Untuk Musuh Saya

“Jihad terbesar adalah melawan diri sendiri”

Sebulan ini saya merasa mendapatkan banyak pembelajaran yang sangat berharga, mulai dari memaknai “sakit”, hingga memaknai tanggung jawab sebagai seorang “manusia”. Saya menulis ini untuk diri saya, siapapun dia nanti, berapapun usianya, dan dimanapun ia berada.

Ingatlah kembali bahwa pada hakikatnya kita tidak memiliki apa-apa. Bahkan diri kita sendiri pun bukan punya kita. Semua bukan milik kita. Jangan pernah sombong dengan menganggap bahwa kita telah melakukan sesuatu, karena sebenarnya tanpa daya dan upaya dari Allah, kita tidak akan bisa melakukan sesuatu, bahkan bernapas. Maka dari itu kita harus senantiasa bersyukur atas segala hal kecil yang merupakan karunia Tuhan. Jangan pernah memaksa-maksa Tuhan, karena Tuhan itu yang Maha Kuasa dan berkehendak. Berusaha itu harus, tetapi menentukan takdir bukanlah urusan kita. Ikhlas dan serahkan semua hasil jerih payahkita kepada Tuhan.

Dunia. Dunia adalah tempat di mana kita diturunkan dan diuji keimanannya. Masihkah kita akan menjadi pengabdi Tuhan yang setia. Dunia harus kita kendalikan dan kita mainkan, jangan biarkan dunia mempermainkan kita. Ingat kembali kewajiban untuk senantiasa mengingat Allah di kala duduk, berdiri, maupun berbaring. Jangan pernah lupa bahwa ke manapun kita memandang, di situlah terdapat wajah Tuhan. Dengan mengingat bahwa semua adalah wajah Tuhan, kita tidak akan pernah meremehkan makhluk. Teman kita, hewan, tanaman, dan benda mati harus kita pandang sebagai wajah Tuhan yang senantiasa membuat kita teringat akan posisi kita sebagai makhluk yang lemah. Dengan senantiasa mengingat Tuhan, sudah seharusnya kita menjaga akhlak dengan senantiasa berbuat ikhsan di ardh. Kita diturunkan bukan untuk dipermainkan dunia, tetapi untuk menjadi seorang khalifah.

Bersihkan hati untuk selalu mencari keridhoan Tuhan, karena hanyalah ridho Tuhan yang menjadi maksud dan tujuan kita. Kita bukan diciptakan untuk mengejar surga, tetapi untuk mengabdi kepada Tuhan. Jangan sepelekan dan lupakan urusan keTuhanan, selesaikan urusan keTuhanan dan Tuhan akan menyelesaikan urusan kita.

Jangan lupa untuk memuliakan Al-Quran, bukan hanya di pikiran sadar tetapi juga bawah sadar. Masih ada kesempatan untuk bertaubat selama ajal belum menjemput. Dan tidak ada kesempatan taubat ketika nyawa sudah meregang, yang ada hanya sesal. Tuhan memberikan pilihan, apakah kita akan lolos ujian? Semoga Tuhan memberikan karunia berupa hati yang bersih agar kelak ketika roh terlepas dari jasad kita, kita tidak tersesat. Semoga rohani ini terisi dengan dzikir sehingga kelak akan berkumpul bersama para ahli dzikir untuk kembali kepada isi dzikir itu sendiri. Amin.

Semoga Tuhan berkenan memberikan wasilah-Nya agar kami tidak menjadi orang-orang yang tersesat, yang tersesatkan oleh kesombongan dalam beragama, merasa benar sendiri, merasa kuat sendiri, dan menganggap diri ini Tuhan secara tidak sadar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s