perjalanan seorang @rousyan dalam menjadi insan solutif (dan rendah hati)

Cinta

Pejalan dan Perjalanannya

Ini malam. Seperti biasanya malam membawa segenap kesedihan dan perenungan. Peratapan akan jalan yang sudah ditempuh dan penyesalan atas kesalahan-kesalahan pun terjadi. Pejalan masih berjalan di tengah malam. Pejalan mencoba memahami teka-teki hati atas pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban beserta hal-hal yang tak pernah terselesaikan.

Pejalan tersadar, betapa seringnya ia melupakan petuah yang diberikan oleh malaikatnya. Pejalan hampa. Dirinya tak mampu memaknai kata demi kata yang diucapkan ibundanya. Ia hanya bisa berkata “iya”, “iya”, dan “iya. Pejalan sudah memiliki peta, namun hingga kini ia masih tersesat karena tak mau atau tak serius menggunakan petanya.

Pejalan dan perjalannya yang masih jauh dari ujung. Kompas hatinya terombang-ambing karena hal-hal yang sebenarnya tidak penting untuk dapat membuatnya terombang-ambing. Sementara jam pasir yang ada masih terbalik. Memberikan isyarat bahwa sisa waktu terus berkurang tanpa dapat bertambah. Namun pejalan masih di sini. Belum beranjak dari sifat-sifat buruk yang menempel pada dirinya. Pejalan masih di sini, terperangkap dalam angan, penyesalan, dan keluhan.

Redupnya lilin tak berarti redupnya semangat. Paradigma menjadi dasar awal untuk menggerakkan roda-roda hidup. Begitulah teorinya. Namun praktek sangat jauh dari teori. Hal ini terjadi karena teori diciptakan dalam sudut pandang aman. Sudut pandang yang terlepas dari variabel-variabel yang sangat sulit dikendalikan. Mungkin ini sebabnya perjalanan ini disebut peperangan terbesar. Musuh tak ada di depan mata. Musuh ada dalam diri sendiri.

Salah satu musuh itu adalah rasa cinta. Kecintaan kepada hal-hal lain selain tujuan adalah penghalang dalam perjalanan ini. Entah apakah rasa itu merupakan penolong atau penghalang, di ujung jalan baru kita temu jawabnya.

Bertemu pejalan lain terkadang mengasyikkan. Berbagi cerita dan pengalaman menjadi hal yang mengasyikkan. Berbagi pengetahuan demi melanjutkan perjalanan. Dan terkadang ada pejalan lain yang sepertinya menarik. Menarik bagi pejalan untuk berjalan bersamanya. Dan ketika pejalan lain itu enggan berjalan bersama, pejalan tak tahu harus berbuat apa.

Mungkin lebih baik pejalan beristirahat sejenak. Membenahi kompas hatinya, menata kembali perbekalannya, serta mempraktekkan kiat-kiat yang telah diperolehnya. Selagi pasir yang ada di bagian atas belum turun seluruhnya ke bagian bawah. Selagi Sang Cinta masih memberikan kasihnya.


Gadis ..

Engkau wanita tercantikku yang pernah ku temukan

Wajahmu mengalihkan duniaku

Kata-kata seperti tidak pernah cukup. Semua kata sepertinya sudah terpakai semua namun tidak cukup. Tidak akan cukup. Mungkin berlebihan. Tapi kenyataannya kau beri warna pada hidupku. Sehingga bisa kukembangkan lagi senyumku ini. Ada yang bilang rusuk yang hilang itu telah menjadi seseorang, yang tak pernah melalaikan tugasnya untuk menjaga hati. Terima kasih karena kau masih ingat tugas-tugasmu.

Untuk engkau yang pernah mendengar bagian dari lirik ini secara langsung pada bulan-bulan lalu


Cintahim

“Rumah ini akan tetap menjadi rumahku. Setiap ruangnya adalah kamarku. Setiap orang di sini adalah keluargaku. Setiap detiknya adalah tempat belajarku. Rumah ini adalah jalan menuju Tuhanku.”

Malam ini, kembali saya terduduk di sebuah tempat favorit saya. Teringat setahun lalu, ketika saya pertama kali diterima untuk menjadi bagian dari rumah ini. Entah mengapa rasanya sulit menuliskankata-kata di sini. Begitu banyak kenangan yang telah diraih selama setahun. Betapa saya sangat terikat dengan rumah ini. Betapa saya mencintai rumah ini, dengan segala sifat penghuninya, dengan segala kekurangan dan ketidaknyamanannya, dengan apa adanya. Abstrak dan begitu egosentrik. Saya terikat dengan benda tidak konkret.

Menginap di rumah ini adalah sebuah pengalaman yang sangat saya nantikan. Di awal masuknya saya ke rumah ini, Tuhan memberikan saya kesempatan untuk menjaga rumah ini. Rumah ini menjadi saksi terlelapnya saya sementara ada ujian dan tugas yang harus diselesaikan esok hari. Rumah ini menjadi saksi tawa dan canda saya dengan kakak-kakak saya. Rumah ini menjadi saksi atas pembelajaran yang saya dapati setahun ini. Rumah ini menjadi saksi dipertemukannya saya dengan orang-orang hebat. Rumah ini begitu berarti.

Saya suka tinggal di sini, dan saya tak bisa berpaling dari sini. Rumah ini dan keluarga di sini, saya menyesal tidak dapat berkorban dengan maksimal untuk mereka. Saya menyesal tidak dapat menjaga kebersihan rumah ini. Saya menyesal karena tidak dapat hadir di rumah ini setiap saat. Saya menyesal karena saya tidak berhasil mengangkat nama rumah ini.

Rumah ini. Semoga tetap menjadi rumahku.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 563 pengikut lainnya.