Sedikit Pemikiran dan Perjalanan Bersama KM ITB

Melalui tulisan ini saya berusaha menuliskan pemikiran saya yang selama ini selalu muncul di kepala saya tentang KM ITB. Tulisan ini subjektif dari sudut pandang saya, sehingga maaf sekali kalau mungkin Anda tidak sepakat dengan saya. Tentu saja sesubjektif-subjektifnya pendapat saya, pasti ada unsur objektifnya.

Saya bukanlah seorang aktivis, meskipun saya sempat terjerumus menjadi peserta Diklat Aktivis Terpusat, menjadi panitia di Diklat berikutnya, dan terancam menjadi mentor di Diklat yang akan berlangsung Januari ini. Awalnya saya bukanlah orang yang punya pikiran untuk KM ITB. Bagaimana mau peduli kalau baru sampai di kosan, saya sudah dicekoki dengan berbagai pandangan bahwa KM = Keluarga Monyet, anak KM itu pada nggak bener, dan pandangan negatif lainnya.

benarkah kami keluarga monyet?


TPB

Masa TPB saya diawali dengan mengikuti PMB KM ITB. Saya mengikuti PMB ini full dari awal pembukaan sampai penutupan teatrikal di Indonesia Tenggelam. Salah satu taplok saya adalah Yuriza yang kini sedang menjadi pengajar muda. Taplok saya pun mengatakan bahwa dia mengikuti PMB pun agar mendapatkan pembelajaran tentang KM ITB. Dan jujur, saya lupa apa saja yang saya dapatkan di PMB KM ITB kecual teman dan inspirasi dari orasi Danlap. Dan yang terpenting lagi, saya belajar untuk menghapal lagu-lagu kampus yang benar-benar memberikan semangat perjuangan, serta salam Ganesha yang maknanya sangat dalam.

jaman saya masih aktif di UATM

Kemudian, di masa TPB saya berkegiatan di tiga unit, Unit Aktivitas Tenis Meja, Unit Renang dan Polo Air, dan Amateur Radio Club.  Dan masih, saya tidak tahu apa-apa tentang KM ITB dan menganggap bahwa saya bukan anak KM. Kondisi ini masih demikian hingga akhirnya saya mengikuti Profession and Leadership Orientation STEI. Di sana ada sebuah talkshow bersama dengan Zulkaida Akbar dan Shana Fatina. Dari talkshow tersebut akhirnya saya baru paham bahwa KM ITB itu sebenarnya meliputi kabinet, kongres, tim MWAWM, tim beasiswa, himpunan dan unit.  Di sana saya mempelajari organigram KM ITB dan hanya bisa bertanya-tanya (bahkan sampai sekarang), mengapa garis hubungan antara Kabinet dengan Himpunan hanyalah garis koordinasi, sedangkan KM ITB berbasiskan Himpunan (kondisi terkini). Di sana pun saya bertanya-tanya, jika HME ITB punya blueprint, mengapa KM ITB tidak punya? Pertanyaan ini diajukan ketua angkatan saya, Imam Reiza Fahlevi (@irfahlevi) kepada Shana Fatina (@shanafatina). Jawaban Ibu Shana saat itu kurang lebih begini yang saya tangkap:

” Kalau kita selalu melanjutkan hasil dari kepengurusan sebelumnya, pada akhirnya kita akan menuju suatu titik tertentu. Intinya mah kalau tujuannya sama ya sedikit demi sedikit kita akan mengarah ke sana.”

Saat itu akhirnya Bu Presiden menantang Imam untuk membuatkan Blueprint KM ITB, tapi sepertinya Imam tidak memenuhi tantangan itu. Hehe. Oiya saat itu Pak Zulkaida Akbar juga menerangkan bahwa sekarang eranya inovasi dan kreativitas, bukan lagi gerakan yang berbasiskan perlawanan (atau apalah bahasanya).  Yang jelas yang saya tangkap saat itu, inovasi telah mengubah peradaban.

Setelah itu saya sempat mejadi Taplok di INKM 2008. Di sini saya mendapatkan banyak pengalaman, betapa “archaik”nya massa kampus saat forbas dan pembukaan INKM. Di sana saya mulai melihat budaya yang ada di ITB, budaya “pembenaran”, dan ngomong yang berbelit-belit.

bersama anak kelompok 20


Tingkat 2 – Tingkat 3 – Tingkat 4

By the way, capek juga kalo mau nulisin semua. Intinya mah terus saya ikut Himpunan, ikut DAT, sering dateng forsil, formas, dan pernah juga dateng rapim. Oiya di tingkat dua ini saya sempat menggantungkan mimpi sebagai Danlap, sehingga saya berguru tentang orasi dan pergerakan kepada Abang Teja Kusuma. Saya belajar banyak tentang bagaimana membangun sebuah gerakan dan komunikasi massa kepada Teja. Walaupun akhirnya saya gagal menjadi Danlap PROKM, berbagai pembelajaran yang saya dapatkan melalui proses-proses yang saya lewati masih hangat sampai sekarang. Dan hal inilah yang telah turut membentuk karakter saya sampai sekarang.

Oiya di tingkat 2 saya berkenalan dengan istilah I3M. I3M ini adalah sesuatu yang pertama kali saya dengar konsepnya, saya mengerti dan tertarik, tetapi saya juga takut. Saat itu Ikhsan Sigma Putra (@ikhsanputra) berkata:

“Semakin banyak tahu itu berbahaya karena semakin banyak tanggung jawab yang kita emban.”

presiden I3M yang kreatif dan punya ide gila

Entahlah, saya tidak tahu jawaban dari Sigma saat itu merupakan jawaban yang baik atau buruk. Yang jelas, ketika itu meskipun saya cukup tertarik dengan I3M, saya masih belum berani untuk terlibat lebih lanjut. Dan lagi, ketika itu saya belum merasakan urgensi dari I3M.

Waktu terus berjalan, beraktivitas di kampus membuat saya semakin mengerti kondisi aktual dan kondisi ideal dari KM ITB. Hingga akhirnya saya berpikir, seharusnya ada sebuah lembaga yang mengelola seluruh potensi yang ada di ITB dan dari situ mempertemukan potensi yang ada dengan masalah yang ada, dan itu seharusnya peran yang diemban oleh Kabinet KM ITB!

Waktu berjalan, saat itu Ikhsan Abdusyakur (@ikhsan_syakur) janjian dengan Iwa Kartiwa untuk ngobrol-ngobrol, baik itu masalah KM ITB maupun HME ITB. Dan di situ kesimpulannya adalah, sebuah lembaga yang saya pikirkan di atas ternyata sudah ada: Inkubator Ide dan Inovasi Mahasiswa ITB (@inovasiitb) . Dan semenjak saat itulah saya bergabung dengan I3M.

Waktu berlalu, kini sudah lebih dari 6 bulan saya menjalani hidup sebagai Presiden I3M. Telah banyak yang saya lalui dan saya capai bersama I3M, TEDxBandung, Presenticcon, FGD, Technocenter, main Biliard bareng, karaoke bareng, dan lain-lain. Meskipun demikian masih banyak mimpi yang harus dikejar, proyek-proyek yang harus ditangani sampai akhir kepengurusan, maupun pembangunan kultur inovasi ITB yang sistemik.

Dan entah kenapa pada saat menjalani aktivitas saya dalam ber-KM ITB, ada beberapa pemikiran yang cukup mengganjal:

1. Profesionalitas anak ITB dalam menjalankan organisasi

Rapat telat itu biasa, deadline terlampaui pun demikian. Ini yang ada di pikiran saya: kita mau sok-sokan profesional tapi belum memperhitungkan sebarapa taraf profesionalitas yang mampu kita akomodasi. Kita mahasiswa tentu saja tugas utama kita belajar, selain belajar kita juga butuh refreshing.

Kalau dipikir-pikir, kenapa sih organisasi kita sering kekurangan SDM? Karena organisasi tersebut menambah beban. Yang coba saya terapkan di I3M adalah sebuah organisasi yang seperti komunitas. Kebetulan kebanyakan anak I3M itu orangnya cengengesan dan doyan bercanda seperti saya. Masalah profesionalitas pun kita lakukan semuanya sesuai kesepakatan, dan memang masih belum profesional sampai sekarang.

Tapi kembali lagi, apalah artinya profesionalisme yang tinggi jika pelakunya hanya menjadi robot. Dan apalah artinya ingin menerapkan profesionalitas yang tinggi jika tidak disertai kemampuan dan ketersediaan.

refreshing yok

2. Kebiasaan “Forum Massa”

Forum Massa adalah sebuah budaya yang ada di ITB yang mirip dagelan. Kasarnya yang terjadi begini: himpunan mengkritisi kabinet, kabinet itu diawasi oleh Kongres, dan kongres itu representasi setiap himpunan. Dagelan yang terjadi adalah di forum massa setiap lembaga nampak seperti tidak pernah berkomunikasi. Seolah-olah Kahim dan Senatornya tidak pernah bertemu sehingga seingat saya pernah ada Kahim yang bertanya sesuatu yang seharusnya bisa ditanyakan langsung ke Senator Himpunannya, di forum massa.  Entah mengapa saya merasa ini lucu.

Belum lagi orang yang ngomong dengan sangat lantang, kadang forum massa seolah dijadikan panggung untuk beraksi dan berbicara. Padahal sekali lagi, kadang yang diomongin bisa diomongin personal. Yah, tapi mungkin forum massa ini memang ajang menunjukkan eksistensi diri.

Forum massa oh forum massa, mengapa dirimu sangat bersifat responsif. Anak ITB seolah datang dengan tanpa persiapan ke forum massa. Yang himpunan belum ngobrol ke senatornyalah, yang kabinet sama kongres masih ada miskomunikasilah. Kapan ya forum di ITB itu ada pra-forumnya, biar jelas apa yang mau dibahas, pertanyaan yang mau disampaikan di forum massa, dan lain-lain. Saya hanya penasaran, pernah ada nggak sih forum massa yang:

a. Publikasi bagus, dengan disertakan handout

b. Tujuan dan Alur forum jelas

c. Rundown sudah dibuat dengan detail

d. Moderator sudah dibriefing

e. Mulai tepat waktu

f.  Berakhir tepat waktu

g. Ketegasan Moderator tidak dipertanyakan di tengah-tengah forum

h. Tidak ada selentingan  “Mohon Tenang dan menghargai forum”

i.  Menghasilkan kesimpulan yang disepakati forum

j.  Follow up dari forum jelas dan semua pihak ngeh

Yah FGD I3M aja sampai sekarang masih mencari bentuk sih. Hehe, dan memang sedang menempuh jalan yang panjang untuk menghasilkan produk/sistem sebagai hasil follow upnya.  Pasti Debby Rahmi Isnaeni (@debbyrahmi) setuju nih sebagai Kadiv Hubungan Civitas Akademika I3M. Hehe

FGD juli

3. Periodisasi dan Struktur yang menghambat Kolaborasi dan belum menunjang Produktivitas

KM ITB Summit itu bagus dan akan lebih bagus lagi jika:

a. Periodisasi setiap lembaga sama

Ya, apa gunanya kesepakatan kalau yang bersepakat dan yang menjalankan berbeda? Apalagi setiap lembaga di ITB ini punya program kerja masing-masing yang pasti lebih diprioritaskan daripada kesepakatan yang dihasilkan di KM ITB sumit. Misalnya nih, di KM ITB summit semua himpunan sepakat buat bikin acara “COCOMEOL – Seharian Kerja Bakti Bersihin 1 ITB” , tetapi akhirnya di hari yang sama BP Himpunan X diharuskan BPAnya  mengadakan acara internal “Apresiasi Anggota yang Berkarya” dan memang sudah tidak ada waktu dan sumber daya lagi pasti Himpunan X akhirnya tidak ikut menyelenggarakan COCOMEOL itu tadi.

Yang mau saya bilang di sini sih, periodisasi. Sebagaimana kita ketahui setiap himpunan sekarang sudah memiliki program kerjanya masing-masing dengan resource yang terbatas. Jika ada program kerja bersama tentu itu akan membutuhkan resource lagi kan? Iya kalau resourcenya masih banyak, program kerja bersama bakalan bisa terlaksana dengan baik. Tapi kalau tidak? Hal ini akan semakin parah jika di awal kepengurusan masing-masing himpunan tidak mengalokasikan sumberdayanya (termasu waktu) untuk mengerjakan program kolaborasi.

Bayangkan himpunan sudah punya timeline, punya program kerja dan itu sudah full sampai akhir kepengurusan. La la la la la.
Hal ini pernah saya alami ketika salah seorang ketua unit mengatakan begini:

“Kita sih mendukung dan setuju dengan program ini, tapi kayaknya kita nggak bisa bantu karena kita sudah punya program kerja sendiri.”

Hal ini memang masih bisa diakali sih hehe, tapi akan lebih baik kalau periodisasinya sama.

b. Kesepakatannya berupa sesuatu yang konkret (sistem atau produknya jelas)

Ini dia, yang paling penting. Yang namanya sebuah konferensi atau summit atau apapun, menurut saya kesimpulannya haruslah menghasilkan sesuatu yang jelas. Misalnya target yang jelas, program yang jelas, dan produk yang jelas, bukan sesuatu yang sifatnya abstrak. Akan mantep banget kalau misalnya suatu saat di KM ITB summit himpunan bersepakat:

“Akan mendukung sepenuhnya program ITB-SAT sampai satelit meluncur dengan menyediakan sumber daya manusia.”

Itu hanya salah satu contoh ketika kita lihat efek dari periodisasi kepada KM ITB summit. Selain itu memang struktur organisasi kita sampai saat ini memang struktur fungsional. Hal ini bagus, tapi ketika saya memutar otak, kadang kepikiran aja, gimana biar struktur kita bisa lebih menunjang produktivitas.

Kita ambil kasus SKHOLE aja deh, sampai sekarang SKHOLE cuman jadi program kerja di Kementerian PM KM ITB. Lihat keberjalanannya sekarang. Sekarang bayangkan kalau SKHOLE menjadi Badan Semi Otonom, pasti dia lebih berkembang dan bisa menginisiasi munculnya SKHOLE di universitas lain. Kita perlu melihat sudah sampai tahap mana produk yang dihasilkan oleh organisasi kita, seberapa kebutuhannya untuk berkembang? Jangan sampai produknya belum matang, sistemnya belum jelas,  sudah jadi badan semi otonom, tetapi yang produknya cukup matang, sistemnya sudah ada, malah cuman jadi program kerja.

I3M yang masuk struktur sebagai BSO!

Yeah, dan menurut saya hadirnya I3M ini seharusnya bisa didukung penuh untuk menghasilkan produk kolaborasi dari KM ITB, dengan struktur kabinet yang tetap berdasarkan fungsinya masing-masing. Akan sangat keren jika: proinov menstimulus anak ITB buat cinta dunia satelit, I3M membantu mereka bikin satelitnya, setelah satelit jadi digunakan oleh Kominfo KM ITB, terus dengan adanya satelit Sospol bisa demo ke pemerintah menuntut turunnya dana penelitian yang lebih besar untuk mahasiswa.

4. Minimnya apresiasi

5. Informasi yang tidak terkelola dengan baik

Segini dulu lah, nanti awak lanjutin di postingan berikutnya, awak mau rapat dolo kk!

3 thoughts on “Sedikit Pemikiran dan Perjalanan Bersama KM ITB

  1. hahaha, kenapa yah orang-orang kalo ambil contoh pasti SKHOLE, jadi inget waktu luhut bilang, contohnya nih SKHOLE, pas kemaren formas, gue jadi takut merinding ditanya2in macem2 tentang SKHOLE, apalagi pas filman bilang, kementrian paling bermasalah adalah kementrian 1, kementrian gue.

    sebenernya gue pengen banget fik, menginisiasi ada skhole-skhole baru di universitas2 lain, sayangnya, di himpunan2 ajah, masih banyak yang belum mendukung, dan skhole di dalamnya ajah masih berantakan, banget (jadi curhat)

    btw, gue setuju banget lo sama tulisan lo tentang formas, ga tahu sih gue mlihat orang-orang yg muncul dan ngomong di formas memang sabagi ajang unjuk gigi, apalagi formas kemaren, sori nih yah, bagian kahim baru lo memperkenalkan diri tanpa kasih masukkan, agak sedikit membuat gue mengatakan ‘apa sih lo? penting yah? hahaha’

    kepengurusan kabinet ini udah mau habis nih, semoga ajah, ‘angkatan’ kita yg bakalan ngurusin kemahasiswaan terpusat, bakalan lebih baik lagi dan lebih dapet dukungan, dalm bentuk nyata, ga cuman hoax doang, hahaha

    1. hahaha, makanya entar kalo kita udah punya e-learning kita bisa blow up di dunia maya nay!!

      oiya terus itu masalah etika forum juga sih nay. sebenernya etika forum di ITB itu gimana? begitu

      Amin aja yang paragraf terakhir🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s