Merayakan Hidup

Siapa di antara Anda yang pernah berada dalam suatu seminar motivasi, lalu di sana Anda disuruh memetakan hidup Anda untuk beberapa tahun ke depan? Siapa yang pernah disuruh membuat milestone hidup pertahunnya hingga umur meninggal? Siapa yang pernah disuruh menentukan di usia berapa ingin meninggal, atau dengan kata lain, di usia berapa Anda yakin cita-cita Anda sudah tercapai semua?

Pada saat awal masuk ITB, saya paling suka membuat perencanaan hidup. Saya orangnya cukup perfeksionis untuk membuat sebuah rencana dan target-target yang matang dan detail. Tetapi, seperti yang diungkapkan di hasil psikotes saya pada saat SMP, saya bukanlah seseorang yang selalu mengerahkan seluruh tenaga saya untuk hal yang saya inginkan. Ini adalah sebuah ironi, mengingat saya merupakan seseorang yang melankolis dengan sifat perfeksionis yang sangat kental. Tapi, hasil psikotes itu juga mengatakan satu hal, ketika saya benar-benar sedang dalam peak performance, saya sangat potensial di bidang apapun, mulai dari bahasa, spasial, logika, dan lainnya.

Gambar pertama yang saya post di tumblr. Mengingat hampir setaun usia tumblr saya.

Rencana yang sudah sangat matang tersebut, satu demi satu gagal. Target demi target dicoret, bukan karena sudah tercapai, tetapi karena sudah tidak logis lagi dengan situasi terkini. Bum. Saya terpuruk. Sifat perfekionis saya mulai terkikis sedikit demi sedikit karena kegagalan demi kegagalan tersebut. Kebiasaan melakukan perencanaan yang rapi pun mulai saya tinggalkan.

Sesaat setelah kegagalan menimpa Anda, apa yang harusnya Anda lakukan? Saya yang dulu mungkin akan berkata, “Kegagalan ini adalah cambuk untuk menjadi lebih baik lagi“. Saya akan mengatakannya dengan berapi-api, dan dibarengi dengan perencanaan lagi. Perencanaan lagi, lagi dan lagi. Pada akhirnya saya merasa bahwa hal ini adalah sebuah kesalahan.

Di tingkat tiga, saya mulai menyadari bahwa hidup bukan soal meraih mimpi. Hidup bukanlah suatu perlombaan di mana kita harus membuktikan bahwa diri kita adalah yang terbaik. Dan lagi-lagi, hidup bukanlah soal perencanaan. Saya mulai berpikir bahwa mindset saya selama ini salah. Salah.

Hidup adalah tentang bersyukur. Sebagai manusia yang telah mendapatkan nikmat hidup, kita harus bersyukur. Menjalani hidup dengan syukur adalah yang utama, bukan hidup dengan mimpi dan ambisi. Itulah hidup.

Hidup bukanlah perlombaan, tetapi soal perjalanan. Perjalanan ini merupakan sebuah pencarian atas eksistensi diri sebagai makhluk. Di perjalanan ini tidak ada yang menang, tidak ada yang kalah. Yang ada hanyalah seorang pejalan yang terus berjalan, atau berhenti berjalan. Itulah hidup.

Hidup tidak pernah mengajari manusia untuk terus berencana, tetapi untuk berusaha dan menjalani. Sebuah rencana yang sangat sempurna akan sia-sia jika tidak dikerjakan. Dan, dalam hidup ini terlalu banyak variabel yang tidak bisa kita perkirakan. Rencana yang detail akan percuma karena kita akan kehilangan mata untuk melihat peluang dan tantangan yang baru. Menjalani hidup dengan selalu melihat tantangan yang ada di sekitar kita adalah pilihan paling baik. Berusaha menjalani apa yang bisa kita jalani hari ini dengan baik adalah suatu pencapaian yang sangat bagus. Tidak terduga. Itulah hidup.

Sekarang mari kita jalani hidup dengan syukur, meniatkannya sebagai perjalanan menuju Tuhan, dan melakukan yang terbaik yang kita bisa. Itu saja🙂

3 thoughts on “Merayakan Hidup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s