Harapan

curhat? Hmm, tidak apa. Toh suatu saat nanti mungkin saya akan menertawakan tulisan ini, sama halnya dengan saya menertawakan tulisan saya dan berkata, “Huh, sungguh tidak dewasa”. Ya ya, ya bagi yang tidak mau mendengar curhat saya silahkan saja, saya hanya ingin berbagi cerita saja. Berbagi dengan saya di masa depan nanti, dan berbagi bagi orang-orang yang bisa mencari pelajaran dari hal terburuk sekalipun. Selamat menikmati!

Enam bulan adalah waktu yang lama. Cukup lama untuk membuat diri anda jadi ‘berengsek’. Cukup lama untuk membuat diri anda bermuka seribu. Waktu yang sangat cukup untuk membuat anda nampak sangat kuat dan kokoh di luar, dan semakin rapuh di dalam. Namun, enam bulan waktu yang singkat. Enam bulan tidak akan cukup bagi anda untuk mencari kembali sesuatu yang hilang dari diri anda, yang mungkin pernah anda berikan kepada sesuatu, kepada orang lain, atau kepada semesta. Enam bulan adalah waktu yang dapat membuat anda berdiri di tempat yang sama, dengan sudut pandang berbeda, dengan optimisme yang beda.

Jika kemarin saya berada di jurang yang terdalam, kini saya sedang terombang-ambing. Berjalan dengan langkah gontai, pikiran yang bercabang, dan perasaan yang datar. Ketika anda merasa bahwa anda sudah lupa akan sesuatu, sudah ikhlas, namun anda masih terobsesi karenanya.

Menyedihkan, orang yang gagal meraih mimpinya, cintanya. Anda telah berkorban sangat banyak, anda telah memberikan banyak. Waktu dan pikiran, dua sumber daya yang sangat penting bagi anda. Dan anda tidak akan mendapat apa-apa. Anda tidak akan mendapat penghargaan atas apa yang anda berikan. Yup, melatih hati untuk ikhlas bukanlah hal yang mudah. Karena pada dasarnya kita percaya hukum fisika yang menyatakan bahwa energi tidak dapat dimusnahkan, kita menjadi percaya bahwa kita akan mendapatkan balasan atas apa yang kita berikan. Namun kita sering lupa bahwa energi dapat berubah bentuk! Ya, apa yang akan kita dapatkan nanti mungkin tidak seperti apa yang kita bayangkan saat kita memberi.

Manusia selalu berencana dan Tuhan yang akan menentukan, persis seperti khotbah jumat yang tadi saya dengarkan. Ketika melihat orang-orang yang akan merayakan terlepasnya status mereka sebagai mahasiswa, ketika melihat keluarga mereka, ketika melihat apa yang telah mereka raih, ketika melihat apa yang bisa mereka perbuat, sisi kemanusiaan saya muncul. Perasaan ingin dihargai, ingin menjadi orang yang tidak biasa-biasa. Lulus nanti adalah titik di mana saya bisa membuktikan bahwa saya telah bisa menerima amanah. Kepercayaan dari orang tua sebagai anak pertama yang paham akan permasalahan keluarga, yang bisa memberi contoh dan mengayomi adik-adiknya, tidak boleh saya sia-siakan.

Setiap ada wisuda saya selalu membayangkan, saya ingin diwisuda sebagai seseorang yang seperti apa? Huff, sebuah pertanyaan yang jawabannya selalu bervariasi setiap saya datang ke wisudaan. Karena hidup saya dinamis, karena saya orang yang ditakdirkan untuk belajar dari banyak kegagalan, saya punya mimpi dan harapan baru setiap harinya. Di wisudaan kali ini saya melihat seseorang yang saya tahu pernah melepaskan mimpinya, dan tanpa saya sadari orang tersebut pernah (entah bercanda atau serius) meneruskan mimpinya kepada saya:

“Eh lo. Lo masih muda kan? udah lo lulus telat aja , jadi presiden KM.”

Belum lagi orang-orang yang pernah menaruh harapan pada saya untuk jadi ketua himpunan, ketua unit. Dan saya mungkin mengecewakan, sangat mengecewakan. Mungkin saya telah gagal meneruskan mimpi kalian abang-abang, namun yang jelas ada satu harapan yang harus saya jawab dalam waktu dekat karena saat ini saya yang punya kesempatan untuk itu:

“Gw nggak akan S2 sebelum ini kelar.”

Coba anda hitung, ada berapa harapan yang ada di pundak kalian? Harapan ini datangnya baru dari orang-orang terdekat kita, orang-orang yang mengenal kita. Percayalah, meskipun akan sangat berat mempercayai hal ini, berjuta rakyat Indonesia yang mungkin tidak anda kenal sangat berharap pada anda, siapapun anda, di mana anda berada, apapun yang sedang anda lakukan, mereka punya harapan yang digantungkan kepada anda.

“Ayo fik, tunjukin integritas lo. Bali.”

“Menanginlah! masa kalah lagi? Lo kan udah ada tim yang juara ***”

“Lo maju MWA ya taun depan!”

“Oiya fik, satu pesen dari orang-orang, lo harus bisa menjalin hubungan interpersonal dengan pimpro-pimpro.”

“Eh lo mau nggak jadi presiden KM?”

“Ayo fik, selesein ini dulu dong”

Ya, bagaimana rasanya bila di pundak anda ada ribuan harapan? Ada harapan dari orang-orang yang tidak anda kenal. Padahal menjawab harapan dari orang yang melahirkan anda ke dunia saja sudah sangat berat, dan tentunya anda tidak ingin mengecewakan beliau.

“Terserah mau lulus kapan, yang penting kenali dirimu, kenali cara berTuhanmu”

Sangat berat, kesabaran beliau dan apa yang beliau lalui jauh lebih bermakna dibandingkan apa yang saya alami saat ini. Dan beliau masih tetap tegar menghadapi semua ini. Sedangkan saya di sini masih ribut masalah kelabilan remaja, ip, kemahasiswaan. Hmm, Tuhan terkadang saya ingin mati cepat agar saya bisa bertemu dengan-Mu. Saya ingin segera bertemu dengan Sang Pencipta, agar saya bisa mencintai Yang pantas dicintai. Agar segala kecintaan palsu saya hilang. Namun, ditengah kerinduan yang mendesak ini, saya takut belum dapat bertemu dengan-Mu jika mati sekarang. Bekal saya belum cukup, saya belum memberikan apa yang saya punya kepada semesta alam. Mungkin bekal yang saya bawa saat ini masih positif, dan saya harus membuatnya jadi nol sebelum ajal menjelang.

Wisuda telah membuat saya berpikir lebih luas, berkontemplasi lebih dalam, bermonolog lebih intens. Apapun itu saya ingin wisuda saya nanti bersama orang yang telah hidup bersama saya selama sembilan tahun. Tak peduli bagaimana situasinya saya ingin mereka yang mendampingi saya, meskipun mungkin kondisinya tidak seperti dahulu. =)

Rasanya ketika wisuda nanti saya akan menangis tersedu-sedu karena akhirnya satu fase perjuangan telah usai. Ya, atas segala kondisi yang tidak ideal dan lemah ini. Hari ini belum saatnya saya bereuforia dan mengumbar segala keterbatasan saya. Hari ini hari perjuangan. Mentari akan terus menyala di dalam hati. Bukan lagi untuk bermimpi, tapi untuk implementasi. Dan kelak akan tiba masanya saya bercerita tentang cara melawan keterbatasan. Dan saat itu, saya berharap saya telah berTuhan dengan lurus.

Amin.

Sesungguhnya hanya Engkaulah tujuanku dan Ridho-Mu yang aku cari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s