Tidak Bertanya dan Tersesat di Jalan

Kisah ini terjadi dua hari yang lalu, hari jumat bertepatan dengan Iedul Adha. Hari itu dimulai dengan sebuah (mungkin) kesialan. Di saat sholat berjamaah akan dimulai, saya sakit perut. Memang beberapa hari ini saya mengalami masalah pencernaan, sebab yang saya makan memang tidak jauh-jauh dari mie goreng, roti bakar coklat, siomay, dan susu (mendadak teringat kasus saudara Lestian dengan susu Rizalbro-nya). Dan sangat menyakitkan ketika saya sudah selesai membuang air, lalu saya keluar dari pintu rumah kos, dan saya mendapati bahwa sholat Iedul Adha telah selesai. Di depan jalan cisitu lama saya tertegun menyaksikan jamaah-jamaah sholat yang memandangi saya dengan ekspresi aneh, seolah ingin memberi tahu bahwa “Sholatnya udah beres mas… -_-“”. Yah, sangat disesalkan memang.

Cukup sampai di sini cerita kali ini. Semoga teman-teman bisa mengambil hikmah atas apa yang terjadi pada saya hari ini, yaitu makanlah makanan yang halal lagi baik.

Bukan!

Cerita tadi hanyalah awal, bagaimana saya mengawali hari itu dengan kesia-siaan. Pagi yang sekacau itu tidak membuat saya mengurungkan niat saya untuk menonton kembali sebuah film korea berjudul “Humming”. Dan gobloknya lagi, saya ketiduran sampai menjelang jumatan.

Tidak berkaca pada kebodohan sebelumnya, saya masih saja tidur-tiduran di saat jam sudah menunjukkan angka 11. Untung saja suara adzan membangunkan saya sehingga akhirnya saya bergegas mengenakan baju koko yang tadi pagi batal saya gunakan.

Saya pun dengan sukses sholat jumat berjamaah. Dan yang membuat saya lebih sukses lagi adalah saya bertemu dengan mantan promotor saya, yakni Ardimas Andi Purwita. Ardimas memberikan kabar kepada saya bahwa Azhari sedang berada di HME. Tiba-tiba terlintas di benak saya untuk datang ke HME dan mendownload film-film.

Anggap saja sejarah terputus, dan Anda tidak dapat menyaksikan beberapa selang waktu. Tiba-tiba saja sekarang sudah jam tiga. Saya berada pada antrian orang yang akan potong rambut. Sejak beberapa menit yang lalu saya pun sudah di sini, dan kini saya masih mengantri. Kalau tadi saya menunggu seorang anak kecil selesai potong rambut, dan berharap saudaranya yang ikut duduk di samping saya tidak berniat potong rambut, sekarang saya hanya bisa terdiam pasrah menunggu saudara dari anak kecil itu selesai dipotong rambutnya.

Adalah sebuah tekad yang sangat kuat agar rambut saya terlihat lebih rapi, mengingat saya tidak pernah mau meluangkan waktu saya untuk memotong rambut dan membeli sepatu (bahkan saya belum membeli sepatu). Saya menunggu dengan cemas mengingat saya telah berjanji kepada kawan saya yang kuliah di IT Telkom untuk berkunjung ke kosnya pada jam setengah lima kurang lima menit.

Sejarah kembali terputus. Tiba-tiba saja saya sudah berada di jalan dago yang macet, berusaha mengikuti jejak angkot kalapa dago. Dan entah mengapa saya bisa tersesat dan kehilangan jejak angkot berwarna hijau tersebut di jalan yang saya tidak ketahui asal-usulnya, Jalan Mohammad TOHA.

(tiba-tiba terlintas untuk membuat cerita hari ini menjadi tidak seru).

Entah bagaimana kronologisnya, tiba-tiba saya berada di pertigaan yang mana jika saya belok ke kanan, terdapat tol purbaleunyi. Saya tidak bisa menceritakan kronologis pastinya karena saya sendiri dalam posisi tersesat alias kesasar. Dengan nekat, saya memilih untuk lurus. Mulai nampak harapan cerah. Saya melalui sebuah fly over dan menyaksikan plang-plang bertuliskan Dayeuhkolot yang artinya saya sudah dekat dengan IT Telkom.

Namun salah. Saya tersesat. Di jalanan itu saya tidak menemukan gerbang menuju IT Telkom. Saya terus saja melaju karena teman saya yang sudah tidak single lagi itu tidak juga membalas sms saya. Hingga akhirnya saya meneleponnya, dan dia merasa saya ada di jalan yang benar.

Dengan optimisme, saya melalui kembali jalan yang sudah saya telusuri beberapa menit yang lalu. Sambil menengok kanan dan kiri, berharap ada sebuah patung kuda dan sebuah gapura bertuliskan sebuah kalimat yang mengandung kata “Telkom”.

Tidak ketemu.

Yang saya temukan di kanan dan kiri jalan adalah pabrik-pabrik. Ada pula pabrik Ceres. Saya pun terus menyusuri jalan yang sudah saya telusuri berapa menit yang lalu hingga akhirnya saya berlabuh di depan RSU Bina Sehat.

Beruntung. Teman saya akhirnya menyadari bahwa saya tersesat. Saya ulangi, teman saya akhirnya menyadari saya tersesat. Teman saya menyuruh saya diam di sana untuk menunggunya mengantarkan saya ke jalan yang benar menuju kosnya.

Menit berlalu, saya seperti orang hilang yang tidak bisa pulang meskipun saya nongkrong di atas sebuah Suzuki Satria FU-150. Hingga akhirnya seseorang dengan CBR merah menghampiri saya. Dan dia berkata, “Untung aja kamu masih di RSU Bina Sehat, kalau udah terus lagi aku juga nggak tahu le,” dengan logat medannya dan bahasa jawanya. Saya yakin seratus persen bahwa orang itu adalah teman saya, Liyu Mina Febri yang sudah lama tidak saya jumpai.

Karena saya yakin bahwa orang tersebut adalah teman saya, tentu saja saya mengikuti kata-katanya. Toh, kalau dia mau berbuat macam-macam kepada pemuda ganteng seperti saya, di dekat sini terdapat sebuah rumah yang mengkampanyekan keluarga berencana “dua anak lebih baik.” Bukan-bukan! Di dekat sini terdapat Batalion Zeni apa gitu, yang siap membela negara ini. Ah, sudahlah, paragraf ini lebih baik menghilang dari tulisan ini.

Setelah sejam leih berlalu, saya akhirnya dapat menikmati kembali kamar kos Liyu, dengan pintu WC yang sudah rusak. Ya, dua tahun yang lalu pintu WC kamar Liyu baik-baik saja, namun sekarang sudah rusak sehingga tidak bisa dibuka lebar-lebar. Kamar mandi tersebut seolah menolak kehadiran saya dengan tidak mengijinkan dirinya dibuka lebar-lebar mengingat ia hanya tertempel oleh lakban pada temboknya.

Untung saya tidak obesitas sehingga masih bisa masuk ke kamar mandi tersebut. Yah, akhirnya saya pun melepas rindu dengan teman lama saya, bercerita tentang masa SMA yang mungkin akan segera terlupa ketika usia senja nanti.

Setelah itu saya sempat berkunjung pula ke adik kelas saya yang saya pun tidak pernah berkenalan dengannya dan saya hanya tahu mukanya. Sebenarnya saya ingin berkunjung ke teman-teman yang pernah seangkatan dengan saya, namun apa daya mereka pulang kampung.

Memang aneh ketika kita berkunjung ke kamar orang yang belum kita kenal tapi kita harus sok kenal karena kita punya kesamaan yang sekalipun mungkin kita tidak menyukai persamaan tersebut, persamaan tersebut akan tetap menjadi persamaan. Ya, ini karena saya dan dia adalah alumni SMA yang sama dan kami minoritas di Bandung. Hal itu karena kebanyakan teman saya menghabiskan waktunya di sebuah kota bernama Jogjakarta, dan beberapa dari mereka akan menghabiskan hidupnya sedari lahir di Kota Pelajar tersebut. Untung saya tidak menghabiskan semua umur saya di sana, sehingga saya bisa merasakan dinginnya udara Bandung dan Malang.

Sejarah kembali terputus. Hari sudah malam dan saya ingin pulang. Teman saya memberitahukan jalan pulang dengan gamblang meskipun tanpa peta. Liyu memberikan detail rinci hingga jumlah lampu merah yang akan saya lewati.

Dengan keyakinan dan kenekatan, saya berangkat menuju Cisitu Lama. Karena saya merasa yakin tidak akan tersesat, saya menjadi nyaman untuk menggeber gas motor saya. Meskipun kecepatan di atas 80 km/jam cukup berbahaya, apalagi ditambah lampu penerangan jalan yang mati; lampu motor saya yang redup; serta kaca helm yang gelap, saya merasa asyik melaju dengan kecepatan segitu. Saya masih merasa motor saya lambat karena di trek lurus masih kalah dengan motor dengan volume mesin di atas 150 cc.

Beberapa kali nyawa saya terselamatkan. Apalagi di saat melewati sebuah perempatan yang mana ada motor yang melintas meskipun lampu menyala merah dari arah bersilangan dengan saya. Untung sekali saya masih diselamatkan Tuhan, padahal saya sedang berada di Top Gear.

Cukup cepat. 17 menit saya sudah berada di depan ITB dan secara spontan berusaha masuk ke dalam kampus. Diijinkan. Akhirnya motor saya berlabuh di depan sekre HME, agak berbeda dengan rencana saya untuk memarkirnya di rumah kos.

Sekian perjalanan hari tersebut. Pelajaran yang bisa saya petik adalah, saya telah tidak bertanya dan saya telah tersesat di jalan. Sekian. Sampai jumpa di cerita misteri berikutnya.

2 thoughts on “Tidak Bertanya dan Tersesat di Jalan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s