Lukisan Pagi

Aku masih terpaku pada kanvas yang sudah tidak putih ini. Coretan merah telah kutoreh begitu banyak. Ini sudah kanvas keenam, dan aku belum bisa melukis seindah apa yang ada di bayanganku. Warna yang ada di bayanganku tak sama dengan merah yang ada di lukisanku.

Aku masih ingin melanjutkan ke kanvas yang ketujuh untuk melukiskan imaji yang terlintas. Namun kali ini aku harus serius, sebab kanvas yang tersisa tinggal empat. Sebaiknya aku berhenti setelah kanvas ketiga, karena nampaknya kanvas keempat akan membuatku tidak enak hati.

Mengubah bayangan menjadi sesuatu yang nampak jelas oleh kedua bola mata memang bukan pekerjaan mudah. Huff, nampaknya aku butuh istirahat sejenak.

Aku keluar dari ruang imajinasiku. Menyaksikan silaunya mentari menembus renda-renda yang ada di jendela rumahku. Tak kusangka, rumah ini begitu kotor. Aku terlalu asyik melukis, sampai-sampai rumahku tak ada yang merawat. Aku terlalu lama berada di ruang lukisku, sampai-sampai rumahku telah menjadi rumah laba-laba. Langit-langit, lantai, dan dinding, semuanya terdapat sarang laba-laba. Di sudut-sudut terdapat bungkus rokok dan makanan. Aku pun berjalan menuju pintu. Rasanya aku ingin lari dari semua ini. Dari suasana yang begitu kotor dan suram. Dari imajinasi yang tak kunjung bisa ku lukis.

Daun pintu telah ku genggam. Ku putar besi itu sembari mendengar bunyi yang membuat telingaku sakit. Aku tendang pintu itu karena memang engselnya sudah berkarat sehingga tak akan bisa didorong.

Pintu itu terbuka. Perlahan udara sejuk mulai memasuki hidungku. Betapa nikmatnya ketika aku menghirup udara itu. Beruntung udara itu gratis, sehingga aku bisa menghirupnya hingga memasuki paru-paruku. Segar dan nikmat rasanya. Kesegarannya membunuh rasa kesal yang ada di dadaku. Mataku masih terpejam. Aku belum siap melihat apa yang akan aku lihat beberapa saat lagi. Namun, perlahan mataku tak sanggup lagi menahan godaan dari berkas-berkas sinar matahari yang masuk ke dalamnya. Aku membuka mata pelan-pelan. Silaunya begitu menggoda.

Aku telah membuka mataku lebar-lebar, namun aku masih ingin membukanya lebih lebar. Ini seperti mimpi. Ketika aku berhenti mengutuk lukisanku, aku justru mendapatkan lukisan itu. Inilah yang ingin ku lukis sejak kanvas nomor satu, Lukisan Pagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s