Panggilan Takdir

“Ketetapan Setelah Terjadi”

(arti kata takdir yang selalu saya jawab pada pelajaran agama, dari SD, SMP, SMA)

Setiap manusia pasti punya keinginan. Dari keinginan tersebut, manusia perlahan menyusun deretan rencana, untuk suatu hal yang dikira miliknya: hidup. Manusia punya yang namanya pemikiran akan hal-hal yang ideal, idealisme. Dan pastinya, manusia ingin mengejar keidealan itu dalam hidupnya. Perencana unggul. Manusia berusaha menjadi seorang sutradara dalam hidupnya, berbagai skenario dirancang mulai dari A sampai Z. Dalam hidupnya.

Bertanya tentang masa depan, tidak ada yang pasti. Yang pasti adalah setiap orang bisa berkata dan berbuat di masa sekarang. Mungkin apa yang diperbuatnya dipengaruhi oleh masa yang lampau, tetapi apa yang dilakukannya tidak akan pernah merubah masa lampau. Dan sekali lagi, apapun yang dilakukan manusia di masa kini, tidak dapat menjamin seperti apa masa depannya tersusun. Batu bata yang berisi sederet target dan skenario yang dirancang tidak pernah tahu, apakah dirinya akan tersusun rapi menjadi sebuah rumah yang indah di masa depan.

Kasus yang kini sering saya temui adalah sebuah pernyataan atau pertanyaan di masa lalu yang pada akhirnya tidak sesuai dengan apa yang terjadi sekarang. Salah atau tidak saya tidak tahu. Ketika hari ini kita berkoar-koar tentang nasionalisme, tidak ada jaminan di masa mendatang kita tidak menjadi koruptor. Tapi, ketika hari ini kita tidak berkoar tentang nasionalisme, tidak ada jaminan di masa mendatang kita masih memiliki sedikit saja rasa nasionalisme. Continue reading “Panggilan Takdir”