Appreciate Yourself

Suatu hari di kelas Bahasa Inggris semasa saya SMA, saya melanggar beberapa aturan yang diberikan oleh Pak Guru. Hal ini mungkin biasa saja untuk pelajaran lainnya, namun untuk pelajaran Bahasa Inggris, hal ini merupakan sesuatu yang sangat gawat. Pak Indro, guru Bahasa Inggris saya, merupakan guru dari ibu saya pada saat ibu saya masih bersekolah di SMA saya. Selain itu, Pak Indro juga merupakan guru dari adik ibu saya pada saat adik ibu saya juga masih bersekolah di sini. Dan, boleh dibilang Pak Indro adalah guru yang sangat disiplin. Sangat disiplin. Saya ulangi sekali lagi, sangat disiplin.

Dalam kelas Pak Indro, terdapat dua benda yang wajib dibawa oleh para murid. Benda yang pertama adalah sebuah name tag, dan benda kedua adalah sebuah buku kumpulan latihan TOEFL yang dibuat beliau. Kedua benda sakti tersebut adalah pusaka yang harus kami bawa jika ingin mendapatkan tiket mengikuti kelas beliau.

Dan benar. Pagi itu saya baru menyadari bahwa saya tidak membawa kedua benda pusaka tersebut. Saya adalah orang yang sangat malas sehingga bahkan saya tidak mempersiapkan buku-buku sekolah ketika berangkat sekolah. Dan satu lagi kesalahan saya, saya lupa bahwa hari ini ada kelas Pak Indro.

Apa yang anda lakukan jika kurang dari beberapa menit lagi Anda diminta untuk mengenakan name tag? Saya yang saat itu masih berusia 14 tahun memutuskan untuk membuat name tag sendiri. Saya membuatnya dari sobekan block note. Dengan skill origami yang terbatas, saya akhirnya berhasil membuat name tag tersebut. Saya tidak bohong, name tag yang saya buat sangat jelek. Sangat jelek. Apalagi tulisan “FIKRI” di name tag tersebut. Meskipun bolpen yang digunakan adalah bolpen Hi-Tech, tulisan tersebut sangat jelek. Font-typenya sangat tidak jelas dan tidak indah. Belum lagi arsiran yang tidak rapi yang mengisi font tersebut.

Buku? Ya, bagaimana dengan buku kumpulan latihan TOEFL? Saya tidak mungkin meminjam teman sekelas karena mereka juga membutuhkan buku tersebut untuk mengikuti kelas Pak Indro. Oh Crap! Akhirnya saya hanya bisa pasrah dan berdoa supaya Pak Indro tidak menyadari bahwa saya tidak membawa buku tersebut. Ide sederhananya adalah saya akan menggunakan buku lain di atas meja dan berpura-pura bahwa buku tersebut merupakan buku kumpulan latihan TOEFL. Sesimpel itu.

Saya lupa apakah saat itu kami memakai LCD projector atau tidak, yang jelas, kelas sangat gelap. Saya duduk di bangku paling belakang di kursi sebelah kanan pada barisan paling kiri. Di sebelah kanan saya ada Catur yang rambutnya sangat gondrong sekali. Ombak di rambut Catur sudah sangat tidak beraturan, dan sudah beberapa kali ia diperingatkan oleh Guru.

Kelas akhirnya dimulai pada saat Pak Indro menginjakkan kaki memasuki pintu. Suasana sangat mencekam buat saya. Di kelas yang gelap tersebut saya bersembunyi dari ketakutan diusir dari kelas karena saya tidak membawa barang yang seharusnya saya bawa. Pak Indro mulai mengajar. Saya pun berakting seolah-olah saya sama seperti murid lainnya, membawa dua barang wajib tersebut.

Kelas masih mengerikan dan sangat mengancam saya. Kondisi tersebut berlangsung stabil, sampai akhirnya Pak Indro mendekat ke arah saya. Jantung saya semakin berdebar dengan kencang. Saya mencoba senyum ramah seolah tanpa dosa. Tapi, Pak Indro sama sekali tidak melirik ke arah saya. Saya masih sangat cemas, sampai akhirnya Pak Indro berhenti di samping Catur, di sebelah kanan saya. Pak Indro menyentuh rambut Catur. Saya tidak tahu pasti, tetapi dari sepengamatan saya seperti sedikit menarik rambut Catur.

Beberapa saat kemudian Catur keluar dari kelas. Pak Indro menyuruh Catur untuk mencari Pak Suwondo. Catur baru diperkenankan mengikuti kelas jika rambutnya sudah dicukur oleh Pak Suwondo. Huff. Saya bernapas lega. Napas yang pertama saya tarik karena saya tidak diusir oleh Pak Indro. Sedangkan napas yang kedua saya tarik karena, Alhamdulillah, Catur diusir dari kelas. Mengapa Alhamdulillah? Apakah saya senang jika teman saya diusir dari kelas? Bukan, saya bersyukur bukan karena Catur diusir dari kelas. Tetapi, saya bersyukur karena akhirnya ada buku kumpulan latihan TOEFL yang menganggur. Ya, tentu saja Catur meninggalkan bukunya di kelas!

Kini degup jantung saya sudah tidak sekencang tadi. Di atas meja saya sudah terdapat salah satu benda wajib Pak Indro. Selain itu, saya toh sudah membuat name tag abal-abal yang saya kenakan di saku baju. Saya lega.

Seperti kegiatan belajar mengajar pada umumnya, pertanyaan sangat sering diajukan secara klasikal oleh guru. Tentu saja biasanya kelas menjawab pertanyaan tersebut dengan kontak dan serempak. Kontak mata guru dan murid pun menjadi hal yang tak terhindarkan di kelas.

Pak Indro kembali berjalan ke arah saya. Kali ini terjadi kontak mata. Saya berusaha mengikuti teman yang lain, menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan oleh Pak Indro. Saya merasa aman. Tapi, di tengah rasa aman tersebut, ancaman justru terjadi.

Pak Indro akhirnya melihat ke arah name tag saya. Saya hanya bisa terdiam dan berusaha tersenyum. Saat itu kata-kata bijak yang saya imani adalah, senyum adalah senjata yang paling baik bahkan di saat yang paling sulit. Namun sayang, orang bijak tersebut belum pernah berhadapan dengan Pak Indro. Senyum tersebut tidak berguna sedikit pun. Pak Indro mengambil name tag abal-abal saya dari saku. Beliau meremas-remas name tag tersebut menjadi sebuah bola. Setelah itu beliau menyobeknya lalu meletakkan sobekan kertas tersebut di atas meja saya. Lalu, dengan dinginnya beliau berkata,

“If you dont appreciate yourself, nobody will.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s