Alumni, Reuni, dan Inovasi

Indonesia Berinovasi. Frasa tersebut merupakan tema kegiatan yang akan dilakukan oleh alumni ITB ’81 memperingati 30 tahun sejak tahun tersebut. Salah satu kegiatan yang akan dilakukan adalah pembangunan Desa Inovasi dengan melibatkan mahasiswa. Oleh karena itu, Kabinet KM ITB dan beberapa himpunan diundang pada 8-1-2011 untuk mengikuti Focus Group Discussion dengan tema kompas inovasi.

Alumni dan Institusi

Besarnya suatu institusi pendidikan tidak lepas dari campur tangan alumninya. Kata-kata inilah yang (katanya) selalu diucapkan oleh rektor ITB dengan berkaca dari MIT, Harvard dan universitas kelas dunia lainnya. Besarnya nama institusi dibangun oleh kebesaran nama masing-masing alumninya. Dan sebaliknya, tak jarang, nama institusi pun ternoda oleh perbuatan tercela yang dilakukan alumninya.

Pada kesempatan kali ini Indosat dan Teknologi Riset Global menyumbangkan lab untuk ITB. Kebetulan Direktur Indosat adalah alumni ITB 81. Saya lupa lab apa yang disumbangkan Indosat, yang jelas TRG menyumbangkan Lab untuk Cloud Computing. Selain menyumbangkan lab tersebut, TRG juga mempropose pembangunan Indonesia Cloud Computing Center untuk Technopark di bekasi. Jadi simpelnya semacam pengen ngetag lahan di sana buat lab riset di bidang cloud computing yang lebih berorientasi bisnis.

Menariknya, Pak Suhono (Ketua Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan ITB, alumni ITB 81) sempat nyeletuk kalau Indosat mau nyumbang sesuatu prosesnya ribet karena Indosat itu PT, harus RUPS, dan lain-lain, sedangkan kalau perusahaan tertutup seperti TRG kalau nyumbang bisa langsung dan bisa disebut sebagai sumbangan alumni 81. Saya pun jadi berpikir, apa yang bisa dilakukan angkatan 2007 kelak?  30 tahun nanti, sebesar apa circle of power dan circle of influence alumni 2007? Berapa entrepreneur? Berapa direktur? Hal ini membuat saya tersadar bahwa apa yang kita lakukan di kampus ini tidak ada apa-apanya dibandingkan apa yang akan kita lakukan setelah lulus. Tentu saja, pada awalnya kita perlu membangun kemandirian diri sendiri terlebih dahulu sebelum bisa berbuat lebih untuk orang lain, atau mungkin melakukannya secara paralel.

Setelah itu dilanjutkan dengan sambutan oleh Ketua Panitia kegiatan ini, Ibu Sofi kalau tidak salah namanya. Setelah itu giliran Pak Hasan dari Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan, dan Alumni (WRKMA) memberikan sambutan sekaligus meresmikan kegiatan tersebut. Selain itu Pak Hasan juga mengungkapkan kebutuhan utama ITB: beasiswa. Meskipun pembangunan lab dan renovasi ruangan adalah hal yang bagus, tetapi ternyata kebutuhan utama ITB adalah beasiswa. Hal ini terjadi karena memang 50% mahasiswa ITB berasal dari golongan menengah ke bawah. ITB berkomitmen untuk tetap menyelenggarakan pendidikan bagi mereka yang bahkan tidak mampu membayar, selama mereka masih memiliki kemampuan dalam menempuh pendidikan di ITB. Oleh karena itu, dukungan dari alumni-alumni ITB sangat diharapkan.

Reuni dan Inovasi

Yang namanya reuni pasti penuh dengan canda, tawa, dan kenangan. Hal ini juga yang terjadi pada focus group discussion para alumni tersebut. Beberapa fokus dan bersemangat, namun tidak sedikit yang ngobrol sendiri dan ketawa-ketawa. Saya juga sempat berpikir, ini alumni 81 hebat juga ya, reuni aja masih mikirin inovasi, kalau saya pribadi sampai detik ini masih membayangkan bahwa reuni itu pasti isinya ketawa-ketawa dan cengcengan. Tapi salut, setidaknya mereka semua punya semangat untuk memberikan inovasi bagi negeri ini. Kalaupun di antara beliau-beliau bercanda tawa, pasti itu bukan karena mereka tidak serius dalam menjalankan program ini. Saya hanya bisa berasumsi, sebagai orang yang cerdas, alumni-alumni tersebut mungkin kurang suka dengan hal-hal yang sifatnya masih konseptual seperti FGD, mungkin mereka langsung ingin melakukan tindakan konkretnya. Mungkin.

Melihat inisiatif yang dilakukan oleh ITB 81, saya pun berpikir, apa jadinya kalau setiap angkatan melakukan hal serupa. Setiap tahun pasti ada desa yang dibina dan dikembangkan! Dan, apa jadinya kalau seluruh alumni perguruan tinggi terkemuka di tanah air melakukan hal serupa?

Waaaw!

Belum lagi jika semua kegiatan tersebut melibatkan tenaga segar mahasiswa. Pasti mahasiswa Indonesia benar-benar bisa menjadi mahasiswa -bukan sekedar siswa biasa- yang langsung mengamalkan ilmunya pada kehidupan bermasyarakat. Tentu saja, mahasiswa harus mendapatkan apresiasi yang layak juga, bisa berupa kredit kuliah, dan lain-lain.

Hanya waw dan waw, yang keluar pada saat saya berkhayal. Tapi apa daya, itu semua hanya khayalan jika tidak ada yang mau mencoba mewujudkannya. Siapa yang mau?

Tulisan ini ditulis tanggal 9 Januari 2011. Berita resmi dari ITB bisa dilihat di sini http://www.itb.ac.id/news/3074.xhtml

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s