Indeks Prestasi, itu Privasi?

Kawan-kawan sekalian, beberapa hari yang lalu muncul suatu kehebohan di twitter. Bukan. Kali ini bukan terjadi kehebohan karena trending topics aneh berasal dari Indonesia. Kejadian menggemparkan tersebut adalah munculnya isu bahwa kita dapat melihat Indeks Prestasi seluruh mahasiswa di Indonesia. Wah? Bukankah IP itu privasi?

Ya, IP yang selama ini menjadi privasi dan menggenapi SARA menjadi SARIP kini diumbar dengan bebas. Siapa yang membeberkan info paling privat dari seluruh calon menantu di Indonesia? Jawabannya cukup mengejutkan, informasi tersebut dapat diakses oleh siapapun di sebuah situs pemerintah. Bisa diasumsikan, pemerintah mengambil kebijakan untuk menjadikan IP sebagai informasi yang bebas diakses publik. 😀 Continue reading “Indeks Prestasi, itu Privasi?”

Ajar

Percayakah Anda bahwa kata “ajar” dan “inspirasi” punya hubungan yang sangat dekat?

Ya, saya saat ini seharusnya saya sedang mengerjakan tugas akhir, mempelajari cara membuat aplikasi untuk multi-touch table top. Namun karena sedang penat, saya refreshing sejenak, salah satunya dengan menulis blog. Tulisan kali ini akan mengupas tentang inspirasi yang saya peroleh hari ini, dan inspirasi itu berkaitan erat dengan kata “ajar”.

Cerita dimulai ketika saya menunggu seorang teman di daerah Tubagus Ismail. Saya memarkir motor saya di pinggir jalan. Tiba-tiba seorang anak perempuan mendatangi saya. Anak itu bertanya, “Kak Fikri kan?”.  Saya sangat bingung, saking bingungnya, saya jawab”Iya, siapa ya?”. Ini adalah kelemahan terbesar saya. Dengan muka sangat tidak ramah, nada bicara yang songong, ditambah kebingungan, saya sukses menjadi orang yang sangat arogan.

“Saya yang dulu diajar sama Kak Fikri di ITB,” anak perempuan itu menjawab.

“Hah, ngajar? kapan ya?” saya menjawab dengan kebingungan.

“Iya yang dulu ngajar di ITB, yang main itu loh”

“Hmm, bentar kapan ya?” yang ada di pikiran saya adalah, saya tidak pernah mengajar, yang pernah saya lakukan adalah memberikan training. Oh, iya, mungkin anak ini waktu SSDK kebagian saya sebagai co-trainernya. Tapi, kalau dilihat-lihat, dia masih kecil, nggak mungkin anak kuliahan. Hmm, saya juga tidak pernah mengajar sebagai guru les. Sampai akhirnya, saya tersadar dengan frasa terakhir yang dilontarkan anak perempuan itu. Ya, saya pernah ikut meramaikan program adik asuh dari HME ITB, tapi saya hanya mau kebagian ice breaking. Saya bukan orang yang sangat serius sehingga saya hanya mengajarkan mereka bermain senam otak dan beradu menyanyikan lagu “Burung Kakak Tua” dan “Topi Saya Bundar”. Dialog di pikiran saya ini berlangsung sangat singkat, hingga akhirnya saya bisa mengatakan, “Oh iya! Iya iya! Wah, tapi kan saya udah jarang dateng.. ”

Saya mengisi ice breaking dengan brain gym. Waktu itu kegiatan adik asuh ini bertempat di kos Nursita Setiawati (EP 09). Makasih tempatnya ya Sita, Makasih juga buat Pengmas HME, dan Makasih Syakur yang udah ngajak saya dateng 🙂

Yang membuat saya kaget adalah tiba-tiba anak perempuan itu memperlakukan saya seperti guru. Apa yang dilakukannya saat itu membuat saya teringat masa SD. Di masa SD, yang namanya guru itu selalu dihormati dan hal itu dibuktikan dengan sebuah tindakan nyata yang sangat simpel, salim. Masih segar di ingatan saya ketika saya selalu menyalimi guru-guru saya tiap setelah berbaris masuk kelas pada masa SD. Dan di luar itu, pasti saya selalu menyalami guru yang bertemu di mana pun. Masih sangat segar di ingatan saya momen dimana mama atau eyang putri atau bude-bude saya berkata, “Salim dong sama bu guru,” ketika sedang bertemu bu guru, baik itu di rumah, di mall, dimanapun.

Dan jujur, yang ada di pikiran saya adalah sebuah pertanyaan apakah saya dianggap sebagai seorang guru oleh anak ini. Kalau iya, saya merasa sangat cupu. Continue reading “Ajar”

Untuk Pambudi

Pada hari ini, salah satu sahabat saya yang bernama Fitrian Pambudi berulang tahun. Pambudi itu seperti selayaknya manusia biasa, ada kelebihannya dan ada kekurangannya. Pambudi itu terkadang memiliki sifat polos, dan mungkin terkadang jadi tidak peka. Sisi positif dari hal ini adalah Pambudi menjadi orang yang cuek dan pantang menyerah dalam mengejar mimpinya. Tak peduli apa yang dikatakan orang lain, Pambudi yang seorang pekerja keras terus berusaha untuk membuat kata-katanya menjadi nyata.

Pambudi adalah seorang pejuang mimpi di kemahasiswaan. Dia adalah seorang Ketua Angkatan DAT, Deputi Pendidikan Kabinet KM ITB 2009/2010, dan Ketua HME 2010/2011. Selain aktif di organisasi, Pambudi juga berprestasi. Pambudi pernah menjadi salah seorang juara lomba menulis di ITB Fair 2010, serta memenangkan kompetisi desain logo ITB Ecocampus. Kalau teman-teman lihat logo ITB Ecocampus, logo tersebut merupakan karya Pambudi. Oh iya, kalau teman-teman ingin membaca tulisan inspiratif dari Pambudi, teman-teman bisa mengunjungi blognya di http://fitrianp.wordpress.com/.

Atas inspirasi yang saya peroleh dari persistensi Pambudi, saya pun menciptakan sebuah lagu. Hari ini lagu ini resmi saya berikan kepada Pambudi melalui wall facebook.

Lagu ini saya rekam di HME, makanya ada backsound yang rada kacau 🙂 Yah, pesan saya untuk Pambudi mah simpel aja, semoga Pambudi bisa terus ingat Tuhan.

Aku Pambudi! Pejuang Mimpi!

— diedit 30 November 2013 untuk nambahin versi soundcloud :

Filosofi#2 Pendidikan

Kalau teman-teman pernah membaca proposal I3M (bisa juga dibaca di sini http://otakkurusak.wordpress.com/2008/04/12/pusat-inkubator-ide-dan-kreativitas-mahasiswa-itb/), pasti teman-teman akan sangat tertohok. Terutama paragraf ini:

“Bisa Anda bayangkan jika terdapat satu komunitas, dimana dalam komunitas tersebut terdapat sepuluh ribu pemuda pilihan dari sekitar dua ratus juta yang ada (1:20000). Kita akan lanjutkan bayangan kita, menurut Anda bagaimana profil orang-orang pillihan tersebut. Menurut Anda apa yang bisa mereka lakukan, bayangkan saat anda harus menyeleksi satu orang dari dua puluh ribu orang. Kualitas pemuda seperti apa yang Anda bayangkan.

Bayangkan lebih jauh lagi, kemudian orang-orang tersebut dikumpulkan dalam sebuah komunitas. Seberapa hebat komunitas tersebut menurut Anda. Sepuluh ribu orang terseleksi dari negeri ini berkumpul di sebuah tempat. Mungkin Anda akan membayangkan mereka sebagai pasukan elit yang bisa mengatasi masalah apapun, menyelesaikan semua misi, atau bahkan menggerakkan bangsa ini.

Jika bayangan Anda seperti itu, lebih baik Anda buang jauh-jauh. Bayangan Anda meleset, Anda hanya akan menemukan pemuda-pemuda tanggung yang bahkan tidak tahu siapa diri mereka sebenarnya, apa peran mereka disana, apa tanggung jawab mereka disana, bahkan mereka tidak tahu apa tujuan sebenarnya mereka disana. Itulah ITB.”

Krisis Identitas, itulah yang terjadi sekarang. Sistem pendidikan formal yang ada telah mengekang kreativitas, minat, dan bakat yang sesungguhnya dari diri sendiri. Kita terbiasa memandang IPA lebih baik daripada IPS. Kita terbiasa menganggap sekolah adalah sebuah tingkatan formal yang memang harus dilewati agar nantinya kita dapat bekerja dan hidup.

Pendidikan telah bergeser maknanya. Padahal orang-orang bijak jaman dahulu berkata bahwa pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia, bagaimana setiap manusia dapat menemukan arti keberadaannya sendiri berupa misi hidup. Ya, setiap orang seharusnya terus mencari apa yang bisa ia perbuat agar keberadaannya berarti. Sekali berarti, sudah itu mati. Continue reading “Filosofi#2 Pendidikan”

Filosofi#1 Sebuah Gagasan

Di akhir tahun 2010 saya sempat berpikir, bagaimana sih seharusnya gerakan mahasiswa ITB? Bukan tanpa alasan, ketika itu saya sedang berdiskusi dengan Ikhsan Abdusyakur yang hendak mencalonkan diri sebagai MWA Wakil Mahasiswa ITB. Sebagai salah seorang yang pernah terlibat dalam Diklat Aktivis Terpusat KM ITB, saya merasa tergelitik dengan topik ini.

Kalau dipikir-pikir, alangkah luar biasa kayanya potensi yang ada di kampus ITB. Orang-orang yang pintar, fasilitas yang dimiliki, jaringan dari para alumni-alumninya. Menurut saya itu adalah cerminan ragam potensi yang dimiliki kampus ini. Lihat saja bidang ilmu yang dimiliki kampus ini, sains, teknologi, seni rupa dan desain, ditambah lagi bisnis dan manajemen. Ini adalah sebuah kombinasi yang menurut saya sangat maut di mana sains bisa menjadi dasar bagi penerapan teknologi yang lebih advance tanpa melupakan sentuhan seni dan kebudayaan bangsa. Dan ditambah bisnis dan manajemen, seharusnya kita dapat menghasilkan sangat banyak inovasi. Bukan hanya invensi, tapi lebih ke inovasi yang tepat dalam menyasar pasarnya, baik itu komersial maupun sosial.

Setelah menyadari kayanya potensi ITB, saya pun kembali berpikir. Beberapa kali saya ngobrol dengan orang-orang, saya menjadi tersadar bahwa sampai saat ini sepertinya ITB belum bisa memberikan dampak yang besar bagi pengembangan peradaban di kota Bandung. Ya, permasalahan di sekitar kita masih sangat banyak, dan kita yang masih mahasiswa ini hanya berkutat dengan debat kusir yang setiap tahun selalu diulang-ulang di kampus. Banyak bacot singkatnya.

Inkubator Ide dan Inovasi Mahasiswa

Nah menurut saya seharusnya ada yang berperan sebagai pihak yang mengelola potensi-potensi yang ada agar dapat menjadi solusi bagi permasalahan bangsa. Pihak tersebutlah yang mendata potensi yang dimiliki kampus ini, segala potensi dari segala elemen yang dimiliki oleh kampus ini. Lalu, pihak itu juga yang berperan untuk menjodohkan potensi tersebut dengan masalah-masalah yang ada. Oiya, artinya si pihak ini juga harus memiliki pendataan masalah-masalah tersebut ya. Ya, inventaris! Continue reading “Filosofi#1 Sebuah Gagasan”

Gerakan Indonesia Berkarya

Karya.


Karya adalah salah satu kata yang bagi saya sangat menarik. Saya juga tidak tahu persis di mana daya tarik dari kata karya. Tetapi, yang jelas, “karya” lah yang membuat manusia berbeda dengan makhluk lain di muka bumi. Manusia memiliki kemampuan untuk berkarya, mencipta. Ya, atas belas kasih dari Tuhan sang Maha Pencipta, manusia telah diberikan kesempatan untuk menciptakan sesuatu, berkarya.

Saya mulai menyadari hal ini ketika saya pernah berpartisipasi dalam Pemilu HME ITB. Saat itu saya berpikir, apa sih sebenarnya himpunan itu. Jawaban yang saya temukan ternyata memberikan pertanyaan baru sampai akhirnya saya sampai pada hal yang paling mendasar dari sesosok makhluk: alasan keberadaan.

Percaya atau tidak, segala sesuatu diciptakan dengan alasan yang spesifik. Kalau teman-teman ingat, Einstein juga pernah berkata bahwa Tuhan tidak bermain dadu. Begitu pula manusia, saya percaya bahwa setiap manusia memiliki alasan keberadaannya masing-masing. Setiap manusia dibekali potensi dan bakat tertentu agar dirinya bisa berbuat sesuatu di muka bumi ini. Dan itulah definisi berkarya menurut saya, memaksimalkan potensi yang dimiliki agar bisa memberikan dampak (beramal) bagi lingkungannya. Continue reading “Gerakan Indonesia Berkarya”