Panggilan Takdir

“Ketetapan Setelah Terjadi”

(arti kata takdir yang selalu saya jawab pada pelajaran agama, dari SD, SMP, SMA)

Setiap manusia pasti punya keinginan. Dari keinginan tersebut, manusia perlahan menyusun deretan rencana, untuk suatu hal yang dikira miliknya: hidup. Manusia punya yang namanya pemikiran akan hal-hal yang ideal, idealisme. Dan pastinya, manusia ingin mengejar keidealan itu dalam hidupnya. Perencana unggul. Manusia berusaha menjadi seorang sutradara dalam hidupnya, berbagai skenario dirancang mulai dari A sampai Z. Dalam hidupnya.

Bertanya tentang masa depan, tidak ada yang pasti. Yang pasti adalah setiap orang bisa berkata dan berbuat di masa sekarang. Mungkin apa yang diperbuatnya dipengaruhi oleh masa yang lampau, tetapi apa yang dilakukannya tidak akan pernah merubah masa lampau. Dan sekali lagi, apapun yang dilakukan manusia di masa kini, tidak dapat menjamin seperti apa masa depannya tersusun. Batu bata yang berisi sederet target dan skenario yang dirancang tidak pernah tahu, apakah dirinya akan tersusun rapi menjadi sebuah rumah yang indah di masa depan.

Kasus yang kini sering saya temui adalah sebuah pernyataan atau pertanyaan di masa lalu yang pada akhirnya tidak sesuai dengan apa yang terjadi sekarang. Salah atau tidak saya tidak tahu. Ketika hari ini kita berkoar-koar tentang nasionalisme, tidak ada jaminan di masa mendatang kita tidak menjadi koruptor. Tapi, ketika hari ini kita tidak berkoar tentang nasionalisme, tidak ada jaminan di masa mendatang kita masih memiliki sedikit saja rasa nasionalisme.

Tapi, buat saya yang penting adalah pembelajaran yang kita peroleh. Saya juga begitu, sering berbicara hal-hal yang mendahului masa depan, dan tidak jarang akhirnya menjadi omong kosong belaka.Ya, saya sudah terlalu banyak berdusta. Sedih rasanya mengetahui kesalahan dan kedustaan di masa lampau, tetapi kita tidak dapat mengubah apapun. Ketetapan setelah terjadi. Sesuatu yang akan terus menjadi ketetapan karena sudah terjadi, tidak ada yang mampu mengubahnya kecuali tangan Tuhan.

Mungkin lebih baik dari sekarang kita belajar untuk menerima kenyataan bahwa sebenarnya, kita adalah milik Tuhan. Hidup kita pun demikian, sebagai manusia kita hanya kebagian peranan untuk menjalani hidup di bumi. Hal ini tidak menjadikan kita sebagai pemilik kehidupan itu sendiri yang dengan leluasa dapat membuat ketentuan dan ketetapan. Iya, itu semua milik Tuhan ternyata. Kalau Tuhan mau, Dia sangat bisa membolak-balik kehidupan kita dalam sekejap.

Tapi memang, manusia sudah lupa. Selama hidup ini, apa yang sebenarnya titipan seolah menjadi milik kita. Itu karena kita telah terlalut dalam permainan yang maha memabukkan bernama kehidupan. Dan kini saatnya kita ingat kembali bahwa semua ini milik Tuhan. Dan kita, harus selalu siap mengembalikannya kepada Tuhan di setiap saat.

Lalu, bagaimana seharusnya kita menyikapi keinginan? Bagi saya yang namanya keinginan adalah salah satu anugerah yang dikaruniakan Tuhan kepada manusia. Selama keinginan itu positif, sepertinya Tuhan telah memberikan jalan melalui janji-Nya. Kita disuruh berdoa, dan nanti Tuhan akan mengabulkan. Dan saya orang yang percaya bahwa Tuhan pasti mengabulkan doa. Meskipun terkadang manusia berpikir Tuhan tidak adil, manusia akan tiba pada suatu saat di mana dia menyadari bahwa Tuhan telah mengabulkan doanya.

Tuhan itu Maha Pengasih dan Maha Mengetahui. Dalam berdoa, kita harus berhati-hati karena bisa saja Tuhan akan mengabulkannya dengan jalan yang tidak sesuai dengan alur berpikir manusia. Tetapi, suatu saat ketika ketetapan sudah terjadi, di saat itu manusia akan tersadar bahwa doanya terkabul. Mungkin tidak sesuai dengan teks yang kita ucapkan pada saat berdoa, tetapi mungkin sesuai dengan keinginan dalam hati kita saat berdoa. Tapi terkadang juga yang terjadi sebaliknya, ketika kita berkata asal-asalan, justru terjadi. Poin penting yang perlu kita sadari adalah pikiran dan perkataan adalah doa, makanya kita selalu disuruh berpikir positif dan berkata positif.

Akhirnya, panggilan takdir akan memanggil kita ketika saatnya tiba. Sampai saat itu tiba, tugas kita adalah mencoba menjalani kehidupan dengan sebaik mungkin. Sampai saat itu tiba, tugas kita adalah menjaga perkataan, pikiran, dan perasaan. Jangan pernah berkata Tuhan tidak adil, dan jangan pernah memaksa Tuhan. Bisa jadi ketika kita merasa demikian, kita sudah menjadi makhluk yang sombong dan merasa melebihi Tuhan secara tidak sadar. Loh kok? Ya iyalah, kalau Anda bisa berkata Tuhan tidak adil, berarti Anda telah memiliki parameter keadilan lain, yang mungkin-Anda rasa-sudah lebih benar ketimbang parameter adil dari Tuhan.

Dan ketika saya mencari ketenangan hati, saya temukan itu dengan senantiasa percaya bahwa Tuhan Maha Tinggi. Segala hal-hal yang hanya menjadi labirin buntu bagi logika, menjadi hal-hal yang sangat simpel, jika dan hanya jika kita benar-benar percaya akan adanya sesuatu. Sesuatu tersebut bernama Tuhan yang akan melengkapi semua misteri ini. Manusia berdebat tentang arti keadilan, padahal Tuhan telah menunjukkan keadilan-Nya pada penciptaan dan keberjalanan semesta. Tidak perlu mempertanyakan keadilan dan kekuasaan Tuhan, jika kita mau membaca apa yang terjadi pada alam semesta. Bagaimana mungkin segala sesuatu telah berjalan dalam harmoni dan berjalan atas ketentuan dan ketetapan yang sangat teratur?

“Manusia merencanakan, Tuhan yang akan menentukan. Tetap semangat dalam menjalani kehidupan dan selalu ingat bahwa semua ini milik Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. :)” 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s