Memantapkan Hati
Sulit untuk berpikir bahwa situasi ini akan terjadi. Situasi dimana saya akhirnya mendapatkan letter of offer untuk melanjutkan studi untuk Ph.D di NTU. Bayangkan saja, semasa kuliah, saya sama sekali tidak nampak seperti akademisi. Saya adalah tukang bolos yang banyak mengisi waktu perkuliahan dengan melakukan hal yang saya senangi, berorganisasi. Saya adalah mahasiswa yang lebih memilih kuliah yang tidak mementingkan absensi. Ya, saya hanyalah salah seorang mahasiswa yang pernah mengakhiri semesternya dengan nilai rata-rata di bawah 2.00.
Kalau sudah begini, rasa-rasanya saya hanya bisa meyakini bahwa Tuhan punya rencana buat saya. Saya yakin, kejadian ketika saya dilantik menjadi PJS MWA, mengikuti lomba roket, hingga terlambat mengurus nilai tugas akhir, punya maksud untuk membawa saya pada saat ini. Entah mengapa semua kejadian itu membuat saya harus tetap di kampus untuk menjalani semester sembilan. Hal ini memberikan kesempatan bagi saya untuk secara coincidence menghadiri presentasi NTU, mengambil Technical Proficiency Test dan English Proficiency Test. Dan bahkan, partisipasi saya di INAICTA, maupun keikutsertaan saya proyek ITB-SAT, telah membantu saya menuliskan tentang aktivitas riset saya yang juga saya cantumkan pada pendaftaran. Tentunya itu semua bukan kebetulan, pasti sudah ada yang mengatur ini semua. Siapa lagi kalau bukan Tuhan.
Sebenarnya dari beberapa minggu lalu, ketika mendapatkan email bahwa saya mendapatkan offer, saya masih merasa ini mimpi. Saya takut jika ini semua hanyalah ilusi dan saya terlanjur berekspektasi. Terkadang saya berkata dalam hati, “Tuhan, jika ini mimpi tolong segera bangunkan saya.”
Ya, saya sebegitu belum merasa ini masuk akal. Saya? Mendapatkan kesempatan untuk sekolah lagi? Bahkan S3?
Mungkinkah ini nyata?
Lalu, saya kembali berpikir, “Bukankah ini doa yang selalu saya panjatkan semenjak bulan desember?”
Ya Tuhan, jika NTU memang jalan terbaik bagiku maka tolong permudahlah jalanku kesana. Namun, jika bukan, maka tunjukilah aku jalan yang terbaik bagiku.
Dan, bukankah memang ini yang saya tunggu-tunggu. Bukankah memang ini yang setelah menimbang-nimbang beberapa hal, menjadi salah satu rencana yang selalu ada di dalam doa?
Ketika akhirnya telepon genggam itu berdering dan ibu saya berkata bahwa surat itu sudah sampai, saya pun mulai yakin bahwa ini bukan mimpi. Ini adalah kado ulang tahun dari Tuhan buat saya. Entahlah, karena sebenarnya saya merasa tidak pantas mendapatkan ini, saya jadi berpikir positif, mungkin ini adalah salah satu hadiah Tuhan supaya saya semakin beriman kepada-Nya dan wali-wali-Nya.
Lalu akhirnya, saya harus memantapkan diri sendiri. Jauh di lubuk hati yang terdalam, saya merasa takut. Ada perasaan takut gagal. Ini adalah salah satu kesempatan yang membuat saya takut. Ini bukanlah zona nyaman seperti biasanya, dimana saya telah yakin bahwa saya akan berhasil. Kali ini, saya merasa takut. Dan ketakutan inilah yang perlu segera saya hilangkan.
Memantapkan hati. Itulah yang harus saya lakukan sekarang. Saya harus yakin bahwa ini adalah satu langkah kecil untuk bisa mencapai cita-cita masa kecil saya.
Ilmuwan yang beriman
Tuhan dan wali-wali-Nya telah provide kesempatan itu untuk saya. Dan saya harus yakin. Tidak boleh setengah-setengah, tidak boleh takut, dan tidak boleh mengatakan tidak bisa. Saya harus optimis bahwa ini adalah salah satu wahana bagi saya untuk meningkatkan kualitas diri, agar kelak bisa lebih berguna bagi sesama.
Ya, saya pasti bisa. Toh, semua yang menuntut ilmu di sana juga manusia. Toh, ada juga kok orang Indonesia yang juga bisa lulus dari sana. Toh, ada juga orang Jogja yang survive di sana. Terkadang kita perlu melihat orang lain agar kita bisa termotivasi. Bukan untuk sombong, tetapi agar kita menjadi lebih respek kepada mereka dan agar kita punya semangat untuk bisa berusaha keras supaya bisa seperti mereka, bahkan lebih baik.
Sekarang ini saya harus banyak memantapkan hati, dan tentunya ini saat yang tepat untuk kembali kepada Tuhan, dan lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Semoga Tuhan senantiasa memberikan daya untuk itu. Amin
“Eyang lagi puasa nadzar karena cucunya keterima NTU,” kata mama saya via telepon, beberapa minggu lalu
Sedikit Catatan tentang Wisuda Kemarin
Menjadi mahasiswa adalah suatu pilihan sekaligus keberuntungan. Sebagai minoritas, mahasiswa adalah masa dimana seseorang mendapatkan begitu banyak fasilitas lebih. Menjadi mahasiswa itu merdeka. Menjadi mahasiswa itu boleh salah, toh masih belajar. Menyandang status mahasiswa tak jarang membuat seseorang berlaku seenak jidat, merasa bahwa dirinya hebat dan lain sebagainya.
Tapi, status mahasiswa bukanlah status abadi. Jika bisa memilih, tentunya saya akan memilih untuk selamanya menyandang status mahasiswa. Menjadi mahasiswa begitu nyaman, begitu banyak memberikan kemudahan. Namun sayang, tidak seperti ini roda kehidupan berputar. Ada yang namanya batas waktu, ada yang namanya keadilan. Dan akhir dari garis waktu tersebut bernama wisuda.

Saya dan IBMers
Ya, setelah perjuangan yang begitu panjang, dan berbagai aktivitas luar biasa yang saya geluti di kampus, akhirnya saya harus melepas status sebagai mahasiswa. Setelah status mahasiswa ini membawa saya kepada berbagai pengalaman luar biasa, mulai dari seminar satelit, membuat macet eskalator mall, hingga dipanggil menjadi saksi ke kantor polisi, akhirnya status ini hangus juga. Dari yang semula gelar sarjana akan diberikan secara resmi kepada saya tanggal 7 April 2012, akhirnya saya menjalani sebuah seremoni bernama wisuda pada tanggal 14 April 2012.
Ketakutan yang aneh
Sejujurnya pergelutan pemikiran saya mengenai wisuda sendiri sudah berlangsung sejak lama. Tak jarang saya berpikir untuk tidak ikut wisuda. Sejujurnya ada beberapa alasan pribadi yang membuat saya takut untuk wisuda. Aneh ya? Tapi faktanya demikian. Semenjak tingkat dua, saya selalu berharap kelak saya tidak perlu ikut wisuda. Toh, wisuda ini hanya sekedar seremoni. Salaman dengan rektor? Yah sejujurnya saya sudah terlalu sering salaman dengan rektor. Lagipula, saya juga bingung, kenapa orang tua harus susah-susah mengikuti prosesi wisuda yang berbelit-belit dan membosankan. (lagi…)
Tentang Gagal dan Sukses Di Kampus
Siapa bilang orang yang sukses adalah orang yang tidak pernah gagal? Siapa bilang kegagalan itu buruk?
Kegagalan adalah anugerah, sebab kita diberikan pembelajaran ekstra. Jika kita bisa menyikapi kegagalan dengan positif, maka kita akan dapat menjadi sosok yang lebih tangguh dari sebelumnya. Persis seperti suku Saiya di komik Dragon Ball yang bertambah kuat jika hampir mati. Persis seperti apa yang dikatakan oleh dosen saya,
“What doesn’t kill you will makes you stronger”
Segala kegagalan, selama kita masih hidup setelah kegagalan itu, akan bisa membuat kita jauh lebih kuat juga kita berhasil melewatinya. Saya sendiri merasakan hal itu di kampus. Mulai dari ditolak cewek, mengulang mata kuliah, gagal dalam pemilihan, gagal dalam lomba, semuanya membuat saya menjadi pribadi yang lebih tangguh, dan lebih kuat dari sebelumnya.

Dahulu, boleh dibilang hidup saya perfect. Kegagalan minor tidak pernah berarti dalam kehidupan saya, dan tak pernah mengusik zona nyaman. Saya pun terlena. Menduduki bangku kuliah, saya yang masih merasa sombong dengan hidup yang sempurna, mulai menerima akibatnya. Segala usaha yang kurang membuat saya gagal. Dan bahkan saya gagal di bidang akademik. Dimulai dari ip semester pertama yang jauh dari target saya, lalu semangat saya yang mulai hilang untuk berkuliah. Saya bahkan merasa ingin pindah. Saya terlalu perfeksionis. Dan parahnya, ketika saya tidak berhasil mencapai kesempurnaan tersebut, saya memilih untuk lari.
Hasilnya adalah tingkat dua saya yang hancur. Bahkan semester empat saya lalui dengan NR dibawah 2.00. Itu adalah suatu pukulan yang berat buat saya. Ditambah lagi, mimpi saya untuk menjadi sesuatu pun gagal, dan juga ada beberapa masalah keluarga yang saya alami. Saat itu, saya merasa dunia sedang terjungkir balik. Saya merasa kecil, lemah, dan begitu terkungkung dalam keterbatasan. Saya ingin lari. Saya ingin memulai lembaran baru di kampus lain, dimana saya masih bisa mendapatkan ip yang sempurna, dimana saya ingin mendapatkan teman-teman baru yang belum memiliki asumsi apapun tentang saya, dimana saya bisa memulai mimpi-mimpi baru.
Ya, saya berpikir untuk kabur dan berlari. Saya berpikir untuk meninggalkan apa yang saya mulai. Saya sempat berpikir untuk menjadi pecundang yang berpikir bahwa dirinya sudah kalah, padahal sisa waktu yang ada masih banyak. Jika diibaratkan bermain billiard bola delapan, saya sudah ingin quit ketika lawan sudah memasukkan empat bola, dan saya belum memasukkan satu bola pun. Padahal toh saya masih bisa menang. Saya tidak memiliki daya juang. Mungkin saat itulah saat dimana saya mengalami down yang parah.
Beruntung. Lingkungan saya, terutama ibu dan eyang, selalu memotivasi saya. Kebetulan mereka selalu menyuruh saya untuk belajar bersyukur, dan salah satu cara untuk bersyukur adalah dengan tidak pernah berhenti berjuang. Peperangan melawan rasa malas, melawan ego, dan pesimisme adalah peperangan yang mulia. Jika kita hanya lari dari suatu keadaan yang buruk tanpa berusaha memperbaikinya, maka ketika ada di lingkungan yang baru pun kita hanya akan menjadi sampah. Dan lebih jauh lagi, sebenarnya, ini semua bukan tentang mengejar nilai yang tinggi, bukan tentang mendapatkan citra dan pengakuan di mata manusia, melainkan bagaimana kita bisa berjuang dalam ber-Tuhan. (jadi inget notes curcol http://www.facebook.com/note.php?note_id=62026805519_ dan http://www.facebook.com/note.php?note_id=104647870519)
Dan ya, waktu itu saya akhirnya mulai berpikir, ini adalah tentang perjuangan. Ini adalah tentang proses, bukan hasil. Bisa saja seseorang meraih hasil yang bagus karena memang dari awal dia tidak pernah berbuat kesalahan. Tapi, seseorang yang bisa bangkit dari kegagalan memiliki nilai tersendiri. Bangkit dari kegagalan dan keterpurukan itu bukan hal yang mudah. Di sinilah karakter sejati seseorang diuji. Dan bahkan Tuhan sendiri telah mengatakan bahwa setiap orang yang mengaku beriman, pasti akan diuji.
Ya, terkadang di dunia ini Tuhan menguji kita dengan kegagalan. Dia buat seluruh mimpi kita hangus. Dia jauhkan kita dari orang yang kita sayangi. Dia ambil apa yang selama ini terus menerus ada di pikiran kita, segala hal yang kita pikirkan siang dan malam, dari kepala kita. Diberikan oleh-Nya kegagalan, meskipun terkadang kita melakukan semua dengan benar, hanya untuk menguji, seberapa kita percaya akan Dia, seberapa kita bisa mengabdi kepada-Nya dan senantiasa mengingat-Nya.
Tapi, jika dipikir-pikir, sebenarnya kita perlu meninjau, apakah proses yang kita lakukan sudah benar atau belum. Kegagalan dengan kesalahan itu ternyata berbeda. Kegagalan adalah suatu kondisi ketika kita sudah berusaha melakukan yang terbaik tapi rencana kita tetap tidak membuahkan hasil. Sedangkan kesalahan adalah ketika kita belum berusaha maksimal. Meskipun keduanya berbeda, keduanya tetap merupakan ujian dari Tuhan. Jika yang terjadi sesungguhnya adalah yang pertama, yang menjadi tantangan adalah, masihkah kita berprasangka baik kepada Tuhan? Jika yang terjadi adalah yang kedua, bisakah kita belajar dari kesalahan tersebut dan menjadi pengabdi yang lebih baik?
Hasil itu bukanlah akhir dari usaha. Gagal atau sukses dalam berusaha sebenarnya sama saja. Yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana kita bisa menyikapi kegagalan atau kesuksesan dalam mengerjakan rencana kita? Masihkah kita bisa berbagi dengan sesama baik itu di masa kita sedang di atas, maupun di bawah? Bagaimana kita bisa berbagi meskipun kita sendiri masih kekurangan? Bagaimana kita bisa tetap berbuat baik? Bagaimana kita bisa berbagi hikmah dengan sesama manusia?
Maka sejak saat itu, saya berubah.
Saya menjalani hidup dengan mental yang baru. Buat saya kesuksesan bukanlah pencapaian. Kesuksesan adalah sebuah kondisi mental dimana saya dapat menyikapi segala hal dengan positif dan menjalani hidup dalam suka cita. Dan, saat itu ada satu misi yang saya emban:
Saya harus jadi trainer SSDK
Saya ingin mahasiswa baru mendapatkan motivasi, tidak hanya dari orang yang selam hidup di kampus selalu lempeng dalam akademik dan tidak pernah terpuruk. Ya, saya ingin memberikan motivasi kepada mereka bahwa, hidup tak selamanya mudah. Bahwa roda tak selalu di atas, namun kita selalu bisa bangkit.
Dan hasilnya.. Tuhan mengabulkan doa saya. Akhirnya saya berhasil menjadi co-trainer untuk penerimaan mahasiswa baru. Nah, mungkin di sana semua orang mengira bahwa setiap yang menjadi trainer itu selalu ber-IP bagus dan tidak pernah dapet IP jelek. Pada saat training, kebetulan ada mahasiswa yang bertanya tentang bagaimana kalau kita gagal. Saya yakin rekan saya juga tidak pernah menyangka kalau saya pernah mendapatkan ip dibawah 2.00. Tapi saya rasa, saya perlu menceritakan ini buat mereka. Maka dari itu saya ceritakan sedikit tentang bagaimana cara untuk bangkit dari keterpurukan. Saya yakin, perlu ada contoh dari orang sukses yang pernah gagal. Jika semua orang sukses tidak pernah gagal, siapa yang bisa menjadi teladan bagi orang-orang gagal untuk bangkit dari keterpurukannya?

Foto bareng para trainer
Sekarang, kalau teringat masa-masa itu, saya hanya bisa tersenyum. Betapa Tuhan tahu bahwa keterpurukan itulah yang saya butuhkan agar saya bisa menjadi seperti sekarang
Sekarang boleh dibilang, apa yang menjadi visi saya tercapai. Saya mendapatkan ip di atas tiga, memperoleh beberapa penghargaan selama berkuliah, serta mendapatkan banyak kesempatan untuk belajar di organisasi yang saya ikut. Saya yakin semua ini ada hikmah dan kaitannya dengan tujuan penciptaan saya. Dan yang terpenting adalah, saya mulai belajar untuk lebih mengenal Tuhan
Dan pada akhirnya saya puas telah menimba ilmu di kampus ITB. Puas karena saya telah belajar banyak tentang kehidupan. Di sini saya tidak hanya belajar menjadi mahasiswa yang bisa mengerjakan ujian, mengerjakan tugas akhir dan lulus saja. Di kampus ini saya banyak belajar tentang bagaimana menjadi seorang manusia, dan segala pembelajaran yang saya dapatkan telah merubah definisi sukses dan gagal di kepala saya
Beberapa Keping Mimpi yang Tercecer di Kampus
Di tahun ketiga saya, entah angin mana yang membawa saya, pada akhirnya saya bersama teman-teman yang saya kumpulkan ada pada sebuah keluarga baru. Di keluarga baru itu, kami berbagi gagasan tentang mahasiswa ITB yang semakin kreatif, imajinatif dan visioner. Yang kami bicarakan di situ bukan lagi banyak ribut tentang hal yang selama ini sering diperdebatkan, seperti masalah diksi, esensi, dan tujuan. Yang banyak kami bicarakan di sana adalah hal-hal gila. Ide gila.
Satu hal yang hingga kini saya imani dan yakini. Gagasan dan mimpi adalah awal dari segalanya. Saya sendiri tak pernah menduga bahwa gagasan-gagasan yang waktu itu saya temui, begitu mempengaruhi hidup saya. Sampai akhirnya ketika lulus, saya menyadari bahwa banyak di antara pencapaian penting saya adalah berkat pertemuan saya dengan ide dari mahasiswa-mahasiswa yang telah lebih dahulu meninggalkan kampus ini.
Ketika pertama kali saya didaulat menjadi Presiden I3M, saya mendapatkan warisan berupa ide-ide proyek yang direkomendasikan untuk dilanjutkan. Di antaranya adalah proyek “Multitouch-Screen”, “CampusChannel” dan “Inspire”. Ya, tiga proyek itu adalah proyek “lungsuran” yang sudah antah berantah keadaannya. Anggota proyek yang sudah berkelana entah kemana, atau pimpinan proyeknya susah dihubungi, dan kami saat itu benar-benar kesulitan untuk mem-follow up proyek lungsuran tersebut.

Tapi, ternyata memang benar, mimpi adalah kunci untuk menaklukkan dunia. Mimpi memberikan energi yang lebih bagi seorang manusia. Bagi seseorang yang bisa memiliki pandangan ke depan, mimpi bukanlah omong kosong. Mimpi adalah sebuah gagasan dengan tahapan pencapaian yang jelas. Nyata. Mimpi adalah masa depan yang bisa diprediksi. Dan masa depan ummat manusia, ditentukan oleh mimpi-mimpi yang ada saat ini. Peradaban ditentukan oleh apa yang sedang dikerjakan para ilmuwan, insinyur, sosiolog, pengusaha, pemerintah, dan seluruh lapisan masyarakat pada tempatnya masing-masing. (lagi…)
7 Kesalahan Fatal Seputar Pembuatan Buku Tugas Akhir
Kebetulan saya baru saja mencetak dan menjilid tugas akhir. Ada beberapa pelajaran berharga yang saya ambil dari proses pembuatan buku tugas akhir ini. Saya rasa hal ini perlu saya share di sini agar tidak ada lagi orang-orang yang bernasib sama seperti saya. Inilah, 7 kesalahan fatal seputar pembuatan buku tugas akhir.
1. Salah menuliskan nama pada cover
Seberapa penting sih menuliskan nama pada tugas akhir? Tentu saja sangat penting, karena ini adalah tugas akhir Anda, bukan tugas akhir dari orang lain. Oleh karena itu nama dipampang pada cover tugas akhir.
Nah, jangan lupa untuk menulis nama Anda sesuai dengan akta kelahiran. Jika perlu, mintalah notaris untuk mengecek apakah nama yang Anda tuliskan sudah sesuai atau belum. Ini adalah kasus nyata yang saya alami, dimana saya kurang mengetikkan huruf ‘r’ sehingga nama saya tertulis sebagai “Fiki”.
Nama yang tidak sesuai akta
Kenyataan yang sangat menyakitkan adalah saya salah menuliskan nama sendiri pada cover draft Tugas Akhir. Walhasil, saya menjadi bahan tertawaan pada saat sidang berlangsung. Maka dari itu, pelajaran pertama yang paling penting adalah, cermati cover tugas akhir Anda. Cover adalah bagian terpenting dan dilihat pertama kali.
Ingat, ini adalah pelajaran pertama yang sangat vital dan mendasar!
2. Menuliskan nama pacar pada kata pengantar (lagi…)
Kekuatan Visualisasi
*ditulis pertama kali untuk blog chordeo
Percayakah Anda bahwa visualisasi sebuah ide atau gagasan dapat membantu membuatnya menjadi nyata?
Percayakah Anda bahwa kondisi Anda di masa kini dibentuk oleh pemikiran Anda di masa lalu?

Ade Harnusa, CEO Chordeo
Saya pernah merasakan betul bahwa sebuah gagasan, jika divisualisasikan, akan lebih mudah menjadi nyata. Jika teman-teman pernah membaca buku atau menonton video tentang Law of Attraction, tentu teman-teman memahami bahwa pikiran memiliki energi yang sangat kuat. Pikiran bawah sadar jauh lebih kuat daripada pikiran sadar. Sehingga, apa yang ada dalam pikiran bawah sadar kita akan memiliki daya tarik yang lebih besar dan lebih dapat menarik pikiran tersebut menjadi kenyataan.
Pikiran bawah sadar tidak dapat membedakan imajinasi dan kenyataan. Oleh karena itu, kita tentu sering mendengar sebuah kutipan yang berbunyi
“Whether you think you can or can’t, you’re right,”
dari Henry Ford. Maka dari itu, jangan pernah takut untuk bermimpi dan berimajinasi.
Indeks Prestasi, itu Privasi?
Kawan-kawan sekalian, beberapa hari yang lalu muncul suatu kehebohan di twitter. Bukan. Kali ini bukan terjadi kehebohan karena trending topics aneh berasal dari Indonesia. Kejadian menggemparkan tersebut adalah munculnya isu bahwa kita dapat melihat Indeks Prestasi seluruh mahasiswa di Indonesia. Wah? Bukankah IP itu privasi?
Ya, IP yang selama ini menjadi privasi dan menggenapi SARA menjadi SARIP kini diumbar dengan bebas. Siapa yang membeberkan info paling privat dari seluruh calon menantu di Indonesia? Jawabannya cukup mengejutkan, informasi tersebut dapat diakses oleh siapapun di sebuah situs pemerintah. Bisa diasumsikan, pemerintah mengambil kebijakan untuk menjadikan IP sebagai informasi yang bebas diakses publik.
(lagi…)
Ajar
Percayakah Anda bahwa kata “ajar” dan “inspirasi” punya hubungan yang sangat dekat?
Ya, saya saat ini seharusnya saya sedang mengerjakan tugas akhir, mempelajari cara membuat aplikasi untuk multi-touch table top. Namun karena sedang penat, saya refreshing sejenak, salah satunya dengan menulis blog. Tulisan kali ini akan mengupas tentang inspirasi yang saya peroleh hari ini, dan inspirasi itu berkaitan erat dengan kata “ajar”.
Cerita dimulai ketika saya menunggu seorang teman di daerah Tubagus Ismail. Saya memarkir motor saya di pinggir jalan. Tiba-tiba seorang anak perempuan mendatangi saya. Anak itu bertanya, “Kak Fikri kan?”. Saya sangat bingung, saking bingungnya, saya jawab”Iya, siapa ya?”. Ini adalah kelemahan terbesar saya. Dengan muka sangat tidak ramah, nada bicara yang songong, ditambah kebingungan, saya sukses menjadi orang yang sangat arogan.
“Saya yang dulu diajar sama Kak Fikri di ITB,” anak perempuan itu menjawab.
“Hah, ngajar? kapan ya?” saya menjawab dengan kebingungan.
“Iya yang dulu ngajar di ITB, yang main itu loh”
“Hmm, bentar kapan ya?” yang ada di pikiran saya adalah, saya tidak pernah mengajar, yang pernah saya lakukan adalah memberikan training. Oh, iya, mungkin anak ini waktu SSDK kebagian saya sebagai co-trainernya. Tapi, kalau dilihat-lihat, dia masih kecil, nggak mungkin anak kuliahan. Hmm, saya juga tidak pernah mengajar sebagai guru les. Sampai akhirnya, saya tersadar dengan frasa terakhir yang dilontarkan anak perempuan itu. Ya, saya pernah ikut meramaikan program adik asuh dari HME ITB, tapi saya hanya mau kebagian ice breaking. Saya bukan orang yang sangat serius sehingga saya hanya mengajarkan mereka bermain senam otak dan beradu menyanyikan lagu “Burung Kakak Tua” dan “Topi Saya Bundar”. Dialog di pikiran saya ini berlangsung sangat singkat, hingga akhirnya saya bisa mengatakan, “Oh iya! Iya iya! Wah, tapi kan saya udah jarang dateng.. “

Saya mengisi ice breaking dengan brain gym. Waktu itu kegiatan adik asuh ini bertempat di kos Nursita Setiawati (EP 09). Makasih tempatnya ya Sita, Makasih juga buat Pengmas HME, dan Makasih Syakur yang udah ngajak saya dateng
Yang membuat saya kaget adalah tiba-tiba anak perempuan itu memperlakukan saya seperti guru. Apa yang dilakukannya saat itu membuat saya teringat masa SD. Di masa SD, yang namanya guru itu selalu dihormati dan hal itu dibuktikan dengan sebuah tindakan nyata yang sangat simpel, salim. Masih segar di ingatan saya ketika saya selalu menyalimi guru-guru saya tiap setelah berbaris masuk kelas pada masa SD. Dan di luar itu, pasti saya selalu menyalami guru yang bertemu di mana pun. Masih sangat segar di ingatan saya momen dimana mama atau eyang putri atau bude-bude saya berkata, “Salim dong sama bu guru,” ketika sedang bertemu bu guru, baik itu di rumah, di mall, dimanapun.
Dan jujur, yang ada di pikiran saya adalah sebuah pertanyaan apakah saya dianggap sebagai seorang guru oleh anak ini. Kalau iya, saya merasa sangat cupu. (lagi…)
Biarkan ITB Hangus di Tahun 2015
Sebenarnya sampai sekarang pun kondisi tubuh saya masih belum fit. Sejak dimintai keterangan di Poltabes di hari kamis, saya menjumpai bintik merah di tangan saya. Dokter bilang saya kena campak. Walhasil, beberapa hari ini saya terkurung di kamar kos. Mungkin ini adalah rekor terlama saya di kamar kos. Jujur saya bosan dan sesekali waktu membuka laptop hanya untuk membuka email, twitter, facebook, dan messenger.
Sudah beberapa hari ini saya melewatkan beberapa agenda yang sudah saya jadwalkan. Rapat TEDxBandung, kuliah, bimbingan TA, foto bareng I3M, Sekolah Inovator Muda, Sekolah Bakat SKHOLE bersama HME, dan rapat sesuatu bersama Pambudi dan Agung. Semuanya saya lewatkan hanya karena saya sakit. Tapi bersyukur, di TEDxBandung saya punya Reza AE08 yang sangat bisa saya andalkan, di I3M saya masih punya banyak orang-orang hebat yang siap memback-up saya. Alhamdulillah. Hal ini membuat saya semakin yakin bahwa kemahasiswaan itu yang real adalah manusia-manusianya. Apa yang kita lakukan di kala menjadi mahasiswa sesungguhnya bukan hanya bagaimana agar kita dapat berbuat sesuatu ketika mahasiswa, tetapi bagaimana agar kita mampu melakukan sesuatu setelah lulus.
ITB dibakar atau kebakaran mungkin bias membuat heboh banyak orang. Isu ini cukup membuat panas kampus. Isu ini cukup membuat kepala K3L menjadi sosok yang perhatian kepada mahasiswa-mahasiswa ITB pada saat kami memberikan keterangan di kantor polisi. Isu ini juga konon mengancam keberadaan mahasiswa untuk bisa tetap berada di kampus di malam hari. Tapi, entah mengapa di pikiran saya ada satu isu yang terus menerus hinggap. Isu ini adalah terbakarnya kampus ITB di tahun 2015.
Saya yakin di tahun 2015 nanti ITB akan terbakar habis-habisan. Tentu saja bukan terbakar gedungnya, tetapi terbakar semangatnya. Di tahun 2015 saya membayangkan akan terjadinya Kobaran Api dalam berkarya. Di saat itu, mahasiswa ITB sudah tidak kagok lagi untuk berkolaborasi satu sama lain. Antara orang-orang tua yang mengurusi institusi ITB dan anak-anak muda yang menyandang status sebagai mahasiswa ITB tidak lagi kagok untuk berkomunikasi, beradu argument, dan mengaku salah apabila memang salah. Sebuah bayangan yang sangat manis apabila nanti setiap dosen pasti menjadi dosen pembimbing dari proyek kolaborasi mahasiswanya.
Saya sudah mulai melihat bibit-bibit dari kenyataan di masa depan ini. Dahulu waktu saya baru masuk ITB, jarang terdengar adanya proyek kolaborasi. Sekarang? Kata-kata kolaborasi dan inovasi mulai didengungkan, seperti ITB-Satelit, OpenSparc Community, Proyek PLTMH beberapa himpunan, dan lainnya.Proyek-proyek kolaborasi mulai dikerjakan meskipun mungkin hasilnya belum terlihat nyata. Wadahnya pun sudah banyak, ada I3M, Ganesha Rescue, SKHOLE, Ganesha Hijau, dan lain-lain. Yang jelas, saya yakin, angkatan-angkatan muda di ITB sudah tidak asing lagi dengan kata-kata kolaborasi dan inovasi.
Selain itu, mimpi sebagai world class university pun bukan tidak mungkin tercapai, karena mahasiswa ITB sangat berpotensi untuk menjadi mahasiswa berprestasi mendunia. Tapi bagi saya, masih banyak PR yang harus dikerjakan untuk dapat mencapai taraf ini. Boro-boro mau berprestasi, kadang kita tidak diberikan fasilitas yang memadai untuk mau melakukan penelitian. Dana untuk mengikuti lomba saja sangat susah mencarinya, dana buat TA? Hmmm.. Jujur, bagi saya dan kawan-kawan saya, mencari dana untuk penelitian masih susah. Entah memang tidak ada sumber dananya, atau memang sumber dana itu ada tapi kami tidak tahu cara mendapatkannya. Atau mungkin juga, sumber dana yang ada sudah dialokasikan untuk acara-acara besar seperti pameran karya yang sepi pengunjung, dan pentas seni yang penontonnya sangat membludak.
Di tahun 2015, bukan tidak mungkin ITB meraih kejayaan. Kejayaan yang ada di bayangan saya adalah ketika mahasiswa-mahasiswanya prestatif, baik di kancah local, maupun nasional. Kelak di tahun 2015, setiap mahasiswa ITB setidaknya memiliki satu project penelitian atau pengabdian masyarakat yang ia kerjakan bersama teman-temannya. Dan setiap project itu pasti dibimbing oleh dosen. Diskusi rutin dengan dosen membahas project tersebut akan terjadi selama pengerjaan project. Jika project tersebut merupakan project yang bersifat pengabdian masyarakat, berkunjung ke masyarakat yang disasar merupakan rutinitas dari para mahasiswa ITB. Wow, saat itu dekat dengan rakyat bukanlah sekedar jargon. Dan ketika hal itu terjadi, mencari proposal PKM bukanlah hal yang mudah, pihak Lembaga Kemahasiswaan tinggal memberikan kabar kepada Badan Eksekutif dari KM ITB, lalu badan eksekutif tersebut akan mengumumkan ke seluruh himpunan dan unit, lalu…. BUM. Ratusan proposal PKM pun terkumpul. Dan saat itu, semua orang sudah punya pemikiran yang sama “PIMNAS mah, pasti ITB juaranya, mulai dari PKMP sampai PKMM, dari PKM AI sampai PKM GT”.
2015, system manajemen informasi dan pengetahuan di kampus ITB sudah sangat bagus. Organisasi kemahasiswaan dapat menjadi organisasi yang sangat progresif.Tidak ada lagi kesalahan menahun yang terjadi. Wow. Dan manajemen informasi dalam berkarya pasti sudah sangat baik di masa itu. Induk organisasi kemahasiswaan ITB telah memiliki catalog permasalahan bangsa, dan himpunan serta unit kegiatan mahasiswa ITB berlomba-lomba mencari ide untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Ide-ide tersebut akan terus dikawal dan diinkubasi hingga akhirnya bisa menjadi sebuah karya nyata. Setelah karya nyata itu ada, induk organisasi kemahasiswaan itb lagi-lagi akan menyambungkan karya tersebut agar bisa bermanfaat bagi masyarakat. Wow, saat itu bergerak bersama rakyat bukan jargon belaka, tetapi sudah menjadi budaya. Futsal bersama pedagang di sekitar ITB pun menjadi santapan sebulan sekali para mahasiswa. Belum lagi, informasi-informasi seputar perlombaan yang ada di ITB, dokumentasi karya-karya mahasiswa, database donatur proyek penelitian dan pengabdian masyarakat, hingga database angel investor yang siap memodali bisnis anak ITB, semuanya akan sangat mudah diakses oleh setiap mahasiswa ITB. Wow. Saat itu pasti mahasiswa ITB berbondong-bondong mengikuti lomba-lomba di kancah internasional . Kalau sekarang di kalangan anak HME ada pikiran, “Wah, siapa ya yang tahun ini jadi finalis LSI Design Contest, siapa yang akan ke Okinawa,” karena setiap tahunnya ITB selalu meloloskan wakil di final International LSI Design Contest, bukan tidak mungkin setiap jurusan punya pemikiran yang sama untuk lomba keprofesian internasional sesuai program studinya masing-masing. EDAN!
2015, semangat para mahasiswa bukan hanya untuk status mahasiswa. Di tahun ini dan tahun-tahun berikutnya, setiap mahasiswa ITB pasti resah. Resah karena mereka masih bingung, apa yang dapat mereka perbuat di dunia nyata nanti. Tidak adanya industri strategis di negara ini menjadi tanda tanya besar bagi mereka. Mereka pun akhirnya aktif mencari tahu dan mengkaji, apa yang membuat bangsa ini tidak punya industry elektronika, otomotif, dan lain-lain. Keresahan itulah yang akhirnya membuat mahasiswa ITB yang saat itu peduli terhadap masa depan bangsa Indonesia, mencari tahu dengan sungguh-sungguh, bagaimana cara memajukan bangsa ini kelak. Apa gunanya kita melakukan hal hebat semasa mahasiswa, jika nanti setelah lulus kita tidak dapat melakukan hal yang lebih hebat lagi?
ah sudah dulu meracaunya, dilanjutkan kapan-kapan
Appreciate Yourself
Suatu hari di kelas Bahasa Inggris semasa saya SMA, saya melanggar beberapa aturan yang diberikan oleh Pak Guru. Hal ini mungkin biasa saja untuk pelajaran lainnya, namun untuk pelajaran Bahasa Inggris, hal ini merupakan sesuatu yang sangat gawat. Pak Indro, guru Bahasa Inggris saya, merupakan guru dari ibu saya pada saat ibu saya masih bersekolah di SMA saya. Selain itu, Pak Indro juga merupakan guru dari adik ibu saya pada saat adik ibu saya juga masih bersekolah di sini. Dan, boleh dibilang Pak Indro adalah guru yang sangat disiplin. Sangat disiplin. Saya ulangi sekali lagi, sangat disiplin.
Dalam kelas Pak Indro, terdapat dua benda yang wajib dibawa oleh para murid. Benda yang pertama adalah sebuah name tag, dan benda kedua adalah sebuah buku kumpulan latihan TOEFL yang dibuat beliau. Kedua benda sakti tersebut adalah pusaka yang harus kami bawa jika ingin mendapatkan tiket mengikuti kelas beliau.
Dan benar. Pagi itu saya baru menyadari bahwa saya tidak membawa kedua benda pusaka tersebut. Saya adalah orang yang sangat malas sehingga bahkan saya tidak mempersiapkan buku-buku sekolah ketika berangkat sekolah. Dan satu lagi kesalahan saya, saya lupa bahwa hari ini ada kelas Pak Indro.
Apa yang anda lakukan jika kurang dari beberapa menit lagi Anda diminta untuk mengenakan name tag? Saya yang saat itu masih berusia 14 tahun memutuskan untuk membuat name tag sendiri. Saya membuatnya dari sobekan block note. Dengan skill origami yang terbatas, saya akhirnya berhasil membuat name tag tersebut. Saya tidak bohong, name tag yang saya buat sangat jelek. Sangat jelek. Apalagi tulisan “FIKRI” di name tag tersebut. Meskipun bolpen yang digunakan adalah bolpen Hi-Tech, tulisan tersebut sangat jelek. Font-typenya sangat tidak jelas dan tidak indah. Belum lagi arsiran yang tidak rapi yang mengisi font tersebut.
Buku? Ya, bagaimana dengan buku kumpulan latihan TOEFL? Saya tidak mungkin meminjam teman sekelas karena mereka juga membutuhkan buku tersebut untuk mengikuti kelas Pak Indro. Oh Crap! Akhirnya saya hanya bisa pasrah dan berdoa supaya Pak Indro tidak menyadari bahwa saya tidak membawa buku tersebut. Ide sederhananya adalah saya akan menggunakan buku lain di atas meja dan berpura-pura bahwa buku tersebut merupakan buku kumpulan latihan TOEFL. Sesimpel itu.
Saya lupa apakah saat itu kami memakai LCD projector atau tidak, yang jelas, kelas sangat gelap. Saya duduk di bangku paling belakang di kursi sebelah kanan pada barisan paling kiri. Di sebelah kanan saya ada Catur yang rambutnya sangat gondrong sekali. Ombak di rambut Catur sudah sangat tidak beraturan, dan sudah beberapa kali ia diperingatkan oleh Guru.
Kelas akhirnya dimulai pada saat Pak Indro menginjakkan kaki memasuki pintu. Suasana sangat mencekam buat saya. Di kelas yang gelap tersebut saya bersembunyi dari ketakutan diusir dari kelas karena saya tidak membawa barang yang seharusnya saya bawa. Pak Indro mulai mengajar. Saya pun berakting seolah-olah saya sama seperti murid lainnya, membawa dua barang wajib tersebut.
Kelas masih mengerikan dan sangat mengancam saya. Kondisi tersebut berlangsung stabil, sampai akhirnya Pak Indro mendekat ke arah saya. Jantung saya semakin berdebar dengan kencang. Saya mencoba senyum ramah seolah tanpa dosa. Tapi, Pak Indro sama sekali tidak melirik ke arah saya. Saya masih sangat cemas, sampai akhirnya Pak Indro berhenti di samping Catur, di sebelah kanan saya. Pak Indro menyentuh rambut Catur. Saya tidak tahu pasti, tetapi dari sepengamatan saya seperti sedikit menarik rambut Catur.
Beberapa saat kemudian Catur keluar dari kelas. Pak Indro menyuruh Catur untuk mencari Pak Suwondo. Catur baru diperkenankan mengikuti kelas jika rambutnya sudah dicukur oleh Pak Suwondo. Huff. Saya bernapas lega. Napas yang pertama saya tarik karena saya tidak diusir oleh Pak Indro. Sedangkan napas yang kedua saya tarik karena, Alhamdulillah, Catur diusir dari kelas. Mengapa Alhamdulillah? Apakah saya senang jika teman saya diusir dari kelas? Bukan, saya bersyukur bukan karena Catur diusir dari kelas. Tetapi, saya bersyukur karena akhirnya ada buku kumpulan latihan TOEFL yang menganggur. Ya, tentu saja Catur meninggalkan bukunya di kelas!
Kini degup jantung saya sudah tidak sekencang tadi. Di atas meja saya sudah terdapat salah satu benda wajib Pak Indro. Selain itu, saya toh sudah membuat name tag abal-abal yang saya kenakan di saku baju. Saya lega.
Seperti kegiatan belajar mengajar pada umumnya, pertanyaan sangat sering diajukan secara klasikal oleh guru. Tentu saja biasanya kelas menjawab pertanyaan tersebut dengan kontak dan serempak. Kontak mata guru dan murid pun menjadi hal yang tak terhindarkan di kelas.
Pak Indro kembali berjalan ke arah saya. Kali ini terjadi kontak mata. Saya berusaha mengikuti teman yang lain, menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan oleh Pak Indro. Saya merasa aman. Tapi, di tengah rasa aman tersebut, ancaman justru terjadi.
Pak Indro akhirnya melihat ke arah name tag saya. Saya hanya bisa terdiam dan berusaha tersenyum. Saat itu kata-kata bijak yang saya imani adalah, senyum adalah senjata yang paling baik bahkan di saat yang paling sulit. Namun sayang, orang bijak tersebut belum pernah berhadapan dengan Pak Indro. Senyum tersebut tidak berguna sedikit pun. Pak Indro mengambil name tag abal-abal saya dari saku. Beliau meremas-remas name tag tersebut menjadi sebuah bola. Setelah itu beliau menyobeknya lalu meletakkan sobekan kertas tersebut di atas meja saya. Lalu, dengan dinginnya beliau berkata,
“If you dont appreciate yourself, nobody will.”

Alumni, Reuni, dan Inovasi
Indonesia Berinovasi. Frasa tersebut merupakan tema kegiatan yang akan dilakukan oleh alumni ITB ’81 memperingati 30 tahun sejak tahun tersebut. Salah satu kegiatan yang akan dilakukan adalah pembangunan Desa Inovasi dengan melibatkan mahasiswa. Oleh karena itu, Kabinet KM ITB dan beberapa himpunan diundang pada 8-1-2011 untuk mengikuti Focus Group Discussion dengan tema kompas inovasi.
Alumni dan Institusi
Besarnya suatu institusi pendidikan tidak lepas dari campur tangan alumninya. Kata-kata inilah yang (katanya) selalu diucapkan oleh rektor ITB dengan berkaca dari MIT, Harvard dan universitas kelas dunia lainnya. Besarnya nama institusi dibangun oleh kebesaran nama masing-masing alumninya. Dan sebaliknya, tak jarang, nama institusi pun ternoda oleh perbuatan tercela yang dilakukan alumninya.
Pada kesempatan kali ini Indosat dan Teknologi Riset Global menyumbangkan lab untuk ITB. Kebetulan Direktur Indosat adalah alumni ITB 81. Saya lupa lab apa yang disumbangkan Indosat, yang jelas TRG menyumbangkan Lab untuk Cloud Computing. Selain menyumbangkan lab tersebut, TRG juga mempropose pembangunan Indonesia Cloud Computing Center untuk Technopark di bekasi. Jadi simpelnya semacam pengen ngetag lahan di sana buat lab riset di bidang cloud computing yang lebih berorientasi bisnis.
Menariknya, Pak Suhono (Ketua Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan ITB, alumni ITB 81) sempat nyeletuk kalau Indosat mau nyumbang sesuatu prosesnya ribet karena Indosat itu PT, harus RUPS, dan lain-lain, sedangkan kalau perusahaan tertutup seperti TRG kalau nyumbang bisa langsung dan bisa disebut sebagai sumbangan alumni 81. Saya pun jadi berpikir, apa yang bisa dilakukan angkatan 2007 kelak? 30 tahun nanti, sebesar apa circle of power dan circle of influence alumni 2007? Berapa entrepreneur? Berapa direktur? Hal ini membuat saya tersadar bahwa apa yang kita lakukan di kampus ini tidak ada apa-apanya dibandingkan apa yang akan kita lakukan setelah lulus. Tentu saja, pada awalnya kita perlu membangun kemandirian diri sendiri terlebih dahulu sebelum bisa berbuat lebih untuk orang lain, atau mungkin melakukannya secara paralel.
Setelah itu dilanjutkan dengan sambutan oleh Ketua Panitia kegiatan ini, Ibu Sofi kalau tidak salah namanya. Setelah itu giliran Pak Hasan dari Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan, dan Alumni (WRKMA) memberikan sambutan sekaligus meresmikan kegiatan tersebut. Selain itu Pak Hasan juga mengungkapkan kebutuhan utama ITB: beasiswa. Meskipun pembangunan lab dan renovasi ruangan adalah hal yang bagus, tetapi ternyata kebutuhan utama ITB adalah beasiswa. Hal ini terjadi karena memang 50% mahasiswa ITB berasal dari golongan menengah ke bawah. ITB berkomitmen untuk tetap menyelenggarakan pendidikan bagi mereka yang bahkan tidak mampu membayar, selama mereka masih memiliki kemampuan dalam menempuh pendidikan di ITB. Oleh karena itu, dukungan dari alumni-alumni ITB sangat diharapkan.
Reuni dan Inovasi
Yang namanya reuni pasti penuh dengan canda, tawa, dan kenangan. Hal ini juga yang terjadi pada focus group discussion para alumni tersebut. Beberapa fokus dan bersemangat, namun tidak sedikit yang ngobrol sendiri dan ketawa-ketawa. Saya juga sempat berpikir, ini alumni 81 hebat juga ya, reuni aja masih mikirin inovasi, kalau saya pribadi sampai detik ini masih membayangkan bahwa reuni itu pasti isinya ketawa-ketawa dan cengcengan. Tapi salut, setidaknya mereka semua punya semangat untuk memberikan inovasi bagi negeri ini. Kalaupun di antara beliau-beliau bercanda tawa, pasti itu bukan karena mereka tidak serius dalam menjalankan program ini. Saya hanya bisa berasumsi, sebagai orang yang cerdas, alumni-alumni tersebut mungkin kurang suka dengan hal-hal yang sifatnya masih konseptual seperti FGD, mungkin mereka langsung ingin melakukan tindakan konkretnya. Mungkin.
Melihat inisiatif yang dilakukan oleh ITB 81, saya pun berpikir, apa jadinya kalau setiap angkatan melakukan hal serupa. Setiap tahun pasti ada desa yang dibina dan dikembangkan! Dan, apa jadinya kalau seluruh alumni perguruan tinggi terkemuka di tanah air melakukan hal serupa?
Waaaw!
Belum lagi jika semua kegiatan tersebut melibatkan tenaga segar mahasiswa. Pasti mahasiswa Indonesia benar-benar bisa menjadi mahasiswa -bukan sekedar siswa biasa- yang langsung mengamalkan ilmunya pada kehidupan bermasyarakat. Tentu saja, mahasiswa harus mendapatkan apresiasi yang layak juga, bisa berupa kredit kuliah, dan lain-lain.
Hanya waw dan waw, yang keluar pada saat saya berkhayal. Tapi apa daya, itu semua hanya khayalan jika tidak ada yang mau mencoba mewujudkannya. Siapa yang mau?
Tulisan ini ditulis tanggal 9 Januari 2011. Berita resmi dari ITB bisa dilihat di sini http://www.itb.ac.id/news/3074.xhtml
Kader-isasi 11 Januari
“Kak, kalo kak Faisal udah ngitung segala macemnya, buat apa saya ikut?,” tanya Yuri SI 08.
“Kamu harus ikut biar kamu udah ngerasain gimana ngimplementasiin keprofesian.”
“Lagian, katanya Iwan, ke depannya himpunan bakal fokus ke kegiatan keprofesian dan pengabdian masyarakat. Jadi perlu transfer pengetahuan,” Jawab Faisal SI 07.
Begitulah pelajaran yang bisa saya bagi dari survey PLTMH di Gununghalu.
“Gimana ya kak, sebenernya materi Popope ini udah dari jaman OSKM, terus Osjur, dikasih melulu. Ampe muak. Maksudnya gimana ya, gw tau lah apa yang diomongin, tapi gimana ya cara ngimplementasiinnya?”
“Eh kak, yang tadi bercanda loh,” tutur salah seorang peserta DAT 2011.
Begitulah pelajaran yang bisa saya bagi dari mentoring DAT 2011 di Ciburial.
“Percuma lo ngejar nilai A, kalo akhirnya ga ada nilai tambah di diri lo,” tutur seseorang yang pertama kali mendapatkan nilai D dengan IPKnya yang masih deket cumlaude.
Begitulah pelajaran yang bisa saya bagi dari melihat nilai saya yang sejauh ini kombinasi antara beberapa A, AB, dan satu buah D.
Kelas Kalkulus Nol Enam

STEI ALIVE 2007 Bersinergi Membangun Negeri – STEI Smart Generation fo the Best Future

Siapakah dia?

Kami pernah bikin rusuh D’COST

Kami Anak Muda Indonesia, di Air Kami Jaya!
Mental Juara
“Walaupun tidak juara, tetap mengaku juara.”
Quote di atas merupakan sebuah quote dari kakak angkatan saya yang bernama Fuad Fajri mengenai mental juara. Tak terasa, ini sudah kedua kalinya saya menghabiskan malam di Laboratorium IC Design bersama Ardimas, Azhari, dan Fuad Fajri. Malam ini kami memiliki tambahan teman menginap. Teman tersebut adalah Aban yang kemarin baru saja mendaki gunung untuk yang pertama kalinya di tahun 2010 maupun pertama kali dalam hidupnya.
Di laboratorium ini, kami sedang mengerjakan tugas kuliah sekaligus tugas yang diberikan oleh sebuah perlombaan. Tugasnya adalah merancang sebuah image compression and decompression system. Tugas ini dilakukan berkelompok. Ardimas sekelompok dengan Paulus dan Yanwar, sedangkan Azhari bersama Fuad Fajri dan Aban. Saya sendiri tergabung dalam kelompok Rahwana bersama Amril, Bombom, dan Dio Adi. Dio Adi sudah hilang kontak, beberapa kali di sms oleh Amril dan Bombom tetapi tidak membalas. Bombom sendiri kemarin-kemarin sibuk proyek dan dia sendiri hanya mengincar kelulusan untuk mata kuliah ini. Amril sendiri sepertinya sudah tidak antusias karena sebenarnya sks yang dia ambil sudah kelebihan, sebagaimana pengakuan dia:
“Gua sih nggak masalah ini nggak lulus, entar gw ganti sama kuliah yang lain aja” (lagi…)
Buku Catatan @rousyan 2010
Walaupun tampilannya masih salah tidak apa-apalah, yang penting belum basi. Hehe. Nanti akan direvisi. Dengan bangga saya mempersembahkan Buku Catatan @rousyan 2010. Silahkan didownload, save as saja karena tebalnya 361 Halaman
Tahun 2010 diwarnai dengan berbagai aktivitas saya, mulai dari HME, I3M, Lomba PLC, PKM, MBC, dan Percintaan yang akhirnya kandas. Hahaha. Yah apapun kondisinya, kita harus berusaha menjadi lebih baik di tahun mendatang!
Sedikit Pemikiran dan Perjalanan Bersama KM ITB
Melalui tulisan ini saya berusaha menuliskan pemikiran saya yang selama ini selalu muncul di kepala saya tentang KM ITB. Tulisan ini subjektif dari sudut pandang saya, sehingga maaf sekali kalau mungkin Anda tidak sepakat dengan saya. Tentu saja sesubjektif-subjektifnya pendapat saya, pasti ada unsur objektifnya.
Saya bukanlah seorang aktivis, meskipun saya sempat terjerumus menjadi peserta Diklat Aktivis Terpusat, menjadi panitia di Diklat berikutnya, dan terancam menjadi mentor di Diklat yang akan berlangsung Januari ini. Awalnya saya bukanlah orang yang punya pikiran untuk KM ITB. Bagaimana mau peduli kalau baru sampai di kosan, saya sudah dicekoki dengan berbagai pandangan bahwa KM = Keluarga Monyet, anak KM itu pada nggak bener, dan pandangan negatif lainnya.

benarkah kami keluarga monyet? (lagi…)
Kualitas Diri
Pernahkah Anda merasa bahwa diri Anda tidak lebih dewasa dari diri Anda sendiri setahun lalu? Pernahkah Anda merasa bahwa Anda yang dulu memiliki semangat yang lebih besar dan jauh lebih kuat dari Anda yang saat ini sedang membaca tulisan ini?
Orang bijak pernah berkata bahwa tua itu pasti, namun dewasa adalah pilihan. Ya, dewasa adalah sebuah pilihan. Menurunnya kualitas diri Anda adalah sebuah pilihan yang Anda pilih secara tidak sadar. Kadang Anda merasa kalah oleh keadaan. Keadaan itu kadang seolah memaksa Anda untuk menjadi lemah.
Dan itu semua pilihan, bukan kepastian. Bangkit sekarang dari keterpurukan pun sebuah pilihan. Pilihan yang berat di awal, tapi akan sangat menyenangkan di akhir. Memang sebagai manusia memiliki perasaan, kadang kita punya kecenderungan untuk tetap merasa sedih, kesal, dan segala perasaan negatif lainnya. Tapi ya, itu adalah sesuatu negatif. Dan saya, tidak ingin menyesal dengan memilih untuk jadi negatif. Mengapa? Karena pada akhirnya saya akan lebih bahagia dengan diri yang positif
Saya bisa tersenyum, gembira, bercanda, dan bersemangat menghadapi hari-hari
Be positive
Foto ini diambil ketika saya sedang menjadi orang paling positif sedunia. Hehe
Setengah Jalan di I3M (1)
Tidak terasa sudah setengah jalan perjalanan saya sebagai Presiden Inkubator Ide dan Inovasi Mahasiswa ITB periode 2010/2011. Begitu banyak cerita yang mungkin tidak bisa diwakilkan hanya dengan LPJ 6 Bulan dan semua LPJ Bulanan. Lebih banyak cerita yang terkandung daripada sekedar kumpulan kata yang ada pada I3M Creative Portal.
Dan, di antara pencapaian I3M pada 6 bulan yang telah dilalui ini, ada salah satu yang sangat menarik dan agak nyeleneh buat saya
Hal ini adalah dimuatnya foto kami di http://www.itb.ac.id/news/3001.xhtml. Memang benar, gambar ini:

bertemakan PKM atau PIMNAS, dan gambar itu merupakan hasil rancangan dari Faikar Izzani, DKV 07, Kepala Bidang Media Inkubator Ide dan Inovasi Mahasiswa ITB. Tetapi, sesungguhnya foto yang satu lagi adalah foto kami saat Presenticcon selesai:

Begitu banyak cerita dan hikmah yang saya dapatkan dari 6 Bulan keberjalanan I3M ini. Tentang kepemimpinan, tentang inovasi, tentang networking, dan sebagian besar tentang perjalanan yang sulit untuk mewujudkan mimpi yang tinggi.
Seorang senior saya berkata, “Jalan Idealis adalah jalan yang sulit.” Dan memang benar, konsekuensi dari bermimpi tinggi ada dua:
1. Anda harus bekerja lebih keras karena mimpi Anda sangat tinggi.
2. Anda harus siap untuk tidak meraih mimpi tersebut karena mimpi Anda mungkin terlalu tinggi sehingga tidak mungkin dicapai di waktu itu.
Lalu, bagaimana I3M di setengah tahun kepengurusan ini? Sudahkah mimpi-mimpi yang melambung tinggi itu mendarat di alam nyata?
Nantikan kelanjutan cerita ini
The Kraken

Yeah, Jumat, 22 Oktober 2010 kemarin akhirnya sebuah band yang berisikan boneka-boneka Yonny Septian tampil juga di acara syukuran wisuda HME ITB. Malam itu boneka-boneka Yonny tampil membawakan tiga buah lagu: I’ll be There for You (The Rembrandts), Everything (Michael Bubble), dan Jemu (Koes Plus / Gigi).
Malam itu band kami yang telah beberapa kali berlatih di studio mthree akhirnya tampil full team. Di sebuah tempat bernama Bumi Sangkuriang, akhirnya kami memproklamirkan bahwa band yang berisi boneka-boneka Yonny ini memiliki nama The Kraken. Mengapa boneka Yonny? Karena pada dasarnya kami hanya diajari oleh Yonny untuk bermain band, andai saja Yonny bisa membelah diri, tentu saja band kami ini tidak akan berformasi seperti ini:
- Vokal : Syarif Rousyan Fikri (EL 07 – MPA HME ITB)
- Gitar : Dimas Agil Triatmojo (EP 07 – Menko PM HME ITB)
- Gitar : Fitrian Pambudi (EL 07 – Ketua HME ITB)
- Bass : Aditya Banuaji (EL 07 – Menteri Pelatihan dan Lomba Keelektroan HME ITB)
- Drum : Yonny Septian Izmantoko (EL 07 – Senator HME ITB)
Melainkan, akan menjadi seperti ini:
- Vokal: Yonny Septian Izmantoko (EL 07 – Senator HME ITB)
- Gitar : Yonny Septian Izmantoko (EL 07 – Senator HME ITB)
- Gitar : Yonny Septian Izmantoko (EL 07 – Senator HME ITB)
- Bass : Yonny Septian Izmantoko (EL 07 – Senator HME ITB)
- Drum : Yonny Septian Izmantoko (EL 07 – Senator HME ITB)
Hahaha, sayangnya itu tidak mungkin. Dan sepertinya kami masih perlu banyak latihan.
Oke, sekian dulu cerita tentang The Kraken, sebagai penghujung dari posting ini, saya berikan bonus foto dari Yonny Septian. Hahaha
Enjoy!

Semangat Baru untuk Berbagi!
Sudah lama sekai saya tidak menulis di blog ini. Hmm, sebenarnya banyak yang ingin saya ceritakan. Banyak sekali cerita yang harus diabadikan di sini, yang sampai sekarang belum saya tuliskan. Dan sekarang saya sedang sangat bersemangat untuk menulis! Mengapa tidak saya tuliskan saja semuanya di sini, semua cerita! Cerita tentang Inkubator Ide dan Inovasi Mahasiswa, cerita tentang TA saya, tentang HME, tentang Elektron, dan tentang perjalanan hidup saya yang semakin seperti telenovela ini!!
Oiya, sepertinya saya akan melakukan beberapa perubahan di halaman blog ini
Seperti biasa, saya selalu menyenangi suasana baru, dan terakhir kali saya merindukan suasana baru memberikan jalan pada lahirnya blog ini dan matinya blog lama. Selain itu saya juga telah melahirkan tumblr dan twitter. Hehe
Oke, Relatif dan Absolut, mari kita buat bab baru dalam Kerajaan Kata!
Harapan
curhat? Hmm, tidak apa. Toh suatu saat nanti mungkin saya akan menertawakan tulisan ini, sama halnya dengan saya menertawakan tulisan saya dan berkata, “Huh, sungguh tidak dewasa”. Ya ya, ya bagi yang tidak mau mendengar curhat saya silahkan saja, saya hanya ingin berbagi cerita saja. Berbagi dengan saya di masa depan nanti, dan berbagi bagi orang-orang yang bisa mencari pelajaran dari hal terburuk sekalipun. Selamat menikmati!
Enam bulan adalah waktu yang lama. Cukup lama untuk membuat diri anda jadi ‘berengsek’. Cukup lama untuk membuat diri anda bermuka seribu. Waktu yang sangat cukup untuk membuat anda nampak sangat kuat dan kokoh di luar, dan semakin rapuh di dalam. Namun, enam bulan waktu yang singkat. Enam bulan tidak akan cukup bagi anda untuk mencari kembali sesuatu yang hilang dari diri anda, yang mungkin pernah anda berikan kepada sesuatu, kepada orang lain, atau kepada semesta. Enam bulan adalah waktu yang dapat membuat anda berdiri di tempat yang sama, dengan sudut pandang berbeda, dengan optimisme yang beda.
Jika kemarin saya berada di jurang yang terdalam, kini saya sedang terombang-ambing. Berjalan dengan langkah gontai, pikiran yang bercabang, dan perasaan yang datar. Ketika anda merasa bahwa anda sudah lupa akan sesuatu, sudah ikhlas, namun anda masih terobsesi karenanya.
Menyedihkan, orang yang gagal meraih mimpinya, cintanya. Anda telah berkorban sangat banyak, anda telah memberikan banyak. Waktu dan pikiran, dua sumber daya yang sangat penting bagi anda. Dan anda tidak akan mendapat apa-apa. Anda tidak akan mendapat penghargaan atas apa yang anda berikan. Yup, melatih hati untuk ikhlas bukanlah hal yang mudah. Karena pada dasarnya kita percaya hukum fisika yang menyatakan bahwa energi tidak dapat dimusnahkan, kita menjadi percaya bahwa kita akan mendapatkan balasan atas apa yang kita berikan. Namun kita sering lupa bahwa energi dapat berubah bentuk! Ya, apa yang akan kita dapatkan nanti mungkin tidak seperti apa yang kita bayangkan saat kita memberi.
Manusia selalu berencana dan Tuhan yang akan menentukan, persis seperti khotbah jumat yang tadi saya dengarkan. Ketika melihat orang-orang yang akan merayakan terlepasnya status mereka sebagai mahasiswa, ketika melihat keluarga mereka, ketika melihat apa yang telah mereka raih, ketika melihat apa yang bisa mereka perbuat, sisi kemanusiaan saya muncul. Perasaan ingin dihargai, ingin menjadi orang yang tidak biasa-biasa. Lulus nanti adalah titik di mana saya bisa membuktikan bahwa saya telah bisa menerima amanah. Kepercayaan dari orang tua sebagai anak pertama yang paham akan permasalahan keluarga, yang bisa memberi contoh dan mengayomi adik-adiknya, tidak boleh saya sia-siakan.
Setiap ada wisuda saya selalu membayangkan, saya ingin diwisuda sebagai seseorang yang seperti apa? Huff, sebuah pertanyaan yang jawabannya selalu bervariasi setiap saya datang ke wisudaan. Karena hidup saya dinamis, karena saya orang yang ditakdirkan untuk belajar dari banyak kegagalan, saya punya mimpi dan harapan baru setiap harinya. Di wisudaan kali ini saya melihat seseorang yang saya tahu pernah melepaskan mimpinya, dan tanpa saya sadari orang tersebut pernah (entah bercanda atau serius) meneruskan mimpinya kepada saya:
“Eh lo. Lo masih muda kan? udah lo lulus telat aja , jadi presiden KM.”
Belum lagi orang-orang yang pernah menaruh harapan pada saya untuk jadi ketua himpunan, ketua unit. Dan saya mungkin mengecewakan, sangat mengecewakan. Mungkin saya telah gagal meneruskan mimpi kalian abang-abang, namun yang jelas ada satu harapan yang harus saya jawab dalam waktu dekat karena saat ini saya yang punya kesempatan untuk itu:
“Gw nggak akan S2 sebelum ini kelar.”
Coba anda hitung, ada berapa harapan yang ada di pundak kalian? Harapan ini datangnya baru dari orang-orang terdekat kita, orang-orang yang mengenal kita. Percayalah, meskipun akan sangat berat mempercayai hal ini, berjuta rakyat Indonesia yang mungkin tidak anda kenal sangat berharap pada anda, siapapun anda, di mana anda berada, apapun yang sedang anda lakukan, mereka punya harapan yang digantungkan kepada anda.
“Ayo fik, tunjukin integritas lo. Bali.”
“Menanginlah! masa kalah lagi? Lo kan udah ada tim yang juara ***”
“Lo maju MWA ya taun depan!”
“Oiya fik, satu pesen dari orang-orang, lo harus bisa menjalin hubungan interpersonal dengan pimpro-pimpro.”
“Eh lo mau nggak jadi presiden KM?”
“Ayo fik, selesein ini dulu dong”
Ya, bagaimana rasanya bila di pundak anda ada ribuan harapan? Ada harapan dari orang-orang yang tidak anda kenal. Padahal menjawab harapan dari orang yang melahirkan anda ke dunia saja sudah sangat berat, dan tentunya anda tidak ingin mengecewakan beliau.
“Terserah mau lulus kapan, yang penting kenali dirimu, kenali cara berTuhanmu”
Sangat berat, kesabaran beliau dan apa yang beliau lalui jauh lebih bermakna dibandingkan apa yang saya alami saat ini. Dan beliau masih tetap tegar menghadapi semua ini. Sedangkan saya di sini masih ribut masalah kelabilan remaja, ip, kemahasiswaan. Hmm, Tuhan terkadang saya ingin mati cepat agar saya bisa bertemu dengan-Mu. Saya ingin segera bertemu dengan Sang Pencipta, agar saya bisa mencintai Yang pantas dicintai. Agar segala kecintaan palsu saya hilang. Namun, ditengah kerinduan yang mendesak ini, saya takut belum dapat bertemu dengan-Mu jika mati sekarang. Bekal saya belum cukup, saya belum memberikan apa yang saya punya kepada semesta alam. Mungkin bekal yang saya bawa saat ini masih positif, dan saya harus membuatnya jadi nol sebelum ajal menjelang.
Wisuda telah membuat saya berpikir lebih luas, berkontemplasi lebih dalam, bermonolog lebih intens. Apapun itu saya ingin wisuda saya nanti bersama orang yang telah hidup bersama saya selama sembilan tahun. Tak peduli bagaimana situasinya saya ingin mereka yang mendampingi saya, meskipun mungkin kondisinya tidak seperti dahulu. =)
Rasanya ketika wisuda nanti saya akan menangis tersedu-sedu karena akhirnya satu fase perjuangan telah usai. Ya, atas segala kondisi yang tidak ideal dan lemah ini. Hari ini belum saatnya saya bereuforia dan mengumbar segala keterbatasan saya. Hari ini hari perjuangan. Mentari akan terus menyala di dalam hati. Bukan lagi untuk bermimpi, tapi untuk implementasi. Dan kelak akan tiba masanya saya bercerita tentang cara melawan keterbatasan. Dan saat itu, saya berharap saya telah berTuhan dengan lurus.
Amin.
Sesungguhnya hanya Engkaulah tujuanku dan Ridho-Mu yang aku cari.
Inilah, Mencoba Memberi dan Mengabdi
Sudah sangat lama sejak kesempatan terakhir saya menulis di sini. Sebenarnya di beberapa kesempatan saya sangat ingin menulis, ingin berbagi cerita-cerita hebat di kehidupan saya kepada semua orang. Ya! Entah mengapa saya merasa detik-detik dari kehidupan saya adalah petualangan seru yang sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja, dan saya yakin teman-teman semua mengalami hal yang sama! Yup, ini semua terjadi karena hidup yang begitu dinamis. Ujian dan cobaan yang diberikan kepada kita akan selalu menempa diri kita untuk menjadi besi yang kuat. Dan sebenarnya entah, apakah benar tujuan kita adalah menjadi besi yang kuat? Saya mulai ragu pada saat saya menulis kalimat di atas. Huahuahua, mari kita kupas perjalanan ini lebih dalam.
Sampai Di Mana?
Dalam perjalanan kita harus melihat peta. Apakah kita sudah sampai di tujuan? Meskipun kadang kita juga harus membuang peta yang sudah kita buat dan bertanya, apakah tujuan kita sudah benar?
Perjalanan saya sendiri sudah sampai pada sebuah titik yang (diramalkan) akan menjadi titik balik hidup saya selama di ITB. Dan terkadang saya berpikir, tanpa berbagai macam kegagalan (akademik, lomba, organisasi, wanita :p) yang saya lalui, saya tidak akan bisa berada di titik balik ini.
Saat ini saya merasa badan saya sangat pegal, dan saya merasa beberapa bulan ke depan saya masih harus bekerja dengan ekstra keras. Entah kemampuan manajemen waktu saya yang memang kurang atau memang beban yang saya ambil tidak sesuai dengan kapasitas saya. Hmm, untung saja Tuhan memberikan saya beberapa kegagalan, sebab kalau tidak, saya yang sekarang tidak mungkin kuat menanggung beban tersebut jika dalam sehari hanya ada 24 jam.
Sebenarnya masih banyak yang ingin saya ceritakan, namun sepertinya untuk hari ini segitu dulu (huahuahuahua, isi tulisannya belum masuk -_-”). Apapun itu, saya sangat bersyukur Tuhan masih memberikan saya kesempatan agar keberadaan saya dapat bermanfaat dan menginspirasi orang lain.
Masa-masa
di masa ini saya mulai menemukan arah. menemukan mimpi. mencoba mengira-ngira apa takdir saya.
di masa inilah puncak dari usaha saya untuk sebuah mimpi yang akhirnya gagal terealisasi. dan di situlah saya mendapat pukulan pertama bahwa takdir yang saya kira ternyata salah.
di masa ini saya merasakan mendapatkan banyak pembelajaran. mengenai cinta, rasa sayang, rasa kepemilikan, serta keikhlasan.
tiba-tiba saja saya sudah berdiri lagi bersama alat yang bisa mengeraskan suara, berbicara kepada orang yang mana saya ada di posisi mereka setahun lalu. berbicara padahal sendirinya kehilangan arah.
namun saya senang bisa berada di antara mereka
Pejalan dan Perjalanannya
Ini malam. Seperti biasanya malam membawa segenap kesedihan dan perenungan. Peratapan akan jalan yang sudah ditempuh dan penyesalan atas kesalahan-kesalahan pun terjadi. Pejalan masih berjalan di tengah malam. Pejalan mencoba memahami teka-teki hati atas pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban beserta hal-hal yang tak pernah terselesaikan.
Pejalan tersadar, betapa seringnya ia melupakan petuah yang diberikan oleh malaikatnya. Pejalan hampa. Dirinya tak mampu memaknai kata demi kata yang diucapkan ibundanya. Ia hanya bisa berkata “iya”, “iya”, dan “iya. Pejalan sudah memiliki peta, namun hingga kini ia masih tersesat karena tak mau atau tak serius menggunakan petanya.
Pejalan dan perjalannya yang masih jauh dari ujung. Kompas hatinya terombang-ambing karena hal-hal yang sebenarnya tidak penting untuk dapat membuatnya terombang-ambing. Sementara jam pasir yang ada masih terbalik. Memberikan isyarat bahwa sisa waktu terus berkurang tanpa dapat bertambah. Namun pejalan masih di sini. Belum beranjak dari sifat-sifat buruk yang menempel pada dirinya. Pejalan masih di sini, terperangkap dalam angan, penyesalan, dan keluhan.
Redupnya lilin tak berarti redupnya semangat. Paradigma menjadi dasar awal untuk menggerakkan roda-roda hidup. Begitulah teorinya. Namun praktek sangat jauh dari teori. Hal ini terjadi karena teori diciptakan dalam sudut pandang aman. Sudut pandang yang terlepas dari variabel-variabel yang sangat sulit dikendalikan. Mungkin ini sebabnya perjalanan ini disebut peperangan terbesar. Musuh tak ada di depan mata. Musuh ada dalam diri sendiri.
Salah satu musuh itu adalah rasa cinta. Kecintaan kepada hal-hal lain selain tujuan adalah penghalang dalam perjalanan ini. Entah apakah rasa itu merupakan penolong atau penghalang, di ujung jalan baru kita temu jawabnya.
Bertemu pejalan lain terkadang mengasyikkan. Berbagi cerita dan pengalaman menjadi hal yang mengasyikkan. Berbagi pengetahuan demi melanjutkan perjalanan. Dan terkadang ada pejalan lain yang sepertinya menarik. Menarik bagi pejalan untuk berjalan bersamanya. Dan ketika pejalan lain itu enggan berjalan bersama, pejalan tak tahu harus berbuat apa.
Mungkin lebih baik pejalan beristirahat sejenak. Membenahi kompas hatinya, menata kembali perbekalannya, serta mempraktekkan kiat-kiat yang telah diperolehnya. Selagi pasir yang ada di bagian atas belum turun seluruhnya ke bagian bawah. Selagi Sang Cinta masih memberikan kasihnya.





