perjalanan seorang @rousyan dalam menjadi insan solutif (dan rendah hati)

Posts tagged “I3M

Beberapa Keping Mimpi yang Tercecer di Kampus

Di tahun ketiga saya, entah angin mana yang membawa saya, pada akhirnya saya bersama teman-teman yang saya kumpulkan ada pada sebuah keluarga baru. Di keluarga baru itu, kami berbagi gagasan tentang mahasiswa ITB yang semakin kreatif, imajinatif dan visioner. Yang kami bicarakan di situ bukan lagi banyak ribut tentang hal yang selama ini sering diperdebatkan, seperti masalah diksi, esensi, dan tujuan. Yang banyak kami bicarakan di sana adalah hal-hal gila. Ide gila.

 

Satu hal yang hingga kini saya imani dan yakini. Gagasan dan mimpi adalah awal dari segalanya. Saya sendiri tak pernah menduga bahwa gagasan-gagasan yang waktu itu saya temui, begitu mempengaruhi hidup saya. Sampai akhirnya ketika lulus, saya menyadari bahwa banyak di antara pencapaian penting saya adalah berkat pertemuan saya dengan ide dari mahasiswa-mahasiswa yang telah lebih dahulu meninggalkan kampus ini.

Ketika pertama kali saya didaulat menjadi Presiden I3M, saya mendapatkan warisan berupa ide-ide proyek yang direkomendasikan untuk dilanjutkan. Di antaranya adalah proyek “Multitouch-Screen”, “CampusChannel” dan “Inspire”. Ya, tiga proyek itu adalah proyek “lungsuran” yang sudah antah berantah keadaannya. Anggota proyek yang sudah berkelana entah kemana, atau pimpinan proyeknya susah dihubungi, dan kami saat itu benar-benar kesulitan untuk mem-follow up proyek lungsuran tersebut.

Tapi, ternyata memang benar, mimpi adalah kunci untuk menaklukkan dunia. Mimpi memberikan energi yang lebih bagi seorang manusia. Bagi seseorang yang bisa memiliki pandangan ke depan, mimpi bukanlah omong kosong. Mimpi adalah sebuah gagasan dengan tahapan pencapaian yang jelas. Nyata. Mimpi adalah masa depan yang bisa diprediksi. Dan masa depan ummat manusia, ditentukan oleh mimpi-mimpi yang ada saat ini. Peradaban ditentukan oleh apa yang sedang dikerjakan para ilmuwan, insinyur, sosiolog, pengusaha, pemerintah, dan seluruh lapisan masyarakat pada tempatnya masing-masing. (lagi…)


Filosofi#2 Pendidikan

Kalau teman-teman pernah membaca proposal I3M (bisa juga dibaca di sini http://otakkurusak.wordpress.com/2008/04/12/pusat-inkubator-ide-dan-kreativitas-mahasiswa-itb/), pasti teman-teman akan sangat tertohok. Terutama paragraf ini:

“Bisa Anda bayangkan jika terdapat satu komunitas, dimana dalam komunitas tersebut terdapat sepuluh ribu pemuda pilihan dari sekitar dua ratus juta yang ada (1:20000). Kita akan lanjutkan bayangan kita, menurut Anda bagaimana profil orang-orang pillihan tersebut. Menurut Anda apa yang bisa mereka lakukan, bayangkan saat anda harus menyeleksi satu orang dari dua puluh ribu orang. Kualitas pemuda seperti apa yang Anda bayangkan.

Bayangkan lebih jauh lagi, kemudian orang-orang tersebut dikumpulkan dalam sebuah komunitas. Seberapa hebat komunitas tersebut menurut Anda. Sepuluh ribu orang terseleksi dari negeri ini berkumpul di sebuah tempat. Mungkin Anda akan membayangkan mereka sebagai pasukan elit yang bisa mengatasi masalah apapun, menyelesaikan semua misi, atau bahkan menggerakkan bangsa ini.

Jika bayangan Anda seperti itu, lebih baik Anda buang jauh-jauh. Bayangan Anda meleset, Anda hanya akan menemukan pemuda-pemuda tanggung yang bahkan tidak tahu siapa diri mereka sebenarnya, apa peran mereka disana, apa tanggung jawab mereka disana, bahkan mereka tidak tahu apa tujuan sebenarnya mereka disana. Itulah ITB.”

Krisis Identitas, itulah yang terjadi sekarang. Sistem pendidikan formal yang ada telah mengekang kreativitas, minat, dan bakat yang sesungguhnya dari diri sendiri. Kita terbiasa memandang IPA lebih baik daripada IPS. Kita terbiasa menganggap sekolah adalah sebuah tingkatan formal yang memang harus dilewati agar nantinya kita dapat bekerja dan hidup.

Pendidikan telah bergeser maknanya. Padahal orang-orang bijak jaman dahulu berkata bahwa pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia, bagaimana setiap manusia dapat menemukan arti keberadaannya sendiri berupa misi hidup. Ya, setiap orang seharusnya terus mencari apa yang bisa ia perbuat agar keberadaannya berarti. Sekali berarti, sudah itu mati. (lagi…)


Filosofi#1 Sebuah Gagasan

Di akhir tahun 2010 saya sempat berpikir, bagaimana sih seharusnya gerakan mahasiswa ITB? Bukan tanpa alasan, ketika itu saya sedang berdiskusi dengan Ikhsan Abdusyakur yang hendak mencalonkan diri sebagai MWA Wakil Mahasiswa ITB. Sebagai salah seorang yang pernah terlibat dalam Diklat Aktivis Terpusat KM ITB, saya merasa tergelitik dengan topik ini.

Kalau dipikir-pikir, alangkah luar biasa kayanya potensi yang ada di kampus ITB. Orang-orang yang pintar, fasilitas yang dimiliki, jaringan dari para alumni-alumninya. Menurut saya itu adalah cerminan ragam potensi yang dimiliki kampus ini. Lihat saja bidang ilmu yang dimiliki kampus ini, sains, teknologi, seni rupa dan desain, ditambah lagi bisnis dan manajemen. Ini adalah sebuah kombinasi yang menurut saya sangat maut di mana sains bisa menjadi dasar bagi penerapan teknologi yang lebih advance tanpa melupakan sentuhan seni dan kebudayaan bangsa. Dan ditambah bisnis dan manajemen, seharusnya kita dapat menghasilkan sangat banyak inovasi. Bukan hanya invensi, tapi lebih ke inovasi yang tepat dalam menyasar pasarnya, baik itu komersial maupun sosial.

Setelah menyadari kayanya potensi ITB, saya pun kembali berpikir. Beberapa kali saya ngobrol dengan orang-orang, saya menjadi tersadar bahwa sampai saat ini sepertinya ITB belum bisa memberikan dampak yang besar bagi pengembangan peradaban di kota Bandung. Ya, permasalahan di sekitar kita masih sangat banyak, dan kita yang masih mahasiswa ini hanya berkutat dengan debat kusir yang setiap tahun selalu diulang-ulang di kampus. Banyak bacot singkatnya.

Inkubator Ide dan Inovasi Mahasiswa

Nah menurut saya seharusnya ada yang berperan sebagai pihak yang mengelola potensi-potensi yang ada agar dapat menjadi solusi bagi permasalahan bangsa. Pihak tersebutlah yang mendata potensi yang dimiliki kampus ini, segala potensi dari segala elemen yang dimiliki oleh kampus ini. Lalu, pihak itu juga yang berperan untuk menjodohkan potensi tersebut dengan masalah-masalah yang ada. Oiya, artinya si pihak ini juga harus memiliki pendataan masalah-masalah tersebut ya. Ya, inventaris! (lagi…)


“Ini Cara Gue” – DAT 2011

Sebuah gagasan yang tadi pagi saya coba untuk bagi kepada para peserta DAT2011:

Tadi pagi saya dipasangkan dengan dua orang alumni yang sudah benar-benar berkarya nyata di masyarakat. Mereka adalah Kak Yuri (FSRD angkatan 2006-2010) dan Kak Radeya (SBM 2006-2009). Kak Yuri bercerita tentang aktivitasnya sebagai Social Entrepreneur, dia juga bercerita bagaimana dia pernah disambar petir dan masih mendapat second life(beberapa temannya meninggal). Kak Radeya banyak menceritakan tentang masih tertinggalnya ITB di dunia, dan sedikit menceritakan tentang Satoe Indonesia yang pernah dipimpinnya.

Saya sendiri sebelum ke atas panggung ngerasa grogi berat, dan agak nggak pede. Untung ada yang memberikan motivasi, entah asli entah palsu yang membuat saya semangat. Mereka adalah panitia DAT, termasuk LO saya. Setelah sampai di panggung, saya masih grogi. Namun, grogi itu akhirnya hilang ketika saya mulai masuk ke slide awal di mana saya bercerita tentang pengalaman saya menjadi peserta, dan panitia DAT.

Huff, saya jadi teringat, dulu ketika saya menjadi panitia DAT, saya pernah berkhayal untuk menjadi pemateri DAT. Saya yang waktu itu sedang mengikuti korindo dan PKM, bercita-cita dapat mengisi materi DAT sebagai mahasiswa yang berprestasi di bidang roket dan robot.  Yah, apa daya, semuanya nggak menang, saya pun tidak berhasil mengisi materi DAT sebagai mana yang saya cita-citakan. Tetapi di sisi lain, saya akhirnya menjadi pembicara di DAT dengan tema alternatif gerakan mahasiswa. Sangat senang bisa berbagi gagasan dengan para aktivis-aktivis muda. Saya yakin di antara mereka akan ada orang-orang yang menggantikan posisi saya sekarang. Dan saya sangat senang bisa menularkan semangat yang diwariskan oleh para pendiri Inkubator Ide dan Inovasi Mahasiswa kepada mereka. Senang : ) Hehe

Selain itu saya juga senang karena feedback yang saya terima sangat positif. Ada yang bilang bahwa slide dan presentasinya keren, memberikan banyak wawasan baru, tidak seperti materi-materi yang lain. Dan, lagi-lagi ada yang mendoakan saya supaya jadi orang paling konkret se-itb. Walaupun sepertinya sangat imajiner, saya aminkan saja doa itu.

Dan kembali, setelah saya berbagi gagasan dengan banyak orang, berusaha membuat gagasan-gagasan itu menjadi nyata adalah konsekuensinya. Dan saya harus bekerja ekstra keras untuk itu!

Ini Cara Gue!!


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 563 pengikut lainnya.