Teman Inspiratif: Adhipati Blambangan

Pada postingan kali ini saya hendak bercerita tentang seorang teman yang banyak memberikan pencerahan buat saya. Saat saya bilang kalau mau menulis tentang salah satu kisah hidup dia, dia sendiri dengan bijaknya berkata,

cukup jadi pembelajaran untuk kita2 aja
penting maneh got the point
hehe
gak semua orang deserve pembelajaran hidup yang sama rata

Ya, itulah dia, (sebut saja) Adhipati Blambangan, seorang teman saya yang punya tingkat kedewasaan yang tinggi meskipun dia adalah anak terakhir di keluarganya (terkait dengan stereotype bahwa anak terakhir tidak mature).  Continue reading

Teman Inspiratif: Si Jenius Boy – Chapter 1-5 (habis)

20935_1346521752639_4783081_n

CAUTION! MENGANDUNG TERLALU BANYAK MAJAS HIPERBOLA

Sebenarnya sudah lama saya ingin menulis tentang teman-teman saya yang perkenalan saya dengannya memberikan banyak inspirasi. Beberapa draft sudah ditulis. Berkali-kali saya menulis, “akhirnya postingan pertama saya jatuh kepada si X“. Tapi nampaknya baru postingan ini yang benar-benar konkret.

Dan episode perdana serial teman inspiratif ini jatuh kepada… yak Anda benar! Amril Hidayat!! (Ya iyalah lha wong udah ada di linknya, piye toh mase) Continue reading

Kita Punya Segalanya untuk Menang?

Katakanlah saya gagal move on, tapi sampai sekarang saya masih banyak berpikir tentang ITB. Saya masih terjebak pada kehidupan saya yang lama, memikirkan betapa lambatnya ITB bergerak jika dibandingkan ‘rekan-rekannya’. Masih terbelalak mata saya ketika mengecek, h-index dari petinggi-petinggi kampus. Agak ironis mendengar selama ini merekalah yang meneriakkan ITB sebagai world class research university.

Beruntung saya di sini, saya bisa melihat semuanya dari sisi lain. Betapa tertinggalnya ITB, bahkan dari universitas muda tetangga sebelahnya, NTU, tempat saya kuliah saat ini. Dari mulai penerapan e-learning untuk perkuliahan, kemampuan branding, dan kerjasama internasional yang dihasilkan.

Entah karena gagal move on, entah karena cinta? atau mungkin karena di sini pun saya banyak bertemu dengan alumni ITB? Saya masih sering menuliskan tentang ITB di blog saya, membicarakan ITB pada diskusi makan siang dan malam (membandingkan ITB jaman saya dengan jaman-jaman para senior). Masih ingat pula, saya sempat-sempatnya membuat grup ITB pecinta satelit, meskipun pada akhirnya saya sudah tidak sempat lagi meramaikannya.

Ingin suatu saat saya kembali lagi ke ITB, melakukan sesuatu bersama mahasiswa. Melakukan hal seperti ini misalnya:

Mungkin juga alasannya simpel, banyak benih khayalan yang pernah saya tanam di ITB. Tak sedikit hal-hal itu mulai terwujud satu demi satu meskipun saya hanya bisa menonton.

Pernah saya mendapatkan sebuah cerita dari seniro, pada sidang terbuka mahasiswa baru, seorang mahasiswa baru (2005) bertanya seperti ini:

“Kapan ya, MIT jadi ITB-nya Amerika?” Continue reading

Harus Kemana Pak Sarjana?

Beberapa waktu ke belakang, rasanya cukup heboh pemberitaan di media mengenai mobil listrik. Ada pula yang salah satu artikel yang berisi curahan hati “anak-anak Habibie” (saya jadi teringat istilah, “Jangan mengaku anak Bung Karno apabila tidak kiri”). Sering juga saya melihat, di halaman rumah facebook saya, orang-orang berbagi artikel tentang Habibie dan gagasannya tentang teknologi. Salah satu yang menarik bagi saya adalah ketika ada yang mengungkapkan tentang gagasan Habibie seputar nilai tambah. Digambarkan dengan perbandingan harga berapa ton beras setara dengan satu pesawat.

Hal ini mengingatkan saya pada buku Jejak Pemikiran BJ Habibie yang belum tuntas saya baca. Di situ dijelaskan konsep pengembangan IPTEK yang coba diusung oleh Pak Habibie. Di buku tersebut dibahas pula bagaimana diperlukannya integrasi antara perguruan tinggi, industri, serta pemerintah. Serta yang tak kalah penting dibahas di buku ini adalah pemikiran beliau mengenai pengembangan SDM. Beliau menempatkan SDM pada suatu posisi yang penting, lebih dari sekedar komoditas. Saya agak lupa bagaimana kalimat pastinya, yang jelas Pak Habibie memandang bahwa pengembangan SDM adalah investasi terbaik dari suatu bangsa. Tak hanya soal hard skill tapi juga tentang karakternya. Mungkin hal ini pulalah yang melandasi banyaknya program beasiswa yang dicanangkan oleh beliau di masa lalu.

Sampai saat ini saya masih sering bertanya-tanya, sebenarnya apa sih yang bisa saya lakukan? Bagaimana agar keberadaan saya di dunia ini memberikan dampak meskipun kecil. Sementara kawan-kawan saya sudah banyak yang memberikan dampak, saya masih terdiam di sini. Sementara teman saya dengan gagahnya membagi foto piala yang ia menangkan dari lomba technopreneurship dan bahkan berkesempatan untuk mempresentasikan gagasannya di depan wakil presiden dan idola saya, Pak Habibie. Sementara saya, masih terdiam di sini dipusingkan oleh banyak hal-hal personal.

wirausaha muda mandiri

Bro Afin dengan senyum kemenangannya.. Metlamet Don Afin dan Om Teguh, jangan lupa traktiran. (Sumber gambar = http://www.antarafoto.com/bisnis/v1358409011/wirausaha-muda-mandiri)

Lalu saya melihat ke belakang. Kadang kita begitu yakin sekaligus tidak yakin sama sekali tentang masa depan kita dan terkadang lupa bahwa dunia berubah dan kita harus menjadi adaptif.

Flashback

Ketika itu di lantai 55 Gedung Energi. Saya sebagai orang berpendidikan paling rendah dan berpengalaman paling minim tentu saja mencoba sesopan mungkin. Continue reading

Sebuah Cerita tentang Blueprint HME ITB 2011-2015

Pepatah bilang, pengalaman adalah guru terbaik..

Ya. Menjadi pemain dan penonton selalu berbeda. Penonton terkadang bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh pemain, memiliki pandangan yang mungkin holistik. Namun, yang bisa menyaksikan dinamisasi di lapangan dan bisa merasakan kemana permainan ini harus dibawa tetaplah pemain. Untuk itulah, pada suatu titik pemain yang akan diganti merasa perlu untuk memberikan suatu pelajaran dari apa yang dia alami di lapangan. Satu harapan dari pemain yang keluar ini, yakni pemain yang masuk bisa melanjutkan arah permainan yang sudah dibangun oleh pemain lama.

(mungkin)Kurang lebih seperti itulah yang kami rasakan ketika itu. Kami merasa bahwa kami mencapai suatu pemikiran bahwa himpunan yang kami miliki ini butuh suatu mimpi baru. Dari situlah kami berencana untuk merancang blueprint ini. Mimpi itu harus tinggi katanya. Supaya kita tidak terlena dengan pencapaian kita yang sekarang dan merasa tinggi, kita harus segera mencari mimpi yang baru. Mimpi itu harus ideal, mimpi itu harus susah.

Lalu, kami sebagai orang yang mungkin masih bersemangat dan yakin bahwa generasi mendatang di himpunan ini akan bisa berbuat lebih dari yang telah kami lakukan sekarang pun mulai berangan-angan. Mimpi tinggi macam apa yang bisa kami jadikan sebagai tantangan bagi generasi mendatang untuk lima tahun mendatang.

Menuliskannya.. Continue reading

Menanti Universitas Generasi Ketiga di Indonesia

*lagi-lagi tulisan tidak akan seberat judulnya

Kebetulan beberapa hari yang lalu salah seorang teman saya berkicau seperti ini di twitter:

apalah awak ini, seorang @rousyan. mana ingat kau apa jabatanku dan fungsiku di MWA? wakil mahasiswa dihilangkan saja tidak ada yang peduli

Entah saya yang terlalu lebay atau melankolis, saya pribadi jadi berintrospeksi. Saya pribadi merasa tidak banyak kontribusi yang saya lakukan selama menjadi anggota MWA. Dan melalui postingan ini, ijinkan saya sekali lagi mencoba membagi wawasan yang saya dapatkan.

Itebeh jadul (sumber)

Pendidikan adalah hal yang sangat vital bagi pembangunan bangsa. Suatu bangsa didefinisikan oleh manusia-manusia, dan melalui senjata bernama pendidikan lah manusia-manusia tersebut dibangun. Nah, tentunya seiring dengan berkembangnya peradaban, alat yang digunakan untuk mengasah manusia ini pun berkembang.

Apa itu Universitas Generasi Ketiga? Continue reading

Sebuah Contoh Bagaimana Sebuah Proyek Teknologi Mencari Dana dengan Crowdfunding, Kapan Pemuda Indonesia Bisa Meneladaninya?

*Disclaimer: tulisan tidak akan panjang-panjang, judulnya saja yang panjang biar terlihat serius. Hahaha

Jadi, baru saja saya chatting via facebook dengan Pak Doni. Pak Doni adalah pembimbing saya semasa mengikuti kompetisi muatan roket, ITB-SAT, dan juga salah satu penguji pada sidang tugas akhir saya. Awalnya dimulai dengan bermaaf-maafan lahir batin, lalu pembicaraan pun sedikit menyinggung tentang proyek ITB-SAT.

Proyek ITB-SAT adalah sebuah inisiatif untuk membuat satelit pertama buatan mahasiswa ITB. Sayangnya perjalanan untuk mengejar sebuah cita-cita yang tinggi tak pernah mudah. Lalu, Pak Doni memberikan saya link berikut ini, tentang satelit buatan luar yang juga berbasis arduino:

http://www.kickstarter.com/projects/575960623/ardusat-your-arduino-experiment-in-space

http://www.engadget.com/2012/06/18/ardusat-wants-to-put-arduino-satellite-your-experiments-into-orbit/

Saya ingin mengutip kata-kata yang menurut saya sangat keren:

Our fundraising goal is 35,000 USD, which will allow us to build, test, and integrate all of the hardware and software needed for a 1U ArduSat. As soon as the funding goal is met, we can move ahead with applications for free launches through various NASA or ESA ride-along programs. We believe that this project has enough technical, scientific, and outreach value to successfully secure a launch with these programs. However, if we are not successful in securing a launch with these programs within 18 month, we have secured funding to buy a commercial launch for ArduSat to make sureyou get into space!

Benar-benar mental seorang laskar pemimpi. Dan hebatnya adalah mereka dapat melampaui target mereka. Luar biasa. Dan ada 676 orang yang memback-up mereka. Selain itu mereka menjalin kerjasama dengan berbagai pihak.

Saya sepakat dengan Pak Doni, dalam sebuah proyek teknologi, tidak hanya faktor teknis yang menjadi tantangan. Faktor non-teknis justru memberikan tantangan yang lebih besar. Kita tidak bisa memandang sebelah mata aspek manajemen proyek, marketing, finansial, external realation.

Dari pengalaman saya selama di ITB, hal ini bukanlah hal yang mudah. Saya masih teguh pada pendirian kepercayaan saya bahwa dibutuhkan suatu Inkubator Ide dan Inovasi Mahasiswa ITB yang seharusnya bisa membantu mahasiswa ITB dalam mewujudkan ide-ide briliannya. Namun sekali lagi, tidak mudah untuk membentuk sebuah lembaga yang demikian. Masa saya di kampus ITB sebagai mahasiswa telah berlalu, ini adalah sebuah tantangan bagi mahasiswa ITB untuk terus berjuang membangun iklim yang kondusif untuk terciptanya proyek kreatif, terutama yang berbasis teknologi.

Ah, saya juga jadi teringat dengan chordeo. Saya kira, proyek semacam chordeo masih relevan untuk diimplementasikan di Indonesia. Mau jadi penonton atau aktor adalah pilihan. Semoga Anda yang membaca tulisan ini bisa menjadi aktor, tidak seperti saya yang hanya bisa komentar :D

9 Hal yang Harus Dicoba Selama Kuliah di ITB

Ada banyak hal menarik yang bisa dicoba selama berkuliah di ITB, main voli bareng Dik Doang misalnya. Nah, di sini saya hendak memberikan list hal-hal yang menurut saya harus dicobain selama berkuliah di ITB, beserta alasan dan sedikit tipsnya :)

Main voli bareng Dik Doang (itu yang di tengah pake baju kuning)

1. NR 4.00

Well, ini adalah impian seluruh mahasiswa ITB semenjak sidang penerimaan mahasiswa baru. Sedari awal mahasiswa ITB baru masuk, di saat lembaran transkrip dan raport di ol.akademik masih bersih, semua orang bermimpi untuk mendapatkan IPK 4.00, atau minimal IP 4.00 di semester pertama kalau mikir realistisnya. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, beberapa orang akan menyadari bahwa dirinya tidak ditakdirkan oleh Tuhan untuk mendapatkan IPK sempurna. Memang beginilah suratan takdir. :( Continue reading

Masih Tentang MWA dan Tata Kelola Perguruan Tinggi

Jadi pada suatu ketika saya baru saja bangun dari tidur. Saya membuka tablet saya, dan ada notifikasi dari facebook. Setelah saya cek, rupanya ada yang menulis sesuatu di wall saya. Beliau adalah Yorga, Menteri Kebijakan Nasional di KM ITB. Saya yang masih mengumpulkan nyawa mencoba memahami apa isi tulisan dia. Mimpi apa saya, kenapa saya, mahasiswa awam yang lagi culun ini dikirim wall oleh pejabat kampus.

Saya membaca tulisan tersebut beberapa kali, sampai akhirnya saya sadar, pertanyaannya berat pisan. Ini dia skrinsutnya:

Lalu, dimulailah diskusi tentang ITB, UU Dikti, Badan Hukum, dan MWA. Saya sendiri langsung buka-buka file lama lagi, maklum sekarang kepala sudah terisi hal-hal yang lain. Nah, beginilah asyiknya diskusi di facebook. Continue reading

Cerita tentang Ospek, Kaderisasi, Troniuminion, atau Apapun Namanya (1)

Kebetulan beberapa hari yang lalu saya mengamati ada sedikit kegaduhan berkaitan dengan OSKM di ITB. Well, saya sendiri selama mahasiswa juga aktif berpartisipasi di kegiatan yang berbau OSPEK/Kaderisasi/apapun namanya.. Saya juga pernah menjadi panitia, dan menurut saya rangkaian kegiatan OSPEK tersebut (baik ketika saya menjadi pihak yang diospek atau pihak yang mengospek) memberikan dampak positif dalam pembangunan karakter saya.

Hmm, yah pada intinya yang ingin saya bagi di sini adalah pengalaman saya saat menjadi panitia atau peserta dari sebuah kegiatan yang bertujuan untuk menerima anggota baru di suatu organisasi atau bertujuan untuk meningkatkan kualitas dari anggota untuk tujuan tertentu. Kegiatan ini terkadang isinya training di kelas, terkadang tugas, terkadang wisata, dan ada juga kegiatan di lapangan. Karena ragamnya banyak, tidak heran banyak juga yang memberinya berbagai nama. Namun, nama yang umum di sini adalah Ospek, Orientasi, atau Kaderisasi. Tapi, apapun namanya tidak penting, karena sebenarnya kegiatan ini pasti diadakan oleh organisasi manapun, termasuk di perusahaan yang disebut dengan Apprenticeship, atau Management Trainee. Nah, di blog ini kita sebut saja Troniuminion.

Nah, sekarang, saya akan share kisah saya dalam berbagai kegiatan Troniuminion.

PMB KM ITB 2007

Sebagai peserta, saya memulai portofolio Troniuminion sejak pertama masuk ITB. Saya mengikuti kegiatan PMB KM 2007 dan menemukan banyak teman baru di sana. Di situlah saya pertama menemukan teman-teman baru, karena toh dari SMA saya sangat sedikit yang masuk ITB, bisa dihitung dengan setengah jari yang ada pada satu tangan. Seru. Buat saya seru karena saya mendapatkan banyak kesempatan untuk berkenalan dan belajar untuk berpikir tentang “saya nih mau jadi apa sih?”

Iya. Banyak sesi mentoring di PMB. Dan banyak sesi dimana kita disuruh terus menggali, sebenarnya apa hal yang kita suka, apa hal yang kita inginkan. Saya sendiri lupa tentang apa yang saya ungkapkan waktu itu. Yang jelas saya ingat sekali, salah seorang teman saya, Aldi, pernah bercerita bahwa salah satu impian dia adalah bisa berkeliling dunia bersama orang yang dia cintai.

Hmm, saat itu saya masih berusia 15 tahun, saya belum cukup dewasa untuk bisa melihat “impian” sebagai sesuatu yang penting. Saya bahkan sedikit tertawa dalam hati ketika mendengar impian teman-teman saya. Dan saya sendiri sepertinya menjawab asal-asalan, karena saya memang tidak benar-benar tahu mimpi saya apa. Dari kecil saya suka membaca, menggambar, dan menulis. Ayah saya membelikan saya beberapa set ensiklopedia, maka dari itu saya menuliskan cita-cita saya sebagai ilmuwan yang beriman. Beranjak SMP, saya doyan menggambar dan mengeditnya di adobe photoshop, saya juga suka iseng bermain coreldraw dan corelrave. Tapi entah apa yang terjadi, saya akhirnya masuk ke STEI ITB. Entah, apa yang terjadi saya selalu memilih Teknik Elektro sebagai pilihan pertama meskipun saya pernah bercita-cita menjadi game programmer (masih berhubungan sih) atau menjadi computer scientist.

Yah, tapi itu adalah sebuah awal. Awal dari pencarian. Dan saya baru menyadari sekarang, bahwa apa yang saya ikuti 5 tahun lalu ternyata turut berkontribusi buat diri saya dalam “learning how to be”. Dan memang banyak juga hal-hal aneh yang mungkin sifatnya pembodohan, diteriak-teriakin. Tapi, saya sendiri merasa itu adalah bentuk penyambutan yang meriah. Dan kalau boleh jujur, waktu itu banyak juga loh mahasiswa baru yang ketakutan cuman gara-gara diteriakin sama SWASTA. Dan bahkan pas saya jadi panitia Troniuminion, ada juga loh mahasiswa yang sampai menangis.

Kalau soal orasi danlap, saya sendiri terkenang satu kalimat dari salah seorang danlap, yakni Aul. Waktu itu batalion saya kebagian orasi dari Aul. Aul, yang waktu itu saya belum kenal, waktu itu bilang,

“Mengantuk itu manusiawi, tapi tidur adalah pilihan” Continue reading

Tentang Gagal dan Sukses Di Kampus

Siapa bilang orang yang sukses adalah orang yang tidak pernah gagal? Siapa bilang kegagalan itu buruk?

Kegagalan adalah anugerah, sebab kita diberikan pembelajaran ekstra. Jika kita bisa menyikapi kegagalan dengan positif, maka kita akan dapat menjadi sosok yang lebih tangguh dari sebelumnya. Persis seperti suku Saiya di komik Dragon Ball yang bertambah kuat jika hampir mati. Persis seperti apa yang dikatakan oleh dosen saya,

“What doesn’t kill you will make you stronger”

Segala kegagalan, selama kita masih hidup setelah kegagalan itu, akan bisa membuat kita jauh lebih kuat juga kita berhasil melewatinya. Saya sendiri merasakan hal itu di kampus. Mulai dari ditolak cewek, mengulang mata kuliah, gagal dalam pemilihan, gagal dalam lomba, semuanya membuat saya menjadi pribadi yang lebih tangguh, dan lebih kuat dari sebelumnya.

Dahulu, boleh dibilang hidup saya perfect. Kegagalan minor tidak pernah berarti dalam kehidupan saya, dan tak pernah mengusik zona nyaman. Saya pun terlena. Menduduki bangku kuliah, saya yang masih merasa sombong dengan hidup yang sempurna, mulai  menerima akibatnya. Segala usaha yang kurang membuat saya gagal. Dan bahkan saya gagal di bidang akademik. Dimulai dari ip semester pertama yang jauh dari target saya, lalu semangat saya yang mulai hilang untuk berkuliah. Saya bahkan merasa ingin pindah. Saya terlalu perfeksionis. Dan parahnya, ketika saya tidak berhasil mencapai kesempurnaan tersebut, saya memilih untuk lari.

Hasilnya adalah tingkat dua saya yang hancur. Bahkan semester empat saya lalui dengan NR dibawah 2.00. Itu adalah suatu pukulan yang berat buat saya. Ditambah lagi, mimpi saya untuk menjadi sesuatu pun gagal, dan juga ada beberapa masalah keluarga yang saya alami. Saat itu, saya merasa dunia sedang terjungkir balik. Saya merasa kecil, lemah, dan begitu terkungkung dalam keterbatasan. Saya ingin lari. Saya ingin memulai lembaran baru di kampus lain, dimana saya masih bisa mendapatkan ip yang sempurna, dimana saya ingin mendapatkan teman-teman baru yang belum memiliki asumsi apapun tentang saya, dimana saya bisa memulai mimpi-mimpi baru.

Ya, saya berpikir untuk kabur dan berlari. Saya berpikir untuk meninggalkan apa yang saya mulai. Saya sempat berpikir untuk menjadi pecundang yang berpikir bahwa dirinya sudah kalah, padahal sisa waktu yang ada masih banyak. Jika diibaratkan bermain billiard bola delapan, saya sudah ingin quit ketika lawan sudah memasukkan empat bola, dan saya belum memasukkan satu bola pun. Padahal toh saya masih bisa menang. Saya tidak memiliki daya juang. Mungkin saat itulah saat dimana saya mengalami down yang parah.

Beruntung. Lingkungan saya, terutama ibu dan eyang, selalu memotivasi saya. Kebetulan mereka selalu menyuruh saya untuk belajar bersyukur, dan salah satu cara untuk bersyukur adalah dengan tidak pernah berhenti berjuang. Peperangan melawan rasa malas, melawan ego, dan pesimisme adalah peperangan yang mulia. Jika kita hanya lari dari suatu keadaan yang buruk tanpa berusaha memperbaikinya, maka ketika ada di lingkungan yang baru pun kita hanya akan menjadi sampah. Dan lebih jauh lagi, sebenarnya, ini semua bukan tentang mengejar nilai yang tinggi, bukan tentang mendapatkan citra dan pengakuan di mata manusia, melainkan bagaimana kita bisa berjuang dalam ber-Tuhan. (jadi inget notes curcol http://www.facebook.com/note.php?note_id=62026805519_ dan http://www.facebook.com/note.php?note_id=104647870519)

Dan ya, waktu itu saya akhirnya mulai berpikir, ini adalah tentang perjuangan. Ini adalah tentang proses, bukan hasil. Bisa saja seseorang meraih hasil yang bagus karena memang dari awal dia tidak pernah berbuat kesalahan. Tapi, seseorang yang bisa bangkit dari kegagalan memiliki nilai tersendiri. Bangkit dari kegagalan dan keterpurukan itu bukan hal yang mudah. Di sinilah karakter sejati seseorang diuji. Dan bahkan Tuhan sendiri telah mengatakan bahwa setiap orang yang mengaku beriman, pasti akan diuji.

Ya, terkadang di dunia ini Tuhan menguji kita dengan kegagalan. Dia buat seluruh mimpi kita hangus. Dia jauhkan kita dari orang yang kita sayangi. Dia ambil apa yang selama ini terus menerus ada di pikiran kita, segala hal yang kita pikirkan siang dan malam, dari kepala kita. Diberikan oleh-Nya kegagalan, meskipun terkadang kita melakukan semua dengan benar, hanya untuk menguji, seberapa kita percaya akan Dia, seberapa kita bisa mengabdi kepada-Nya dan senantiasa mengingat-Nya.

Tapi, jika dipikir-pikir, sebenarnya kita perlu meninjau, apakah proses yang kita lakukan sudah benar atau belum. Kegagalan dengan kesalahan itu ternyata berbeda. Kegagalan adalah suatu kondisi ketika kita sudah berusaha melakukan yang terbaik tapi rencana kita tetap tidak membuahkan hasil. Sedangkan kesalahan adalah ketika kita belum berusaha maksimal. Meskipun keduanya berbeda, keduanya tetap merupakan ujian dari Tuhan.

Jika yang terjadi sesungguhnya adalah yang pertama, yang menjadi tantangan adalah, masihkah kita berprasangka baik kepada Tuhan? Jika yang terjadi adalah yang kedua, bisakah kita belajar dari kesalahan tersebut dan menjadi pengabdi yang lebih baik?

Hasil itu bukanlah akhir dari usaha. Gagal atau sukses dalam berusaha sebenarnya sama saja. Yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana kita bisa menyikapi kegagalan atau kesuksesan dalam mengerjakan rencana kita? Masihkah kita bisa berbagi dengan sesama baik itu di masa kita sedang di atas, maupun di bawah? Bagaimana kita bisa berbagi meskipun kita sendiri masih kekurangan? Bagaimana kita bisa tetap berbuat baik? Bagaimana kita bisa berbagi hikmah dengan sesama manusia?

Maka sejak saat itu, saya berubah.

Saya menjalani hidup dengan mental yang baru. Buat saya kesuksesan bukanlah pencapaian. Kesuksesan adalah sebuah kondisi mental dimana saya dapat menyikapi segala hal dengan positif dan menjalani hidup dalam suka cita. Dan, saat itu ada satu misi yang saya emban:

Saya harus jadi trainer SSDK

Saya ingin mahasiswa baru mendapatkan motivasi, tidak hanya dari orang yang selam hidup di kampus selalu lempeng dalam akademik dan tidak pernah terpuruk. Ya, saya ingin memberikan motivasi kepada mereka bahwa, hidup tak selamanya mudah. Bahwa roda tak selalu di atas, namun kita selalu bisa bangkit.

Dan hasilnya.. Tuhan mengabulkan doa saya. Akhirnya saya berhasil menjadi co-trainer untuk penerimaan mahasiswa baru. Nah, mungkin di sana semua orang mengira bahwa setiap yang menjadi trainer itu selalu ber-IP bagus dan tidak pernah dapet IP jelek. Pada saat training, kebetulan ada mahasiswa yang bertanya tentang bagaimana kalau kita gagal. Saya yakin rekan saya juga tidak pernah menyangka kalau saya pernah mendapatkan ip dibawah 2.00. Tapi saya rasa, saya perlu menceritakan ini buat mereka. Maka dari itu saya ceritakan sedikit tentang bagaimana cara untuk bangkit dari keterpurukan. Saya yakin, perlu ada contoh dari orang sukses yang pernah gagal. Jika semua orang sukses tidak pernah gagal, siapa yang bisa menjadi teladan bagi orang-orang gagal untuk bangkit dari keterpurukannya?

40515_415430599842_4364628_n

Foto bareng para trainer

Sekarang, kalau teringat masa-masa itu, saya hanya bisa tersenyum. Betapa Tuhan tahu bahwa keterpurukan itulah yang saya butuhkan agar saya bisa menjadi seperti sekarang :)

Sekarang boleh dibilang, apa yang menjadi visi saya tercapai. Saya mendapatkan ip di atas tiga, memperoleh beberapa penghargaan selama berkuliah, serta mendapatkan banyak kesempatan untuk belajar di organisasi yang saya ikut. Saya yakin semua ini ada hikmah dan kaitannya dengan tujuan penciptaan saya. Dan yang terpenting adalah, saya mulai belajar untuk lebih mengenal Tuhan :)

Dan pada akhirnya saya puas telah menimba ilmu di kampus ITB. Puas karena saya telah belajar banyak tentang kehidupan. Di sini saya tidak hanya belajar menjadi mahasiswa yang bisa mengerjakan ujian, mengerjakan tugas akhir dan lulus saja. Di kampus ini saya banyak belajar tentang bagaimana menjadi seorang manusia, dan segala pembelajaran yang saya dapatkan telah merubah definisi sukses dan gagal di kepala saya :)