Pejalan dan Perjalanannya

Ini malam. Seperti biasanya malam membawa segenap kesedihan dan perenungan. Peratapan akan jalan yang sudah ditempuh dan penyesalan atas kesalahan-kesalahan pun terjadi. Pejalan masih berjalan di tengah malam. Pejalan mencoba memahami teka-teki hati atas pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban beserta hal-hal yang tak pernah terselesaikan.

Pejalan tersadar, betapa seringnya ia melupakan petuah yang diberikan oleh malaikatnya. Pejalan hampa. Dirinya tak mampu memaknai kata demi kata yang diucapkan ibundanya. Ia hanya bisa berkata “iya”, “iya”, dan “iya. Pejalan sudah memiliki peta, namun hingga kini ia masih tersesat karena tak mau atau tak serius menggunakan petanya.

Pejalan dan perjalannya yang masih jauh dari ujung. Kompas hatinya terombang-ambing karena hal-hal yang sebenarnya tidak penting untuk dapat membuatnya terombang-ambing. Sementara jam pasir yang ada masih terbalik. Memberikan isyarat bahwa sisa waktu terus berkurang tanpa dapat bertambah. Namun pejalan masih di sini. Belum beranjak dari sifat-sifat buruk yang menempel pada dirinya. Pejalan masih di sini, terperangkap dalam angan, penyesalan, dan keluhan.

Redupnya lilin tak berarti redupnya semangat. Paradigma menjadi dasar awal untuk menggerakkan roda-roda hidup. Begitulah teorinya. Namun praktek sangat jauh dari teori. Hal ini terjadi karena teori diciptakan dalam sudut pandang aman. Sudut pandang yang terlepas dari variabel-variabel yang sangat sulit dikendalikan. Mungkin ini sebabnya perjalanan ini disebut peperangan terbesar. Musuh tak ada di depan mata. Musuh ada dalam diri sendiri.

Salah satu musuh itu adalah rasa cinta. Kecintaan kepada hal-hal lain selain tujuan adalah penghalang dalam perjalanan ini. Entah apakah rasa itu merupakan penolong atau penghalang, di ujung jalan baru kita temu jawabnya.

Bertemu pejalan lain terkadang mengasyikkan. Berbagi cerita dan pengalaman menjadi hal yang mengasyikkan. Berbagi pengetahuan demi melanjutkan perjalanan. Dan terkadang ada pejalan lain yang sepertinya menarik. Menarik bagi pejalan untuk berjalan bersamanya. Dan ketika pejalan lain itu enggan berjalan bersama, pejalan tak tahu harus berbuat apa.

Mungkin lebih baik pejalan beristirahat sejenak. Membenahi kompas hatinya, menata kembali perbekalannya, serta mempraktekkan kiat-kiat yang telah diperolehnya. Selagi pasir yang ada di bagian atas belum turun seluruhnya ke bagian bawah. Selagi Sang Cinta masih memberikan kasihnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s