Tips Merekrut SDM untuk Organisasi Mahasiswa

Sumber daya manusia adalah problem klasik dari banyak organisasi kemahasiswaan di ITB. Bagi angkatan muda yang masih berpikir ideal, pasti kaget dengan kenyataan bahwa organisasi kemahasiswaan yang diikutinya tidak se “wah” yang dia bayangkan. Apalagi, kalau organisasi tersebut memang masih baru dan masih membangun sistem. Tapi, di sini saya akan memberikan beberapa pengalaman saya yang mungkin bisa dipraktekkan di organisasi yang sedang teman-teman geluti. Pengalaman yang sangat minim ini semoga berguna untuk memberdayakan manusia yang ada di organisasi teman-teman.

Mengapa saya harus merekrut dan memberdayakan banyak SDM?

Saya yakin, organisasi atau komunitas apapun yang teman-teman ikuti pasti memiliki sebuah tujuan. Entah tujuan tersebut benar atau salah, saya optimis bahwa tujuan organisasi tersebut baik. Ketika teman-teman merasakan manfaat dari organisasi yang diikuti teman-teman, coba pikirkan kembali, betapa meruginya orang-orang yang tidak mendapatkan manfaat itu. Pernah nggak sih teman-teman berpikir bahwa, “Wah, saya dapet manfaat banyak dari organisasi X, seharusnya orang lain juga merasakan manfaat ini. Sayang banget kalo mereka nggak dapet pengalaman gini gini dan gini.”

Singkatnya adalah kita perlu merekrut dan memberdayakan banyak orang agar kita bisa saling berbagi manfaat. Selain itu, organisasi yang berkembang dan produktif tentunya membutuhkan banyak orang untuk menjalankan roda organisasi. Tentu saja ini bukanlah alasan utama. Karena, sebenarnya bagi saya, yang riil dari suatu organisasi adalah manusia-manusianya. Organisasi tersebut dikatakan gagal apabila tidak mampu mengembangkan diri manusia-manusianya dalam upaya mencapai tujuan bersama.

1. Rekrut sembari mengomunikasikan value!

Biasanya SDM direkrut melalui dua jalur, closed recruitment atau open recruitment. Nah, yang perlu dilakukan dalam proses perekrutan tersebut adalah membuat calon anggota tertarik. Banyak kejadian orang-orang memasuki organisasi yang sebenarnya tidak memiliki daya tarik buat mereka sehingga mereka masuk organisasi tersebut untuk keluar, bukan untuk mencoba bertahan.

Suatu organisasi akan menarik ketika ia memiliki value. Value inilah yang harus ditentukan, dan dikomunikasikan kepada calon anggota. Manfaat dan fasilitas dari organisasi yang diperoleh pun termasuk sebagai value yang bisa dijual. Hal ini memiliki peran penting dalam membangkitkan rasa penasaran dari calon anggota suatu organisasi. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa penasaran dan rasa ingin tahu adalah awal dari semua petualangan. Oh iya, sampai pada batas tertentu eksklusivitas suatu organisasi juga bisa menjadi value  menarik yang bisa menjadi pembeda suatu organisasi dengan organisasi lain.

2. Berikan first impression yang bagus

Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda. Kesan pertama adalah awal dari pembentukan mindset. Ketika menyambut anggota baru, tunjukkan bahwa teman-teman telah mempersiapkan diri dengan baik untuk menyambut mereka. Jangan sampai ketika anggota baru masuk, mereka mendapati diri mereka tidak dihargai. Setiap manusia ingin diapresiasi dan salah satu cara mengapresiasi anggota yang baru masuk ke dalam suatu organisasi adalah dengan menyambut mereka dengan baik.

Persiapan yang teman-teman lakukan tidak harus mewah, yang pasti, dengan cara apapun, tunjukkan kepada mereka bahwa teman-teman serius dalam menyambut mereka. Tepat waktu di kumpul perdana adalah sebuah keharusan! Selain itu, agenda pertemuan juga harus jelas, jangan sampai kumpul jadi garing dan geje. Setelah itu selain memberikan impresi, teman-teman juga harus dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai organisasi tersebut. Dalam porsi yang pas, teman-teman juga perlu memberitahu ketidakidealan yang ada di organisasi tersebut, sehingga mereka tidak berekspektasi lebih, namun tidak juga berekspektasi terlalu rendah (hal ini dapat menimbulkan kekecewaan).

3. Buat mereka berperan!

Memberikan tanggung jawab adalah awal dari pemberdayaan anggota. Membuat mereka berperan dalam organisasi adalah hal yang sangat penting bagi aktualisasi diri anggota. Dengan demikian, mereka dapat merasa keberadaannya dalam suatu organisasi berarti. Jangan sampai mereka berpikir, “saya tidak diperlukan di organisasi ini”. Nah, tentu saja seperti biasa, tanggung jawab yang diberikan harus jelas scopenya.

Setelah memberikan tanggung jawab tersebut, tentunya teman-teman harus dapat memberikan jaminan bahwa mereka bisa melaksanakan tanggung jawab tersebut. Beberapa anggota baru di organisasi biasanya masih belum percaya diri untuk memegang amanah tertentu. Oleh karena itu, teman-teman harus dapat menunjukkan bahwa si anggota baru tersebut akan dapat melaksanakan amanah tersebut. Berikan jaminan bahwa teman-teman sebagai orang yang memiliki tanggung jawab lebih besar siap membantu mereka jika ada kesulitan. Setelah memberikan jaminan, hal yang harus teman-teman lakukan adalah membuktikan bahwa jaminan itu ada. Sering di suatu organisasi, pemimpin memberikan jaminan di awal namun di tengah-tengah proses jaminan tersebut hanya menjadi omong kosong belaka.

Dan setelah mereka berperan, tentunya perlu mendapatkan apresiasi. Gagal atau suksesnya mereka dalam menjalankan amanah harus mendapatkan apresiasi yang pas.

4. Kenali secara personal dan bangun kenyamanan!

Dalam organisasi kemahasiswaan yang berazas kekeluargaan, ikatan personal antar anggota merupakan hal terpenting yang akan terus bermanfaat bahkan hingga lulus nanti. Oleh karena itu, kedekatan antar personal perlu dibangun, sebab organisasi kemahasiswaan bukan berazaskan profesionalitas semata. Sering terjadi di organisasi kemahasiswaan, seorang anggota bertahan bukan karena tujuan organisasi dan visi yang sama, tetapi karena sudah nyaman dengan orang-orangnya.

Setiap orang memiliki kepribadiannya masing-masing dan caranya masing-masing dalam berkontribusi di organisasi. Hal inilah yang perlu digali, karena setiap orang adalah unik. Kita tidak bisa memperlakukan semua orang dengan cara yang sama, tetapi kita juga mungkin tidak bisa mengakomodasi semua keinginan personal. Hal inilah yang perlu diramu dengan baik untuk dapat menjalin suatu ikatan personal dalam organisasi dalam rangka membangun kenyamanan dalam bekerja sama.

5. Jangan takut berkonflik!

Dalam dinamisasi organisasi, pasti terdapat konflik. Jangan alergi dengan konflik. Konflik adalah hal yang wajar, namun harus disikapi dengan bijak. Konflik ini bisa saja terjadi dalam diri satu anggota yang dapat mengganggu keberjalanan organisasi. Selain itu, dapat pula terjadi dalam diri beberapa anggota, atau konflik dalam tim. Nah, kuncinya adalah menyelidiki penyebab konflik ini dan selesaikan dengan cara yang baik. Ada kalanya memang teman-teman tidak dapat memaksakan kehendak dengan terus mempertahankan orang yang mungkin sudah tidak nyaman atau mengganggu kenyamanan di organisasi. Hal ini harus diputuskan dengan baik-baik.

Demikianlah tulisan saya kali ini. Mungkin hanya beberapa poin-poin yang tidak terlalu banyak penjelasannya. Memang masih ada beberapa pengalaman dan pelajaran lagi yang ingin saya bagi. Jika kelak saya ada waktu dan sempat menuliskannya, mungkin akan ada part 2 dari tulisan ini atau mungkin revisi dari post ini. Semoga saya sempat dan tidak lupa 🙂

Advertisements

Appreciate Yourself

Suatu hari di kelas Bahasa Inggris semasa saya SMA, saya melanggar beberapa aturan yang diberikan oleh Pak Guru. Hal ini mungkin biasa saja untuk pelajaran lainnya, namun untuk pelajaran Bahasa Inggris, hal ini merupakan sesuatu yang sangat gawat. Pak Indro, guru Bahasa Inggris saya, merupakan guru dari ibu saya pada saat ibu saya masih bersekolah di SMA saya. Selain itu, Pak Indro juga merupakan guru dari adik ibu saya pada saat adik ibu saya juga masih bersekolah di sini. Dan, boleh dibilang Pak Indro adalah guru yang sangat disiplin. Sangat disiplin. Saya ulangi sekali lagi, sangat disiplin.

Dalam kelas Pak Indro, terdapat dua benda yang wajib dibawa oleh para murid. Benda yang pertama adalah sebuah name tag, dan benda kedua adalah sebuah buku kumpulan latihan TOEFL yang dibuat beliau. Kedua benda sakti tersebut adalah pusaka yang harus kami bawa jika ingin mendapatkan tiket mengikuti kelas beliau.

Dan benar. Pagi itu saya baru menyadari bahwa saya tidak membawa kedua benda pusaka tersebut. Saya adalah orang yang sangat malas sehingga bahkan saya tidak mempersiapkan buku-buku sekolah ketika berangkat sekolah. Dan satu lagi kesalahan saya, saya lupa bahwa hari ini ada kelas Pak Indro.

Apa yang anda lakukan jika kurang dari beberapa menit lagi Anda diminta untuk mengenakan name tag? Saya yang saat itu masih berusia 14 tahun memutuskan untuk membuat name tag sendiri. Saya membuatnya dari sobekan block note. Dengan skill origami yang terbatas, saya akhirnya berhasil membuat name tag tersebut. Saya tidak bohong, name tag yang saya buat sangat jelek. Sangat jelek. Apalagi tulisan “FIKRI” di name tag tersebut. Meskipun bolpen yang digunakan adalah bolpen Hi-Tech, tulisan tersebut sangat jelek. Font-typenya sangat tidak jelas dan tidak indah. Belum lagi arsiran yang tidak rapi yang mengisi font tersebut.

Buku? Ya, bagaimana dengan buku kumpulan latihan TOEFL? Saya tidak mungkin meminjam teman sekelas karena mereka juga membutuhkan buku tersebut untuk mengikuti kelas Pak Indro. Oh Crap! Akhirnya saya hanya bisa pasrah dan berdoa supaya Pak Indro tidak menyadari bahwa saya tidak membawa buku tersebut. Ide sederhananya adalah saya akan menggunakan buku lain di atas meja dan berpura-pura bahwa buku tersebut merupakan buku kumpulan latihan TOEFL. Sesimpel itu.

Saya lupa apakah saat itu kami memakai LCD projector atau tidak, yang jelas, kelas sangat gelap. Saya duduk di bangku paling belakang di kursi sebelah kanan pada barisan paling kiri. Di sebelah kanan saya ada Catur yang rambutnya sangat gondrong sekali. Ombak di rambut Catur sudah sangat tidak beraturan, dan sudah beberapa kali ia diperingatkan oleh Guru.

Kelas akhirnya dimulai pada saat Pak Indro menginjakkan kaki memasuki pintu. Suasana sangat mencekam buat saya. Di kelas yang gelap tersebut saya bersembunyi dari ketakutan diusir dari kelas karena saya tidak membawa barang yang seharusnya saya bawa. Pak Indro mulai mengajar. Saya pun berakting seolah-olah saya sama seperti murid lainnya, membawa dua barang wajib tersebut.

Kelas masih mengerikan dan sangat mengancam saya. Kondisi tersebut berlangsung stabil, sampai akhirnya Pak Indro mendekat ke arah saya. Jantung saya semakin berdebar dengan kencang. Saya mencoba senyum ramah seolah tanpa dosa. Tapi, Pak Indro sama sekali tidak melirik ke arah saya. Saya masih sangat cemas, sampai akhirnya Pak Indro berhenti di samping Catur, di sebelah kanan saya. Pak Indro menyentuh rambut Catur. Saya tidak tahu pasti, tetapi dari sepengamatan saya seperti sedikit menarik rambut Catur.

Beberapa saat kemudian Catur keluar dari kelas. Pak Indro menyuruh Catur untuk mencari Pak Suwondo. Catur baru diperkenankan mengikuti kelas jika rambutnya sudah dicukur oleh Pak Suwondo. Huff. Saya bernapas lega. Napas yang pertama saya tarik karena saya tidak diusir oleh Pak Indro. Sedangkan napas yang kedua saya tarik karena, Alhamdulillah, Catur diusir dari kelas. Mengapa Alhamdulillah? Apakah saya senang jika teman saya diusir dari kelas? Bukan, saya bersyukur bukan karena Catur diusir dari kelas. Tetapi, saya bersyukur karena akhirnya ada buku kumpulan latihan TOEFL yang menganggur. Ya, tentu saja Catur meninggalkan bukunya di kelas!

Kini degup jantung saya sudah tidak sekencang tadi. Di atas meja saya sudah terdapat salah satu benda wajib Pak Indro. Selain itu, saya toh sudah membuat name tag abal-abal yang saya kenakan di saku baju. Saya lega.

Seperti kegiatan belajar mengajar pada umumnya, pertanyaan sangat sering diajukan secara klasikal oleh guru. Tentu saja biasanya kelas menjawab pertanyaan tersebut dengan kontak dan serempak. Kontak mata guru dan murid pun menjadi hal yang tak terhindarkan di kelas.

Pak Indro kembali berjalan ke arah saya. Kali ini terjadi kontak mata. Saya berusaha mengikuti teman yang lain, menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan oleh Pak Indro. Saya merasa aman. Tapi, di tengah rasa aman tersebut, ancaman justru terjadi.

Pak Indro akhirnya melihat ke arah name tag saya. Saya hanya bisa terdiam dan berusaha tersenyum. Saat itu kata-kata bijak yang saya imani adalah, senyum adalah senjata yang paling baik bahkan di saat yang paling sulit. Namun sayang, orang bijak tersebut belum pernah berhadapan dengan Pak Indro. Senyum tersebut tidak berguna sedikit pun. Pak Indro mengambil name tag abal-abal saya dari saku. Beliau meremas-remas name tag tersebut menjadi sebuah bola. Setelah itu beliau menyobeknya lalu meletakkan sobekan kertas tersebut di atas meja saya. Lalu, dengan dinginnya beliau berkata,

“If you dont appreciate yourself, nobody will.”

Merayakan Hidup

Siapa di antara Anda yang pernah berada dalam suatu seminar motivasi, lalu di sana Anda disuruh memetakan hidup Anda untuk beberapa tahun ke depan? Siapa yang pernah disuruh membuat milestone hidup pertahunnya hingga umur meninggal? Siapa yang pernah disuruh menentukan di usia berapa ingin meninggal, atau dengan kata lain, di usia berapa Anda yakin cita-cita Anda sudah tercapai semua?

Pada saat awal masuk ITB, saya paling suka membuat perencanaan hidup. Saya orangnya cukup perfeksionis untuk membuat sebuah rencana dan target-target yang matang dan detail. Tetapi, seperti yang diungkapkan di hasil psikotes saya pada saat SMP, saya bukanlah seseorang yang selalu mengerahkan seluruh tenaga saya untuk hal yang saya inginkan. Ini adalah sebuah ironi, mengingat saya merupakan seseorang yang melankolis dengan sifat perfeksionis yang sangat kental. Tapi, hasil psikotes itu juga mengatakan satu hal, ketika saya benar-benar sedang dalam peak performance, saya sangat potensial di bidang apapun, mulai dari bahasa, spasial, logika, dan lainnya.

Gambar pertama yang saya post di tumblr. Mengingat hampir setaun usia tumblr saya.

Rencana yang sudah sangat matang tersebut, satu demi satu gagal. Target demi target dicoret, bukan karena sudah tercapai, tetapi karena sudah tidak logis lagi dengan situasi terkini. Bum. Saya terpuruk. Sifat perfekionis saya mulai terkikis sedikit demi sedikit karena kegagalan demi kegagalan tersebut. Kebiasaan melakukan perencanaan yang rapi pun mulai saya tinggalkan.

Sesaat setelah kegagalan menimpa Anda, apa yang harusnya Anda lakukan? Saya yang dulu mungkin akan berkata, “Kegagalan ini adalah cambuk untuk menjadi lebih baik lagi“. Saya akan mengatakannya dengan berapi-api, dan dibarengi dengan perencanaan lagi. Perencanaan lagi, lagi dan lagi. Pada akhirnya saya merasa bahwa hal ini adalah sebuah kesalahan.

Di tingkat tiga, saya mulai menyadari bahwa hidup bukan soal meraih mimpi. Hidup bukanlah suatu perlombaan di mana kita harus membuktikan bahwa diri kita adalah yang terbaik. Dan lagi-lagi, hidup bukanlah soal perencanaan. Saya mulai berpikir bahwa mindset saya selama ini salah. Salah.

Hidup adalah tentang bersyukur. Sebagai manusia yang telah mendapatkan nikmat hidup, kita harus bersyukur. Menjalani hidup dengan syukur adalah yang utama, bukan hidup dengan mimpi dan ambisi. Itulah hidup.

Hidup bukanlah perlombaan, tetapi soal perjalanan. Perjalanan ini merupakan sebuah pencarian atas eksistensi diri sebagai makhluk. Di perjalanan ini tidak ada yang menang, tidak ada yang kalah. Yang ada hanyalah seorang pejalan yang terus berjalan, atau berhenti berjalan. Itulah hidup.

Hidup tidak pernah mengajari manusia untuk terus berencana, tetapi untuk berusaha dan menjalani. Sebuah rencana yang sangat sempurna akan sia-sia jika tidak dikerjakan. Dan, dalam hidup ini terlalu banyak variabel yang tidak bisa kita perkirakan. Rencana yang detail akan percuma karena kita akan kehilangan mata untuk melihat peluang dan tantangan yang baru. Menjalani hidup dengan selalu melihat tantangan yang ada di sekitar kita adalah pilihan paling baik. Berusaha menjalani apa yang bisa kita jalani hari ini dengan baik adalah suatu pencapaian yang sangat bagus. Tidak terduga. Itulah hidup.

Sekarang mari kita jalani hidup dengan syukur, meniatkannya sebagai perjalanan menuju Tuhan, dan melakukan yang terbaik yang kita bisa. Itu saja 🙂

Alumni, Reuni, dan Inovasi

Indonesia Berinovasi. Frasa tersebut merupakan tema kegiatan yang akan dilakukan oleh alumni ITB ’81 memperingati 30 tahun sejak tahun tersebut. Salah satu kegiatan yang akan dilakukan adalah pembangunan Desa Inovasi dengan melibatkan mahasiswa. Oleh karena itu, Kabinet KM ITB dan beberapa himpunan diundang pada 8-1-2011 untuk mengikuti Focus Group Discussion dengan tema kompas inovasi.

Alumni dan Institusi

Besarnya suatu institusi pendidikan tidak lepas dari campur tangan alumninya. Kata-kata inilah yang (katanya) selalu diucapkan oleh rektor ITB dengan berkaca dari MIT, Harvard dan universitas kelas dunia lainnya. Besarnya nama institusi dibangun oleh kebesaran nama masing-masing alumninya. Dan sebaliknya, tak jarang, nama institusi pun ternoda oleh perbuatan tercela yang dilakukan alumninya.

Pada kesempatan kali ini Indosat dan Teknologi Riset Global menyumbangkan lab untuk ITB. Kebetulan Direktur Indosat adalah alumni ITB 81. Saya lupa lab apa yang disumbangkan Indosat, yang jelas TRG menyumbangkan Lab untuk Cloud Computing. Selain menyumbangkan lab tersebut, TRG juga mempropose pembangunan Indonesia Cloud Computing Center untuk Technopark di bekasi. Jadi simpelnya semacam pengen ngetag lahan di sana buat lab riset di bidang cloud computing yang lebih berorientasi bisnis.

Menariknya, Pak Suhono (Ketua Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan ITB, alumni ITB 81) sempat nyeletuk kalau Indosat mau nyumbang sesuatu prosesnya ribet karena Indosat itu PT, harus RUPS, dan lain-lain, sedangkan kalau perusahaan tertutup seperti TRG kalau nyumbang bisa langsung dan bisa disebut sebagai sumbangan alumni 81. Saya pun jadi berpikir, apa yang bisa dilakukan angkatan 2007 kelak?  30 tahun nanti, sebesar apa circle of power dan circle of influence alumni 2007? Berapa entrepreneur? Berapa direktur? Hal ini membuat saya tersadar bahwa apa yang kita lakukan di kampus ini tidak ada apa-apanya dibandingkan apa yang akan kita lakukan setelah lulus. Tentu saja, pada awalnya kita perlu membangun kemandirian diri sendiri terlebih dahulu sebelum bisa berbuat lebih untuk orang lain, atau mungkin melakukannya secara paralel.

Setelah itu dilanjutkan dengan sambutan oleh Ketua Panitia kegiatan ini, Ibu Sofi kalau tidak salah namanya. Setelah itu giliran Pak Hasan dari Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan, dan Alumni (WRKMA) memberikan sambutan sekaligus meresmikan kegiatan tersebut. Selain itu Pak Hasan juga mengungkapkan kebutuhan utama ITB: beasiswa. Meskipun pembangunan lab dan renovasi ruangan adalah hal yang bagus, tetapi ternyata kebutuhan utama ITB adalah beasiswa. Hal ini terjadi karena memang 50% mahasiswa ITB berasal dari golongan menengah ke bawah. ITB berkomitmen untuk tetap menyelenggarakan pendidikan bagi mereka yang bahkan tidak mampu membayar, selama mereka masih memiliki kemampuan dalam menempuh pendidikan di ITB. Oleh karena itu, dukungan dari alumni-alumni ITB sangat diharapkan.

Reuni dan Inovasi

Yang namanya reuni pasti penuh dengan canda, tawa, dan kenangan. Hal ini juga yang terjadi pada focus group discussion para alumni tersebut. Beberapa fokus dan bersemangat, namun tidak sedikit yang ngobrol sendiri dan ketawa-ketawa. Saya juga sempat berpikir, ini alumni 81 hebat juga ya, reuni aja masih mikirin inovasi, kalau saya pribadi sampai detik ini masih membayangkan bahwa reuni itu pasti isinya ketawa-ketawa dan cengcengan. Tapi salut, setidaknya mereka semua punya semangat untuk memberikan inovasi bagi negeri ini. Kalaupun di antara beliau-beliau bercanda tawa, pasti itu bukan karena mereka tidak serius dalam menjalankan program ini. Saya hanya bisa berasumsi, sebagai orang yang cerdas, alumni-alumni tersebut mungkin kurang suka dengan hal-hal yang sifatnya masih konseptual seperti FGD, mungkin mereka langsung ingin melakukan tindakan konkretnya. Mungkin.

Melihat inisiatif yang dilakukan oleh ITB 81, saya pun berpikir, apa jadinya kalau setiap angkatan melakukan hal serupa. Setiap tahun pasti ada desa yang dibina dan dikembangkan! Dan, apa jadinya kalau seluruh alumni perguruan tinggi terkemuka di tanah air melakukan hal serupa?

Waaaw!

Belum lagi jika semua kegiatan tersebut melibatkan tenaga segar mahasiswa. Pasti mahasiswa Indonesia benar-benar bisa menjadi mahasiswa -bukan sekedar siswa biasa- yang langsung mengamalkan ilmunya pada kehidupan bermasyarakat. Tentu saja, mahasiswa harus mendapatkan apresiasi yang layak juga, bisa berupa kredit kuliah, dan lain-lain.

Hanya waw dan waw, yang keluar pada saat saya berkhayal. Tapi apa daya, itu semua hanya khayalan jika tidak ada yang mau mencoba mewujudkannya. Siapa yang mau?

Tulisan ini ditulis tanggal 9 Januari 2011. Berita resmi dari ITB bisa dilihat di sini http://www.itb.ac.id/news/3074.xhtml

“Ini Cara Gue” – DAT 2011

Sebuah gagasan yang tadi pagi saya coba untuk bagi kepada para peserta DAT2011:

Tadi pagi saya dipasangkan dengan dua orang alumni yang sudah benar-benar berkarya nyata di masyarakat. Mereka adalah Kak Yuri (FSRD angkatan 2006-2010) dan Kak Radeya (SBM 2006-2009). Kak Yuri bercerita tentang aktivitasnya sebagai Social Entrepreneur, dia juga bercerita bagaimana dia pernah disambar petir dan masih mendapat second life(beberapa temannya meninggal). Kak Radeya banyak menceritakan tentang masih tertinggalnya ITB di dunia, dan sedikit menceritakan tentang Satoe Indonesia yang pernah dipimpinnya.

Saya sendiri sebelum ke atas panggung ngerasa grogi berat, dan agak nggak pede. Untung ada yang memberikan motivasi, entah asli entah palsu yang membuat saya semangat. Mereka adalah panitia DAT, termasuk LO saya. Setelah sampai di panggung, saya masih grogi. Namun, grogi itu akhirnya hilang ketika saya mulai masuk ke slide awal di mana saya bercerita tentang pengalaman saya menjadi peserta, dan panitia DAT.

Huff, saya jadi teringat, dulu ketika saya menjadi panitia DAT, saya pernah berkhayal untuk menjadi pemateri DAT. Saya yang waktu itu sedang mengikuti korindo dan PKM, bercita-cita dapat mengisi materi DAT sebagai mahasiswa yang berprestasi di bidang roket dan robot.  Yah, apa daya, semuanya nggak menang, saya pun tidak berhasil mengisi materi DAT sebagai mana yang saya cita-citakan. Tetapi di sisi lain, saya akhirnya menjadi pembicara di DAT dengan tema alternatif gerakan mahasiswa. Sangat senang bisa berbagi gagasan dengan para aktivis-aktivis muda. Saya yakin di antara mereka akan ada orang-orang yang menggantikan posisi saya sekarang. Dan saya sangat senang bisa menularkan semangat yang diwariskan oleh para pendiri Inkubator Ide dan Inovasi Mahasiswa kepada mereka. Senang : ) Hehe

Selain itu saya juga senang karena feedback yang saya terima sangat positif. Ada yang bilang bahwa slide dan presentasinya keren, memberikan banyak wawasan baru, tidak seperti materi-materi yang lain. Dan, lagi-lagi ada yang mendoakan saya supaya jadi orang paling konkret se-itb. Walaupun sepertinya sangat imajiner, saya aminkan saja doa itu.

Dan kembali, setelah saya berbagi gagasan dengan banyak orang, berusaha membuat gagasan-gagasan itu menjadi nyata adalah konsekuensinya. Dan saya harus bekerja ekstra keras untuk itu!

Ini Cara Gue!!

Kader-isasi 11 Januari

“Kak, kalo kak Faisal udah ngitung segala macemnya, buat apa saya ikut?,” tanya Yuri SI 08.

“Kamu harus ikut biar kamu udah ngerasain gimana ngimplementasiin keprofesian.”

“Lagian, katanya Iwan, ke depannya himpunan bakal fokus ke kegiatan keprofesian dan pengabdian masyarakat. Jadi perlu transfer pengetahuan,” Jawab Faisal SI 07.

Begitulah pelajaran yang bisa saya bagi dari survey PLTMH di Gununghalu.

“Gimana ya kak, sebenernya materi Popope ini udah dari jaman OSKM, terus Osjur, dikasih melulu. Ampe muak. Maksudnya gimana ya, gw tau lah apa yang diomongin, tapi gimana ya cara ngimplementasiinnya?”

“Eh kak, yang tadi bercanda loh,” tutur salah seorang peserta DAT 2011.

Begitulah pelajaran yang bisa saya bagi dari mentoring DAT 2011 di Ciburial.

“Percuma lo ngejar nilai A, kalo akhirnya ga ada nilai tambah di diri lo,” tutur seseorang yang pertama kali mendapatkan nilai D dengan IPKnya yang masih deket cumlaude.

Begitulah pelajaran yang bisa saya bagi dari melihat nilai saya yang sejauh ini kombinasi antara beberapa A, AB, dan satu buah D.

Mentari

Pemimpin pantang mengeluh.

Pemimpin adalah simbol pengharapan.

Manusia itu sangat lemah, tetapi bukan manusia kalau ia menyerah.

Tuhan tidak akan menurunkan persamaan kecuali persamaan tersebut ada solusinya.

Mengeluh adalah simbol pesimisme. Kalau pemimpinnya saja sudah mudah mengeluh dan menyerah, mau jadi apa yang dipimpinnya. Kita semua adalah manusia yang terlahir sebagai pemimpin di muka bumi ini. Oleh karena itu kita semua tidak boleh kehilangan optimisme dan keyakinan. Sebagai manusia tentu kita sangatlah rapuh dan lemah, tetapi itu bukan berarti kita boleh menyerah. Usaha adalah satu-satunya yang bisa dilakukan manusia, sebab manusia tidak memiliki kemampuan untuk menentukan. Berhenti berusaha sama saja menafikan kemanusiaan.

Pemimpin itu seperti sosok mentari yang diharapkan selalu bersinar di esok pagi. Sebagai manifestasi Tuhan di muka bumi, seorang pemimpin menjadi sumber pengharapan dikala yang lain berputus asa. Solusi-solusi diharapkan hadir dari melalui lidah pemimpin, bukan tambahan persoalan. Dan, di saat yang lain sudah berhenti mencoba menyelesaikan permasalahan tersebut, pemimpinlah yang tak akan lelah mencari pemecahannya.

Apakah Anda telah menjadi Pemimpin hari ini?

Memasarkan Politik

Jaman sekarang ini yang namanya politik udah kayak bisnis.  Produk politiknya bermacam-macam, disesuaikan dengan target pasar. Politikus pun kini sedang beradu kreativitas untuk bisa meraih hati rakyat.  Memang dalam memasarkan politik terdapat banyak produk, bisa berupa program, kebijakan, visi, dan track record. Melalui produk-produk tersebut, brand dari seorang politisi pun terbentuk. Selain itu media pemasarannya pun beragam.

Banyak politikus di masa kini yang berusaha memosisikan diri setara dengan rakyat. Ada yang berusaha tampil sebagai sosok yang nyeni. Politicartist yang berusaha menunjukkan bahwa dirinya menghargai karya seni dan bisa berkarya. Hal ini sah-sah saja, dan kalau memang karyanya bagus mengapa tidak?

Ada juga yang berusaha menunjukkan kecintaannya terhadap olah raga. Hal ini pun sah-sah saja, dan kalau memang membuat olah raga nasional maju mengapa tidak?

Di antara mereka ada yang menjadi Politweepscian yang berusaha untuk dekat dengan rakyat melalui twitter. Namun sayang, tidak semuanya beruntung. Beberapa di antara mereka melakukan blunder. Mereka terlihat tidak dewasa dalam tweets mereka (berasa tweet gw gak galau aja). Hal ini justru menurunkan citra mereka. Tapi, beberapa memang berhasil menjadi sosok yang dekat dengan rakyat melalui social media. Selama mereka benar-benar dekat dengan kita, mengapa tidak?

Melalui pergerakan dan aktivitas dari merekalah citra mereka terbentuk. Mereka tentunya memiliki keunikan masing-masing yang membuat satu politikus berbeda dengan politikus lain. Tentu saja dengan produk-produk mereka yang beragam pula. Perang ide pun dimulai. Tak jarang peperangan frontal terjadi. Hal ini terjadi melalui program-program yang menyasar target sama. Kompetisi benar-benar dilakukan, dengan perbedaan karakteristik dari produk yang diantarkan. Melalui pertarungan-pertarungan ini, kita dapat mengenal karakteristik politikus (dan timnya).

Selain itu, janji-janji sebagai sebuah komoditas kembali dilontarkan. Hal ini bagus. Selama janji-janji tersebut dipenuhi mengapa tidak? Positioning, track record dan janji menjadi produk utama dalam melakukan pemasaran. Dan sebagai pelengkap dalam memopulerkan citra memang dibutuhkan suatu media. Sudah bukan hal yang asing di mana politisi memiliki media massanya sendiri. Tentu saja hal ini diperlukan untuk men-drive opini publik. Dan bahkan pemanfaatan teknologi sebagai media kampanye pun menjadi lahan bisnis tersendiri.

Menarik memang, melihat politik yang sudah menjadi bisnis. Politik bukanlah hal yang busuk meskipun kita akrab dengan istilah politisi busuk. Kita harus realistis bahwa pengaturan kekuasaan memang dibutuhkan di dunia ini. Dan saat ini cara untuk meraih kekuasaan tersebut semakin berkembang. Apa yang dilakukan oleh para pemegang kekuasaan dan calon pemegang kekuasaan dalam memasarkan politik sah-sah saja selama dapat membuat bangsa ini lebih baik. Sebagai rakyat kecil, kita hanya bisa berhati-hati dalam memroses informasi yang kita peroleh agar kelak kita tidak salah memilih pemimpin.

Hanya coretan seorang mahasiswa awam yang tidak tahu apa-apa soal politik.

Saya, Elektron, dan Khayalan

Ini adalah sekelumit kisah tentang saya dan Elektron. Alkisah di sebuah kampung bernama Electricity, terdapatlah sebuah legenda. Dalam legenda tersebut dikisahkan bahwa Electricity pernah memiliki sebuah senjata yang Maha dahsyat. Dituturkan bahwa senjata tersebut mampu memberikan energi positif bagi negeri Garuda. Kekuatan senjata tersebut mampu membuat keberadaan Electricity diakui oleh rakyat negeri Garuda.  “Elektron,” begitulah penduduk Electricity menyebutnya.

Tahun demi tahun berlalu, senjata maha dahsyat tersebut terkurung. Senjata tersebut terkurung dalam sebuah peti raksasa. Peti itu tak kunjung juga dibuka oleh empunya. Menyalakan kembali Elektron ternyata bukanlah hal yang mudah. Orang-orang yang memiliki akses untuk membuka peti tersebut tak kunjung berhasil menyalakan kembali Elektron. Senjata maha dahsyat tersebut masih belum dapat menerangi negeri Garuda dari gelap dan gulita.

Bergantinya hari-hari membuat pelita Elektron meredup. Terkurungnya Elektron dalam peti tersebut membuat orang-orang mulai melupakannya. Beberapa penduduk Electricity bahkan menginginkan peti yang menyimpan Elektron untuk dimusnahkan saja.

Meskipun Elektron sedang terkurung, ternyata beberapa rakyat negeri Garuda masih ada yang ingat kepada Elektron. Mereka masih mengharapkan senjata ini akan sekali lagi menerangi negeri Garuda. Demikian halnya dengan beberapa penduduk Electricity, ada yang masih percaya tentang kemahadahsyatan Elektron. Mereka adalah para penjaga yang selama ini terus menjaga peti raksasa yang menyimpan Elektron. Mereka adalah sedikit di antara orang-orang yang percaa bahwa Elektron masih diperlukan dan akan bersinar sekali lagi. Hanya orang-orang yang mau melakukan ritual khusus yang dapat membukanya.

Orbit. Begitulah nama ritual ini. Dan suatu ketika, para penjaga memberikan kesempatan bagi penduduk Electricity untuk menjalankan ritual ini. Saya pun akhirnya mengikuti ritual tersebut. Saya bukanlah orang yang hebat. Banyak kesalahan yang saya lakukan ketika menjalankan ritual tersebut.

Saya sudah di ujung tanduk ketika Orbit memasuki gerbang terakhir. Saya sempat merasa lemah, dan kalah. Saya merasa tidak akan mampu membuka gerbang tersebut. Saya kembali berpikir-dan terus berpikir. Berat rasanya untuk mengangkat kunci Elektron yang sangat kecil tersebut. Bukan kuncinya yang berat, tetapi tangan ini terlalu lemah untuk dapat mengangkat. Sebab, setelah saya membuka gerbang terakhir ini, saya akan menjadi penjaga peti raksasa tersebut. Ketika pada akhirnya saya melewati gerbang ini, saya akan menjadi satu dari sekitar 20 orang yang menjaga Elektron. Saya akan menjadi salah satu orang yang bertanggung jawab untuk menggunakan senjata mahadahsyat bernama Elektron. Bukan tanggung jawab yang ringan.

Zap!

Akhirnya saya membuka kunci tersebut. Saya menjadi salah seorang penjaga Elektron. Saya telah memilih mengambil tanggung jawab tersebut.

Waktu berlalu, dan akhirnya saya menjadi salah seorang yang membuka peti raksasa itu. Senjata bernama Elektron itu kini telah keluar dari penjara. Para penjaga pun larut dalam euforia. Kami tenggelam dalam rasa senang karena berhasil sekali lagi membuka peti tersebut. Senjata itu kini telah kembali hidup.

Kami bahagia.
Kami terlarut.

Dan, kami melupakan satu hal. Senjata ini menjadi bermakna ketika sinarnya telah mampu menerangi negeri Garuda. Dan kami lupa itu. Dan itulah sebuah tantangan bagi kami sekarang. Sebuah tantangan yang akan kami jawab.

Elektron yang sekarang bukan Elektron yang dulu pernah menyinari negeri Garuda. Elektron yang sekarang adalah Elektron yang memulai lembaran baru, yang akan mencoba menyinari negeri ini sekali lagi. Satu kali lagi.

Saya, Elektron, dan Presenticcon

Kunci Terakhir Ritual Orbit:

http://www.facebook.com/note.php?note_id=494323275519

Peta Interaktif Budaya Indonesia

Peta Budaya

Temen-temen inget nggak kalau dulu pas jaman SD suka beli buku tentang budaya Indonesia gitu buat pelajaran IPS ? Bukunya biasanya berisi tarian, senjata, adat, dan lain-lain tentang seluruh provinsi di Indonesia. Nah, saya pernah mencoba membuat versi digitalnya bersama dengan Imam Reiza Fahlevi dan Seto Prabowo.

Kisah ini bermula ketika Amy Hadiastuti menjadi panitia Pagelaran Seni Budaya ITB 2010. Tadinya ensiklopedia ini mau ditambahin macem-macem lagi, terus dimasukin ke CD dan dibagikan ke khalayak ramai. Tetapi, karena satu dan lain hal akhirnya mandek.

Nah, beberapa bulan yang lalu hard disk eksternal saya rusak. 320GB data hilang, termasuk file-file ensiklopedia ini. Sedih juga karena membuatnya telah mengorbankan beberapa hal dan bukan sesuatu yang gampang. Dan ternyata hilang begitu saja. Hilang.

Eh eh eh..

Tapi akhirnya saya menemukan satu potongannya loh! Beruntung saya dapat menyelamatkan satu file ini. Silahkan dinikmati (kalau tampilannya belum seperti di screenshot berarti masih buffering :D):

Peta Interaktif Budaya Indonesia

Alhamdulillah.