Merekam Perjalanan

Januari 2012.

Memasuki tahun baru, setiap orang menemukan momen untuk melakukan introspeksi atas perjalanan hidup selama setahun belakangan. Tahun baru juga menjadi momen untuk merencanakan apa saja yang akan dilakukan setahun ke depan. Bagi saya sendiri tahun 2011 adalah tahun yang istimewa. Sangat banyak pembelajaran hidup yang saya dapatkan dari perjalanan hidup di tahun 2011. Salah satu bab krusial dari perjalanan hidup saya setahun yang lalu adalah menjadi penanggung jawab sementara Majelis Wali Amanat Wakil Mahasiswa ITB (PJS MWA WM).

Menjadi PJS MWA WM adalah salah satu pengalaman terpenting yang saya dapatkan. Wawasan dan pemikiran saya banyak terbuka setelah memegang amanah ini. Hal ini menyebabkan munculnya keinginan untuk bisa mengumpulkan pembelajaran yang saya peroleh, lalu membaginya kepada banyak orang, terutama mahasiswa ITB. Sejak awal menjabat, saya telah berencana untuk membuat kumpulan catatan perjalanan saya selama menjadi PJS MWA WM, apalagi sepertinya saya akan menjadi penutup sejarah MWA WM di kampus ini.

Sayangnya, hingga tahun 2011 berakhir, saya belum bisa menjalankan niat tersebut. Entahlah, mungkin saya memang terlalu sibuk mengurusi hal lain atau memang tekad saya kurang kuat untuk membuat catatan perjalanan tersebut. Yang jelas, saya telah lama menunda rencana ini dengan berpikir, “Nanti aja deh bikinnya, kalau saya udah mau turun.

MWA ITB Wakil Mahasiswa

Kini, tahun masehi telah memasuki hitungan ke 2012. Saya pun kembali tersadar bahwa tidak baik menunda-nunda sesuatu. Sama seperti tugas akhir, jika kita tidak memulai dan terus menunda, maka dia tidak akan pernah selesai. Oleh karena itu saya memutuskan untuk memulai membuat kumpulan catatan perjalanan selama saya menjadi MWA. Tulisan ini yang berjudul “Merekam Perjalanan” akan menjadi tulisan pembuka dari kumpulan catatan ini.

Mengapa saya membuat catatan ini?

Satu.

Semenjak awal memegang amanah sebagai PJS MWA WM, saya sudah merasa bahwa kondisi yang akan saya alami tidak jelas. Dari awal saya mengikuti fit and proper test, saya sudah diperingatkan bahwa kondisi ke depan mungkin akan penuh dengan ketidakpastian. Alma, Ketua Kongres KM ITB ketika itu, mengatakan bahwa dalam kondisi yang penuh dengan ketidakpastian, seseorang yang tidak memiliki visi akan kabur, tetapi seseorang yang memiliki visi akan terus bertahan. Hal ini pun membayangi pikiran saya setelah fit and proper test.

Setelah melakukan analisis kondisi yang ada, saya akhirnya menemukan satu hal yang menjadi visi saya. Melihat kondisi PJS MWA WM yang terkesan sebagai formalitas belaka, serta masa transisi status hukum ITB, saya telah menetapkan bahwa visi saya adalah membuat dokumentasi perjalanan sebagai PJS MWA WM dengan sebaik mungkin. Saya bukannya tidak mau mematok visi yang besar, namun kondisi yang ada memang belum jelas sehingga saya tidak berani mematok visi yang muluk-muluk. Saya hanya ingin segala pengetahuan seputar MWA ITB bisa diturunkan dengan baik kepada generasi selanjutnya. Hal ini penting sebagai bahan analisis kondisi mengingat tantangan yang cukup besar akan dihadapi generasi setelah saya, yakni perubahan!

Ya! Riwayat MWA ITB akan berakhir setelah sepuluh tahun bernapas. Dalam sepuluh tahun keberjalanan MWA dan MWA WM tentu ada banyak hal yang terjadi di kemahasiswaan ITB maupun ITB. Sepuluh tahun mungkin waktu yang cukup membuat kita nyaman dengan sistem yang sudah ada. Sepuluh tahun juga bisa sia-sia jika kita tidak memetik pelajaran. Penting bagi generasi lima tahun mendatang untuk tahu bahwa pernah ada sebuah lembaga bernama MWA di ITB, dimana mahasiswa berkesempatan mendapatkan suara untuk ikut menentukan kebijakan di kampus ganesha, meskipun suara yang diberikan sangat kecil dan mungkin pelan terdengar.

Dua.

Setelah melakukan introspeksi, saya merasa kontribusi saya untuk kemahasiswaan ITB masih sangat kurang. Hingga kini, hanya ada sepuluh orang orang yang pernah merasakan berada di majelis tertinggi di ITB yang bernama Majelis Wali Amanat. Saya adalah satu dari tiga ribu lebih mahasiswa di angkatan saya yang berkesempatan mencicipi rapat bersama dengan berbagai stakeholder ITB. Saya berkesempatan melihat ITB dari berbagai sudut pandang yang dimiliki oleh stakeholder-nya. Saya merasa perlu untuk membagi wawasan ini bersama kawan-kawan mahasiswa yang lain.

Tiga.

Selain itu, saya menyadari begitu banyak kecacatan dari diri saya selama memegang amanah ini. Namun, segala kecacatan itu tidak boleh membuat saya kabur dan tidak mengambil pelajaran. Manusia boleh berbuat salah, namun harus bisa mengambil pelajaran dari kesalahan tersebut. Saya berharap generasi selanjutnya bisa memetik pelajaran dari kesalahan-kesalahan yang saya perbuat.

Saya dan pendahulu saya mengakui bahwa tidak ada knowledge transfer yang sempurna pada masa saya mendapatkan amanah ini. Sedikit banyak ini memberikan efek kepada kurang maksimalnya kontribusi saya. Saya harus belajar untuk beradaptasi di tengah situasi yang tidak pasti. Tentu saja selalu ada pelajaran yang bisa diambil di sini. Oleh karena itu, saya berupaya sebisa mungkin untuk memberikan transfer ilmu yang bagus, termasuk melalui pembuatan kumpulan catatan ini.

Empat.

Sejarah itu menarik untuk dipelajari. Saya sendiri pernah merasa ingin tahu tentang bagaimana kemahasiswaan ITB di masa lalu. Saya sempat membaca ebook tentang kisah alumni ITB 73 dan menemukan penggambaran yang cukup real tentang pendudukan kampus di masa itu. Meskipun mungkin tidak banyak, ingin rasanya bisa membagi pengalaman yang saya dapatkan. Maka dari itu, kumpulan catatan ini ke depannya ingin saya kemas menjadi sebuah ebook. Nantinya,  ebook ini saya tidak hanya memuat gagasan tapi juga tentang kisah yang saya alami. Semoga pembuatan ebook ini dapat menambah literatur bagi mereka yang tertarik untuk mempelajari sejarah kemahasiswaan ITB di tahun 2000-an.

Harapan

Kumpulan catatan perjalanan selama saya menjadi PJS MWA WM ini akan menjadi bagian dari sejarah kemahasiswaan ITB. Salah satu fungsi dari sejarah adalah sebagai bahan berpijak agar bisa menjadi lebih bijak di masa depan. Saya berharap semoga catatan ini kelak dapat berguna bagi kemahasiswaan ITB di masa yang akan datang.

One thought on “Merekam Perjalanan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s