Mengapa Amanah itu Diberikan kepada Saya?

Pertanyaan di atas diungkapkan pada khotbah jumat pagi tadi. Pernahkah Anda mempertanyakan, mengapa Anda mendapatkan peranan tertentu sebagai seorang manusia? Misalnya, mengapa dari jutaan pemuda, Anda terpilih menjadi mahasiswa? Mengapa Anda bisa terpilih menjadi bagian dari 18% yang dapat mengenyam perguruan tinggi?

Lalu ketika Anda dipercaya menjadi ketua tugas kelompok, pernahkah Anda bertanya, mengapa Anda? Ketika dipercaya memegang jabatan pada suatu organisasi, pernahkah Anda mempertanyakan satu pertanyaan itu. Mengapa amanah itu diberikan kepada saya?

Sampai detik ini saya masih teringat masa-masa ketika saya akhirnya menjadi PJS MWA Wakil Mahasiswa. Terkadang saya tidak bisa menjawab pertanyaan sesimpel itu, “Fik, kenapa sih lo mau jadi MWA? Kenapa harus elo?”

Tembok Alasan

Kalau boleh menjawab dengan akal, tentunya saya bisa menjawab dengan lancar. Ya, kebetulan dulu saya sempat berpikir bisa melakukan sesuatu sebagai seorang MWA Wakil Mahasiswa. Saya yang sebelumnya menjabat sebagai Presiden Inkubator Ide dan Inovasi Mahasiswa melihat bahwa banyak hal yang bisa disinergikan antara mahasiswa ITB dengan rektorat, alumni, dan stakeholder. Banyak sekali potensi yang ada di kemahasiswaan, dan untuk bisa melahirkan solusi dari potensi tersebut, mahasiswa tidak bisa sendiri. Dari pemikiran tersebut, saya memang sempat memiliki intensi ke arah sini.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, saya merasa bahwa saya bukanlah sosok pemimpin yang cukup baik. Dari segi kematangan pribadi dan integritas, saya masih sangat kurang. Setengah tahun keberjalanan kepengurusan saya di I3M, saya merasa bahwa itu adalah akhir kontribusi struktural saya di KM ITB . Saya merasa ironi, di satu sisi saya berbicara inovasi, tetapi di sisi lain saya sendiri belum merasa sudah bisa membuat inovasi. Saya pun bekerja keras untuk itu, saya memilih untuk bisa lebih mendalami disiplin ilmu saya, Teknik Elektro. Selain itu, selama dipercaya memegang jabatan struktural di berbagai organisasi, saya merasa banyak kekurangan. Skill komunikasi dan kepemimpinan saya masih begitu kurang, belum lagi pribadi saya yang masih belum matang. Atas dasar inilah, saya mulai melupakan intensi untuk menjadi MWA Wakil Mahasiswa. Continue reading “Mengapa Amanah itu Diberikan kepada Saya?”

Advertisements

Seburuk itu kah Pengembangan Karakter Mahasiswa ITB? (2)

Kebetulan tadi sore saya habis mendatangi pertemuan informal dengan MWA ITB. Dan di sana terjadi beberapa diskusi seputar masalah pengembangan karakter mahasiswa ITB. Ketika mencoba brainstorming kondisi existing dari pembangunan karakter mahasiswa ITB, ada beberapa hal yang menjadi sorotan:

Mau jadi apa sih?

Jika Anda mahasiswa ITB, tahukah Anda, sebenarnya apa nilai yang diharapkan ada pada diri Anda setelah lulus dari ITB? Tahukah Anda, ITB ini ingin membentuk sarjana yang seperti apa? Jika Anda tidak tahu, lalu sedang apa Anda di ITB? Apakah Anda menjalani proses pendidikan?

Atau anda hanyalah robot yang terdaftar sebagai mahasiswa, hadir di kelas, mendapatkan nilai, lalu lulus, dan tinggal menunggu pekerjaan apa yang membutuhkan Anda, tanpa tahu sebenarnya apa potensi Anda dan Anda ingin menjadi siapa? Continue reading “Seburuk itu kah Pengembangan Karakter Mahasiswa ITB? (2)”

Manusia Seperti Sebuah Buku

Ini adalah salah satu analogi yang paling saya suka. Salah satu bahan renungan yang memberikan optimisme dan rasa syukur 🙂

Cover depan adalah tanggal lahir. Cover belakang adalah tanggal kematian. Tiap lembarnya, adalah tiap hari dalam hidup kita dan apa yang kita lakukan.

Ada buku yang tebal, ada buku yang tipis. Ada buku yang menarik dibaca, ada yang sama sekali tidak menarik.Sekali tertulis tidak akan pernah bisa diedit lagi

Tapi hebatnya, seburuk apapun halaman sebelumnya, selalu tersedia halaman selanjutnya yang putih bersih, baru dan tiada cacat. Sama dengan hidup kita, seburuk apapun kemarin, Tuhan selalu menyediakan hari yang baru untuk kita.

Kita selalu diberi kesempatan baru untuk melakukan sesuatu yang benar dalam hidup kita setiap harinya. Kita selalu bisa memperbaiki kesalahan kita dan melanjutkan alur cerita ke depannya sampai saat usia berakhir, yang sudah ditetapkan-Nya.

Terima kasih Tuhan untuk hari yang baru ini 🙂

Syukuri hari ini dan isilah halaman buku kehidupanmu dengan hal yang baik semata.

Serta jangan pernah lupa untuk selalu bertanya kepada Tuhan, tentang apa yang harus ditulis setiap harinya.

Supaya pada halaman terakhir buku kehidupan kita selesai, kita dapati diri ini sebagai pribadi yang berkenan kepada-Nya.

Dan buku ehidupan itu layak untuk dijadikan teladan bagi anak-anak kita dan siapapun setelah kita nanti.

Selamat menulis di buku kehidupanmu. Menulislah dengan tinta cinta dan kasih sayang, serta pena kebijaksanaan.

Aku berdoa dan berharap agar Tuhan selalu menyertai setiap langkahmu.

Karena,

Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa langit itu selalu biru,

Bunga selalu mekar,

dan mentari selalu bersinar.

Tapi ketahuilah bahwa dia selalu

memberi pelangi di setiap badai,

senyum di setiap air mata,

nerkah di setiap cobaan,

dan jawaban di setiap doa

Jangan pernah menyerah, terus berjuanglah, dengan suka cita 🙂

Fulan Tak Jadi Berhenti Mengaji

Fulan adalah seorang pendosa. Dia telah melakukan begitu banyak dosa selama hidupnya. Nah, kebetulan suatu ketika Fulan sedang merasa begitu dicoba. Kadang sebagai pendosa, dia mengharapkan segala cobaan yang dialami ini sebagai pencucian atas dosa-dosanya. Fulan terus bertanya kepada Tuhan, benarkah ujian itu memang perlu bagi dia? Apakah memang dicoba adalah sebuah konsekuensi?

Dan tentunya sebagai seorang pendosa ulung, Fulan terus bertanya kepada Tuhan, mungkinkah dosa-dosanya ini diampuni? Ia merasa dosanya ini begitu hina. Ini adalah aib. Akankah Tuhan mengampuni dosa-dosa ini? Malu rasanya. Ia mengaku beriman, tetapi masih sering menuruti ajakan setan.

Malam itu Fulan melihat seorang kawannya sedang mengaji. Ia pun jadi teringat, sudah lama ia tidak mengaji. Semenjak dia berpikir mengaji dengan melagukan bahasa yang seperti bahasa arab itu tidak berfaedah apa-apa, dia mulai jarang mengaji. Entahlah. Dulu ia rajin mengaji, tapi sudah bertahun-tahun ia lupakan mengaji. Buat dia mengaji tidak lebih dari relaksasi belaka.

Tapi, siapa yang pernah menyangka bahwa Tuhan punya rencana? Hati Fulan mendadak tergerak untuk mengikuti jejak temannya. Mengaji. Ia ambil Al-Quran dengan terjemah. Dengan kemampuan bahasa arab pas-pasan dia merasa sia-sia kalau mengaji Al-Quran yang tidak ada terjemahannya. Kebetulan juga ia masih punya sisa wudhu sehabis sholat fardhu.

Bingung mau mengaji apa. Ia bolak-balik halaman demi halaman Al-Quran dengan terjemahan itu. Tiba-tiba saja dia sampai pada surat Al-Ankabut, tepat di halaman pertama, ayat pertama. Sejenak dalam hati ia berpikir, wah Al-Ankabut, Laba-laba, kayaknya keren nih, sembari terbayang spiderman.

Memulai ngajinya dengan taawudz, Fulan berharap Tuhan mau mengenyahkan setan yang ada di sekelilingnya. Ia mau setan itu pergi selamanya, ia takut jika setan-setan itu membujuknya untuk terjerumus dalam dosa. Selain itu, Fulan berharap agar dia benar-benar mendapat sesuatu dari mengaji. Kalau hari ini dia tidak mendapatkan sesuatu, sempat terbersit di pikirannya, tidak akan pernah mengaji lagi. Continue reading “Fulan Tak Jadi Berhenti Mengaji”

Seburuk itu kah Pengembangan Karakter Mahasiswa ITB? (1)

Ir. Sukarno, idjazah ini dapat robek dan hantjur mendjadi abu disatu saat. Ia tidak kekal. Ingatlah, bahwa satu-satunja kekuatan jang bisa hidup terus dan kekal adalah karakter dari seseorang. Ia akan tetap hidup dalam hari rakjat, sekalipun sudah mati.” -Ir. G. Klopper M.E.

Baru-baru ini sebuah artikel yang berkomentar tentang karakter lulusan ITB sedang menjadi isu yang cukup hangat, setidaknya di kalangan civitas akademika ITB. Mahasiswa, alumni, hingga dosen pun memberikan tanggapan beragam. Di sini saya mencoba menggali sedikit tentang pengembangan karakter mahasiswa ITB dari sudut pandang seorang mahasiswa ITB yang tengah menempuh pendidikan di ITB dan berkesempatan menjadi anggota MWA ITB.

Penting kah? Benarkah ITB Berperan?

Pengembangan karakter mahasiswa selalu menjadi isu penting. Hampir semua pihak secara lisan menyatakan bahwa pengembangan karakter adalah hal terpenting. Rekan-rekan saya sesama mahasiswa menganggap pengembangan karakter itu penting, kata mereka, “untuk itulah ada organisasi kemahasiswaan“. Dosen-dosen pun mengatakan pengembangan karakter itu penting, katanya, “untuk itulah kami berikan tugas yang harus dikerjakan secara berkelompok“. Rektor dan jajarannya juga berkata bahwa pengembangan karakter itu penting, katanya, “untuk itulah kami adakan seminar motivasi.” Dan di MWA ITB sendiri saya sering mendengar kalimat seperti ini, “Kita jangan memikirkan pembangunan infrastruktur terus bu, pengembangan karakter itu harus kita pikirkan. Itu yang terpenting!

Ya. Hampir semua stakeholder ITB mengatakan bahwa pengembangan karakter mahasiswa ITB itu penting. Bahkan pada naskah akademik ART ITB BHMN dituliskan bahwa salah satu hakikat dan peran ITB adalah sebagai berikut:

ITB selain melaksanakan fungsi pendidikan tinggi untuk menghasilkan sumber daya mahasiswa bermutu calon pemimpin bangsa dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, serta ilmu sosial dan kemanusiaan, harus mampu melaksanakan moral force, ikut memberikan kritik sosial dan menjadi bagian integral dan organik dari lingkungan fisik dan sosial. Pengelolaan baru ITB harus memungkinkan ITB mengenal dinamika dan permasalahan yang dihadapi masyarakat, sehingga ITB dapat ikut memandu perubahan budaya bangsa, dan memperkuat kemampuan masyaakat untuk perubahan yang menerus (continuous self renewal).

Masih belum percaya bahwa ITB turut berkewajiban mengembangkan karakter mahasiswa ITB? Mari kita lihat pasal 18 dari executive summary RIP ITB:

Kampus ITB adalah sebuah lingkungan yang merupakan tempat terjadinya interaksi kreatif antara peneliti, mahasiswa dan dunia luar kampus (best academic talents). Kampus yang mempunyai lanskap beserta bangunan-bangunannya yang merefleksikan idealism institusi dan dampak terhadap proses pendidikan. Dalam perjalanannya menuju cita-cita ITB World Class University, ITB perlu mewujudkan kampus yang inspiring yang mempunyai kemampuan aktif ‘membangun karakter’ bagi siapapun yang ada di dalamnya. Kampus yang dapat menjadi ‘arena belajar dan berkarya’, yang mampu mengajarkan kepada setiap insan yang ada di dalamnya tentang nilai-nilai kampus yang dicita-citakan oleh visi ITB, yaitu terwujudnya bangsa Indonesia yang cerdas, berdaya juang sangat tinggi dan berbudaya luhur bangsa Indonesia.

Oke, marilah kita asumsikan bahwa ITB seharusnya memiliki andil yang cukup besar dalam pembangunan karakter mahasiswanya, apalagi hal ini diungkapkan pada dasar hukum dan rencana pengembangan ITB.

IQ Tinggi, EQ Rendah

Percayakah teman-teman bahwa kata-kata di atas adalah salah satu yang harus direvisi dari laporan eksekutif ITB 2010? Pada rapat pleno pertama yang saya datangi hal ini dibahas. Fakta ilmiah menunjukkan bahwa ITB menerima masukan berupa pedang yang sangat tajam, yakni manusia Indonesia dengan IQ tinggi, kecerdasan di atas rata-rata. Namun, fakta menggembirakan itu juga dibarengi dengan satu fakta lain yakni, fakta bahwa rata-rata mahasiswa baru memiliki EQ yang rendah. Continue reading “Seburuk itu kah Pengembangan Karakter Mahasiswa ITB? (1)”

Merekam Perjalanan

Januari 2012.

Memasuki tahun baru, setiap orang menemukan momen untuk melakukan introspeksi atas perjalanan hidup selama setahun belakangan. Tahun baru juga menjadi momen untuk merencanakan apa saja yang akan dilakukan setahun ke depan. Bagi saya sendiri tahun 2011 adalah tahun yang istimewa. Sangat banyak pembelajaran hidup yang saya dapatkan dari perjalanan hidup di tahun 2011. Salah satu bab krusial dari perjalanan hidup saya setahun yang lalu adalah menjadi penanggung jawab sementara Majelis Wali Amanat Wakil Mahasiswa ITB (PJS MWA WM).

Menjadi PJS MWA WM adalah salah satu pengalaman terpenting yang saya dapatkan. Wawasan dan pemikiran saya banyak terbuka setelah memegang amanah ini. Hal ini menyebabkan munculnya keinginan untuk bisa mengumpulkan pembelajaran yang saya peroleh, lalu membaginya kepada banyak orang, terutama mahasiswa ITB. Sejak awal menjabat, saya telah berencana untuk membuat kumpulan catatan perjalanan saya selama menjadi PJS MWA WM, apalagi sepertinya saya akan menjadi penutup sejarah MWA WM di kampus ini.

Sayangnya, hingga tahun 2011 berakhir, saya belum bisa menjalankan niat tersebut. Entahlah, mungkin saya memang terlalu sibuk mengurusi hal lain atau memang tekad saya kurang kuat untuk membuat catatan perjalanan tersebut. Yang jelas, saya telah lama menunda rencana ini dengan berpikir, “Nanti aja deh bikinnya, kalau saya udah mau turun.

MWA ITB Wakil Mahasiswa

Kini, tahun masehi telah memasuki hitungan ke 2012. Saya pun kembali tersadar bahwa tidak baik menunda-nunda sesuatu. Sama seperti tugas akhir, jika kita tidak memulai dan terus menunda, maka dia tidak akan pernah selesai. Oleh karena itu saya memutuskan untuk memulai membuat kumpulan catatan perjalanan selama saya menjadi MWA. Tulisan ini yang berjudul “Merekam Perjalanan” akan menjadi tulisan pembuka dari kumpulan catatan ini. Continue reading “Merekam Perjalanan”

Menghadapi Konflik

Siapa sih yang tidak takut berkonflik?

sumber gambar: milis-bicara.blogspot.com

Satu mindset yang salah dalam organisasi adalah ketika kita berpikir bahwa konflik itu buruk dan lebih baik menghindari konflik. Kalaupun ada konflik lebih baik berkonflik dengan diri sendiri. Pemikiran ini biasanya didasari oleh ketakutan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Rasa tidak enak hati sering kali menghinggapi.

Padahal, yang namanya konflik itu adalah sesuatu yang biasa. Bagaimana tidak, banyak orang dikumpulkan dalam sebuah kapal, setiap orang memiliki karakter dasar yang berbeda-beda, keperluan pribadi yang berbeda-beda, namun disuruh mengerjakan sesuatu bersama-sama, pasti akan ada konflik yang terjadi. Ditambah lagi dalam hidup ini tidak ada yang ideal. Perencanaan sematang apapun akan mengalami ujian dan hambatan. Dan ketika masalah datang, setiap orang akan menyikapinya dengan beragam. Ada yang menyikapinya dengan positif ada yang dengan negatif. Setiap orang melihatnya dari sudut pandang yang berbeda-beda tergantung pengalaman dan pemahaman hidup yang dimiliki.

Nah, ketika pemahaman ini berbeda-beda, konflik tak jarang terjadi. Ketika dihadapkan dengan suatu masalah, sudut pandang yang berbeda ini berpotensi menimbulkan konflik. Potensi akan benar-benar menjadi konflik setelah seseorang mengambil tindakan dari sudut pandang yang berbeda-beda tersebut. Ini adalah suatu hal yang pasti terjadi.

Dengan menyadari bahwa konflik adalah suatu hal yang biasa dan pasti terjadi, kita bisa mengesampingkan rasa sungkan. Proses pencarian resolusi, meskipun terkadang nampak berat, akan jauh lebih bermanfaat daripada penghindaran terhadap konflik. Jika kita terus menghindar dari konflik, masalah yang ada tidak akan pernah selesai. Kita akan bekerja dengan ganjalan di hati, tidak enak. Sedangkan jika kita mau mencari resolusi, mungkin kita akan sedikit berkonflik dengan keras untuk durasi tertentu, namun setelahnya tidak ada lagi yang mengganjal sehingga kita bisa bekerja dengan tenang.

Ya konflik pasti ada, namun yang membedakan adalah bagaimana menyikapi konflik tersebut. Apakah dipendam saja, tidak ditampakkan, atau justru dikomunikasikan langsung sehingga dapat dicari solusinya.

Kesimpulan yang dapat kita ambil adalah jangan pernah takut berkonflik. Bisa jadi konflik lah yang akan menyebabkan kita menjadi lebih mengenal seseorang sehingga ke depannya kita bisa belajar untuk memahami bagaimana mereka bersikap dan menjadi tahu bagaimana untuk menanggapi mereka. Dan dalam penyelesaian konflik, komunikasi menjadi penting. Kita harus memastikan bahwa pihak yang berkonflik memiliki frame yang sama, dan solusi yang timbul benar-benar bisa diterima oleh pihak tersebut.