Filosofi#2 Pendidikan

Kalau teman-teman pernah membaca proposal I3M (bisa juga dibaca di sini http://otakkurusak.wordpress.com/2008/04/12/pusat-inkubator-ide-dan-kreativitas-mahasiswa-itb/), pasti teman-teman akan sangat tertohok. Terutama paragraf ini:

“Bisa Anda bayangkan jika terdapat satu komunitas, dimana dalam komunitas tersebut terdapat sepuluh ribu pemuda pilihan dari sekitar dua ratus juta yang ada (1:20000). Kita akan lanjutkan bayangan kita, menurut Anda bagaimana profil orang-orang pillihan tersebut. Menurut Anda apa yang bisa mereka lakukan, bayangkan saat anda harus menyeleksi satu orang dari dua puluh ribu orang. Kualitas pemuda seperti apa yang Anda bayangkan.

Bayangkan lebih jauh lagi, kemudian orang-orang tersebut dikumpulkan dalam sebuah komunitas. Seberapa hebat komunitas tersebut menurut Anda. Sepuluh ribu orang terseleksi dari negeri ini berkumpul di sebuah tempat. Mungkin Anda akan membayangkan mereka sebagai pasukan elit yang bisa mengatasi masalah apapun, menyelesaikan semua misi, atau bahkan menggerakkan bangsa ini.

Jika bayangan Anda seperti itu, lebih baik Anda buang jauh-jauh. Bayangan Anda meleset, Anda hanya akan menemukan pemuda-pemuda tanggung yang bahkan tidak tahu siapa diri mereka sebenarnya, apa peran mereka disana, apa tanggung jawab mereka disana, bahkan mereka tidak tahu apa tujuan sebenarnya mereka disana. Itulah ITB.”

Krisis Identitas, itulah yang terjadi sekarang. Sistem pendidikan formal yang ada telah mengekang kreativitas, minat, dan bakat yang sesungguhnya dari diri sendiri. Kita terbiasa memandang IPA lebih baik daripada IPS. Kita terbiasa menganggap sekolah adalah sebuah tingkatan formal yang memang harus dilewati agar nantinya kita dapat bekerja dan hidup.

Pendidikan telah bergeser maknanya. Padahal orang-orang bijak jaman dahulu berkata bahwa pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia, bagaimana setiap manusia dapat menemukan arti keberadaannya sendiri berupa misi hidup. Ya, setiap orang seharusnya terus mencari apa yang bisa ia perbuat agar keberadaannya berarti. Sekali berarti, sudah itu mati.

Sekolah pun demikian, ada yang bilang bahwa sekolah berasal dari “Skhole” yang artinya waktu luang. Karena jaman dulu orang udah bingung mau ngapain dan akhirnya.. dengan senang hati, mereka belajar deh sesuai minatnya masing-masing. Tapi sekarang? Jangan ditanya, sekolah terkadang menjadi sesuatu yang sangat membosankan dan mengerikan. Kurikulum yang sangat membebani siswa ditambah metode yang itu-itu aja, menurut saya, yang menjadi penyebabnya.

Dan seperti kata-kata yang saya kutip di atas, institusi pendidikan sekelas ITB pun nampaknya belum dapat menjalankan pendidikan dengan maksimal. Karena seharusnya pendidikan membuat orang menemukan jati dirinya, memaksimalkan potensinya agar dapat bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. Dan saya pribadi merasa belum menemukan jati diri, belum memaksimakan potensi, apalagi memberikan manfaat yang maksimal untuk masyarakat.

Saya yakin, yang namanya sikap dan karakter itu dibentuk dari proses-proses dan kebiasaan selama hidup. Kalau kita tidak pernah berusaha untuk mencari jati diri kita, sampai mati pun kita nggak akan punya identitas. Kalau kita nggak pernah belajar untuk memberikan manfaat bagi orang di sekitar kita, pas udah tua nanti juga kita mungkin nggak bisa memberikan manfaat yang banyak.

Dan mungkin ini juga yang menyebabkan masih banyaknya permasalahan yang ada di Indonesia. Mungkin pemimpin bangsa ini, semasa mengenyam pendidikan belum terbiasa untuk berlatih menyelesaikan permasalahan. Makanya, (mungkin) banyak masalah yang didiamkan lalu menjadi masalah klasik dari tahun ke tahun.

Lalu, bagaimana agar perbaikan dapat terjadi? Sejak muda, kita harus belajar untuk menjadi orang yang solutif. Dengan adanya I3M, diharapkan mahasiswa ITB bisa melatih dirinya dengan berbagai masalah. Masalah-masalah tersebut diharapkan akan membuat mahasiswa ITB menjadi orang berakal yang mau berpikir. Ya, mahasiswa ITB tidak boleh kehilangan identitasnya sebagai manusia yang berpotensi. Mahasiswa ITB harus bisa memberikan arti atas segala fasilitas yang diperolehnya di kampus ini.

Anda punya potensi untuk menjadi salah satu Pasukan ELIT yang bisa memecahkan berbagai persoalan dengan ilmu yang Anda punya. Anda bisa jadi Pembela Kebenaran! Masihkah Anda mau berdiam diri?

Dan ingat juga bahwa siapa yang mengenal dirinya, akan mengenal Tuhan-Nya. Kalau jati diri Anda sendiri tidak anda pahami, bisakah Anda dekat dengan Tuhan?

One thought on “Filosofi#2 Pendidikan

  1. andai saya bisa menanam padi huma dipinggir kanan-kiri jalan tol? Itu tanah kita(dibeli dari pajak rakyat)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s