya hingga umur meninggal? Siapa yang pernah disuruh menentukan di usia berapa ingin meninggal, atau dengan kata lain, di usia berapa Anda yakin cita-cita Anda sudah tercapai semua?

Pada saat awal masuk ITB, saya paling suka membuat perencanaan hidup. Saya orangnya cukup perfeksionis untuk membuat sebuah rencana dan target-target yang matang dan detail. Tetapi, seperti yang diungkapkan di hasil psikotes saya pada saat SMP, saya bukanlah seseorang yang selalu mengerahkan seluruh tenaga saya untuk hal yang saya inginkan. Ini adalah sebuah ironi, mengingat saya merupakan seseorang yang melankolis dengan sifat perfeksionis yang sangat kental. Tapi, hasil psikotes itu juga mengatakan satu hal, ketika saya benar-benar sedang dalam peak performance, saya sangat potensial di bidang apapun, mulai dari bahasa, spasial, logika, dan lainnya.

Gambar pertama yang saya post di tumblr. Mengingat hampir setaun usia tumblr saya.

Rencana yang sudah sangat matang tersebut, satu demi satu gagal. Target demi target dicoret, bukan karena sudah tercapai, tetapi karena sudah tidak logis lagi dengan situasi terkini. Bum. Saya terpuruk. Sifat perfekionis saya mulai terkikis sedikit demi sedikit karena kegagalan demi kegagalan tersebut. Kebiasaan melakukan perencanaan yang rapi pun mulai saya tinggalkan.

Sesaat setelah kegagalan menimpa Anda, apa yang harusnya Anda lakukan? Saya yang dulu mungkin akan berkata, “Kegagalan ini adalah cambuk untuk menjadi lebih baik lagi”. Saya akan mengatakannya dengan berapi-api, dan dibarengi dengan perencanaan lagi. Perencanaan lagi, lagi dan lagi. Pada akhirnya saya merasa bahwa hal ini adalah sebuah kesalahan.

Di tingkat tiga, saya mulai menyadari bahwa hidup bukan soal meraih mimpi. Hidup bukanlah suatu perlombaan di mana kita harus membuktikan bahwa diri kita adalah yang terbaik. Dan lagi-lagi, hidup bukanlah soal perencanaan. Saya mulai berpikir bahwa mindset saya selama ini salah. Salah.

Hidup adalah tentang bersyukur. Sebagai manusia yang telah mendapatkan nikmat hidup, kita harus bersyukur. Menjalani hidup dengan syukur adalah yang utama, bukan hidup dengan mimpi dan ambisi. Itulah hidup.

Hidup bukanlah perlombaan, tetapi soal perjalanan. Perjalanan ini merupakan sebuah pencarian atas eksistensi diri sebagai makhluk. Di perjalanan ini tidak ada yang menang, tidak ada yang kalah. Yang ada hanyalah seorang pejalan yang terus berjalan, atau berhenti berjalan. Itulah hidup.

Hidup tidak pernah mengajari manusia untuk terus berencana, tetapi untuk berusaha dan menjalani. Sebuah rencana yang sangat sempurna akan sia-sia jika tidak dikerjakan. Dan, dalam hidup ini terlalu banyak variabel yang tidak bisa kita perkirakan. Rencana yang detail akan percuma karena kita akan kehilangan mata untuk melihat peluang dan tantangan yang baru. Menjalani hidup dengan selalu melihat tantangan yang ada di sekitar kita adalah pilihan paling baik. Berusaha menjalani apa yang bisa kita jalani hari ini dengan baik adalah suatu pencapaian yang sangat bagus. Tidak terduga. Itulah hidup.

Sekarang mari kita jalani hidup dengan syukur, meniatkannya sebagai perjalanan menuju Tuhan, dan melakukan yang terbaik yang kita bisa. Itu saja :)


Mentari

Pemimpin pantang mengeluh.

Pemimpin adalah simbol pengharapan.

Manusia itu sangat lemah, tetapi bukan manusia kalau ia menyerah.

Tuhan tidak akan menurunkan persamaan kecuali persamaan tersebut ada solusinya.

Mengeluh adalah simbol pesimisme. Kalau pemimpinnya saja sudah mudah mengeluh dan menyerah, mau jadi apa yang dipimpinnya. Kita semua adalah manusia yang terlahir sebagai pemimpin di muka bumi ini. Oleh karena itu kita semua tidak boleh kehilangan optimisme dan keyakinan. Sebagai manusia tentu kita sangatlah rapuh dan lemah, tetapi itu bukan berarti kita boleh menyerah. Usaha adalah satu-satunya yang bisa dilakukan manusia, sebab manusia tidak memiliki kemampuan untuk menentukan. Berhenti berusaha sama saja menafikan kemanusiaan.

Pemimpin itu seperti sosok mentari yang diharapkan selalu bersinar di esok pagi. Sebagai manifestasi Tuhan di muka bumi, seorang pemimpin menjadi sumber pengharapan dikala yang lain berputus asa. Solusi-solusi diharapkan hadir dari melalui lidah pemimpin, bukan tambahan persoalan. Dan, di saat yang lain sudah berhenti mencoba menyelesaikan permasalahan tersebut, pemimpinlah yang tak akan lelah mencari pemecahannya.

Apakah Anda telah menjadi Pemimpin hari ini?


Memasarkan Politik

Jaman sekarang ini yang namanya politik udah kayak bisnis.  Produk politiknya bermacam-macam, disesuaikan dengan target pasar. Politikus pun kini sedang beradu kreativitas untuk bisa meraih hati rakyat.  Memang dalam memasarkan politik terdapat banyak produk, bisa berupa program, kebijakan, visi, dan track record. Melalui produk-produk tersebut, brand dari seorang politisi pun terbentuk. Selain itu media pemasarannya pun beragam.

Banyak politikus di masa kini yang berusaha memosisikan diri setara dengan rakyat. Ada yang berusaha tampil sebagai sosok yang nyeni. Politicartist yang berusaha menunjukkan bahwa dirinya menghargai karya seni dan bisa berkarya. Hal ini sah-sah saja, dan kalau memang karyanya bagus mengapa tidak?

Ada juga yang berusaha menunjukkan kecintaannya terhadap olah raga. Hal ini pun sah-sah saja, dan kalau memang membuat olah raga nasional maju mengapa tidak?

Di antara mereka ada yang menjadi Politweepscian yang berusaha untuk dekat dengan rakyat melalui twitter. Namun sayang, tidak semuanya beruntung. Beberapa di antara mereka melakukan blunder. Mereka terlihat tidak dewasa dalam tweets mereka (berasa tweet gw gak galau aja). Hal ini justru menurunkan citra mereka. Tapi, beberapa memang berhasil menjadi sosok yang dekat dengan rakyat melalui social media. Selama mereka benar-benar dekat dengan kita, mengapa tidak?

Melalui pergerakan dan aktivitas dari merekalah citra mereka terbentuk. Mereka tentunya memiliki keunikan masing-masing yang membuat satu politikus berbeda dengan politikus lain. Tentu saja dengan produk-produk mereka yang beragam pula. Perang ide pun dimulai. Tak jarang peperangan frontal terjadi. Hal ini terjadi melalui program-program yang menyasar target sama. Kompetisi benar-benar dilakukan, dengan perbedaan karakteristik dari produk yang diantarkan. Melalui pertarungan-pertarungan ini, kita dapat mengenal karakteristik politikus (dan timnya).

Selain itu, janji-janji sebagai sebuah komoditas kembali dilontarkan. Hal ini bagus. Selama janji-janji tersebut dipenuhi mengapa tidak? Positioning, track record dan janji menjadi produk utama dalam melakukan pemasaran. Dan sebagai pelengkap dalam memopulerkan citra memang dibutuhkan suatu media. Sudah bukan hal yang asing di mana politisi memiliki media massanya sendiri. Tentu saja hal ini diperlukan untuk men-drive opini publik. Dan bahkan pemanfaatan teknologi sebagai media kampanye pun menjadi lahan bisnis tersendiri.

Menarik memang, melihat politik yang sudah menjadi bisnis. Politik bukanlah hal yang busuk meskipun kita akrab dengan istilah politisi busuk. Kita harus realistis bahwa pengaturan kekuasaan memang dibutuhkan di dunia ini. Dan saat ini cara untuk meraih kekuasaan tersebut semakin berkembang. Apa yang dilakukan oleh para pemegang kekuasaan dan calon pemegang kekuasaan dalam memasarkan politik sah-sah saja selama dapat membuat bangsa ini lebih baik. Sebagai rakyat kecil, kita hanya bisa berhati-hati dalam memroses informasi yang kita peroleh agar kelak kita tidak salah memilih pemimpin.

Hanya coretan seorang mahasiswa awam yang tidak tahu apa-apa soal politik.


Teknokultur Informasi

Saat ini teknologi informasi telah jauh berkembang, terutama semenjak dunia internet mengenal web 2.0. Pada web 2.0, web yang terdapat di internet tidak lagi bersifat satu arah, melainkan bersifat banyak arah di mana banyak pengguna dapat menikmati konten yang diberikan oleh banyak pengguna. Hal ini telah menimbulkan banyak pergeseran budaya pada masyarakat dunia. Hal ini ditambah lagi dengan kemajuan teknologi dari perangkat mobile yang telah mengubah cara hidup manusia, terutama dalam hal berkomunikasi dan berinteraksi.

Berikut ini merupakan beberapa layanan yang dapat dinikmati oleh setiap orang di internet. Layanan yang ada di internet telah mengubah cara hidup seseorang. (lagi…)


Sekolah Inovator Muda

Kepemimpinan itu bakat?

Saya rasa tidak. Menurut saya kepemimpinan itu adalah perwujudan tekad. Seorang pemimpin adalah seseorang yang memiliki cita, cara, dan cinta. Memiliki cita berarti punya pemikiran. Seorang pemimpin bertindak sebagai kepala yang akan menggerakkan badan, maka dari itu dia harus punya pemikiran. Memiliki cara berarti mengetahui jalan yang harus ditempuh untuk mewujudkan cita.

Cinta. Dengan cinta, seorang pemimpin akan rela berada di garis terdepan. Berada di garis terdepan bukanlah hal yang mudah. Berada di garis terdepan berarti menanggung seluruh pasukan. Berdiri di garis terdepan artinya tidak ada punggung orang lain yang bisa dilihat ketika memandang ke depan. Mau melangkah ke mana? Tugas seorang pemimpin untuk terus melangkah meskipun lelah. Tanpa cinta dan ketulusan, rasa lelah akan menghentikan langkah seorang pemimpin. Sebaliknya, ketika melihat ke belakang, akan ada saudara dan saudari yang harus terus dijaga agar tetap berada di koridor yang diinginkan. Dan tentu saja, mereka seorang pemimpin harus mencintai mereka, berusaha mengayomi dan memahami kondisi mereka. (lagi…)


Mental Juara

“Walaupun tidak juara, tetap mengaku juara.”

Quote di atas merupakan sebuah quote dari kakak angkatan saya yang bernama Fuad Fajri mengenai mental juara. Tak terasa, ini sudah kedua kalinya saya menghabiskan malam di Laboratorium IC Design bersama Ardimas, Azhari, dan Fuad Fajri. Malam ini kami memiliki tambahan teman menginap. Teman tersebut adalah Aban yang kemarin baru saja mendaki gunung untuk yang pertama kalinya di tahun 2010 maupun pertama kali dalam hidupnya.

Di laboratorium ini, kami sedang mengerjakan tugas kuliah sekaligus tugas yang diberikan oleh sebuah perlombaan. Tugasnya adalah merancang sebuah image compression and decompression system. Tugas ini dilakukan berkelompok. Ardimas sekelompok dengan Paulus dan Yanwar, sedangkan Azhari bersama Fuad Fajri dan Aban. Saya sendiri tergabung dalam kelompok Rahwana bersama Amril, Bombom, dan Dio Adi. Dio Adi sudah hilang kontak, beberapa kali di sms oleh Amril dan Bombom tetapi tidak membalas. Bombom sendiri kemarin-kemarin sibuk proyek dan dia sendiri hanya mengincar kelulusan untuk mata kuliah ini. Amril sendiri sepertinya sudah tidak antusias karena sebenarnya sks yang dia ambil sudah kelebihan, sebagaimana pengakuan dia:

“Gua sih nggak masalah ini nggak lulus, entar gw ganti sama kuliah yang lain aja” (lagi…)


Daftar Pencapaian Hidup

Pernahkah Anda memiliki daftar pencapaian dalam hidup? Daftar pencapaian yang saya maksud adalah berupa daftar hal-hal yang ingin Anda lakukan sebelum Anda meninggal. Singkatnya, hal-hal yang Anda tulis merupakan sebuah persembahan dari Anda untuk kehidupan. Dengan hal-hal inilah keberadaan diri Anda akan terdefinisi sebagai seorang pribadi.

Hari ini saya ingin membuat daftar tersebut. Hal-hal yang ada di daftar tersebut merupakan hal-hal yang telah ada di pikiran saya semenjak masih kecil namun hingga kini belum kesampaian. (lagi…)


Kualitas Diri

Pernahkah Anda merasa bahwa diri Anda tidak lebih dewasa dari diri Anda sendiri setahun lalu? Pernahkah Anda merasa bahwa Anda yang dulu memiliki semangat yang lebih besar dan jauh lebih kuat dari Anda yang saat ini sedang membaca tulisan ini?

Orang bijak pernah berkata bahwa tua itu pasti, namun dewasa adalah pilihan. Ya, dewasa adalah sebuah pilihan. Menurunnya kualitas diri Anda adalah sebuah pilihan yang Anda pilih secara tidak sadar. Kadang Anda merasa kalah oleh keadaan. Keadaan itu kadang seolah memaksa Anda untuk menjadi lemah.

Dan itu semua pilihan, bukan kepastian. Bangkit sekarang dari keterpurukan pun sebuah pilihan. Pilihan yang berat di awal, tapi akan sangat menyenangkan di akhir. Memang sebagai manusia memiliki perasaan, kadang kita punya kecenderungan untuk tetap merasa sedih, kesal, dan segala perasaan negatif lainnya. Tapi ya, itu adalah sesuatu negatif. Dan saya, tidak ingin menyesal dengan memilih untuk jadi negatif. Mengapa? Karena pada akhirnya saya akan lebih bahagia dengan diri yang positif :) Saya bisa tersenyum, gembira, bercanda, dan bersemangat menghadapi hari-hari :)

Be positive :)

 

 

Foto ini diambil ketika saya sedang menjadi orang paling positif sedunia. Hehe


Pendidikan untuk Mencetak Generasi Pemimpin Solutif

Adalah suatu proses yang wajar di mana dalam suatu tatanan masyarakat terdapat berbagai masalah yang membuat kehidupan bermasyarakat menjadi tidak ideal. Kondisi tidak ideal tersebut menyebabkan anggota dari masyarakat mengalami kesulitan dalam mencapai kebutuhan. Ada berbagai faktor yang menyebabkan manusia sulit mencapai kebutuhannya tersebut, salah satu faktornya adalah ketidakselarasan dengan alam.

Sejak jaman dahulu, manusia selalu berusaha menyelaraskan diri dengan alam. Di saat manusia memiliki kebutuhan rasa aman, namun hujan deras dan badai menghadang, manusia berusaha beradaptasi dengan mencari gua sebagai tempat berteduh. Hal ini merupakan sebuah gambaran nyata bagaimana manusia menyelaraskan diri dengan alam. Kondisi ini berlangsung dengan sangat alami. Adanya kebutuhan manusia menyebabkan manusia belajar untuk bersahabat dengan alam. Benturan antara kebutuhan manusia dengan kondisi alam menyebabkan manusia berpikir. Pemikiran tersebut menghasilkan gagasan-gagasan yang menyebabkan peradaban manusia berkembang.

Melalui ide-ide yang dihasilkan, terciptalah perkembangan peradaban. Dahulu kala manusia berusaha memenuhi kebutuhan makanannya dengan berburu. Senjata yan digunakan awalnya sangat sederhana dan belum bisa menjamin manusia mendapatkan daging hewan yang diburu. Lalu, manusia pun berpikir hingga akhirnya menghasilkan ide-ide untuk membuat senjata yang lebih canggih untuk bisa membunuh hewan buruan. Seiring dengan perkembangan alam, manusia mulai menemukan alternatif lain untuk memenuhi kebutuhan pangan tersebut. Gagasan-gagasan yang dimiliki mulai berkembang sesuai dengan kondisi alam saat itu. Manusia akhirnya berhasil memulai sebuah zaman di mana mereka memenuhi sebagian besar kebutuhan pangan dengan bercocok tanam. Sampai saat ini gagasan tersebut masih abadi sehingga makanan pokok Bangsa Indonesia adalah nasi, hasil dari bercocok tanam.

Di masa kini, (lagi…)


Cinta Abadi

Malam ini, saya kembali terduduk di hadapan sebuah layar. Layar inilah yang telah menjadi cermin perbuatan. Layar ini menampilkan memori yang membuat saya mengenang sejenak berbagai macam ujian yang pernah diberikan kepada saya. Sebagian ujian berhasil saya lampaui dengan susah payah, sebagian lagi gagal saya lalui dan mengakibatkan jatuhnya dosa kepada timbangan hidup saya. Tentu saja ini bukanlah suatu kebanggaan. Menumpuk dosa sangatlah memalukan.

Hidup saya penuh dengan kegagalan. Apakah hidup saya yang penuh kegagalan ini pertanda Tuhan tidak adil? Tidak jarang, kegagalan itu karena usaha saya yang tidak sebanding dengan besarnya mimpi yang saya gantungkan. Tetapi, ada kalanya, kegagalan tersebut lahir dari kerja keras yang tak pernah terbayangkan. Dan, sekali lagi apakah Tuhan tidak adil? Mungkin iya, (lagi…)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 563 pengikut lainnya.