Fulan Tak Jadi Berhenti Mengaji

Fulan adalah seorang pendosa. Dia telah melakukan begitu banyak dosa selama hidupnya. Nah, kebetulan suatu ketika Fulan sedang merasa begitu dicoba. Kadang sebagai pendosa, dia mengharapkan segala cobaan yang dialami ini sebagai pencucian atas dosa-dosanya. Fulan terus bertanya kepada Tuhan, benarkah ujian itu memang perlu bagi dia? Apakah memang dicoba adalah sebuah konsekuensi?

Dan tentunya sebagai seorang pendosa ulung, Fulan terus bertanya kepada Tuhan, mungkinkah dosa-dosanya ini diampuni? Ia merasa dosanya ini begitu hina. Ini adalah aib. Akankah Tuhan mengampuni dosa-dosa ini? Malu rasanya. Ia mengaku beriman, tetapi masih sering menuruti ajakan setan.

Malam itu Fulan melihat seorang kawannya sedang mengaji. Ia pun jadi teringat, sudah lama ia tidak mengaji. Semenjak dia berpikir mengaji dengan melagukan bahasa yang seperti bahasa arab itu tidak berfaedah apa-apa, dia mulai jarang mengaji. Entahlah. Dulu ia rajin mengaji, tapi sudah bertahun-tahun ia lupakan mengaji. Buat dia mengaji tidak lebih dari relaksasi belaka.

Tapi, siapa yang pernah menyangka bahwa Tuhan punya rencana? Hati Fulan mendadak tergerak untuk mengikuti jejak temannya. Mengaji. Ia ambil Al-Quran dengan terjemah. Dengan kemampuan bahasa arab pas-pasan dia merasa sia-sia kalau mengaji Al-Quran yang tidak ada terjemahannya. Kebetulan juga ia masih punya sisa wudhu sehabis sholat fardhu.

Bingung mau mengaji apa. Ia bolak-balik halaman demi halaman Al-Quran dengan terjemahan itu. Tiba-tiba saja dia sampai pada surat Al-Ankabut, tepat di halaman pertama, ayat pertama. Sejenak dalam hati ia berpikir, wah Al-Ankabut, Laba-laba, kayaknya keren nih, sembari terbayang spiderman.

Memulai ngajinya dengan taawudz, Fulan berharap Tuhan mau mengenyahkan setan yang ada di sekelilingnya. Ia mau setan itu pergi selamanya, ia takut jika setan-setan itu membujuknya untuk terjerumus dalam dosa. Selain itu, Fulan berharap agar dia benar-benar mendapat sesuatu dari mengaji. Kalau hari ini dia tidak mendapatkan sesuatu, sempat terbersit di pikirannya, tidak akan pernah mengaji lagi.

Tidak akan pernah mengaji lagi? Mungkinkah Tuhan membiarkan itu terjadi? Sayangnya Tuhan mengerti. Memang Tuhan benar-benar Maha Mengetahui. Dia tahu apa yang ada di dalam sanubari manusia, termasuk Fulan si pendosa ini. Tuhan tahu yang dibutuhkan oleh Fulan adalah bukti. Maka dari itu Ia berkehendak. Ia berikan sesuatu yang spesial untuk Fulan di malam itu.

Fulan membaca ayat pertama, “Aliif Laaam Miiiiiiem

Ayat standar, pikirnya, aku tidak pernah mendapatkan sesuatu dari ayat ini.

Namun semua pikiran itu mulai terhenti ketika ia membaca ayat kedua hingga kelima.

 Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan begitu saja mengatakan: “Saya telah beriman”, sedangkan kamu tidak diuji lagi?

Oh God, You do know what i have been searching for, for so long.. Fulan detik itu menyadari bahwa temannya salah. Iya, baru saja temannya berkata, “Gue nggak percaya Tuhan ikut campur sampai hal-hal yang begitu detail”

Sekarang dia bisa memastikan, Tuhan memang berkuasa atas hal-hal yang sepele. Termasuk di dalamnya adalah mengatur agar Fulan mendapatkannya. Ayat yang selama ini dia cari, Al-Ankabut ayat dua. Dan juga agar beberapa pertanyaan lain darinya terjawab. Dan itu melalui sederet kejadian impulsif. Fulan mendapatkan jawabannya justru bukan ketika ia sedang bertindak untuk mencarinya.

Belum sempat ia paham dengan kesadaran yang penuh akan hal ini, ia lanjut membaca ayat ketiga. Ia baca arab-nya lalu ia coba pahami indonesia-nya. Lalu ayat keempat.

Ataukah kamu yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput dari azab Kami? Amatlah buruk apa yang kamu tetapkan itu.

 Ah, bodohnya aku. Terkadang aku masih melalaikan kewajiban.. Lagi-lagi Fulan tersadar bahwa kejahatan bukan hanya ketika ia mengerjakan apa yang dilarang agama, tetapi juga ketika ia tidak mengerjakan apa yang diperintahkan Tuhan.

Selama ini Fulan terus menanti. Fulan terus menanti pertemuan dengan Tuhannya. Saat di mana dia bisa benar-benar bersaksi bahwa ada Tuhan yang Esa. Dia pun terus bertanya kepada Tuhan. Tuhan, kapan kita bisa ketemu?

 Kamu yang mengarap pertemuan dengan Allah! Sesungguhnya waktu yang dijanjikan Allah itu, pasti datang. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Ayat kelima.Ayat kelima membuatnya berhenti mengaji. Bukan, bukan karena ia ingin berhenti, tetapi karena suaranya sudah berisak. Ingus mulai keluar dari hidungnya. Ia menangis. Ia tak sanggup lagi untuk membaca ayat-ayat-Nya. Ia lemas sesaat.

Dia lipat tangannya di atas meja tempatnya mengaji. Ditundukkannya kepala tertempel pada tangan. Fulan menangis. Fulan terharu. Mengapa Tuhan pilihkan jawabannya melalui cara yang seperti ini? Mengapa Tuhan memberikan jawaban itu, langsung dari kitab yang selama ini disebut sebagai firman-Nya? Mengapa Tuhan benar-benar tahu apa yang sedang ia pikirkan? 

 Mengapa?

Mengapa Tuhan begitu baik? Padahal aku adalah seorang pendosa. Padahal aku adalah seorang pendusta yang munafik.

 

Dan jika kamu berjihad, maka sesungguhnya jihadmu itu untuk dirimu sendiri. Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.

Dan kamu yang beriman dan beramal saleh, benar-benar akan Kami hapuskan dari kamu, dosa-dosa kamu, dan benar-benar akan Kami berikan kepadamu balasan yang lebih baik dari apa yang kamu kerjakan?

Tidak ada lagi pertanyaan. Terlalu nyata petunjuk itu sehingga Fulan tak bisa mengelak. Sirna sudah, keraguan bahwa Tuhan telah berhenti menyayangi Fulan. Seluruh tanya terjawab. Apa yang selama ini mengganggu hatinya, telah dimusnahkan. Langsung oleh firman Tuhan. Lewat cara yang aneh. Spesial. Satu dari miliaran.

Dan dia pun mengulang-ulang lagi setiap ayat yang telah ia cari selama sekian lama. Sembari menyeka air mata dan ingus, ia terus mengaji. Tak peduli lagi soal ingus dan air mata. Bagai terbius. Itulah cinta, ketika air mata tak menghentikanmu dari mengerjakan sesuatu yang kau percaya. Ada kenikmatan yang mungkin lebih nikmat dari permen, rokok, ice cream, atau mungkin ganja. Saat itulah ketika cinta berpaut dan gayung bersambut. Saat itulah ketika Pencipta mengulurkan tali-tali cinta-Nya kepada makhluk yang hina..

Dan demikianlah, Fulan tak jadi berhenti mengaji

.. Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia? (10)

Dan sesungguhnya Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang beriman; dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang munafik (11)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s