perjalanan seorang @rousyan dalam menjadi insan solutif (dan rendah hati)

Pengembangan Diri

Kekuatan Visualisasi

*ditulis pertama kali untuk blog chordeo

Percayakah Anda bahwa visualisasi sebuah ide atau gagasan dapat membantu membuatnya menjadi nyata?

Percayakah Anda bahwa kondisi Anda di masa kini dibentuk oleh pemikiran Anda di masa lalu?

Ade Harnusa, CEO Chordeo

Saya pernah merasakan betul bahwa sebuah gagasan, jika divisualisasikan, akan lebih mudah menjadi nyata. Jika teman-teman pernah membaca buku atau menonton video tentang Law of Attraction, tentu teman-teman memahami bahwa pikiran memiliki energi yang sangat kuat. Pikiran bawah sadar jauh lebih kuat daripada pikiran sadar. Sehingga, apa yang ada dalam pikiran bawah sadar kita akan memiliki daya tarik yang lebih besar dan lebih dapat menarik pikiran tersebut menjadi kenyataan.

Pikiran bawah sadar tidak dapat membedakan imajinasi dan kenyataan. Oleh karena itu, kita tentu sering mendengar sebuah kutipan yang berbunyi

Whether you think you can or can’t, you’re right,”

dari Henry Ford. Maka dari itu, jangan pernah takut untuk bermimpi dan berimajinasi.

(lagi…)


Appreciate Yourself

Suatu hari di kelas Bahasa Inggris semasa saya SMA, saya melanggar beberapa aturan yang diberikan oleh Pak Guru. Hal ini mungkin biasa saja untuk pelajaran lainnya, namun untuk pelajaran Bahasa Inggris, hal ini merupakan sesuatu yang sangat gawat. Pak Indro, guru Bahasa Inggris saya, merupakan guru dari ibu saya pada saat ibu saya masih bersekolah di SMA saya. Selain itu, Pak Indro juga merupakan guru dari adik ibu saya pada saat adik ibu saya juga masih bersekolah di sini. Dan, boleh dibilang Pak Indro adalah guru yang sangat disiplin. Sangat disiplin. Saya ulangi sekali lagi, sangat disiplin.

Dalam kelas Pak Indro, terdapat dua benda yang wajib dibawa oleh para murid. Benda yang pertama adalah sebuah name tag, dan benda kedua adalah sebuah buku kumpulan latihan TOEFL yang dibuat beliau. Kedua benda sakti tersebut adalah pusaka yang harus kami bawa jika ingin mendapatkan tiket mengikuti kelas beliau.

Dan benar. Pagi itu saya baru menyadari bahwa saya tidak membawa kedua benda pusaka tersebut. Saya adalah orang yang sangat malas sehingga bahkan saya tidak mempersiapkan buku-buku sekolah ketika berangkat sekolah. Dan satu lagi kesalahan saya, saya lupa bahwa hari ini ada kelas Pak Indro.

Apa yang anda lakukan jika kurang dari beberapa menit lagi Anda diminta untuk mengenakan name tag? Saya yang saat itu masih berusia 14 tahun memutuskan untuk membuat name tag sendiri. Saya membuatnya dari sobekan block note. Dengan skill origami yang terbatas, saya akhirnya berhasil membuat name tag tersebut. Saya tidak bohong, name tag yang saya buat sangat jelek. Sangat jelek. Apalagi tulisan “FIKRI” di name tag tersebut. Meskipun bolpen yang digunakan adalah bolpen Hi-Tech, tulisan tersebut sangat jelek. Font-typenya sangat tidak jelas dan tidak indah. Belum lagi arsiran yang tidak rapi yang mengisi font tersebut.

Buku? Ya, bagaimana dengan buku kumpulan latihan TOEFL? Saya tidak mungkin meminjam teman sekelas karena mereka juga membutuhkan buku tersebut untuk mengikuti kelas Pak Indro. Oh Crap! Akhirnya saya hanya bisa pasrah dan berdoa supaya Pak Indro tidak menyadari bahwa saya tidak membawa buku tersebut. Ide sederhananya adalah saya akan menggunakan buku lain di atas meja dan berpura-pura bahwa buku tersebut merupakan buku kumpulan latihan TOEFL. Sesimpel itu.

Saya lupa apakah saat itu kami memakai LCD projector atau tidak, yang jelas, kelas sangat gelap. Saya duduk di bangku paling belakang di kursi sebelah kanan pada barisan paling kiri. Di sebelah kanan saya ada Catur yang rambutnya sangat gondrong sekali. Ombak di rambut Catur sudah sangat tidak beraturan, dan sudah beberapa kali ia diperingatkan oleh Guru.

Kelas akhirnya dimulai pada saat Pak Indro menginjakkan kaki memasuki pintu. Suasana sangat mencekam buat saya. Di kelas yang gelap tersebut saya bersembunyi dari ketakutan diusir dari kelas karena saya tidak membawa barang yang seharusnya saya bawa. Pak Indro mulai mengajar. Saya pun berakting seolah-olah saya sama seperti murid lainnya, membawa dua barang wajib tersebut.

Kelas masih mengerikan dan sangat mengancam saya. Kondisi tersebut berlangsung stabil, sampai akhirnya Pak Indro mendekat ke arah saya. Jantung saya semakin berdebar dengan kencang. Saya mencoba senyum ramah seolah tanpa dosa. Tapi, Pak Indro sama sekali tidak melirik ke arah saya. Saya masih sangat cemas, sampai akhirnya Pak Indro berhenti di samping Catur, di sebelah kanan saya. Pak Indro menyentuh rambut Catur. Saya tidak tahu pasti, tetapi dari sepengamatan saya seperti sedikit menarik rambut Catur.

Beberapa saat kemudian Catur keluar dari kelas. Pak Indro menyuruh Catur untuk mencari Pak Suwondo. Catur baru diperkenankan mengikuti kelas jika rambutnya sudah dicukur oleh Pak Suwondo. Huff. Saya bernapas lega. Napas yang pertama saya tarik karena saya tidak diusir oleh Pak Indro. Sedangkan napas yang kedua saya tarik karena, Alhamdulillah, Catur diusir dari kelas. Mengapa Alhamdulillah? Apakah saya senang jika teman saya diusir dari kelas? Bukan, saya bersyukur bukan karena Catur diusir dari kelas. Tetapi, saya bersyukur karena akhirnya ada buku kumpulan latihan TOEFL yang menganggur. Ya, tentu saja Catur meninggalkan bukunya di kelas!

Kini degup jantung saya sudah tidak sekencang tadi. Di atas meja saya sudah terdapat salah satu benda wajib Pak Indro. Selain itu, saya toh sudah membuat name tag abal-abal yang saya kenakan di saku baju. Saya lega.

Seperti kegiatan belajar mengajar pada umumnya, pertanyaan sangat sering diajukan secara klasikal oleh guru. Tentu saja biasanya kelas menjawab pertanyaan tersebut dengan kontak dan serempak. Kontak mata guru dan murid pun menjadi hal yang tak terhindarkan di kelas.

Pak Indro kembali berjalan ke arah saya. Kali ini terjadi kontak mata. Saya berusaha mengikuti teman yang lain, menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan oleh Pak Indro. Saya merasa aman. Tapi, di tengah rasa aman tersebut, ancaman justru terjadi.

Pak Indro akhirnya melihat ke arah name tag saya. Saya hanya bisa terdiam dan berusaha tersenyum. Saat itu kata-kata bijak yang saya imani adalah, senyum adalah senjata yang paling baik bahkan di saat yang paling sulit. Namun sayang, orang bijak tersebut belum pernah berhadapan dengan Pak Indro. Senyum tersebut tidak berguna sedikit pun. Pak Indro mengambil name tag abal-abal saya dari saku. Beliau meremas-remas name tag tersebut menjadi sebuah bola. Setelah itu beliau menyobeknya lalu meletakkan sobekan kertas tersebut di atas meja saya. Lalu, dengan dinginnya beliau berkata,

“If you dont appreciate yourself, nobody will.”


Merayakan Hidup

Siapa di antara Anda yang pernah berada dalam suatu seminar motivasi, lalu di sana Anda disuruh memetakan hidup Anda untuk beberapa tahun ke depan? Siapa yang pernah disuruh membuat milestone hidup pertahunnya hingga umur meninggal? Siapa yang pernah disuruh menentukan di usia berapa ingin meninggal, atau dengan kata lain, di usia berapa Anda yakin cita-cita Anda sudah tercapai semua?

Pada saat awal masuk ITB, saya paling suka membuat perencanaan hidup. Saya orangnya cukup perfeksionis untuk membuat sebuah rencana dan target-target yang matang dan detail. Tetapi, seperti yang diungkapkan di hasil psikotes saya pada saat SMP, saya bukanlah seseorang yang selalu mengerahkan seluruh tenaga saya untuk hal yang saya inginkan. Ini adalah sebuah ironi, mengingat saya merupakan seseorang yang melankolis dengan sifat perfeksionis yang sangat kental. Tapi, hasil psikotes itu juga mengatakan satu hal, ketika saya benar-benar sedang dalam peak performance, saya sangat potensial di bidang apapun, mulai dari bahasa, spasial, logika, dan lainnya.

Gambar pertama yang saya post di tumblr. Mengingat hampir setaun usia tumblr saya.

Rencana yang sudah sangat matang tersebut, satu demi satu gagal. Target demi target dicoret, bukan karena sudah tercapai, tetapi karena sudah tidak logis lagi dengan situasi terkini. Bum. Saya terpuruk. Sifat perfekionis saya mulai terkikis sedikit demi sedikit karena kegagalan demi kegagalan tersebut. Kebiasaan melakukan perencanaan yang rapi pun mulai saya tinggalkan.

Sesaat setelah kegagalan menimpa Anda, apa yang harusnya Anda lakukan? Saya yang dulu mungkin akan berkata, “Kegagalan ini adalah cambuk untuk menjadi lebih baik lagi”. Saya akan mengatakannya dengan berapi-api, dan dibarengi dengan perencanaan lagi. Perencanaan lagi, lagi dan lagi. Pada akhirnya saya merasa bahwa hal ini adalah sebuah kesalahan.

Di tingkat tiga, saya mulai menyadari bahwa hidup bukan soal meraih mimpi. Hidup bukanlah suatu perlombaan di mana kita harus membuktikan bahwa diri kita adalah yang terbaik. Dan lagi-lagi, hidup bukanlah soal perencanaan. Saya mulai berpikir bahwa mindset saya selama ini salah. Salah.

Hidup adalah tentang bersyukur. Sebagai manusia yang telah mendapatkan nikmat hidup, kita harus bersyukur. Menjalani hidup dengan syukur adalah yang utama, bukan hidup dengan mimpi dan ambisi. Itulah hidup.

Hidup bukanlah perlombaan, tetapi soal perjalanan. Perjalanan ini merupakan sebuah pencarian atas eksistensi diri sebagai makhluk. Di perjalanan ini tidak ada yang menang, tidak ada yang kalah. Yang ada hanyalah seorang pejalan yang terus berjalan, atau berhenti berjalan. Itulah hidup.

Hidup tidak pernah mengajari manusia untuk terus berencana, tetapi untuk berusaha dan menjalani. Sebuah rencana yang sangat sempurna akan sia-sia jika tidak dikerjakan. Dan, dalam hidup ini terlalu banyak variabel yang tidak bisa kita perkirakan. Rencana yang detail akan percuma karena kita akan kehilangan mata untuk melihat peluang dan tantangan yang baru. Menjalani hidup dengan selalu melihat tantangan yang ada di sekitar kita adalah pilihan paling baik. Berusaha menjalani apa yang bisa kita jalani hari ini dengan baik adalah suatu pencapaian yang sangat bagus. Tidak terduga. Itulah hidup.

Sekarang mari kita jalani hidup dengan syukur, meniatkannya sebagai perjalanan menuju Tuhan, dan melakukan yang terbaik yang kita bisa. Itu saja :)


Mental Juara

“Walaupun tidak juara, tetap mengaku juara.”

Quote di atas merupakan sebuah quote dari kakak angkatan saya yang bernama Fuad Fajri mengenai mental juara. Tak terasa, ini sudah kedua kalinya saya menghabiskan malam di Laboratorium IC Design bersama Ardimas, Azhari, dan Fuad Fajri. Malam ini kami memiliki tambahan teman menginap. Teman tersebut adalah Aban yang kemarin baru saja mendaki gunung untuk yang pertama kalinya di tahun 2010 maupun pertama kali dalam hidupnya.

Di laboratorium ini, kami sedang mengerjakan tugas kuliah sekaligus tugas yang diberikan oleh sebuah perlombaan. Tugasnya adalah merancang sebuah image compression and decompression system. Tugas ini dilakukan berkelompok. Ardimas sekelompok dengan Paulus dan Yanwar, sedangkan Azhari bersama Fuad Fajri dan Aban. Saya sendiri tergabung dalam kelompok Rahwana bersama Amril, Bombom, dan Dio Adi. Dio Adi sudah hilang kontak, beberapa kali di sms oleh Amril dan Bombom tetapi tidak membalas. Bombom sendiri kemarin-kemarin sibuk proyek dan dia sendiri hanya mengincar kelulusan untuk mata kuliah ini. Amril sendiri sepertinya sudah tidak antusias karena sebenarnya sks yang dia ambil sudah kelebihan, sebagaimana pengakuan dia:

“Gua sih nggak masalah ini nggak lulus, entar gw ganti sama kuliah yang lain aja” (lagi…)


Daftar Pencapaian Hidup

Pernahkah Anda memiliki daftar pencapaian dalam hidup? Daftar pencapaian yang saya maksud adalah berupa daftar hal-hal yang ingin Anda lakukan sebelum Anda meninggal. Singkatnya, hal-hal yang Anda tulis merupakan sebuah persembahan dari Anda untuk kehidupan. Dengan hal-hal inilah keberadaan diri Anda akan terdefinisi sebagai seorang pribadi.

Hari ini saya ingin membuat daftar tersebut. Hal-hal yang ada di daftar tersebut merupakan hal-hal yang telah ada di pikiran saya semenjak masih kecil namun hingga kini belum kesampaian. (lagi…)


Kualitas Diri

Pernahkah Anda merasa bahwa diri Anda tidak lebih dewasa dari diri Anda sendiri setahun lalu? Pernahkah Anda merasa bahwa Anda yang dulu memiliki semangat yang lebih besar dan jauh lebih kuat dari Anda yang saat ini sedang membaca tulisan ini?

Orang bijak pernah berkata bahwa tua itu pasti, namun dewasa adalah pilihan. Ya, dewasa adalah sebuah pilihan. Menurunnya kualitas diri Anda adalah sebuah pilihan yang Anda pilih secara tidak sadar. Kadang Anda merasa kalah oleh keadaan. Keadaan itu kadang seolah memaksa Anda untuk menjadi lemah.

Dan itu semua pilihan, bukan kepastian. Bangkit sekarang dari keterpurukan pun sebuah pilihan. Pilihan yang berat di awal, tapi akan sangat menyenangkan di akhir. Memang sebagai manusia memiliki perasaan, kadang kita punya kecenderungan untuk tetap merasa sedih, kesal, dan segala perasaan negatif lainnya. Tapi ya, itu adalah sesuatu negatif. Dan saya, tidak ingin menyesal dengan memilih untuk jadi negatif. Mengapa? Karena pada akhirnya saya akan lebih bahagia dengan diri yang positif :) Saya bisa tersenyum, gembira, bercanda, dan bersemangat menghadapi hari-hari :)

Be positive :)

 

 

Foto ini diambil ketika saya sedang menjadi orang paling positif sedunia. Hehe


Cinta Abadi

Malam ini, saya kembali terduduk di hadapan sebuah layar. Layar inilah yang telah menjadi cermin perbuatan. Layar ini menampilkan memori yang membuat saya mengenang sejenak berbagai macam ujian yang pernah diberikan kepada saya. Sebagian ujian berhasil saya lampaui dengan susah payah, sebagian lagi gagal saya lalui dan mengakibatkan jatuhnya dosa kepada timbangan hidup saya. Tentu saja ini bukanlah suatu kebanggaan. Menumpuk dosa sangatlah memalukan.

Hidup saya penuh dengan kegagalan. Apakah hidup saya yang penuh kegagalan ini pertanda Tuhan tidak adil? Tidak jarang, kegagalan itu karena usaha saya yang tidak sebanding dengan besarnya mimpi yang saya gantungkan. Tetapi, ada kalanya, kegagalan tersebut lahir dari kerja keras yang tak pernah terbayangkan. Dan, sekali lagi apakah Tuhan tidak adil? Mungkin iya, (lagi…)


Ketika Masalah Harus Dihadapi

“Ketika masalah harus dihadapi,

Ketika hidup menuntut kita untuk lebih berani,

Dan ketika hidup mengharuskan kita untuk berserah diri,

Di situlah pendewasaan ruhani terjadi.”

Waw. Sudah sangat lama saya tidak mengisi blog ini dengan tulisan-tulisan saya mengenai perjalanan hidup, pemikiran, dan serba-serbi hidup. Semoga saja kemampuan saya untuk mengungkapkan pesan melalui tulisan tidak tumpul.

Ya! Hidup memang penuh rutinitas yang harus saya jalani. Menulis adalah yang harus saya lakukan agar rutinitas yang saya kerjakan tidak digerus zaman. Tulisan adalah tempat saya mengabadikan segala bentuk pembelajaran yang telah saya raih di dunia ini. Menulis butuh waktu, mengerjakan rutinitas butuh waktu. Untuk dapat menulis sebuah petualangan yang hebat, kita memerlukan dua hal, yakni petualangan yang hebat itu sendiri, dan penulisan yang hebat tentang petualangan tersebut. Ketika waktu yang dimiliki terbatas, tentunya setiap orang memiliki prioritas. Saya mungkin lebih memilih menjalani petualangan yang hebat dulu, baru menuliskannya di waktu yang saya agak luang. Entahlah, mungkin hal ini juga yang menyebabkan saya terkadang mengulang kesalahan yang pernah saya lakukan di petualangan sebelumnya.

Ya! Inilah hidup! Berbagai permasalahan terjadi, mulai dari skala kecil hingga besar, dari tidak penting sampai yang esensial. Percaya atau tidak, sumber masalaha manusia sebenarnya hanya satu: keinginan. Dari keinginan lah semua bermula. Mulai dari keinginan level rendah sampai keinginan level tinggi. Hmm, sebentar-sebentar. Sepertinya saya salah menggunakan kata-kata. Tidak-tidak. Benar, saya telah menggunakan kata yang benar. Tadinya saya ingin mengganti kata “keinginan” dengan “kebutuhan”, namun sepertinya “keinginan” lebih tepat. Pada dasarnya kebutuhan dan keinginan sama saja. Ketika kita membutuhkan makan, itu berarti kita ingin mempertahankan kehidupan kita. Coba, misalnya kita tidak punya keinginan untuk melanjutkan hidup, mungkin kita tidak pernah merasa membutuhkan makanan. Betul tidak? Ada yang tidak sependapat dengan saya?

Singkatnya, keinginan lah yang telah men-drive kehidupan kita sehingga akhirnya kita memiliki banyak masalah. Pertengkaran dengan teman akibat kita merasa tidak diapresiasi. Rasa sedih karena keluarga kita mungkin tidak seharmonis keluarga lainnya. Kekesalan pada diri sendiri karena tidak mampu meraih prestasi yang maksimal. Rasa iri dan dengki karena orang lain lebih dihormati dari orang lain. Ketika waktu yang kita miliki hanya 24 jam dan kita memiliki banyak tanggung jawab, yang telah kita pilih untuk mengembannya. Itulah contoh masalah yang mungkin kita peroleh di perjalanan kehidupan ini.

Kehidupan ini keras kawan! Dunia ini bukan surga seperti yang pernah diceritakan orang semasa kecil. Di dunia ini masih ada yang namanya penderitaan. Manusia memiliki rasa sedih, rasa kesal, dan berbagai perasaan tidak enak lainnya. Apa yang tidak diinginkan terjadi. Apa yang diinginkan tidak terjadi. Itulah ketetapan yang ada. Hmm. Sebenarnya siapa yang menetapkan ini semua? Apakah benar Tuhan  ”seorang diri” yang menetapkan hal ini? Ataukah sebelum kita diterjunkan ke dunia ini (entah waktu itu kita berada di mana) kita juga turut menetapkan hal ini? Ketika permasalahan yang kita hadapi disebut sebagai ujian hidup, tentunya kita sudah pernah belajar tentang hidup. Sama halnya ketika kita mengerjakan ujian sejarah di sekolah, tentunya kita telah lebih dulu mempelajari tentang sejarah. Apakah mungkin sebelum ujian bernama kehidupan ini diberikan kepada kita, kita sudah mengerti semua jawaban ujian ini? Ya, mungkin kita sedikit lupa akan bahan-bahan ujiannya. :)

Entah mengapa saya percaya bahwa ada suatu dzat bernama Tuhan. Awalnya simpel, saya terus-terusan merenung, dan akhirnya serangkaian pemikiran saya memang menjadi komplit dengan adanya konsep Tuhan.  Adanya Ketuhanan telah melengkapi kemanusiaan. Bukan, bukan, lebih tepatnya kemakhlukan. Dan setelah itu, bukti keberadaan Tuhan membuat saya semakin percaya. Saya tenang bila mengingat Tuhan.

Kerasnya kehidupan. Liarnya nafsu dalam jiwa. Permasalahan yang harus saya hadapi. Semuanya menjadi tak berarti ketika saya mengingat Tuhan. Saya yakin hidup ini untuk mencari ridho Tuhan. Buat apa saya bersusah payah mengejar derajat yang tinggi di mata manusia, jika akhirnya Tuhan menolak seluruh pertanggungjawaban saya atas penciptaan. Segala masalah ini, harus terus kita hadapi dengan gagah berani. Tuhan ingin melihat seberapa jauh kita bisa berlari melawan semua rintangan ini. Dan saya yakin, Tuhan telah memiliki ketetapan, dan Tuhan Maha Kuasa menentukan segalanya. Jadi, buat apa saya berpusing-pusing dengan hidup yang cukup saya jalani ini? Toh mau saya pusing, mau saya sakit hati, hidup ya tetap seperti ini. Masalah pasti ada, dan kesempurnaan tidak terjadi. So, lebih baik kita jalani hidup ini dengan gagah berani dan senang hati. Let’s give our best shot!


Apakah Anda Memiliki Puting?

Puting? Jangan berpikiran kotor dulu ketika kata ini dilontarkan. Simak dulu cerita saya:

Ketika SMA, guru SMA saya bernama Pak Indro, bertanya kepada kami (para siswa), “What is your puting?”
Tentu saja, setelah pertanyaan itu dilontarkan, kami sekelas tertawa. Para siswa tertawa dengan terbahak-bahak, sedangkan para siswi tertawa dengan muka memerah, malu-malu kucing. Meskipun kami tertawa, raut wajah Pak Indro tetap serius. Tidak sedikit pun tercermin ada tawa di mukanya. Beliau begitu berwibawa, sampai-sampai kami sekelas terdiam.

Pak Indro mendatangi salah satu teman saya. Beliau menanyakan pertanyaan yang sama, namun kali ini secara personal kepada teman saya yang perempuan. Lalu, teman saya memaparkan secara ilmiah dan sopan mengenai definisi puting yang merupakan anggota tubuh manusia. Setelah pemaparan dari teman saya selesai, Pak Indro menggeleng.

Pak Indro berjalan menuju papan tulis putih yang ada di sebelah timur. Beliau menggambarkan garisan-garisan dan lekukan-lekukan yang mencerminkan
pegunungan.

Beliau lalu berkata, “Puting adalah puncak tertinggi,” sembari menunjuk pada sebuah puncak pada gambar yang dibuatnya. Lalu, Pak Indro menunjuk ke arah sebuah puncak yang lebih rendah dari puncak tertinggi pada gambar tersebut. “Sering kali, kita sudah puas dengan mencapai sebuah puncak dalam hidup kita, ” beliau melanjutkan. Apa yang beliau bawakan pada kami hari ini mampu menyedot seluruh perhaian kami. Kami terkesima. Beliau melanjutkan kembali, “Kita merasa berada di puncak tertinggi, padahal puncak yang kita raih bukanlah puncak tertinggi.”

“Sekarang, apa puncak tertinggi kalian?”

Begitulah, makna yang sangat mendalam bisa kita dapatkan dari sebuah kata ‘puting’.

Lalu, apakah puting Anda?

to be continued..


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 563 pengikut lainnya.