perjalanan seorang @rousyan dalam menjadi insan solutif (dan rendah hati)

Posts tagged “Pendidikan

Seburuk itu kah Pengembangan Karakter Mahasiswa ITB? (1)

Ir. Sukarno, idjazah ini dapat robek dan hantjur mendjadi abu disatu saat. Ia tidak kekal. Ingatlah, bahwa satu-satunja kekuatan jang bisa hidup terus dan kekal adalah karakter dari seseorang. Ia akan tetap hidup dalam hari rakjat, sekalipun sudah mati.” -Ir. G. Klopper M.E.

Baru-baru ini sebuah artikel yang berkomentar tentang karakter lulusan ITB sedang menjadi isu yang cukup hangat, setidaknya di kalangan civitas akademika ITB. Mahasiswa, alumni, hingga dosen pun memberikan tanggapan beragam. Di sini saya mencoba menggali sedikit tentang pengembangan karakter mahasiswa ITB dari sudut pandang seorang mahasiswa ITB yang tengah menempuh pendidikan di ITB dan berkesempatan menjadi anggota MWA ITB.

Penting kah? Benarkah ITB Berperan?

Pengembangan karakter mahasiswa selalu menjadi isu penting. Hampir semua pihak secara lisan menyatakan bahwa pengembangan karakter adalah hal terpenting. Rekan-rekan saya sesama mahasiswa menganggap pengembangan karakter itu penting, kata mereka, “untuk itulah ada organisasi kemahasiswaan“. Dosen-dosen pun mengatakan pengembangan karakter itu penting, katanya, “untuk itulah kami berikan tugas yang harus dikerjakan secara berkelompok“. Rektor dan jajarannya juga berkata bahwa pengembangan karakter itu penting, katanya, “untuk itulah kami adakan seminar motivasi.” Dan di MWA ITB sendiri saya sering mendengar kalimat seperti ini, “Kita jangan memikirkan pembangunan infrastruktur terus bu, pengembangan karakter itu harus kita pikirkan. Itu yang terpenting!

Ya. Hampir semua stakeholder ITB mengatakan bahwa pengembangan karakter mahasiswa ITB itu penting. Bahkan pada naskah akademik ART ITB BHMN dituliskan bahwa salah satu hakikat dan peran ITB adalah sebagai berikut:

ITB selain melaksanakan fungsi pendidikan tinggi untuk menghasilkan sumber daya mahasiswa bermutu calon pemimpin bangsa dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, serta ilmu sosial dan kemanusiaan, harus mampu melaksanakan moral force, ikut memberikan kritik sosial dan menjadi bagian integral dan organik dari lingkungan fisik dan sosial. Pengelolaan baru ITB harus memungkinkan ITB mengenal dinamika dan permasalahan yang dihadapi masyarakat, sehingga ITB dapat ikut memandu perubahan budaya bangsa, dan memperkuat kemampuan masyaakat untuk perubahan yang menerus (continuous self renewal).

Masih belum percaya bahwa ITB turut berkewajiban mengembangkan karakter mahasiswa ITB? Mari kita lihat pasal 18 dari executive summary RIP ITB:

Kampus ITB adalah sebuah lingkungan yang merupakan tempat terjadinya interaksi kreatif antara peneliti, mahasiswa dan dunia luar kampus (best academic talents). Kampus yang mempunyai lanskap beserta bangunan-bangunannya yang merefleksikan idealism institusi dan dampak terhadap proses pendidikan. Dalam perjalanannya menuju cita-cita ITB World Class University, ITB perlu mewujudkan kampus yang inspiring yang mempunyai kemampuan aktif ‘membangun karakter’ bagi siapapun yang ada di dalamnya. Kampus yang dapat menjadi ‘arena belajar dan berkarya’, yang mampu mengajarkan kepada setiap insan yang ada di dalamnya tentang nilai-nilai kampus yang dicita-citakan oleh visi ITB, yaitu terwujudnya bangsa Indonesia yang cerdas, berdaya juang sangat tinggi dan berbudaya luhur bangsa Indonesia.

Oke, marilah kita asumsikan bahwa ITB seharusnya memiliki andil yang cukup besar dalam pembangunan karakter mahasiswanya, apalagi hal ini diungkapkan pada dasar hukum dan rencana pengembangan ITB.

IQ Tinggi, EQ Rendah

Percayakah teman-teman bahwa kata-kata di atas adalah salah satu yang harus direvisi dari laporan eksekutif ITB 2010? Pada rapat pleno pertama yang saya datangi hal ini dibahas. Fakta ilmiah menunjukkan bahwa ITB menerima masukan berupa pedang yang sangat tajam, yakni manusia Indonesia dengan IQ tinggi, kecerdasan di atas rata-rata. Namun, fakta menggembirakan itu juga dibarengi dengan satu fakta lain yakni, fakta bahwa rata-rata mahasiswa baru memiliki EQ yang rendah. (lagi…)


Filosofi#2 Pendidikan

Kalau teman-teman pernah membaca proposal I3M (bisa juga dibaca di sini http://otakkurusak.wordpress.com/2008/04/12/pusat-inkubator-ide-dan-kreativitas-mahasiswa-itb/), pasti teman-teman akan sangat tertohok. Terutama paragraf ini:

“Bisa Anda bayangkan jika terdapat satu komunitas, dimana dalam komunitas tersebut terdapat sepuluh ribu pemuda pilihan dari sekitar dua ratus juta yang ada (1:20000). Kita akan lanjutkan bayangan kita, menurut Anda bagaimana profil orang-orang pillihan tersebut. Menurut Anda apa yang bisa mereka lakukan, bayangkan saat anda harus menyeleksi satu orang dari dua puluh ribu orang. Kualitas pemuda seperti apa yang Anda bayangkan.

Bayangkan lebih jauh lagi, kemudian orang-orang tersebut dikumpulkan dalam sebuah komunitas. Seberapa hebat komunitas tersebut menurut Anda. Sepuluh ribu orang terseleksi dari negeri ini berkumpul di sebuah tempat. Mungkin Anda akan membayangkan mereka sebagai pasukan elit yang bisa mengatasi masalah apapun, menyelesaikan semua misi, atau bahkan menggerakkan bangsa ini.

Jika bayangan Anda seperti itu, lebih baik Anda buang jauh-jauh. Bayangan Anda meleset, Anda hanya akan menemukan pemuda-pemuda tanggung yang bahkan tidak tahu siapa diri mereka sebenarnya, apa peran mereka disana, apa tanggung jawab mereka disana, bahkan mereka tidak tahu apa tujuan sebenarnya mereka disana. Itulah ITB.”

Krisis Identitas, itulah yang terjadi sekarang. Sistem pendidikan formal yang ada telah mengekang kreativitas, minat, dan bakat yang sesungguhnya dari diri sendiri. Kita terbiasa memandang IPA lebih baik daripada IPS. Kita terbiasa menganggap sekolah adalah sebuah tingkatan formal yang memang harus dilewati agar nantinya kita dapat bekerja dan hidup.

Pendidikan telah bergeser maknanya. Padahal orang-orang bijak jaman dahulu berkata bahwa pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia, bagaimana setiap manusia dapat menemukan arti keberadaannya sendiri berupa misi hidup. Ya, setiap orang seharusnya terus mencari apa yang bisa ia perbuat agar keberadaannya berarti. Sekali berarti, sudah itu mati. (lagi…)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 563 pengikut lainnya.