Pendidikan untuk Mencetak Generasi Pemimpin Solutif

Adalah suatu proses yang wajar di mana dalam suatu tatanan masyarakat terdapat berbagai masalah yang membuat kehidupan bermasyarakat menjadi tidak ideal. Kondisi tidak ideal tersebut menyebabkan anggota dari masyarakat mengalami kesulitan dalam mencapai kebutuhan. Ada berbagai faktor yang menyebabkan manusia sulit mencapai kebutuhannya tersebut, salah satu faktornya adalah ketidakselarasan dengan alam.

Sejak jaman dahulu, manusia selalu berusaha menyelaraskan diri dengan alam. Di saat manusia memiliki kebutuhan rasa aman, namun hujan deras dan badai menghadang, manusia berusaha beradaptasi dengan mencari gua sebagai tempat berteduh. Hal ini merupakan sebuah gambaran nyata bagaimana manusia menyelaraskan diri dengan alam. Kondisi ini berlangsung dengan sangat alami. Adanya kebutuhan manusia menyebabkan manusia belajar untuk bersahabat dengan alam. Benturan antara kebutuhan manusia dengan kondisi alam menyebabkan manusia berpikir. Pemikiran tersebut menghasilkan gagasan-gagasan yang menyebabkan peradaban manusia berkembang.

Melalui ide-ide yang dihasilkan, terciptalah perkembangan peradaban. Dahulu kala manusia berusaha memenuhi kebutuhan makanannya dengan berburu. Senjata yan digunakan awalnya sangat sederhana dan belum bisa menjamin manusia mendapatkan daging hewan yang diburu. Lalu, manusia pun berpikir hingga akhirnya menghasilkan ide-ide untuk membuat senjata yang lebih canggih untuk bisa membunuh hewan buruan. Seiring dengan perkembangan alam, manusia mulai menemukan alternatif lain untuk memenuhi kebutuhan pangan tersebut. Gagasan-gagasan yang dimiliki mulai berkembang sesuai dengan kondisi alam saat itu. Manusia akhirnya berhasil memulai sebuah zaman di mana mereka memenuhi sebagian besar kebutuhan pangan dengan bercocok tanam. Sampai saat ini gagasan tersebut masih abadi sehingga makanan pokok Bangsa Indonesia adalah nasi, hasil dari bercocok tanam.

Di masa kini, di mana peradaban sudah sangat maju dibandingkan zaman awal kehidupan manusia, kebutuhan manusia telah berkembang menjadi sangat beragam. Hal ini mengakibatkan gagasan-gagasan yang ada begitu banyak sehingga akhirnya berkumpul menjadi sebuah ilmu pengetahuan. Singkatnya, ilmu pengetahuan terlahir dari upaya manusia menyelesaikan kebutuhannya dengan menyelaraskan diri dengan alam.

Tentu saja keberadaan dan perkembangan ilmu pengetahuan menjadi dasar bagi manusia untuk bisa memecahkan permasalahan-permasalahan yang ada dalam kehidupan bermasyarakat. Berkembangnya teknologi tentu saja disebabkan oleh munculnya kebutuhan untuk sedikit merekayasa apa kondisi alam. Salah satu contohnya adalah mesin penetas telur yang berusaha menetaskan telur tanpa perlu campur tangan induk untuk mengeraminya. Dan tentu saja, dari alternatif pemecahan kebutuhan tersebut terdapat masalah-masalah baru.

Dalam proses-proses seperti yang diuraikan di paragraf sebelumnya, pemimpin memiliki peranan yang sangat penting. Pemimpin seharusnya menjadi orang yang paling peka terhadap problem yang ada di masyarakat. Dan pemimpin seharusnya menjadi orang yang menjadi sumber gagasan di masyarakat dalam melakukan pemecahan masalah-masalah yang ada.

Pertanyaan yang muncul sekarang adalah, sudahkah Indonesia memiliki pemimpin dengan kriteria seperti disebutkan sebelumnya? Indonesia merupakan sebuah negara yang besar. Tidak ada seorang pun yang berani mengatakan bahwa Indonesia tidak dianugerahi sumber daya yang melimpah. Sebuah ironi terjadi ketika banyaknya manusia yang menduduki negara ini tidak mampu mengelola sumber daya alam yang melimpah. Sangat menyedihkan ketika jutaan rakyat Indonesia masih hidup di bawah garis kemiskinan. Dan sangat memperihatinkan ketika pihak regulator tidak mampu memperbaiki kualitas hidup masyarakat. Berapa banyak kecelakaan transportasi yang terjadi di negara ini dalam setahun? Apakah semua jalanan yang membahayakan sudah ditangani? Apakah semua sumber daya yang menyangkut hajat hidup orang banyak sudah dikelola dengan baik? Indonesia memiliki masalah klasik yang sangat banyak dan tidak terselesaikan selama bertahun-tahun. Hal ini menandakan bahwa negeri ini kekurangan pemimpin yang solutif.

Pemimpin bukan hanya orang yang memegang jabatan. Setiap orang di negeri ini seharusnya mampu menjadi pemimpin yang bisa turut menyumbangkan solusinya atas masalah yang melanda negeri ini. Seharusnya ada sebuah sistem yang bisa mengembangkan manusia-manusia Indonesia menjadi manusia unggul yang memiliki jiwa pemimpin. Pendidikan seharusnya menjadi sistem tersebut. Pendidikan seharusnya mampu menghasilkan output berupa manusia-manusia unggul yang mengerti jati dirinya. Salah satu definisi menyebutkan bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Manusia dikatakan menjadi manusia sejati apabila ia mengerti misi hidupnya dan tahu cara melaksanakan misi tersebut. Dan setiap manusia di Indonesia seharusnya berhak memperoleh pendidikan. Sehingga, adanya pendidikan seharusnya mampu mentransformasi manusia Indonesia menjadi pemimpin-pemimpin yang solutif.

Sekarang kita harus melihat kenyataan yang ada di bangsa ini. Sudahkah pemuda-pemuda di negeri ini memiliki jiwa pemimpin yang solutif ? Apakah proses pendidikan yang mereka jalani telah memberikan iklim yang bagus bagi mereka untuk menemukan jati dirinya? Jika dibandingkan dengan apa yang telah dilakukan dengan pemuda-pemuda di jaman penjajahan, kondisi sekarang jauh berbeda. Kaum terpelajar di jaman dahulu telah berhasil mengantarkan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan. Sedangkan di masa kini, di saat Indonesia sudah merdeka, kaum terpelajar belum mampu mengantarkan bangsa Indonesia menuju kemandirian. Ilmu-ilmu yang diperoleh sarjana-sarjana masa kini belum mampu menyelesaikan permasalahan masyarakat. Begitu banyak hasil penelitian dan tugas akhir mahasiswa yang menumpuk dan berdebu di perpustakaan. Hal ini diperparah dengan paradigma berpikir yang umum dijumpai saat ini yakni, pendidikan adalah untuk membuat kehidupan pribadi menjadi lebih sejahtera. Ijazah digunakan untuk memenuhi kekayaan pribadi, bukan untuk kepentingan banyak orang. Semangat untuk berbuat baik kepada sesama mungkin telah berkurang karena rasa takut bahwa dirinya tidak mampu memenuhi kebutuhan pribadi di tengah persaingan kerja yang ketat. Ilmu yang seharusnya digunakan untuk memecahkan permasalahan yang muncul di masyarakat dan untuk membangun peradaban, ternyata hanya digunakan untuk kesejahteraan diri sendiri. Tentu saja, ini semua terjadi karena pendidikan telah disalahartikan dan proses yang ada tidak mampu melatih manusianya untuk menjadi pemimpin yang solutif.

Untuk dapat menjalankan fungsinya dengan baik, makna pendidikan yang sebenarnya harus digali lebih dalam. Paradigma yang harus diubah adalah institusi pendidikan merupakan pabrik sumber daya manusia untuk industri. Institusi pendidikan adalah sebuah institusi yang menjalankan proses pendidikan untuk mencetak pemimpin-pemimpin solutif. Dan, pendidikan bertujuan untuk mengembalikan manusia kepada kemanusiaannya. Selain itu, perlu diingat bahwa tujuan besar dari diberlakukannya pendidikan kepada orang banyak adalah untuk membangun peradaban, untuk membentuk manusia-manusia yang beradab.

Perubahan paradigma pendidikan seperti yang disebutkan di atas, menimbulkan beberapa konsekuensi. Karena bukan pabrik manusia bagi industri, institusi pendidikan tidak boleh mencetak manusia yang setengah-setengah. Pendidikan yang ada seharusnya tidak hanya membangun hard skill dari peserta didiknya. Artinya, di institusi pendidikan tidak hanya diajarkan tentang pengetahuan dan keahlian, namun juga perilaku dan semangat hidup. Institusi pendidikan tidak boleh mencetak robot-robot yang memiliki kecerdasan dan kemampuan yang hebat namun tidak memiliki hati. Life skill, soft skill, dan hard skill harus diturunkan pada proses pendidikan, tidak boleh ada yang dilupakan.

Selain itu, perubahan paradigma di atas juga menuntut sebuah perubahan, yakni peserta didik bukanlah objek pendidikan, melainkan subjek. Dengan demikian, pendidikan life skill, soft skill, dan hard skill merupakan tanggung jawab bersama antara penyelenggara pendidikan dan peserta pendidikan. Di lapangan sering terjadi miskomunikasi antara kedua pihak sehingga terkadang timbul saling menyalahkan. Di satu sisi penyelenggara pendidikan menyalahkan peserta didik yang tidak mematuhi sistem yang di buat, sedangkan di sisi lain peserta didik menyalahkan penyelenggara pendidikan yang tidak pernah mengkompromikan sistem yang dibuat. Tentu saja hal ini menyebabkan berkurangnya efisiensi pendidikan dalam mencapai tujuannya. Diperlukan komunikasi yang baik antara kedua pihak sehingga proses pendidikan dapat berjalan sesuai dengan tujuan mulianya tanpa ada penyimpangan.

Permasalahan yang muncul selanjutnya adalah metode pendidikan. Ada seorang pepatah mengatakan bahwa seorang manusia menjadi bisa karena terbiasa. Tentu saja jika terbiasa memecahkan masalah sedari menjalani proses pendidikan, diharapkan sarjana-sarjana bisa memecahkan berbagai masalah di lingkungannya. Institusi pendidikan seharusnya dipandang sebagai sebuah laboratorium raksasa bagi mahasiswa untuk melatih diri dalam melihat dan memecahkan masalah nyata yang ada di masyarakat. Ya, tidak hanya proses pengajaran di kelas, pendidikan seharusnya disertai sebuah sistem yang menuntut manusia-manusianya untuk berkembang menemukan esensi keberadaan diri. Institusi pendidikan harus menyediakan fasilitas agar ilmu yang diperoleh di perkuliahan tidak membusuk di perpustakaan, tetapi bisa benar-benar diaplikasikan di kehidupan sehari-hari.

Sebuah proses yang seharusnya telah dipahami dengan baik oleh mahasiswa adalah proses di kehidupan bermasyarakat seperti yang telah diuraikan di paragraf awal. Pendidikan harus mampu membuka mata mahasiswa bahwa masalah di depan mereka masih sangat banyak. Pendidikan juga harus memberikan dorongan bagi mahasiswa untuk mau menuntut ilmu demi memahami seluk beluk persoalan yang ada. Tentu saja setelah itu mahasiswa harus paham bahwa ilmu mereka harus diaplikasikan secara nyata untuk memecahkan persoalan tersebut. Dan pada akhirnya, berbagai macam ilmu harus dikolaborasikan agar bisa menghasilkan alternatif solusi terbaik di masyarakat.

Dengan perubahan pada proses pendidikan seperti di atas, diharapkan sarjana-sarjana Indonesia telah memiliki sense untuk mengabdikan diri kepada masyarakat dengan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh. Sudah saatnya sumber daya alam yang dimiliki bangsa ini dikelola oleh kaum terpelajar Bangsa Indonesia. Sudah saatnya semangat gotong royong dimanifestasikan sebagai kolaborasi dari pemimpin-pemimpin untuk menjadi solusi. Indonesia yang mandiri sebagai produk kaum terpelajar masa kini bukanlah mimpi. Dengan pendidikan yang baik dan benar, Indonesia akan mencetak generasi pemimpin yang solutif dan siap mengantarkan Bangsa Indonesia menjadi pemimpin peradaban!

Merdeka, dan Jayalah NKRI!

2 thoughts on “Pendidikan untuk Mencetak Generasi Pemimpin Solutif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s