Filosofi#1 Sebuah Gagasan

Di akhir tahun 2010 saya sempat berpikir, bagaimana sih seharusnya gerakan mahasiswa ITB? Bukan tanpa alasan, ketika itu saya sedang berdiskusi dengan Ikhsan Abdusyakur yang hendak mencalonkan diri sebagai MWA Wakil Mahasiswa ITB. Sebagai salah seorang yang pernah terlibat dalam Diklat Aktivis Terpusat KM ITB, saya merasa tergelitik dengan topik ini.

Kalau dipikir-pikir, alangkah luar biasa kayanya potensi yang ada di kampus ITB. Orang-orang yang pintar, fasilitas yang dimiliki, jaringan dari para alumni-alumninya. Menurut saya itu adalah cerminan ragam potensi yang dimiliki kampus ini. Lihat saja bidang ilmu yang dimiliki kampus ini, sains, teknologi, seni rupa dan desain, ditambah lagi bisnis dan manajemen. Ini adalah sebuah kombinasi yang menurut saya sangat maut di mana sains bisa menjadi dasar bagi penerapan teknologi yang lebih advance tanpa melupakan sentuhan seni dan kebudayaan bangsa. Dan ditambah bisnis dan manajemen, seharusnya kita dapat menghasilkan sangat banyak inovasi. Bukan hanya invensi, tapi lebih ke inovasi yang tepat dalam menyasar pasarnya, baik itu komersial maupun sosial.

Setelah menyadari kayanya potensi ITB, saya pun kembali berpikir. Beberapa kali saya ngobrol dengan orang-orang, saya menjadi tersadar bahwa sampai saat ini sepertinya ITB belum bisa memberikan dampak yang besar bagi pengembangan peradaban di kota Bandung. Ya, permasalahan di sekitar kita masih sangat banyak, dan kita yang masih mahasiswa ini hanya berkutat dengan debat kusir yang setiap tahun selalu diulang-ulang di kampus. Banyak bacot singkatnya.

Inkubator Ide dan Inovasi Mahasiswa

Nah menurut saya seharusnya ada yang berperan sebagai pihak yang mengelola potensi-potensi yang ada agar dapat menjadi solusi bagi permasalahan bangsa. Pihak tersebutlah yang mendata potensi yang dimiliki kampus ini, segala potensi dari segala elemen yang dimiliki oleh kampus ini. Lalu, pihak itu juga yang berperan untuk menjodohkan potensi tersebut dengan masalah-masalah yang ada. Oiya, artinya si pihak ini juga harus memiliki pendataan masalah-masalah tersebut ya. Ya, inventaris!

Bagi saya, yang seharusnya melakukan hal itu adalah kabinet KM ITB. Dan saya sampai hari itu merasa bahwa kabinet KM ITB belum melakukan hal itu dengan maksimal. Beberapa gagasan yang saya ungkapkan di atas adalah Kabinet KM ITB ideal menurut saya. Gagasan tersebut saya peroleh dari melihat kondisi forum-forum kampus yang gitu-gitu aja, program kerja yang gitu-gitu aja, dan pembenaran serta argumentasi-argumentasi yang gitu-gitu aja.

Tapi kawan-kawan, ketika saya mengamati lagi elemen-elemen yang ada di kampus, ternyata sudah ada sebuah lembaga yang didirikan untuk mengemban tugas tersebut. Lembaga tersebut bernama Inkubator Ide dan Inovasi Mahasiswa ITB. Lembaga tersebut memang bukan lembaga yang asing di telinga saya. Namun memang, saya baru merasa lembaga ini sangat sangat penting saat itu, saat saya mendambakan hadirnya sebuah “Manajer Potensi” di kampus ini.

Nah, setelah itu saya langsung mencari tahu lebih mengenai I3M. Ngobrol sama Ikhsan Sigma Putra, Iwa Kartiwa, dan Shana Fatina menjadi aktivitas yang cukup sering saya lakukan pada saat itu, baik via ym maupun ngobrol langsung.

Ya, ternyata ide itu sudah ada dan sudah mulai direalisasikan. Karena idenya sama, mengapa saya tidak coba besarkan saja si I3M ini? Dan untuk bisa membangun si I3M, saya harus mengamati dan meneliti, sejauh apa perkembangannya sekarang.

Kalau saya tahu sesuatu yang seharusnya saya lakukan tetapi saya tidak mau melakukannya, artinya saya telah berdusta. Dan orang-orang yang berdusta dikutuk oleh Tuhan. Serem kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s