Menghadapi Konflik
Siapa sih yang tidak takut berkonflik?

sumber gambar: milis-bicara.blogspot.com
Satu mindset yang salah dalam organisasi adalah ketika kita berpikir bahwa konflik itu buruk dan lebih baik menghindari konflik. Kalaupun ada konflik lebih baik berkonflik dengan diri sendiri. Pemikiran ini biasanya didasari oleh ketakutan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Rasa tidak enak hati sering kali menghinggapi.
Padahal, yang namanya konflik itu adalah sesuatu yang biasa. Bagaimana tidak, banyak orang dikumpulkan dalam sebuah kapal, setiap orang memiliki karakter dasar yang berbeda-beda, keperluan pribadi yang berbeda-beda, namun disuruh mengerjakan sesuatu bersama-sama, pasti akan ada konflik yang terjadi. Ditambah lagi dalam hidup ini tidak ada yang ideal. Perencanaan sematang apapun akan mengalami ujian dan hambatan. Dan ketika masalah datang, setiap orang akan menyikapinya dengan beragam. Ada yang menyikapinya dengan positif ada yang dengan negatif. Setiap orang melihatnya dari sudut pandang yang berbeda-beda tergantung pengalaman dan pemahaman hidup yang dimiliki.
Nah, ketika pemahaman ini berbeda-beda, konflik tak jarang terjadi. Ketika dihadapkan dengan suatu masalah, sudut pandang yang berbeda ini berpotensi menimbulkan konflik. Potensi akan benar-benar menjadi konflik setelah seseorang mengambil tindakan dari sudut pandang yang berbeda-beda tersebut. Ini adalah suatu hal yang pasti terjadi.
Dengan menyadari bahwa konflik adalah suatu hal yang biasa dan pasti terjadi, kita bisa mengesampingkan rasa sungkan. Proses pencarian resolusi, meskipun terkadang nampak berat, akan jauh lebih bermanfaat daripada penghindaran terhadap konflik. Jika kita terus menghindar dari konflik, masalah yang ada tidak akan pernah selesai. Kita akan bekerja dengan ganjalan di hati, tidak enak. Sedangkan jika kita mau mencari resolusi, mungkin kita akan sedikit berkonflik dengan keras untuk durasi tertentu, namun setelahnya tidak ada lagi yang mengganjal sehingga kita bisa bekerja dengan tenang.
Ya konflik pasti ada, namun yang membedakan adalah bagaimana menyikapi konflik tersebut. Apakah dipendam saja, tidak ditampakkan, atau justru dikomunikasikan langsung sehingga dapat dicari solusinya.
Kesimpulan yang dapat kita ambil adalah jangan pernah takut berkonflik. Bisa jadi konflik lah yang akan menyebabkan kita menjadi lebih mengenal seseorang sehingga ke depannya kita bisa belajar untuk memahami bagaimana mereka bersikap dan menjadi tahu bagaimana untuk menanggapi mereka. Dan dalam penyelesaian konflik, komunikasi menjadi penting. Kita harus memastikan bahwa pihak yang berkonflik memiliki frame yang sama, dan solusi yang timbul benar-benar bisa diterima oleh pihak tersebut.
Empower

Sumber daya manusia adalah problem klasik dari banyak organisasi kemahasiswaan di ITB. Bagi angkatan muda yang masih berpikir ideal, pasti kaget dengan kenyataan bahwa organisasi kemahasiswaan yang diikutinya tidak se “wah” yang dia bayangkan. Apalagi, kalau organisasi tersebut memang masih baru dan masih membangun sistem. Tapi, di sini saya akan memberikan beberapa pengalaman saya yang mungkin bisa dipraktekkan di organisasi yang sedang teman-teman geluti. Pengalaman yang sangat minim ini semoga berguna untuk memberdayakan manusia yang ada di organisasi teman-teman.
Mengapa saya harus merekrut dan memberdayakan banyak SDM?
Saya yakin, organisasi atau komunitas apapun yang teman-teman ikuti pasti memiliki sebuah tujuan. Entah tujuan tersebut benar atau salah, saya optimis bahwa tujuan organisasi tersebut baik. Ketika teman-teman merasakan manfaat dari organisasi yang diikuti teman-teman, coba pikirkan kembali, betapa meruginya orang-orang yang tidak mendapatkan manfaat itu. Pernah nggak sih teman-teman berpikir bahwa, “Wah, saya dapet manfaat banyak dari organisasi X, seharusnya orang lain juga merasakan manfaat ini. Sayang banget kalo mereka nggak dapet pengalaman gini gini dan gini.”
Singkatnya adalah kita perlu merekrut dan memberdayakan banyak orang agar kita bisa saling berbagi manfaat. Selain itu, organisasi yang berkembang dan produktif tentunya membutuhkan banyak orang untuk menjalankan roda organisasi. Tentu saja ini bukanlah alasan utama. Karena, sebenarnya bagi saya, yang riil dari suatu organisasi adalah manusia-manusianya. Organisasi tersebut dikatakan gagal apabila tidak mampu mengembangkan diri manusia-manusianya dalam upaya mencapai tujuan bersama.
Rekrut!
Biasanya SDM direkrut melalui dua jalur, closed recruitment atau open recruitment. Nah, yang perlu dilakukan dalam proses perekrutan tersebut adalah membuat calon anggota tertarik. Banyak kejadian orang-orang memasuki organisasi yang sebenarnya tidak memiliki daya tarik buat mereka sehingga mereka masuk organisasi tersebut untuk keluar, bukan untuk mencoba bertahan.
Suatu organisasi akan menarik ketika ia memiliki value. Value inilah yang harus ditentukan, dan dikomunikasikan kepada calon anggota. Manfaat dan fasilitas dari organisasi yang diperoleh pun termasuk sebagai value yang bisa dijual. Hal ini memiliki peran penting dalam membangkitkan rasa penasaran dari calon anggota suatu organisasi. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa penasaran dan rasa ingin tahu adalah awal dari semua petualangan. Oh iya, sampai pada batas tertentu eksklusivitas suatu organisasi juga bisa menjadi value menarik yang bisa menjadi pembeda suatu organisasi dengan organisasi lain.
Berikan First Impression yang Bagus
Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda. Kesan pertama adalah awal dari pembentukan mindset. Ketika menyambut anggota baru, tunjukkan bahwa teman-teman telah mempersiapkan diri dengan baik untuk menyambut mereka. Jangan sampai ketika anggota baru masuk, mereka mendapati diri mereka tidak dihargai. Setiap manusia ingin diapresiasi dan salah satu cara mengapresiasi anggota yang baru masuk ke dalam suatu organisasi adalah dengan menyambut mereka dengan baik.
Persiapan yang teman-teman lakukan tidak harus mewah, yang pasti, dengan cara apapun, tunjukkan kepada mereka bahwa teman-teman serius dalam menyambut mereka. Tepat waktu di kumpul perdana adalah sebuah keharusan! Selain itu, agenda pertemuan juga harus jelas, jangan sampai kumpul jadi garing dan geje. Setelah itu selain memberikan impresi, teman-teman juga harus dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai organisasi tersebut. Dalam porsi yang pas, teman-teman juga perlu memberitahu ketidakidealan yang ada di organisasi tersebut, sehingga mereka tidak berekspektasi lebih, namun tidak juga berekspektasi terlalu rendah (hal ini dapat menimbulkan kekecewaan).
Buat Mereka Berperan
Memberikan tanggung jawab adalah awal dari pemberdayaan anggota. Membuat mereka berperan dalam organisasi adalah hal yang sangat penting bagi aktualisasi diri anggota. Dengan demikian, mereka dapat merasa keberadaannya dalam suatu organisasi berarti. Jangan sampai mereka berpikir, “saya tidak diperlukan di organisasi ini”. Nah, tentu saja seperti biasa, tanggung jawab yang diberikan harus jelas scopenya.
Setelah memberikan tanggung jawab tersebut, tentunya teman-teman harus dapat memberikan jaminan bahwa mereka bisa melaksanakan tanggung jawab tersebut. Beberapa anggota baru di organisasi biasanya masih belum percaya diri untuk memegang amanah tertentu. Oleh karena itu, teman-teman harus dapat menunjukkan bahwa si anggota baru tersebut akan dapat melaksanakan amanah tersebut. Berikan jaminan bahwa teman-teman sebagai orang yang memiliki tanggung jawab lebih besar siap membantu mereka jika ada kesulitan. Setelah memberikan jaminan, hal yang harus teman-teman lakukan adalah membuktikan bahwa jaminan itu ada. Sering di suatu organisasi, pemimpin memberikan jaminan di awal namun di tengah-tengah proses jaminan tersebut hanya menjadi omong kosong belaka.
Dan setelah mereka berperan, tentunya perlu mendapatkan apresiasi. Gagal atau suksesnya mereka dalam menjalankan amanah harus mendapatkan apresiasi yang pas.
Kenali Personal dan Bangun Kenyamanan
Dalam organisasi kemahasiswaan yang berazas kekeluargaan, ikatan personal antar anggota merupakan hal terpenting yang akan terus bermanfaat bahkan hingga lulus nanti. Oleh karena itu, kedekatan antar personal perlu dibangun, sebab organisasi kemahasiswaan bukan berazaskan profesionalitas semata. Sering terjadi di organisasi kemahasiswaan, seorang anggota bertahan bukan karena tujuan organisasi dan visi yang sama, tetapi karena sudah nyaman dengan orang-orangnya.
Setiap orang memiliki kepribadiannya masing-masing dan caranya masing-masing dalam berkontribusi di organisasi. Hal inilah yang perlu digali, karena setiap orang adalah unik. Kita tidak bisa memperlakukan semua orang dengan cara yang sama, tetapi kita juga mungkin tidak bisa mengakomodasi semua keinginan personal. Hal inilah yang perlu diramu dengan baik untuk dapat menjalin suatu ikatan personal dalam organisasi dalam rangka membangun kenyamanan dalam bekerja sama.
Ketika Konflik Terjadi
Dalam dinamisasi organisasi, pasti terdapat konflik. Jangan alergi dengan konflik. Konflik adalah hal yang wajar, namun harus disikapi dengan bijak. Konflik ini bisa saja terjadi dalam diri satu anggota yang dapat mengganggu keberjalanan organisasi. Selain itu, dapat pula terjadi dalam diri beberapa anggota, atau konflik dalam tim. Nah, kuncinya adalah menyelidiki penyebab konflik ini dan selesaikan dengan cara yang baik. Ada kalanya memang teman-teman tidak dapat memaksakan kehendak dengan terus mempertahankan orang yang mungkin sudah tidak nyaman atau mengganggu kenyamanan di organisasi. Hal ini harus diputuskan dengan baik-baik.
Demikianlah tulisan saya kali ini. Mungkin hanya beberapa poin-poin yang tidak terlalu banyak penjelasannya. Memang masih ada beberapa pengalaman dan pelajaran lagi yang ingin saya bagi. Jika kelak saya ada waktu dan sempat menuliskannya, mungkin akan ada part 2 dari tulisan ini atau mungkin revisi dari post ini. Semoga saya sempat dan tidak lupa
Mentari
Pemimpin pantang mengeluh.
Pemimpin adalah simbol pengharapan.
Manusia itu sangat lemah, tetapi bukan manusia kalau ia menyerah.
Tuhan tidak akan menurunkan persamaan kecuali persamaan tersebut ada solusinya.
Mengeluh adalah simbol pesimisme. Kalau pemimpinnya saja sudah mudah mengeluh dan menyerah, mau jadi apa yang dipimpinnya. Kita semua adalah manusia yang terlahir sebagai pemimpin di muka bumi ini. Oleh karena itu kita semua tidak boleh kehilangan optimisme dan keyakinan. Sebagai manusia tentu kita sangatlah rapuh dan lemah, tetapi itu bukan berarti kita boleh menyerah. Usaha adalah satu-satunya yang bisa dilakukan manusia, sebab manusia tidak memiliki kemampuan untuk menentukan. Berhenti berusaha sama saja menafikan kemanusiaan.
Pemimpin itu seperti sosok mentari yang diharapkan selalu bersinar di esok pagi. Sebagai manifestasi Tuhan di muka bumi, seorang pemimpin menjadi sumber pengharapan dikala yang lain berputus asa. Solusi-solusi diharapkan hadir dari melalui lidah pemimpin, bukan tambahan persoalan. Dan, di saat yang lain sudah berhenti mencoba menyelesaikan permasalahan tersebut, pemimpinlah yang tak akan lelah mencari pemecahannya.
Apakah Anda telah menjadi Pemimpin hari ini?
Sekolah Inovator Muda

Kepemimpinan itu bakat?
Saya rasa tidak. Menurut saya kepemimpinan itu adalah perwujudan tekad. Seorang pemimpin adalah seseorang yang memiliki cita, cara, dan cinta. Memiliki cita berarti punya pemikiran. Seorang pemimpin bertindak sebagai kepala yang akan menggerakkan badan, maka dari itu dia harus punya pemikiran. Memiliki cara berarti mengetahui jalan yang harus ditempuh untuk mewujudkan cita.
Cinta. Dengan cinta, seorang pemimpin akan rela berada di garis terdepan. Berada di garis terdepan bukanlah hal yang mudah. Berada di garis terdepan berarti menanggung seluruh pasukan. Berdiri di garis terdepan artinya tidak ada punggung orang lain yang bisa dilihat ketika memandang ke depan. Mau melangkah ke mana? Tugas seorang pemimpin untuk terus melangkah meskipun lelah. Tanpa cinta dan ketulusan, rasa lelah akan menghentikan langkah seorang pemimpin. Sebaliknya, ketika melihat ke belakang, akan ada saudara dan saudari yang harus terus dijaga agar tetap berada di koridor yang diinginkan. Dan tentu saja, mereka seorang pemimpin harus mencintai mereka, berusaha mengayomi dan memahami kondisi mereka. (lagi…)