Mental Juara

“Walaupun tidak juara, tetap mengaku juara.”

Quote di atas merupakan sebuah quote dari kakak angkatan saya yang bernama Fuad Fajri mengenai mental juara. Tak terasa, ini sudah kedua kalinya saya menghabiskan malam di Laboratorium IC Design bersama Ardimas, Azhari, dan Fuad Fajri. Malam ini kami memiliki tambahan teman menginap. Teman tersebut adalah Aban yang kemarin baru saja mendaki gunung untuk yang pertama kalinya di tahun 2010 maupun pertama kali dalam hidupnya.

Di laboratorium ini, kami sedang mengerjakan tugas kuliah sekaligus tugas yang diberikan oleh sebuah perlombaan. Tugasnya adalah merancang sebuah image compression and decompression system. Tugas ini dilakukan berkelompok. Ardimas sekelompok dengan Paulus dan Yanwar, sedangkan Azhari bersama Fuad Fajri dan Aban. Saya sendiri tergabung dalam kelompok Rahwana bersama Amril, Bombom, dan Dio Adi. Dio Adi sudah hilang kontak, beberapa kali di sms oleh Amril dan Bombom tetapi tidak membalas. Bombom sendiri kemarin-kemarin sibuk proyek dan dia sendiri hanya mengincar kelulusan untuk mata kuliah ini. Amril sendiri sepertinya sudah tidak antusias karena sebenarnya sks yang dia ambil sudah kelebihan, sebagaimana pengakuan dia:

“Gua sih nggak masalah ini nggak lulus, entar gw ganti sama kuliah yang lain aja”

Melihat kondisi kelompok yang seperti ini,  saya yang sejak masuk STEI ini bercita-cita untuk memenangkan lomba desain ic bertaraf internasional ini menurunkan sedikit cita-cita saya. Dari cita-cita setinggi langit tersebut, saya menyesuaikan kondisi dengan mendown-grade cita-cita saya menjadi setinggi langit-langit: lulus mata kuliah VLSI.

Memang terkadang jalan yang telah kita bangun dari lama harus terhalang oleh beberapa kesalahan kita di akhir-akhir. Saya jadi teringat ketika dulu saya punya mimpi untuk menjadi komandan lapangan. Dari awal tahun saya sudah belajar untuk lebih mengerti tentang ilmu sosial dan kemasyarakatan dengan orang yang meminjamkan jaket HMEnya kepada saya, Teja Kusuma.

Saya mempelajari banyak hal di sana, mulai dari yang sejarah, filsafat, orasi, dan lain-lain. Saya akhirnya mengetahui bahwa untuk menjadi seseorang yang tangguh kita tidak boleh kalah oleh keadaan. Kita tidak boleh mengalah pada keadaan. Kita harus dapat mengendalikan keadaan. Kalau pun tidak bisa mengendalikan keadaan, minimal kita tidak boleh kehilangan kendali atas diri sendiri.

Setelah itu, pada semester genapnya, saya menjadi wakil koordinator lapangan PLO. Di sini saya banyak belajar tentang teknis lapangan. Namun memang setelah saya melalui hal-hal tersebut, pada akhirnya saya tidak maksimal ketika seleksi. Saya tidak maksimal dalam menjalankan tugas, saya telah kalah oleh keadaan waktu itu. Saya gagal mengatur waktu, mengatur prioritas, dan mengatur mimpi. Hingga akhirnya, saya gagal.

Dari kegagalan tersebut saya sudah bertekad untuk bersungguh-sungguh dalam mengejar cita-cita saya yang lain: Juara VLSI. Saya berkata pada diri sendiri waktu itu bahwa saya tidak akan gagal. Semenjak saat itu saya bersiap kembali untuk meraih mimpi tersebut. Semester lalu bahkan saya mengambil beberapa mata kuliah yang mirip dan memang berorientasi pada hardware. Semester lalu saya membuat tiga jenis prosesor MIPS menggunakan VHDL: Single-cycle untuk kuliah Arsitektur Sistem Komputer, Multi-Cycle untuk kuliah Perancangan Sistem Digital, dan Pipelined untuk kuliah Struktur Prosesor Digital. Heran juga saya bisa membuat ketiga jenis prosesor tersebut pada semester kemarin, apalagi untuk ukuran orang secupu dan sepemalas saya yang sudah mengulang 13 sks ini.

Kuliah VLSI seharusnya menjadi puncak dari pengejaran mimpi tersebut. Tetapi semester ini kehidupan saya lebih banyak diisi dengan rapat dan diskusi ketimbang belajar mandiri dan mengerjakan tugas. Boleh dibilang semester ini saya sangat overload. Hingga akhirnya sampai detik ini, saya tertinggal sangat jauh dibandingkan teman-teman yang lain dalam mengerjakan LSI Design.

Saya tertinggal sangat jauh, ada teman yang sudah sampai tahap aplikasi, sedangkan saya baru saja selesai mengerjakan MATLAB-nya itu pun cukup asal-asalan karena diburu waktu. Tetapi, separah apapun kondisi ini saya tidak mau menyerah. Saya tidak mau kalah oleh diri sendiri. Kalaupun kondisi saat ini sudah buruk, paling tidak saya tidak boleh lebih buruk dari sebelumnya.

Pada akhirnya hidup ini harus terus berusaha, biarlah hasil akhirnya Tuhan yang menentukan. Toh kita ini hanya ciptaan-Nya. Kalau Tuhan mau, Ia bisa berikan Gunung kepada manusia paling malas sedunia. Kalau Tuhan mau, apapun yang kita lakukan pun tidak akan berarti apa-apa. Sebegitu Maha Dayanya Tuhan, dan kita cuma manusia yang hanya bisa melakukan usaha. Ya, hanya itulah yang bisa dilakukan oleh manusia, berusaha. Kalau bahkan kita tidak mau berusaha, maka saat itu kita sudah kehilangan nilai sebagai seorang manusia. Sekalipun nilai sebagai seorang manusia itu sangat kecil dan tidak ada apa-apanya dibandingkan Tuhan, tetapi hanya itu nilai yang kita punya. Dan adalah pilihan buat kita, untuk menyerah atau tetap mau mencoba.

Dan pada akhirnya saya akan tetap mencoba, karena saya tidak mau suatu saat saya menyesal. Paling tidak ketika saya sadar bahwa saya sudah tertinggal, saya sudah berusaha mengejar dan akan terus mengejar hingga saat penentuan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s