Regenerasi?

Sebelum membaca tulisan ini ada baiknya Anda membaca dengan tenang. Jangan lupa siapkan gula karena mungkin isinya sangat pedas.

Di organisasi kemahasiswaan seperti KM ITB, regenerasi selalu terjadi. Hal ini disebabkan karena mahasiswa bukanlah status abadi, dia terbatas oleh waktu. Sebagai pengamat kemahasiswaan (karena saya bukan aktivis, saya hanya pengamat), saya merasa dalam beberapa tahun terakhir belum terjadi perubahan yang cukup signifikan. Kemahasiswaan (sekali lagi saya bukan aktivis jadi jangan tanya saya apa artinya kemahasiswaan) ITB seperti melempem. Bisa saya katakan tidak progresif.

Beberapa hari yang lalu saya nonton (saya hanya pengamat loh) forsil kaderisasi. Dan hasilnya, tidak jauh berbeda ketika dua tahun lalu saya mengikuti forum serupa. Dalam setiap forum pasti selalu muncul pertanyaan, “apa tujuan diadakan forum ini?”. Nah, saya jadi bingung sendiri siapa yang bodoh sekarang. Pertanyaan seperti itu muncul karena yang punya forum belum ngasih tau tujuannya, atau peserta forum yang memang lupa mendengar atau membaca tujuan forum. Apakah sebegitu buruk kemampuan komunikasi mahasiswa ITB? Belum lagi durasi forum. Apakah sudah sebanding antara waktu yang dihabiskan untuk berdiskusi dan debat kusir dengan kesimpulan dan follow up yang diperoleh.

Lucu memang, organisasi kemahasiswaan yang dijalankan oleh sebagian mahasiswa ITB (yang katanya pinter-pinter) ini tidak memiliki suatu knowledge management yang baik. Regenerasi yang ada tidak diimbangi dengan aliran informasi dan pengetahuan yang bagus. Sehingga bisa terjadi yang namanya “Kesepakatan Sampah”. Kenapa sampah? Karena hal yang dulu telah disepakati oleh angkatan atas, kini kembali diperdebatkan oleh adik-adiknya. Entah kenapa sering banget saya merasa deja vu. Pernah saya dateng ke forsil suatu kegiatan, ada kahim yang baru kepilih, dan dia dengan sotoy dan begonya nanyain pertanyaan yang udah pernah diajukan pada forsil pertama (yang saat itu si dia belum jadi kahim). Siapa yang salah? Pengurus yang lama nggak ngasih tau atau dia yang emang gak baca LPJ pengurus sebelumnya? Saya berani bertaruh (taruhannya permen aja deh), kalau semua notulensi forum-forum di ITB ini dikumpulkan per-tahunnya, pasti banyak yang isinya mirip-mirip. Mau itu yang dibahas kongres, mau itu yang dibahas kabinet. Siapa yang mau membuktikan sok dicoba aja. Ini menurut analisis saya sebagai seorang pengamat saja loh, siapa tahu salah.

Saya jadi teringat kata-kata seorang angkatan yang cukup jauh di atas saya, “Kahim di ITB itu sampah. Sampah karena mereka nggak punya power untuk mengendalikan massa-nya. Kahim mungkin sepakat akan sesuatu, tetapi mereka tidak bisa membuat massanya menjalankan kesepakatan tersebut.” Nahlo, di himpunan kalian masih kayak gini nggak? Kalo masih berarti kemahasiswaan kita ya masih sampah.

Yah, kita memang tidak ada yang sempurna. Pasti banyak salah. Mau gimana lagi, iya nggak? Wajarlah kalau kondisinya kayak gini, toh organisasi kemahasiswaan itu cuman tempat buat menuh-menuhin CV, sepakat? Kemahasiswaan kan tempat di mana kita bisa menghamburkan uang untuk bikin acara yang kelihatannya meriah, sepakat?

Ketika kaderisasi dan kegiatan organisasi hanya dianggap sebagai event semata, tidak akan muncul perkembangan dalam organisasi kemahasiswaan dan anggotanya. Kesalahan demi kesalahan yang telah dilakukan angkatan sebelumnya terus diulangi oleh angkatan yang muda. Sumber daya manusia pun tidak dikembangkan sesuai dengan kebutuhan jaman. Kalau sudah begini, mana mungkin kampus ini bisa melahirkan banyak pemimpin bangsa? NGAREP APA?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s