Biarkan ITB Hangus di Tahun 2015

Sebenarnya sampai sekarang pun kondisi tubuh saya masih belum fit. Sejak dimintai keterangan di Poltabes di hari kamis, saya menjumpai bintik merah di tangan saya. Dokter bilang saya kena campak. Walhasil, beberapa hari ini saya terkurung di kamar kos. Mungkin ini adalah rekor terlama saya di kamar kos. Jujur saya bosan dan sesekali waktu membuka laptop hanya untuk membuka email, twitter, facebook, dan messenger.

Sudah beberapa hari ini saya melewatkan beberapa agenda yang sudah saya jadwalkan. Rapat TEDxBandung, kuliah, bimbingan TA, foto bareng I3M, Sekolah Inovator Muda, Sekolah Bakat SKHOLE bersama HME, dan rapat sesuatu bersama Pambudi dan Agung. Semuanya saya lewatkan hanya karena saya sakit. Tapi bersyukur, di TEDxBandung saya punya Reza AE08 yang sangat bisa saya andalkan, di I3M saya masih punya banyak orang-orang hebat yang siap memback-up saya. Alhamdulillah. Hal ini membuat saya semakin yakin bahwa kemahasiswaan itu yang real adalah manusia-manusianya. Apa yang kita lakukan di kala menjadi mahasiswa sesungguhnya bukan hanya bagaimana agar kita dapat berbuat sesuatu ketika mahasiswa, tetapi bagaimana agar kita mampu melakukan sesuatu setelah lulus.

ITB dibakar atau kebakaran mungkin bias membuat heboh banyak orang. Isu  ini cukup membuat panas kampus. Isu ini cukup membuat kepala K3L menjadi sosok yang perhatian kepada mahasiswa-mahasiswa ITB pada saat kami memberikan keterangan di kantor polisi. Isu ini juga konon mengancam keberadaan mahasiswa untuk bisa tetap berada di kampus di malam hari. Tapi, entah mengapa di pikiran saya ada satu isu yang terus menerus hinggap. Isu ini adalah terbakarnya kampus ITB di tahun 2015.

Saya yakin di tahun 2015 nanti ITB akan terbakar habis-habisan. Tentu saja bukan terbakar gedungnya, tetapi terbakar semangatnya. Di tahun 2015 saya membayangkan akan terjadinya Kobaran Api dalam berkarya. Di saat itu, mahasiswa ITB sudah tidak kagok lagi untuk berkolaborasi satu sama lain. Antara orang-orang tua yang mengurusi institusi ITB dan anak-anak muda yang menyandang status sebagai mahasiswa ITB tidak lagi kagok untuk berkomunikasi, beradu argument, dan mengaku salah apabila memang salah. Sebuah bayangan yang sangat manis apabila nanti setiap dosen pasti menjadi dosen pembimbing dari proyek kolaborasi mahasiswanya.

Saya sudah mulai melihat bibit-bibit dari kenyataan di masa depan ini. Dahulu waktu saya baru masuk ITB, jarang terdengar adanya proyek kolaborasi. Sekarang? Kata-kata kolaborasi dan inovasi mulai didengungkan, seperti ITB-Satelit, OpenSparc Community, Proyek PLTMH beberapa himpunan, dan lainnya.Proyek-proyek kolaborasi mulai dikerjakan meskipun mungkin hasilnya belum terlihat nyata.  Wadahnya pun sudah banyak, ada I3M, Ganesha Rescue, SKHOLE, Ganesha Hijau, dan lain-lain. Yang jelas, saya yakin, angkatan-angkatan muda di ITB sudah tidak asing lagi dengan kata-kata kolaborasi dan inovasi.

Selain itu, mimpi sebagai world class university pun bukan tidak mungkin tercapai, karena mahasiswa ITB sangat berpotensi untuk menjadi mahasiswa berprestasi mendunia. Tapi bagi saya, masih banyak PR yang harus dikerjakan untuk dapat mencapai taraf ini. Boro-boro mau berprestasi, kadang kita tidak diberikan fasilitas yang memadai untuk mau melakukan penelitian. Dana untuk mengikuti lomba saja sangat susah mencarinya, dana buat TA? Hmmm.. Jujur, bagi saya dan kawan-kawan saya, mencari dana untuk penelitian masih susah. Entah memang tidak ada sumber dananya, atau memang sumber dana itu ada tapi kami tidak tahu cara mendapatkannya. Atau mungkin juga, sumber dana yang ada sudah dialokasikan untuk acara-acara besar seperti pameran karya yang sepi pengunjung, dan pentas seni yang penontonnya sangat membludak.

Di tahun 2015, bukan tidak mungkin ITB meraih kejayaan. Kejayaan yang ada di bayangan saya adalah ketika mahasiswa-mahasiswanya prestatif, baik di kancah local, maupun nasional.  Kelak di tahun 2015, setiap mahasiswa ITB setidaknya memiliki satu project penelitian atau pengabdian masyarakat yang ia kerjakan bersama teman-temannya. Dan setiap project itu pasti dibimbing oleh dosen. Diskusi rutin dengan dosen membahas project tersebut akan terjadi selama pengerjaan project. Jika project tersebut merupakan project yang bersifat pengabdian masyarakat, berkunjung ke masyarakat yang disasar merupakan rutinitas dari para mahasiswa ITB. Wow, saat itu dekat dengan rakyat bukanlah sekedar jargon. Dan ketika hal itu terjadi, mencari proposal PKM bukanlah hal yang mudah, pihak Lembaga Kemahasiswaan tinggal memberikan kabar kepada Badan Eksekutif dari KM ITB, lalu badan eksekutif tersebut akan mengumumkan ke seluruh himpunan dan unit, lalu…. BUM. Ratusan proposal PKM pun terkumpul. Dan saat itu, semua orang sudah punya pemikiran yang sama “PIMNAS mah, pasti ITB juaranya, mulai dari PKMP sampai PKMM, dari PKM AI sampai PKM GT”.

2015, system manajemen informasi dan pengetahuan di kampus ITB sudah sangat bagus. Organisasi kemahasiswaan dapat menjadi organisasi yang sangat progresif.Tidak ada lagi kesalahan menahun yang terjadi. Wow. Dan manajemen informasi dalam berkarya pasti sudah sangat baik di masa itu. Induk organisasi kemahasiswaan ITB telah memiliki catalog permasalahan bangsa, dan himpunan serta unit kegiatan mahasiswa ITB berlomba-lomba mencari ide untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Ide-ide tersebut akan terus dikawal dan diinkubasi hingga akhirnya bisa menjadi sebuah karya nyata. Setelah karya nyata itu ada, induk organisasi kemahasiswaan itb lagi-lagi akan menyambungkan karya tersebut agar bisa bermanfaat bagi masyarakat. Wow, saat itu bergerak bersama rakyat bukan jargon belaka, tetapi sudah menjadi budaya.  Futsal bersama pedagang di sekitar ITB pun menjadi santapan sebulan sekali para mahasiswa. Belum lagi, informasi-informasi seputar perlombaan yang ada di ITB, dokumentasi karya-karya mahasiswa, database donatur proyek penelitian dan pengabdian masyarakat, hingga database angel investor yang siap memodali bisnis anak ITB, semuanya akan sangat mudah diakses oleh setiap mahasiswa ITB. Wow. Saat itu pasti mahasiswa ITB berbondong-bondong mengikuti lomba-lomba di kancah internasional . Kalau sekarang di kalangan anak HME ada pikiran, “Wah, siapa ya yang tahun ini jadi finalis LSI Design Contest, siapa yang akan ke Okinawa,” karena setiap tahunnya ITB selalu meloloskan wakil di final International LSI Design Contest, bukan tidak mungkin setiap jurusan punya pemikiran yang sama untuk lomba keprofesian internasional sesuai program studinya masing-masing. EDAN!

2015, semangat para mahasiswa bukan hanya untuk status mahasiswa. Di tahun ini dan tahun-tahun berikutnya, setiap mahasiswa ITB pasti resah. Resah karena mereka masih bingung, apa yang dapat mereka perbuat di dunia nyata nanti. Tidak adanya industri strategis di negara ini menjadi tanda tanya besar bagi mereka. Mereka pun akhirnya aktif mencari tahu dan mengkaji, apa yang membuat bangsa ini tidak punya industry elektronika, otomotif, dan lain-lain. Keresahan itulah yang akhirnya membuat mahasiswa ITB yang saat itu peduli terhadap masa depan bangsa Indonesia, mencari tahu dengan sungguh-sungguh, bagaimana cara memajukan bangsa ini kelak. Apa gunanya kita melakukan hal hebat semasa mahasiswa, jika nanti setelah lulus kita tidak dapat melakukan hal yang lebih hebat lagi?

ah sudah dulu meracaunya, dilanjutkan kapan-kapan

Advertisements

Pecundang, Mimpi, dan Kata

Percayakah teman-teman bahwa semuanya diawali dari mimpi, dari ide, dari gagasan, dari sesuatu yang tidak nyata?

Saya adalah orang yang percaya bahwa masa depan dibangun oleh sekumpulan gagasan yang secara konsisten coba ditampakkan dalam dunia nyata. Beberapa tahun lalu ketika saya masih di-osjur, seseorang telah menancapkan mimpinya ke alam pikiran orang banyak. Mimpi tersebut adalah kejayaan HME akan terjadi ketika dipegang oleh angkatan 2007. Kejayaan seperti apa? Setiap orang mungkin memiliki khayalan masing-masing tentang “Kejayaan” tersebut.

Oke, sekarang saya akan sedikit memberikan gambaran yang sangat nyata di HME ITB. Beberapa bulan sebelum olimpiade, sekumpulan anggota HME mulai mendiskusikan strategi agar olah raga HME ITB lebih terorganisir. Sebuah semboyan yang diusung adalah, “demi emas olimpiade kita kawan“. Gagasan itu telah dibuat tampak sangat nyata di HME ITB. Mulai dari papan kayu di depan himpunan yang bertuliskan “Best Supporter is Ours“, lalu membuat sebuah replika piala raksasa, sampai dengan menyingkirkan piala lama di lemari piala dan menuliskan, “Untuk Prestasi HME di tahun 2011”, sebagai latar belakang lemari piala. Waw. Dan hasil akhirnya adalah, HME ITB juara Olimpiade, dan meraih Best Supporter.

Kejayaan? Apa bukan kejayaan namanya kalau HME ITB berhasil menyabet banyak gelar juara? Bagi saya itu sudah cukup mencerminkan kata “Kejayaan”. Dan ingat, kejayaan itu terpetik karena ada yang menanam. Sabetan juara itu bukan hanya hasil jerih payah Badan Pengurus saat ini, tetapi segudang prestasi tersebut merupakan batu bata yang ditata semenjak kepengurusan sebelum-sebelumnya. Buah yang dipetik saat ini adalah gagasan yang telah tumbuh dan berkembang, mengakar di hati kami, massa HME ITB, dilantangkan melalui lagu-lagu juara, dan semboyan juara, “OK CHAMP!”

Sudah tahu mimpi adalah benih kenyataan di esok hari? Kenapa takut untuk bermimpi? Toh yang terpenting adalah kita berusaha mewujudkan mimpi tersebut kan? Dua tahun lalu juga HME ITB sudah bermimpi untuk menjadi juara Olimpiade, tapi toh akhirnya parkir di urutan kedua. Tapi, semangat untuk terus bermimpi tidak pudar. Dan kini, mimpi itu tercapai. Kita tidak pernah tahu masa depan akan seperti apa. Tidak ada salahnya bermimpi. Tidak ada salahnya berusaha. Hasilnya? Serahkan saja pada Yang Di Atas. Tidak akan ada penyesalan jika kita sudah melakukan yang terbaik. Toh, gagal itu hanya soal mindset kan?

So, tidak adakah yang mau memberikan sebuah wacana tentang masa depan? Masa depan KM ITB, ITB, Bandung, Jawa Barat, dan Indonesia? Masihkah kita mau jadi pecundang yang takut untuk punya cita-cita? Masihkah kita mau jadi pecundang yang hanya bisa berkata-kata tanpa berbuat?

PECUNDANG!!

Regenerasi?

Sebelum membaca tulisan ini ada baiknya Anda membaca dengan tenang. Jangan lupa siapkan gula karena mungkin isinya sangat pedas.

Di organisasi kemahasiswaan seperti KM ITB, regenerasi selalu terjadi. Hal ini disebabkan karena mahasiswa bukanlah status abadi, dia terbatas oleh waktu. Sebagai pengamat kemahasiswaan (karena saya bukan aktivis, saya hanya pengamat), saya merasa dalam beberapa tahun terakhir belum terjadi perubahan yang cukup signifikan. Kemahasiswaan (sekali lagi saya bukan aktivis jadi jangan tanya saya apa artinya kemahasiswaan) ITB seperti melempem. Bisa saya katakan tidak progresif.

Beberapa hari yang lalu saya nonton (saya hanya pengamat loh) forsil kaderisasi. Dan hasilnya, tidak jauh berbeda ketika dua tahun lalu saya mengikuti forum serupa. Dalam setiap forum pasti selalu muncul pertanyaan, “apa tujuan diadakan forum ini?”. Nah, saya jadi bingung sendiri siapa yang bodoh sekarang. Pertanyaan seperti itu muncul karena yang punya forum belum ngasih tau tujuannya, atau peserta forum yang memang lupa mendengar atau membaca tujuan forum. Apakah sebegitu buruk kemampuan komunikasi mahasiswa ITB? Belum lagi durasi forum. Apakah sudah sebanding antara waktu yang dihabiskan untuk berdiskusi dan debat kusir dengan kesimpulan dan follow up yang diperoleh.

Lucu memang, organisasi kemahasiswaan yang dijalankan oleh sebagian mahasiswa ITB (yang katanya pinter-pinter) ini tidak memiliki suatu knowledge management yang baik. Regenerasi yang ada tidak diimbangi dengan aliran informasi dan pengetahuan yang bagus. Sehingga bisa terjadi yang namanya “Kesepakatan Sampah”. Kenapa sampah? Karena hal yang dulu telah disepakati oleh angkatan atas, kini kembali diperdebatkan oleh adik-adiknya. Entah kenapa sering banget saya merasa deja vu. Pernah saya dateng ke forsil suatu kegiatan, ada kahim yang baru kepilih, dan dia dengan sotoy dan begonya nanyain pertanyaan yang udah pernah diajukan pada forsil pertama (yang saat itu si dia belum jadi kahim). Siapa yang salah? Pengurus yang lama nggak ngasih tau atau dia yang emang gak baca LPJ pengurus sebelumnya? Saya berani bertaruh (taruhannya permen aja deh), kalau semua notulensi forum-forum di ITB ini dikumpulkan per-tahunnya, pasti banyak yang isinya mirip-mirip. Mau itu yang dibahas kongres, mau itu yang dibahas kabinet. Siapa yang mau membuktikan sok dicoba aja. Ini menurut analisis saya sebagai seorang pengamat saja loh, siapa tahu salah.

Saya jadi teringat kata-kata seorang angkatan yang cukup jauh di atas saya, “Kahim di ITB itu sampah. Sampah karena mereka nggak punya power untuk mengendalikan massa-nya. Kahim mungkin sepakat akan sesuatu, tetapi mereka tidak bisa membuat massanya menjalankan kesepakatan tersebut.” Nahlo, di himpunan kalian masih kayak gini nggak? Kalo masih berarti kemahasiswaan kita ya masih sampah.

Yah, kita memang tidak ada yang sempurna. Pasti banyak salah. Mau gimana lagi, iya nggak? Wajarlah kalau kondisinya kayak gini, toh organisasi kemahasiswaan itu cuman tempat buat menuh-menuhin CV, sepakat? Kemahasiswaan kan tempat di mana kita bisa menghamburkan uang untuk bikin acara yang kelihatannya meriah, sepakat?

Ketika kaderisasi dan kegiatan organisasi hanya dianggap sebagai event semata, tidak akan muncul perkembangan dalam organisasi kemahasiswaan dan anggotanya. Kesalahan demi kesalahan yang telah dilakukan angkatan sebelumnya terus diulangi oleh angkatan yang muda. Sumber daya manusia pun tidak dikembangkan sesuai dengan kebutuhan jaman. Kalau sudah begini, mana mungkin kampus ini bisa melahirkan banyak pemimpin bangsa? NGAREP APA?

Aku Seorang Koruptor

Aku berada di sebuah restoran di kota Bandung. Di depanku berdiri seorang Kepala Sekolah Dasar di daerah tertinggal di Jawa Barat. Sambil meneguk secangkir kopi, saya memulai pembicaraan, “Gimana Pak, anak-anak masih sekolah?”

“Susah Pak, orang tua mereka sepertinya udah nyerah. Gak kuat ngebiayain.”

“Hmm, dana bantuan yang dari Diknas belum turun Pak?”

“Wah itu dia Pak, sampai sekarang dana yang dijanji-janjikan itu belum turun. Yah, anak-anak sih udah mulai nyambi ngamen sekarang.”

***

Setahun berlalu. Kini aku dijerat hukum. Aku dituntut atas kasus korupsi yang aku lakukan pada saat menjabat sebagai anggota DPR. Kini tiba saatnya orang-orang yang ada di wahana keadilan itu mencercaku dengan pertanyaan yang mungkin akan membuatku mendekam sangat lama di bui. Akhirnya pertanyaan dilontarkan oleh panji keadilan,”Ke mana larinya dana yang saudara terima?”

“Dana itu saya berikan kepada suatu Sekolah Dasar di daerah Jawa Barat. Uang tersebut saya gunakan untuk mengembangkan SD tersebut. Rinciannya bisa dicek.”

***

Hanya sebuah cerita fiksi singkat yang saya tulis setelah mengobrol dengan @irfahlevi.