Ajar

Percayakah Anda bahwa kata “ajar” dan “inspirasi” punya hubungan yang sangat dekat?

Ya, saya saat ini seharusnya saya sedang mengerjakan tugas akhir, mempelajari cara membuat aplikasi untuk multi-touch table top. Namun karena sedang penat, saya refreshing sejenak, salah satunya dengan menulis blog. Tulisan kali ini akan mengupas tentang inspirasi yang saya peroleh hari ini, dan inspirasi itu berkaitan erat dengan kata “ajar”.

Cerita dimulai ketika saya menunggu seorang teman di daerah Tubagus Ismail. Saya memarkir motor saya di pinggir jalan. Tiba-tiba seorang anak perempuan mendatangi saya. Anak itu bertanya, “Kak Fikri kan?”.  Saya sangat bingung, saking bingungnya, saya jawab”Iya, siapa ya?”. Ini adalah kelemahan terbesar saya. Dengan muka sangat tidak ramah, nada bicara yang songong, ditambah kebingungan, saya sukses menjadi orang yang sangat arogan.

“Saya yang dulu diajar sama Kak Fikri di ITB,” anak perempuan itu menjawab.

“Hah, ngajar? kapan ya?” saya menjawab dengan kebingungan.

“Iya yang dulu ngajar di ITB, yang main itu loh”

“Hmm, bentar kapan ya?” yang ada di pikiran saya adalah, saya tidak pernah mengajar, yang pernah saya lakukan adalah memberikan training. Oh, iya, mungkin anak ini waktu SSDK kebagian saya sebagai co-trainernya. Tapi, kalau dilihat-lihat, dia masih kecil, nggak mungkin anak kuliahan. Hmm, saya juga tidak pernah mengajar sebagai guru les. Sampai akhirnya, saya tersadar dengan frasa terakhir yang dilontarkan anak perempuan itu. Ya, saya pernah ikut meramaikan program adik asuh dari HME ITB, tapi saya hanya mau kebagian ice breaking. Saya bukan orang yang sangat serius sehingga saya hanya mengajarkan mereka bermain senam otak dan beradu menyanyikan lagu “Burung Kakak Tua” dan “Topi Saya Bundar”. Dialog di pikiran saya ini berlangsung sangat singkat, hingga akhirnya saya bisa mengatakan, “Oh iya! Iya iya! Wah, tapi kan saya udah jarang dateng.. ”

Saya mengisi ice breaking dengan brain gym. Waktu itu kegiatan adik asuh ini bertempat di kos Nursita Setiawati (EP 09). Makasih tempatnya ya Sita, Makasih juga buat Pengmas HME, dan Makasih Syakur yang udah ngajak saya dateng🙂

Yang membuat saya kaget adalah tiba-tiba anak perempuan itu memperlakukan saya seperti guru. Apa yang dilakukannya saat itu membuat saya teringat masa SD. Di masa SD, yang namanya guru itu selalu dihormati dan hal itu dibuktikan dengan sebuah tindakan nyata yang sangat simpel, salim. Masih segar di ingatan saya ketika saya selalu menyalimi guru-guru saya tiap setelah berbaris masuk kelas pada masa SD. Dan di luar itu, pasti saya selalu menyalami guru yang bertemu di mana pun. Masih sangat segar di ingatan saya momen dimana mama atau eyang putri atau bude-bude saya berkata, “Salim dong sama bu guru,” ketika sedang bertemu bu guru, baik itu di rumah, di mall, dimanapun.

Dan jujur, yang ada di pikiran saya adalah sebuah pertanyaan apakah saya dianggap sebagai seorang guru oleh anak ini. Kalau iya, saya merasa sangat cupu. Saya datang ke adik asuh pun sangat jarang. Kalau datang pun paling hanya mengisi ice breaking. Dan kalau iya, saya merasa sangat bersalah. Saya bahkan lupa nama anak perempuan ini, bahkan wajahnya. Saya merasa sangat bersalah dan sangat sombong. Saya jadi teringat sebuah kritik dari mama saya. Mama saya pernah mengkritik saya karena saya terlalu kaku dan tidak ramah.

Dan iya, kejadian hari ini membuktika bahwa Fikri yang sekarang masih seperti Fikri yang dulu, yang sangat kaku dalam menerima telepon di rumah, menerima tamu, dan ketidakramahan lainnya. Padahal konon waktu masih kecil, jaman SD, saya orangnya ramah. Iya, dulu saya sangat supel. Hal ini dibuktikan dari banyaknya orang yang ramah menyapa saya pada saat saya beranjak remaja. Mulai dari tukang becak, tukang parkir, penjual-penjual makanan di daerah Kauman Jogja, tukang parkir dan penjual rokok di daerah Kayu Tamin Malang, sampai penjual dawet dan penjual bubur kacang ijo keliling di daerah Griya Shanta Blok-M Malang. Dan iya, beranjak dewasa kesupelan itu menghilang. Saya seolah tidak kenal dengan mereka yang dulu menjadi teman saya ngobrol waktu kecil. Hmm, ini adalah sebuah kehilangan besar dalam pribadi saya.

Kembali ke cerita awal, anak perempuan itu langsung kembali ke masjid tempat tadi dia bermain. Saya hanya bengong. Merasa bersalah, akhirnya saya menyapa kembali adik-adik itu pada saat melewati masjid. Dan, ya saya kembali bertanya dalam hati, “Kapan saya pernah menyalimi dosen saya?”

“Apakah rasa terima kasih dan kebanggaan atas ilmu yang diajarkan oleh para dosen itu kurang?”

“Apakah karena mereka disebut dosen dan bukan guru, kita jadi merasa sungkan untuk menyalimi mereka seperti kita menyalimi guru kita di masa kecil?”

Pertanyaan yang tak selesai itu bertambah ketika saya mencoba belajar untuk tugas akhir. Saya sangat sering mendapatkan ilmu dari orang-orang di dunia melalui internet. Saya juga sering melihat komentar-komentar yang ada di blog-blog di internet yang terkait TA saya. Tidak jarang orang-orang bertanya melalui komentar di blog tersebut. Penulis dengan ramahnya mengajari orang-orang dengan membalas komentar tersebut. Orang yang tadi bertanya berkomentar lagi dan mengucapkan terima kasih. Tapi, bagaimana dengan saya?

“Hey, thank you for creating this blog. I learnt so many about my Final Work by reading this blog. I hope someday we will get a chance doing research about TUIO multi-touch application together. Regards, rousyan.”

Mengapa tidak ada komentar tersebut dari saya ya di blog itu?

Banyak cara untuk belajar. Banyak cara untuk mengajar. Dan semua itu membuat saya ingat bahwa ilmu yang saya miliki adalah titipan, sebuah titipan dari orang-orang yang telah mengajari saya tentang banyak hal melalui berbagai media. Dan kelak, saya harus membagikannya kepada orang lain juga. Ya, itulah apresiasi tertinggi untuk orang-orang yang telah mengajari saya. Saya harus membuat ilmu mereka menjadi ilmu yang berguna agar pahalanya terus mengalir untuk mereka. Itu adalah ungkapan terima kasih terbesar yang bisa saya berikan, lebih dari sekedar salim atau mengucapkan mereka berterima kasih.

“Terima kasih ku, ku ucapkan

pada guruku yang tulus

ilmu yang berguna

selalu dilimpahkan

untuk bekalku nanti.”


Dan, percaya atau tidak, saya pertama kali mengenal Brain Gym dari Pak Yanto, Guru SD saya. Apa yang saya ajarkan pada mereka hari itu persis seperti apa yang diajarkan Pak Yanto. Terima kasih banyak Pak🙂

Terima kasih “ajar”, engkau telah memberi “inspirasi” untuk kemarin, pagi tadi, malam ini, dan pastinya esok hari🙂

One thought on “Ajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s