Tiga Bagian Malam

*Originally posted in my tumblr

Di rumah itu anak-anak kecil masih lelap tertidur. Sementara senyap menghampiri seluruh kampung, seorang muadzin dengan teguhnya masih berada di langgar. Dinginnya malam ia kalahkan dengan tebalnya iman yang ia kenakan. Tak pernah surut semangatnya untuk menyeru warga sekitar agar bangun. Bangun untuk memiliki waktu privat dengan Tuhan. Memohon dimudahkan segala urusan.

Di rumah yang terdiri atas dua lantai itu, seorang kakak terbangun di kamarnya. Entahlah, sepertinya malam memang dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah ketika anak-anak kecil mulai tertidur. Bagian kedua adalah ketika anak yang lebih besar serta orang-orang tua mulai tertidur. Dan bagian ketiga adalah ketiga tiga manusia di rumah itu terbangun. Terbangun saat tiga orang manusia lain yang masih belia, terlarut dalam mimpinya, kadang mimpi baik, namun terkadang buruk.

Malaikat masih bekerja. Sekalipun kebanyakan manusia tengah tertidur lelap. Malaikat tak pernah mengenal rasa lelah, sebuah kelebihan yang membuatnya tak henti melaksanakan perintah Tuhan. Maka dari itu, malam ini malaikat tetap mengawasi pergerakan semesta. Di antara mereka, ada yang ditugaskan untuk menjaga agar bulan terang benderang. Lalu, sekelompok malaikat dengan seribu sayap diperintahkan Tuhan untuk turun dari langit. Ada tugas besar yang mereka emban.

Sementara itu, manusia, mereka merasakan lelah setelah seharian berkutat dengan dunia. Tuhan memberi mereka jatah untuk beristirahat di malam hari. Sebuah kesempatan untuk meregangkan nyawa mereka di tempat-tempat tidur, untuk kemudian Tuhan genggam. Dan setelah itu, ada dua kemungkinan yang akan terjadi. Tuhan memberi kesempatan bagi mereka untuk melanjutkan lagi hidupnya, atau memberi kesempatan bagi mereka untuk memulai suatu kehidupan baru. Bagi mereka yang masih diberi kesempatan, Tuhan akan lepaskan nyawa mereka dari genggaman-Nya, mengembalikannya pada badan yang terkulai lemas.

Lemas. Kakak bangun dengan sangat lemas. Mata kakak masih begitu lengket. Segala macam kotoran mata disekanya, berharap bisa membantunya untuk lebih terjaga. Melihat hal ini, malaikat seribu sayap datang ke hadapannya. Malaikat itu benar-benar datang dan membantunya untuk tetap terjaga. Malaikat itu menjaga hati kakak dari keengganan untuk bangun di tengah malam. Tapi, kakak tidak pernah tahu dan tidak pernah bisa melihat Sang Malaikat.

Malaikat bersayap seribu itu sangat senang. Ia ditugaskan untuk meneguhkan hati tiga orang di rumah itu. Tiga orang yang masing-masing tidur di tempat yang berbeda. Bapak yang selalu tidur di mushola, Ibu yang tidur di kamar bawah, serta Kakak tertua yang tertidur dengan PR dan diarynya di kamar atas, tiga orang yang disayangi Tuhan. Sudah pastilah ketiga orang ini disayang Tuhan. Kalau bukan karena Tuhan menyayangi mereka, untuk apa dia ditugaskan ke sini. Dan melihat ketiga manusia belia lain, malaikat juga haru. Ketiga bocah itu begitu pulas tertidur dengan wajah tanpa dosa. Ah, betapa nikmatnya kehidupan keluarga ini.

Kakak keluar dari kamar atas. Menuju beranda, ia hanya ingin sekedar memandang benderangnya rembulan. Minim bintang. Langit sedang cukup pekat. Gemericik air terdengar oleh kakak. Nampaknya Bapak kembali mengambil air wudlu.

Selalu seperti ini. Suara Bapak selalu membuat Ibu dan Kakak terbangun. Bapak memang sengaja mengeraskan bacaan sholatnya, agar istri dan anak-anak yang dipimpinnya terbangun. Yah, meskipun malam diciptakan untuk beristirahat, ada pula manusia-manusia yang mendapat petunjuk. Mereka adalah makhluk yang bekerja begitu keras untuk dunia mereka di siang hari, namun tetap bekerja keras untuk akhirat di malam hari. Bapak ingin kapal yang ia nahkodai bisa sampai kepada negeri akhirat. Selalu ingin seperti ini.

Kakak masih saja memandangi rembulan. Apalah lagi ada yang lebih indah dibanding malam yang seperti ini? Hampir semua orang berada di pulau kapuk sekarang. Hanya dia yang berkesempatan memandangi rembulan yang menyala begitu terang. Ditambah lagi, terdengar suara orang melantunkan puja dan puji kepada Sang Pelukis malam. Belum lagi jika ia mau memfokuskan telinganya. Suara sayup-sayup merdu dari seorang wanita di kamar begitu menenteramkan.

“Fabiayii alaa irobbikumaa tukadziban”

Sebuah firman yang begitu memanjakan telinga. Dibunyikan berulang-ulang masih dalam surat yang sama. Bunyi itu telah meresap dalam otak bawah sadar kakak. Hampir setiap hari ia mendengarnya. Itu surat favorit ibu. Dan sekarang itu juga jadi surat favoritnya, meskipun ia masih jarang mengaji.

Terdiam. Dalam hening dan kesunyian malam ia terpaku. Senyap. Hatinya hambar. Apa yang sedang dirasakannya? Apa pula itu merasa? Malam-malam yang terlalu indah ini janganlah cepat berlalu. Ia beranjak dari beranda, menuju kamar tengah. Melihat ketiga adiknya berjejeran. Begitu lucu. Begitu manis. Malam itu begitu indah. Tak ada kata yang cukup melukiskan keindahannya. *Bahkan indah.

Lima belas menit lagi subuh menjelang. Malaikat bersayap seribu kembali ke lantai dua. Heran. Mengapa si kakak belum juga membasuh mukanya? Bukankah sudah suatu kenikmatan bisa dibangunkan pada puncak malam. Puncak malam yang dengan sayapnya, malaikat itu dapat menghitung jumlah manusia di kota ini yang masih terbangun untuk sekedar mengaji.

Tapi keheranan itu segera sirna. Mungkin hati kakak memang peka. Ia segera mengambil mukena dari lemarinya. Lalu bergegas menuju kamar mandi. Air mulai bergemericik. Malaikat lega, tugasnya malam ini selesai. Kakak akhirnya mengambil kesempatan itu. Untuk sholat pada bagian malam yang terakhir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s