Menjelang 17 Tahun

Saya dilahirkan pada tangal 23 Mei 1992 M. Dalam beberapa hari ke depan, dunia akan menambah hitungan tahun masehinya menjadi tahun 2009. Artinya, sekitar lima bulan lagi, saya hitungan umur saya akan bertambah. Bertambahnya hitungan umur berbeda dengan bertambahnya umur yang saya miliki. Dengan bertambahnya hitungan umur, saya mungkin dapat memiliki KTP dan SIM secara resmi. Mungkin juga, saya boleh menonton film yang memiliki rating 17 tahun ke atas, atau mungkin juga membeli rokok dengan legal.

Pendapat orang-orang mengenai tahun ke-17

Banyak orang berpendapat, ketika seseorang sudah mencapai umur 17 tahun, saat itulah orang tersebut sudah bisa dianggap dewasa. Oleh karena itu, ketika seseorang sudah mencapai 17 tahun, ia boleh memiliki KTP, SIM, serta menonton film ‘dewasa’. Ketentuan ini mungkin timbul karena berbagai pertimbangan. Angka 17 dipilih bukan secara acak, dan suka-suka. Pastinya, si pembuat peraturan juga sudah mempertimbangkan aspek biologis dan psikologis sehingga angka 17 tahun dianggap sebagai batasan dewasa. Tentu saja ketentuan 17 ini merupakan sebuah generalisasi dari sampel yang ada di masyarakat. Artinya, tidak semua orang yang telah mencapai usia 17 tahun menurut kalender masehi sudah dewasa. Dan, bukan berarti semua orang yang belum mencapai usia 17 tahun belum dewasa.

Generalisasi 17 tahun sebagai batasan dewasa ini juga menimbulkan banyak fenomena. Istilah ‘sweet seventen’ dan ‘di bawah umur’ misalnya. Generalisasi 17 dan fenomena yang ditimbulkannya tak jarang menimbulkan kepalsuan di masyarakat. Ada orang yang menanti umurnya 17 tahun dan ia berkata “Tak sabar menanti dewasa.” Kawan, seseorang akan tetap menjadi anak kecil jika ia tidak mau merubah dirinya menjadi orang dewasa. Ingatlah bahwa yang dapat membawa kita menjadi manusia dewasa bukan waktu. Waktu hanya bisa membuat kita menjadi tua, dan merapuh. Diri sendiri lah yang bisa mengubah diri itu menjadi dewasa. Memperbanyak renungan, serta mengambil pelajaran dari segala yang kita alami adalah cara untuk menjadi dewasa. Paling tidak hingga saat ini saya hanya mengetahui metode ini untuk meningkatkan kedewasaan. Yang pasti, jangan sampai kita terjebak pada generalisasi 17 ini. Berapapun umur Anda, Anda perlu untuk mengintrospeksi diri Anda dan selalu mengambil pelajaran. Jangan pernah merasa sudah cukup dewasa sehingga Anda berhenti untuk belajar. Lihat kembali diri Anda, meskipun mungkin usia Anda sudah kepala dua, atau kepala tiga, sudahkah Anda dewasa?

Lalu, apakah diri saya sudah dewasa?

Ikhsan Abdusyakur, Teknik Elektro ITB 2006 mengungkapkan pendapatnya mengenai kedewasaan saya. Menurut dia, dari segi pemikiran saya sudah cukup dewasa, namun dari segi emosi masih kurang. Saya akui bahwa saya memang masih kurang bisa mengontrol emosi. Egoisme saya masih besar. Selain itu saya masih belum bisa mengatur diri saya dengan baik. Singkatnya saya kurang mengerti diri sendiri, dan masih kalah oleh ego. Saya jelas masih jauh dari dewasa. Saya masih sering lupa untuk mengambil sisi positif dari pengalaman dan membuang sisi negatif. Cukuplah bukti yang menguatkan bahwa saya belum dewasa.

Rencana ketika 17 Tahun?

Tentu saja tidak ada rencana lain selain menjadi dewasa! Kemampuan kontrol emosi dan manajemen diri mutlak dibutuhkan untuk bisa melanjutkan perjalanan. Ketika kita tidak mau berubah menjadi lebih baik, hidup kita sudah sia-sia, dan kita sudah mati!

-selesai-


Tulisan yang baru saja Anda baca adalah opini saya, saya akan sangat senang jika Anda mau membagi opini Anda.

Jogjakarta, 28 Desember 2008,

Syarif Rousyan Fikri

2 thoughts on “Menjelang 17 Tahun

  1. Dewasa atau tidak, saya tak terlalu peduli…

    Dewasa tidak bisa dimakan:mrgreen:

    [serius mode]
    Sebetulnya saya tak terlalu mengerti kenapa begitu banyak orang yang ingin menjadi dewasa. Buat saya, keinginan seperti itu tak perlu ada.

    Anyway, saya lebih suka jadi kekanakkan, yah, dari sifat kekanakkan itulah sains dan teknologi berkembang sekarang, imajinatif…

    Bisa belajar tanpa memikirkan apa guna yang kita pelajari, bisa main tanpa beban.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s