Cinta Abadi

Malam ini, saya kembali terduduk di hadapan sebuah layar. Layar inilah yang telah menjadi cermin perbuatan. Layar ini menampilkan memori yang membuat saya mengenang sejenak berbagai macam ujian yang pernah diberikan kepada saya. Sebagian ujian berhasil saya lampaui dengan susah payah, sebagian lagi gagal saya lalui dan mengakibatkan jatuhnya dosa kepada timbangan hidup saya. Tentu saja ini bukanlah suatu kebanggaan. Menumpuk dosa sangatlah memalukan.

Hidup saya penuh dengan kegagalan. Apakah hidup saya yang penuh kegagalan ini pertanda Tuhan tidak adil? Tidak jarang, kegagalan itu karena usaha saya yang tidak sebanding dengan besarnya mimpi yang saya gantungkan. Tetapi, ada kalanya, kegagalan tersebut lahir dari kerja keras yang tak pernah terbayangkan. Dan, sekali lagi apakah Tuhan tidak adil? Mungkin iya, jika kita memandangnya dari kaca mata manusia. Mungkin saja kita berpikir Tuhan tidak adil karena memberikan jenis kehidupan dan ujian yang berbeda-beda kepada setiap manusia.

Menghitung kegagalan memang mudah. Sangat mudah. Bukan hal yang sulit bagi saya untuk mengenang, kejadian mana saja yang membuat saya sakit. Tidak sulit untuk mengingat-ingat, ujian mana yang telah menjatuhkan saya ke dalam jurang keputus-asaan. Masih segar di ingatan saya, sebuah kenangan pahit ketika saya gagal masuk ke SMP negeri favorit di Jogjakarta. Masih segar di ingatan saya, sebuah kenangan pahit ketika saya gagal masuk ke SMA negeri favorit di Jogjakarta. Masih sangat segar di ingatan saya, sebuah kenangan pahit ketika saya tidak diterima oleh ITB. Dan masih begitu segar masa-masa sulit di mana saya belum dapat menerima kenyataan bahwa saya adalah mahasiswa dengan IPK di bawah 3.00, pernah mengulang kuliah, gagal menjadi Danlap PROKM, gagal menjadi Kahim, bahkan ditolak oleh wanita. Kejadian menyakitkan itu sangat gampang terlintas di kepala dan dengan sekejap berpotensi untuk membuat kita mempertanyakan kembali keadilan Tuhan.

Dan ketika kita mempertanyakan kembali keadilan Tuhan, sekali lagi kita harus mempertimbangkan matang-matang seberapa kepercayaan kita akan kehadiran Tuhan. Kebetulan saya adalah orang yang percaya bahwa Tuhan itu ada. Saya percaya bahwa Tuhan pernah bertanya kepada makhluknya, nikmat Tuhan mana lagi yang didustakan oleh makhluknya. Nikmat Tuhan mana lagi yang saya dustakan? Manusia mungkin mendapatkan banyak kegagalan. Manusia merasa tidak memperoleh apa yang dimintanya. Saya mungkin gagal diterima di sekolah negeri, tetapi Tuhan memberikan jalan yang lain buat saya, kelas akselerasi di sekolah swasta. Saya mungkin gagal masuk ITB di tiga fakultas yang saya pilih saat USM, tetapi Tuhan telah memberikan saya kekuatan untuk lulus di pilihan pertama saat SPMB. Saya mungkin bukan orang yang brilian secara akademik, bahkan pernah mengulang kuliah, tetapi saya adalah seorang co-trainer motivasi sukses di kampus untuk mahasiswa baru. Itu baru kembalian yang diberikan Tuhan atas kegagalan yang seolah-olah saya ‘bayar’, belum saya hitung nikmat yang saya peroleh cuma-cuma tanpa diminta.

Sampai detik ini saya percaya sebuah pepatah yang mengatakan bahwa ketika satu pintu tertutup, maka pintu lain terbuka. Saya percaya, keadilan Tuhan tidak seperti keadilan manusia. Tuhan dengan keadilan-Nya telah memberikan beragam jalan bagi makhluk-Nya. Setiap makhluk akan diberikan jalannya masing-masing. Makhluk-makhluk itu pada akhirnya ada yang dapat kembali kepada Tuhan dengan tenang di surga-Nya. Namun, ada pula yang pada akhirnya harus disiksa di neraka. Tuhan telah menetapkan demikian.

Mengapa harus ada makhluk yang masuk neraka? Tuhan bisa membuat semua makhluk-Nya mendapatkan apa yang diinginkannya, mengapa harus Tuhan berikan kegagalan buat mereka? Berbagai jawaban mungkin ada di kepala Anda, namun yang jelas bagi saya itu adalah hak prerogatif Sang Pencipta. Mau Anda berkutat segigih apa dengan pikiran Anda, Tuhan adalah Sang Maha. Dia sangat berkuasa dan kita tidak berarti di hadapan-Nya. Keadilan adalah milik Tuhan. Sayang dan Kasih pun milik-Nya. Kita ini apa sih? Kita bukan apa-apa, kita hanyalah ciptaan Tuhan. Buat apa kita sok-sokan mau menjadi Tuhan dengan menentukan definisi keadilan dan kebenaran?

Hidup menjadi sangat sulit ketika kita selalu mempertanyakan mengapa kepada Tuhan. Hidup menjadi begitu kejam ketika kita senantiasa mengingat rasa sakit hati. Kebahagiaan tidak akan bisa kita raih selama kita berburuk sangka atas segala ketetapan yang diberikan Tuhan. Dan Anda masih mau hidup seperti ini? Apakah saya masih mau hidup dalam penderitaan?

Semua orang pada akhirnya mencari kebahagiaan dalam hidupnya. Kedamaian hati, dan akal yang diberi petunjuk adalah impian setiap orang. Apalagi disucikan atas ketidakikhlasan jiwa, hal ini tentu menjadi keinginan seseorang di relung jiwanya. Lalu bagaimana untuk meraih itu semua?

Mari kita sedikit berhipotesis di sini. Hipotesisnya adalah manusia tidak berarti apa-apa dibandingkan Tuhan Yang Maha Kuasa. Kita adalah nol sedangkan Tuhan tidak bisa dihingga. Kita tidak pantas untuk mengkritik Tuhan, maka dari itu jangan pertanyakan ketetapan Tuhan. Percayalah bahwa Tuhan berikan jalan lain jika kau merasa jalanmu telah ditutup.

Lihat dan hitung berapa kali Tuhan telah menyelamatkan hidupmu. Lihat lebih dalam lagi betapa Tuhan mencintaimu dengan membiarkan dirimu hidup hingga detik ini. Lihat bagaimana hidupmu bisa menjadi seperti sekarang, tentu telah banyak yang kau lalui.

Jika kau sedang senang, lihat bagaimana kegagalanmu di masa lalu mengantarkanmu pada masa sekarang. Jika kau sedang bersedih, ingatlah, pernahkah kau memohon kepada Tuhan untuk diberikan kekuatan? Pernahkah kau berdoa untuk bisa menjadi kekasih Tuhan? Untuk mendapatkan pacar saja saya harus berjuang mati-matian, senantiasa mengintrospeksi diri untuk jadi lebih baik. Apalagi untuk menjadi kekasih Tuhan yang tidak bisa dihingga?

Tuhan tidak bisa dihingga. Kita tidak akan pernah bisa bertemu Tuhan, tanpa ada pertolongan dari-Nya. Saya percaya bahwa Tuhan sangatlah welas asih, sehingga yang perlu saya lakukan adalah berusaha memperbaiki diri agar pantas menerima pertolongan-Nya. Namun sekali lagi, bukan saya yang berhak menilai diri saya pantas atau tidak.

Maka, saya tugas saya hanyalah berusaha menjadi lebih baik tanpa henti. Maka, tugas saya hanyalah bersyukur, bukan mengeluh, agar saya bisa terus menjalani usaha saya untuk menjadi lebih baik dengan hati yang gembira. Maka, tugas saya hanyalah pasrah pada ke-Mahaan-Nya. Tuhan menciptakan saya karena Cinta-Nya yang abadi, ia berikan berbagai ujian yang berat untuk menyucikan diri saya.

Pada akhirnya, kehambaan saya diuji ketika saya harus menjalani seluruh ketetapan yang ditetapkan-Nya. Pada akhirnya, saya harus menyerah karena saya bukan apa-apa di hadapan-Nya.

Tuhan, betapa aku kagum akan Cinta-Mu yang abadi.

Tuhan, sesungguhnya Engkau adalah tujuanku, dan ridho-Mu adalah yang kucari.

Bandung, 10 Oktober 2010 3:16

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s