3N : Senjata Ampuh untuk Berkarya

Suatu ketika, saya sedang bermain bersosialisasi di facebook. Di sana seniro-seniro saya sedang kegandrungan mengedit foto. Dengan teknik masking, mereka berusaha menyunting foto teman mereka agar teman mereka bisa terlihat konyol menghibur. Muka cowok dipasang ke badan cewek. Setelah foto cukup ‘indah’ dilihat, maka foto pun diunggah. Setelah diunggah, ditaglah banyak orang agar foto tersebut ngetop. Ditaglah banyak orang agar semua orang tahu bahwa detik itu juga sebuah sampah karya telah dipublikasikan. Berikut contoh foto-foto yang dimaksud:

Yang menarik adalah, pada komentar di foto tersebut muncul komen yang sangat menarik dari Mas Bombom, calon tunggal ketua ARC yang sudah hampir pasti menjadi ketua ARC sejak pemungutan suara belum dilakukan. Komentar tersebut mencerminkan keperihatinan karena di saat mahasiswa Harvard berhasil membuat facebook dan menjadi kaya di usia muda, kami para mahasiswa Teknik Elektro ITB justru heboh menggunakan facebook. Membaca komentar tersebut, saya justru teringat sebuah pesan yang selalu disampaikan oleh Guru Kimia SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta, Pak Sutadji. Pesan tersebut adalah:

Jangan lupa 3N : Niteni, Nirokke, Nambahi

Mari kita bahas lebih lanjut mengenai filosofi 3N ini! 1. Niteni

Niteni bila diterjemahkan secara bebas berarti mengamati, melihat. Niteni berasal dari kata niti atau titen yang berarti teliti. Jika digali lebih dalam, yang dimaksud niteni adalah mengamati dengan seksama hingga kita mengetahui seluk beluknya. Ketika kita menjadi pengguna facebook, kita sampai pada awal tahap ini. Artinya, pada saat kita menjadi pengguna, kita sedang mengamati dan mencari tahu lebih dalam mengenai seluk beluk facebook.

Niteni ini ternyata merupakan sebuah simbol pemahaman terhadap hal-hal yang mungkin tidak pernah kita hiraukan. Untuk kasus ini, saya ingin meminjam jargon dari Aa Gym: mulailah dari yang kecil!

2. Nirokke

Nirokke berarti menirukan.Tahap ini baru bisa dicapai jika niteni telah dilampaui. Dengan menirukan hal-hal yang kita amati, kita dapat membuat hal tersebut. Kalau kita ambil studi kasus facebook, maka ditahap ini kita mencoba untuk membuat facebook dari hasil pengamatan kita. Tahapan ini bisa dibilang tahapan menjiplak. Bukankah menjiplak berkonotasi negatif? Mungkin Anda telah lupa bahwa Anda adalah seorang penjiplak ulung! Jika Anda tidak pernah menjiplak maka Anda tidak akan pernah bisa membaca blog ini!

Saya teringat pelajaran sosiologi yang saya terima di kelas satu SMA. Pada saat itu saya harus remidi karena nilai saya kurang. Dan, pada saat menjalani ujian perbaikan di ruang guru, seorang guru mengatakan kepada saya, “Dari tidak bisa, karena diulang nantinya menjadi ahli.” Saat itu saya tidak terlalu memperhatikan kata-kata tersebut karena saya sedang ujian. Namun, setelah itu kata-kata tersebut terus tertanam di kepala saya. Kata-kata ini maknanya terlalu dalam, mungkin akan saya bahas di tulisan selanjutnya. Oh iya, back to topic, di pelajaran sosiologi tersebut saya belajar mengenai perilaku anak bayi. Ada sebuah tahap pembentukan perilaku yang disebut imitasi. Imitasi adalah proses meniru apapun yang dilakukan oleh orang tuanya. Kalau tidak salah proses imitasi ini berlangsung cukup lama. Dan berangsur-angsur mulai berkurang setelah seseorang mulai memiliki kesadaran dalam bertindak.

Nah, dalam tahap ini kita harus bisa memanfaatkan kemampuan imitasi kita tersebut. Imitasi tersebut dilakukan secara sadar tentunya! Namun, hasil imitasi tersebut bukan untuk mendzalimi pencipta barang yang kita tiru tersebut! Hasil imitasi itu kita gunakan untuk belajar. Dalam belajar selalu ada proses meniru!

3. Nambahi

Nambahi adalah melakukan penambahan. Bisa dibilang ini adalah tahapan puncak dari seorang pembelajar. Dalam tahapan ini, seseorang harus bisa melakukan terobosan, melakukan inovasi-inovasi. Mencari ide, memutar otak agar bisa membuat sesuatu yang sifatnya original dan baru. Menurut saya, jika seseorang telah melampaui tahap ini, indikator yang pasti adalah karya yang dihasilkan. Pada saat itu orang tersebut bisa disebut seorang creator.

Lalu apa yang dilakukan ketika seseorang sudah mencapai tahap ini. Pada akhirnya orang tersebut harus kembali ke Maha Pencipta. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.

Setelah mengetahui 3N…

Setelah mengetahui 3N, kita dapat menyimpulkan bahwa Bangsa Indonesia bisa dibilang baru sampai pada tahap awal niteni. Oleh karena itu bangsa ini belum bisa menjadi leader. Mari kita lihat negara seperti China, negara ini sepertinya sudah sampai pada tahap nirokke sehingga industrinya berkembang. Lihatlah Jepang! Ia sudah mencapai tahap nambahi sehingga industri di sana maju. Kita sebagai Bangsa Indonesia tidak boleh berdiam diri dan puas dengan kondisi saat ini. Mari kita lakukan 3N dari hal-hal yang kecil! Dan mari berkarya, mencetak sejarah dan menjadikan Bangsa Indonesia menjadi bangsa PEMIMPIN DUNIA!

Tulisan yang baru saja Anda baca adalah opini saya, saya akan sangat senang jika Anda mau membagi opini Anda.

Jogjakarta, 28 November 2008

Syarif Rousyan Fikri

7 thoughts on “3N : Senjata Ampuh untuk Berkarya

  1. Orang kita itu menurutku sudah sampe tahap NIROKKE,tapi masi banyak masalah disitu..Terlalu puas dengan meniru dan tidak berusaha membuat itu menjadi lebih baik, malah kadang jadi lebih buruk..

    Entah kapan ini bisa berubah..:D

    Kalo menurutku, kita harusnya bisa punya satu hal yang benar2 “hanya milik kita” atau minimal “kita termasuk kalangan paling ahli” di bidang itu, baru kita pake prinsip 3N itu..Soalnya dengan kita punya keahlian, orang akan lebih percaya sama kita..

    Nice post gan..Tambahan ilmu buat awa ini..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s