Beberapa Keping Mimpi yang Tercecer di Kampus
Di tahun ketiga saya, entah angin mana yang membawa saya, pada akhirnya saya bersama teman-teman yang saya kumpulkan ada pada sebuah keluarga baru. Di keluarga baru itu, kami berbagi gagasan tentang mahasiswa ITB yang semakin kreatif, imajinatif dan visioner. Yang kami bicarakan di situ bukan lagi banyak ribut tentang hal yang selama ini sering diperdebatkan, seperti masalah diksi, esensi, dan tujuan. Yang banyak kami bicarakan di sana adalah hal-hal gila. Ide gila.
Satu hal yang hingga kini saya imani dan yakini. Gagasan dan mimpi adalah awal dari segalanya. Saya sendiri tak pernah menduga bahwa gagasan-gagasan yang waktu itu saya temui, begitu mempengaruhi hidup saya. Sampai akhirnya ketika lulus, saya menyadari bahwa banyak di antara pencapaian penting saya adalah berkat pertemuan saya dengan ide dari mahasiswa-mahasiswa yang telah lebih dahulu meninggalkan kampus ini.
Ketika pertama kali saya didaulat menjadi Presiden I3M, saya mendapatkan warisan berupa ide-ide proyek yang direkomendasikan untuk dilanjutkan. Di antaranya adalah proyek “Multitouch-Screen”, “CampusChannel” dan “Inspire”. Ya, tiga proyek itu adalah proyek “lungsuran” yang sudah antah berantah keadaannya. Anggota proyek yang sudah berkelana entah kemana, atau pimpinan proyeknya susah dihubungi, dan kami saat itu benar-benar kesulitan untuk mem-follow up proyek lungsuran tersebut.

Tapi, ternyata memang benar, mimpi adalah kunci untuk menaklukkan dunia. Mimpi memberikan energi yang lebih bagi seorang manusia. Bagi seseorang yang bisa memiliki pandangan ke depan, mimpi bukanlah omong kosong. Mimpi adalah sebuah gagasan dengan tahapan pencapaian yang jelas. Nyata. Mimpi adalah masa depan yang bisa diprediksi. Dan masa depan ummat manusia, ditentukan oleh mimpi-mimpi yang ada saat ini. Peradaban ditentukan oleh apa yang sedang dikerjakan para ilmuwan, insinyur, sosiolog, pengusaha, pemerintah, dan seluruh lapisan masyarakat pada tempatnya masing-masing. (lagi…)
Goblok
Daun berguguran dan hidup tetap berjalan. Masalah telah mendewasakan manusia. Pilihan-pilihan selalu ada. Tak jarang, di antara hitam dan putih terdapat abu-abu.
Manusia adalah pemimpi. Manusia bermimpi untuk mengubah dunia. Tahun demi tahun berlalu. Manusia tak mampu mengubah dunia. Ia memilih untuk mengubah negaranya saja. Tahun demi tahun berlalu. Manusia tak mampu mengubah negaranya. Ia memilih untuk mengubah kotanya saja. Tahun demi tahun berlalu. Manusia tak mampu mengubah kotanya. Ia memilih untuk mengubah rumahnya saja. Tahun demi tahun berlalu. Manusia bahkan tak mampu mengubah rumahnya. Ia pun memilih untuk mengubah dirinya sendiri. Tahun demi tahun berlalu. Manusia berhasil mengubah dirinya sendiri. Kini manusia kembali bermimpi, “Seandainya aku punya mesin waktu, aku akan kembali ke awal perjalananku dan akan mulai mengubah diriku sendiri, agar dapat berubah rumahku, kotaku, negaraku, dan juga duniaku.”
Beruntunglah ada mesin waktu. Sebuah mesin yang mampu membuatnya terus berputar tanpa bisa berputar balik. Beruntunglah ada mesin waktu yang demikian sehingga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah manusia di atas.
Goblok saya kalau mau merubah sistem, memperbaikinya tanpa mau mengubah diri sendiri.
Dan saya tidak ingin jadi orang goblok!
Saya boleh lemah, tapi saya tidak boleh goblok!
Saya boleh lemah, tapi bersama Tuhan saya akan kuat!