Ketika Masalah Harus Dihadapi

“Ketika masalah harus dihadapi,

Ketika hidup menuntut kita untuk lebih berani,

Dan ketika hidup mengharuskan kita untuk berserah diri,

Di situlah pendewasaan ruhani terjadi.”

Waw. Sudah sangat lama saya tidak mengisi blog ini dengan tulisan-tulisan saya mengenai perjalanan hidup, pemikiran, dan serba-serbi hidup. Semoga saja kemampuan saya untuk mengungkapkan pesan melalui tulisan tidak tumpul.

Ya! Hidup memang penuh rutinitas yang harus saya jalani. Menulis adalah yang harus saya lakukan agar rutinitas yang saya kerjakan tidak digerus zaman. Tulisan adalah tempat saya mengabadikan segala bentuk pembelajaran yang telah saya raih di dunia ini. Menulis butuh waktu, mengerjakan rutinitas butuh waktu. Untuk dapat menulis sebuah petualangan yang hebat, kita memerlukan dua hal, yakni petualangan yang hebat itu sendiri, dan penulisan yang hebat tentang petualangan tersebut. Ketika waktu yang dimiliki terbatas, tentunya setiap orang memiliki prioritas. Saya mungkin lebih memilih menjalani petualangan yang hebat dulu, baru menuliskannya di waktu yang saya agak luang. Entahlah, mungkin hal ini juga yang menyebabkan saya terkadang mengulang kesalahan yang pernah saya lakukan di petualangan sebelumnya.

Ya! Inilah hidup! Berbagai permasalahan terjadi, mulai dari skala kecil hingga besar, dari tidak penting sampai yang esensial. Percaya atau tidak, sumber masalaha manusia sebenarnya hanya satu: keinginan. Dari keinginan lah semua bermula. Mulai dari keinginan level rendah sampai keinginan level tinggi. Hmm, sebentar-sebentar. Sepertinya saya salah menggunakan kata-kata. Tidak-tidak. Benar, saya telah menggunakan kata yang benar. Tadinya saya ingin mengganti kata “keinginan” dengan “kebutuhan”, namun sepertinya “keinginan” lebih tepat. Pada dasarnya kebutuhan dan keinginan sama saja. Ketika kita membutuhkan makan, itu berarti kita ingin mempertahankan kehidupan kita. Coba, misalnya kita tidak punya keinginan untuk melanjutkan hidup, mungkin kita tidak pernah merasa membutuhkan makanan. Betul tidak? Ada yang tidak sependapat dengan saya?

Singkatnya, keinginan lah yang telah men-drive kehidupan kita sehingga akhirnya kita memiliki banyak masalah. Pertengkaran dengan teman akibat kita merasa tidak diapresiasi. Rasa sedih karena keluarga kita mungkin tidak seharmonis keluarga lainnya. Kekesalan pada diri sendiri karena tidak mampu meraih prestasi yang maksimal. Rasa iri dan dengki karena orang lain lebih dihormati dari orang lain. Ketika waktu yang kita miliki hanya 24 jam dan kita memiliki banyak tanggung jawab, yang telah kita pilih untuk mengembannya. Itulah contoh masalah yang mungkin kita peroleh di perjalanan kehidupan ini.

Kehidupan ini keras kawan! Dunia ini bukan surga seperti yang pernah diceritakan orang semasa kecil. Di dunia ini masih ada yang namanya penderitaan. Manusia memiliki rasa sedih, rasa kesal, dan berbagai perasaan tidak enak lainnya. Apa yang tidak diinginkan terjadi. Apa yang diinginkan tidak terjadi. Itulah ketetapan yang ada.

Hmm. Sebenarnya siapa yang menetapkan ini semua? Apakah benar Tuhan  “seorang diri” yang menetapkan hal ini? Ataukah sebelum kita diterjunkan ke dunia ini (entah waktu itu kita berada di mana) kita juga turut menetapkan hal ini? Ketika permasalahan yang kita hadapi disebut sebagai ujian hidup, tentunya kita sudah pernah belajar tentang hidup. Sama halnya ketika kita mengerjakan ujian sejarah di sekolah, tentunya kita telah lebih dulu mempelajari tentang sejarah. Apakah mungkin sebelum ujian bernama kehidupan ini diberikan kepada kita, kita sudah mengerti semua jawaban ujian ini? Ya, mungkin kita sedikit lupa akan bahan-bahan ujiannya.🙂

Entah mengapa saya percaya bahwa ada suatu dzat bernama Tuhan. Awalnya simpel, saya terus-terusan merenung, dan akhirnya serangkaian pemikiran saya memang menjadi komplit dengan adanya konsep Tuhan.  Adanya Ketuhanan telah melengkapi kemanusiaan. Bukan, bukan, lebih tepatnya kemakhlukan. Dan setelah itu, bukti keberadaan Tuhan membuat saya semakin percaya. Saya tenang bila mengingat Tuhan.

Kerasnya kehidupan. Liarnya nafsu dalam jiwa. Permasalahan yang harus saya hadapi. Semuanya menjadi tak berarti ketika saya mengingat Tuhan. Saya yakin hidup ini untuk mencari ridho Tuhan. Buat apa saya bersusah payah mengejar derajat yang tinggi di mata manusia, jika akhirnya Tuhan menolak seluruh pertanggungjawaban saya atas penciptaan. Segala masalah ini, harus terus kita hadapi dengan gagah berani. Tuhan ingin melihat seberapa jauh kita bisa berlari melawan semua rintangan ini. Dan saya yakin, Tuhan telah memiliki ketetapan, dan Tuhan Maha Kuasa menentukan segalanya. Jadi, buat apa saya berpusing-pusing dengan hidup yang cukup saya jalani ini? Toh mau saya pusing, mau saya sakit hati, hidup ya tetap seperti ini. Masalah pasti ada, dan kesempurnaan tidak terjadi. So, lebih baik kita jalani hidup ini dengan gagah berani dan senang hati. Let’s give our best shot!

One thought on “Ketika Masalah Harus Dihadapi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s