Pecundang, Mimpi, dan Kata
Percayakah teman-teman bahwa semuanya diawali dari mimpi, dari ide, dari gagasan, dari sesuatu yang tidak nyata?

Saya adalah orang yang percaya bahwa masa depan dibangun oleh sekumpulan gagasan yang secara konsisten coba ditampakkan dalam dunia nyata. Beberapa tahun lalu ketika saya masih di-osjur, seseorang telah menancapkan mimpinya ke alam pikiran orang banyak. Mimpi tersebut adalah kejayaan HME akan terjadi ketika dipegang oleh angkatan 2007. Kejayaan seperti apa? Setiap orang mungkin memiliki khayalan masing-masing tentang “Kejayaan” tersebut.
Oke, sekarang saya akan sedikit memberikan gambaran yang sangat nyata di HME ITB. Beberapa bulan sebelum olimpiade, sekumpulan anggota HME mulai mendiskusikan strategi agar olah raga HME ITB lebih terorganisir. Sebuah semboyan yang diusung adalah, “demi emas olimpiade kita kawan”. Gagasan itu telah dibuat tampak sangat nyata di HME ITB. Mulai dari papan kayu di depan himpunan yang bertuliskan “Best Supporter is Ours”, lalu membuat sebuah replika piala raksasa, sampai dengan menyingkirkan piala lama di lemari piala dan menuliskan, “Untuk Prestasi HME di tahun 2011″, sebagai latar belakang lemari piala. Waw. Dan hasil akhirnya adalah, HME ITB juara Olimpiade, dan meraih Best Supporter.
Kejayaan? Apa bukan kejayaan namanya kalau HME ITB berhasil menyabet banyak gelar juara? Bagi saya itu sudah cukup mencerminkan kata “Kejayaan”. Dan ingat, kejayaan itu terpetik karena ada yang menanam. Sabetan juara itu bukan hanya hasil jerih payah Badan Pengurus saat ini, tetapi segudang prestasi tersebut merupakan batu bata yang ditata semenjak kepengurusan sebelum-sebelumnya. Buah yang dipetik saat ini adalah gagasan yang telah tumbuh dan berkembang, mengakar di hati kami, massa HME ITB, dilantangkan melalui lagu-lagu juara, dan semboyan juara, “OK CHAMP!”
Sudah tahu mimpi adalah benih kenyataan di esok hari? Kenapa takut untuk bermimpi? Toh yang terpenting adalah kita berusaha mewujudkan mimpi tersebut kan? Dua tahun lalu juga HME ITB sudah bermimpi untuk menjadi juara Olimpiade, tapi toh akhirnya parkir di urutan kedua. Tapi, semangat untuk terus bermimpi tidak pudar. Dan kini, mimpi itu tercapai. Kita tidak pernah tahu masa depan akan seperti apa. Tidak ada salahnya bermimpi. Tidak ada salahnya berusaha. Hasilnya? Serahkan saja pada Yang Di Atas. Tidak akan ada penyesalan jika kita sudah melakukan yang terbaik. Toh, gagal itu hanya soal mindset kan?
So, tidak adakah yang mau memberikan sebuah wacana tentang masa depan? Masa depan KM ITB, ITB, Bandung, Jawa Barat, dan Indonesia? Masihkah kita mau jadi pecundang yang takut untuk punya cita-cita? Masihkah kita mau jadi pecundang yang hanya bisa berkata-kata tanpa berbuat?
PECUNDANG!!
Cintahim
“Rumah ini akan tetap menjadi rumahku. Setiap ruangnya adalah kamarku. Setiap orang di sini adalah keluargaku. Setiap detiknya adalah tempat belajarku. Rumah ini adalah jalan menuju Tuhanku.”
Malam ini, kembali saya terduduk di sebuah tempat favorit saya. Teringat setahun lalu, ketika saya pertama kali diterima untuk menjadi bagian dari rumah ini. Entah mengapa rasanya sulit menuliskankata-kata di sini. Begitu banyak kenangan yang telah diraih selama setahun. Betapa saya sangat terikat dengan rumah ini. Betapa saya mencintai rumah ini, dengan segala sifat penghuninya, dengan segala kekurangan dan ketidaknyamanannya, dengan apa adanya. Abstrak dan begitu egosentrik. Saya terikat dengan benda tidak konkret.
Menginap di rumah ini adalah sebuah pengalaman yang sangat saya nantikan. Di awal masuknya saya ke rumah ini, Tuhan memberikan saya kesempatan untuk menjaga rumah ini. Rumah ini menjadi saksi terlelapnya saya sementara ada ujian dan tugas yang harus diselesaikan esok hari. Rumah ini menjadi saksi tawa dan canda saya dengan kakak-kakak saya. Rumah ini menjadi saksi atas pembelajaran yang saya dapati setahun ini. Rumah ini menjadi saksi dipertemukannya saya dengan orang-orang hebat. Rumah ini begitu berarti.
Saya suka tinggal di sini, dan saya tak bisa berpaling dari sini. Rumah ini dan keluarga di sini, saya menyesal tidak dapat berkorban dengan maksimal untuk mereka. Saya menyesal tidak dapat menjaga kebersihan rumah ini. Saya menyesal karena tidak dapat hadir di rumah ini setiap saat. Saya menyesal karena saya tidak berhasil mengangkat nama rumah ini.
Rumah ini. Semoga tetap menjadi rumahku.
Andai Aku Seorang Superman

Tulisan ini merupakan sebuah bentuk jurnalisasi dari apa yang saya dapatkan di Bidang Pengembangan Karakter Himpunan Mahasiswa Elektro Teknik ITB. Jurnalisasi ini seharusnya memuat apa saja yang saya dapatkan dari acara Kementerian Karakter, namun saya baru menulisnya untuk kali pertama. Ya, saya memang baru pertama kali ini mendapatkan ‘sesuatu’ dari sebuah acara yang diselenggarakan oleh Kementerian Karakter!
Siang itu, sebelum waktu sholat jumat, saya datang ke HME. Saya datang ke sana karena sebelumnya saya menerima sms dari Arkan untuk mencetak delapan buah sertifikat untuk pembicara diskusi senang. Padahal, pada saat malam sebelumnya Arkan telah bersedia untuk mencetak sertifikat tersebut. Selain itu, di malam tersebut saya juga mendapatkan amanah dari Roffi untuk fokus di tim formatur. Saya pun baru menyadari bahwa lembar pendaftaran TFT saya tertinggal di HME. Setelah sampai di HME, saya pun segera mencari lembar pendaftaran TFT tersebut. Cukup ceroboh memang, saya telah melalaikan hal yang menjadi tanggung jawab saya. Dan saya tidak hanya ceroboh untuk satu kesempatan saja. Sebelumnya pun saya banyak melalaikan tanggung jawab ini. TFT diundur tiga kali, dan pada setiap kesempatan publikasi, selalu saja terjadi keteledoran dari saya. Entah lembaran ada yang hilang karena lupa diambil oleh PJ kelas, entah lembaran tersebut kurang lengkap, entah saya tidak tahu lembaran itu di mana, dan saya juga tidak bisa memberikan data yang jelas. Saya memang teledor. Yah, apapun keteledoran yang telah saya lakukan, saya harus tetap bersemangat dalam mempublikasikan TFT tersebut sebab TFT akan dilaksanakan dua hari lagi, pikir saya waktu itu.