Catatan PJS MWA – 1 Februari 2012 (1)

Perjalanan hari ini dimulai dengan mengantarkan sepupu saya yang sedang berkunjung ke Bandung. Dia bersama kawan-kawan dari HMTI Universitas Brawijaya kebetulan mampir ke Bandung setelah ekskursi. Saya mendapatkan banyak cerita tentang kemahasiswaan terpusat di UB yang nampaknya mendapatkan support yang cukup banyak untuk kegiatan-kegiatannya. Bahkan untuk acara sekelas pemilu raya saja rektoratnya pun menyumbang dana. Selain itu, untuk beasiswa, kemahasiswaan terpusatnya memiliki kekuatan untuk menentukan siapa yang berhak mendapatkan beasiswa. Ya, saya rasa ada beberapa poin dari kemahasiswaan UB yang tidak dimiliki oleh kemahasiswaan ITB.

Setelah selesai mengantarkan sepupu saya dan kawannya ke Tokema dan berkunjung ke MTI ITB untuk menjalin network, saya mengantarkan mereka menuju angkot Cisitu, sebab mereka harus kembali ke Cihampelas untuk bertemu dengan kawan-kawannya. Saya yang kebetulan sudah ada janji untuk melihat RKA untuk kemahasiswaan di Direktorat Perencanaan pun langsung meluncur ke Gedung Annex dengan mencegat angkot Caheum-Ledeng.

Baru berjalan sebentar, angkot sudah harus berhenti, harus ngetem untuk mencari penumpang di gerbang belakang ITB. Dan, tanpa dinyana, saya bertemu dengan Inta dari Kominfo Kabinet.

“Mau ke mana ta?”

“Mau ke Ganyang tapi gue males jalan. Hehe”

“Gimana kabar Kominfo”

“Sekarang lagi nyiapin biar bisa nendang di akhir”

“Yazeek, nendang”

“Iya kan. Kan bulan-bulan awal adaptasi dulu, terus ya di akhir harus ada sesuatu yang nendangnya.”

Wajar. itulah realitasnya. Semua butuh waktu untuk adaptasi dan belajar sebelum akhirnya bisa melakukan sesuatu. Dan untuk organisasi kemahasiswaan timbul satu masalah. Permasalahannya adalah bagaimana untuk mempersingkat waktu tersebut. Sebab, waktu yang dimiliki dalam satu kepengurusan kemahasiswaan hanyalah satu tahun untuk setiap periodenya. Yang menjadi perhatian di sini adalah bagaimana agar transfer ilmu yang baik serta kematangan pribadi dari pengurus suatu organisasi dapat membantu mempercepat masa adaptasi sehingga pengurus tersebut akhirnya ahli dan dapat membuat sebuah gebrakan. Dan ini pula yang membuat kebijakan rektorat mengenai rotasi pegawai menjadi aneh. Setiap kali di-rotasi tentu akan ada waktu yang dibutuhkan untuk beradaptasi sebelum pegawai dapat perform dengan bagus.

Setelah melanjutkan beberapa obrolan, Inta mengecek-ngecek tasnya. Dengan muka agak panik, Inta berkata, “Fik, kira-kira kita akan bertemu lagi nggak?”

“Hmm, kenapa gitu ta?”

“Gue nggak bawa uang buat bayar angkot”

“… kalau memang takdir mengatakan demikian kita akan bertemu ta”

Sampai hari ini saya adalah orang yang mempercayai takdir. Terkadang apa yang kita rencanakan, sebaik apapun kita berusaha menjalaninya, bisa saja menemui jalan buntu atau jalan yang begitu berbeda. Begitulah yang terjadi dengan Majelis Wali Amanat ITB. Dari yang semulanya direncanakan akan berhenti pada bulan September, serta mengingat surat dari Dirjen Dikti yang menyatakan bahwa tidak akan ada penambahan anggota MWA selain anggota perwakilan mahasiswa, lalu diperpanjang terkait dengan permasalahan program studi dan RKA, sampai akhirnya sekarang diperpanjang lagi hingga Perpres yang akan melengkapi transisi ke statuta berdasarkan PP66 terbit. Pertanyaannya adalah siapa yang tahu kapan Perpres terbit?

Entahlah, mungkin ini realitas yang ada di Indonesia. Saya pun tidak tahu apa-apa tentang hukum, tapi dari yang saya rasakan, sistem hukum di Negara ini kacau. Untuk hal sevital institusi pendidikan saja landasan hukumnya masih berubah-ubah dengan tak pasti. Tak ada yang bisa memberikan janji yang bisa dipegang. DPR yang mulanya mengatakan RUU PT akan disahkan akhir Desember toh sampai detik ini belum berhasil mengesahkannya. Belum lagi inkonsistensi dari Kementerian. Awalnya tidak boleh menambah anggota, eh, nyatanya sekarang justru diperpanjang dengan SK Menteri yang baru. Ah, sebenarnya saya pun tidak terlalu mengerti penyebabnya, bisa saja memang mereka kurang professional atau memang ada faktor politis tertentu.

Setelah turun dari angkot, saya berjalan menuju lantai 2 gedung CCAR. Sembari berjalan, pikiran saya melayang. Miris melihat bibit-bibit korupsi ada pada mahasiswa. Tidak heran jika korupsi menjadi raja di negeri ini. Sedih juga melihat kemahasiswaan yang terlibat politik praktis secara langsung maupun tak langsung.  Dan yang paling aneh adalah ketika dari mahasiswa sudah haus kekuasaan untuk suatu organisasi yang bahkan belum jelas bisa melakukan apa. Cerita ini saya dengar dari senior saya ketika HME se-Indonesia hendak membentuk sebuah forum komunikasi. Ya, seolah-olah dengan menjadi moderator forum tersebut, ada kemenangan yang diperoleh, ada kekuasaan yang diperoleh. Padahal ya, yang namanya amanah, sekecil apapun itu suatu hutang. Tidak seharusnya kita senang ketika mendapatkan amanah tertentu. Bisa jadi amanah tersebut yang akan dapat menghancurkan kita.

Ah, saya jadi teringat yang lebih lucu lagi. Saya jadi ingat cerita Agathon, Ketua Kongres, ketika menghadiri pertemuan legislatif se-Indonesia. Masa iya, ada yang ingin meningkatkan bargaining position legislatif dengan merencanakan konsolidasi gerakan legislative hanya agar legislatif tidak kalah pamor dari eksekutif. Saya jadi bertanya-tanya, apa sebenarnya motivasi dari para aktivis kampus ini? Apakah mereka mencari ketenaran? Apakah mereka mencari peluang untuk mendapatkan fasilitas dari rektoratnya? Mereka yang berdemonstrasi di jalanan, suara siapa yang mereka perjuangkan? Dan ya, saya pun bertanya kepada diri sendiri. Siapa yang saya wakili di MWA ITB? Apa yang telah saya lakukan untuk memperjuangkan kepentingan mereka? Dan saya di sini masih belajar.

Sesampainya di Direktorat Perencanaan, ternyata orang yang akan saya temui, Pak Iwan Johar, justru sedang berada di STEI. Miris. Mungkin inilah gunanya fasilitas komunikasi. Saya memang hanya melakukan kontak via email dan tidak membuat janji terlebih dahulu. Saya pun akhirnya mengambil jalan menuju musholla untuk terlebih dahulu melaksanakan sholat dhuhur.

Seusai melaksanakan sholat, saya akhirnya berkesempatan menemui Pak Iwan. Di sana saya meminta agar dapat diberikan RKA ITB khusus untuk kemahasiswaan, baik dari Dana Masyarakat maupun Dana DIPA.  Dana Masyarakat merupakan dana yang diperoleh ITB dari masyarakat. Jadi uang yang dibayarkan oleh mahasiswa ITB termasuk dalam kategori ini. ITB sendiri yang mengelola uang ini. Sedangkan dana DIPA merupakan dana yang berasal langsung dari Pemerintah dan sudah teralokasikan untuk kegiatan tertentu dan sifatnya tidak dapat digunakan untuk kegiatan lain.

Pak Iwan menyodorkan dua lembar kertas yang berisi anggaran Lembaga Kemahasiswaan yang berhasal dari dana masyarakat sambil sedikit memberikan penjelasan. Lalu, saya juga meminta RKA yang berasal dari Dana DIPA. Pak Iwan sedikit mengedit-edit file excel untuk memilah-milah beberapa artikel yang kurang relevan dengan kemahasiswaan.

“Yang ini tolong jangan dipublish ya, sebab nanti bisa heboh”

“Oh, iya Pak, ini hanya untuk konsumsi pribadi dan mungkin kalangan terbatas.”

Sebagai PJS MWA WM, salah satu hal terpenting yang saya pelajari adalah belajar mengelola informasi. Tidak semua orang memiliki pengetahuan yang sama dengan kita. Memberikan informasi yang tidak pas dengan pengetahuan dan kepentingan seseorang artinya kita tidak menjalankan amanah pada porsinya. Diperlukan kehati-hatian dalam memilah-milah dan menyaring informasi untuk disampaikan kepada setiap orang sesuai dengan kebutuhan.

“Kok saya melihatnya mahasiswa ini tidak percaya ya?”

Ah, saya suka dengan pertanyaan ini. Dari pertanyaan ini, saya jadi mengetahui apa presumsi yang dimiliki oleh Pak Iwan mengenai kedatangan saya. Maklum, sebelumnya saya menghubungi Bu Puti, Wakil Rektor, dan beliau meminta tolong kepada Pak Iwan untuk meladeni saya. Salah satu hal terpenting dalam komunikasi adalah penyamaan suhu. Tanpa suhu dan paradigma yang sama, kita tidak akan bisa menyampaikan pesan kita.

“Sebenarnya bukan tidak percaya Pak. Saya ke sini pengen lihat aja sebenarnya anggaran untuk kemahasiswaan ini berapa sih Pak. Sebab di MWA banyak yang mengatakan ‘kemahasiswaan harus didukung’ tapi masa untuk hal yang positif seperti lomba saja, anak ITB harus kesulitan soal dana.”

Dan setelah itu obrolan berlanjut dengan mengasyikkan. Saya mulai dapat menggali informasi yang mungkin sifatnya agak off the record dari Pak Iwan. Yah untuk hal yang off the record itu, saya mendapat satu kesimpulan. Penyebab suatu sistem tidak berjalan dengan benar adalah ketika pejabat tidak perform sesuai wewenang dan tanggung jawabnya.

Ada beberapa poin penting yang menjadi catatan bagi saya dari perbincangan dengan Pak Iwan. Pertama, beasiswa PPA dan BBM selalu tersisa. Beliau heran, mengapa ada mahasiswa yang memiliki pola pikir lebih baik tidak mendapatkan PPA atau BBM daripada mendapatkan beasiswa tersebut dalam nominal yang sedikit. Ini sedikit menggelitik kepala saya, apa sih yang salah dengan mahasiswa ITB? Namun, di hari itu juga saya mendapatkan jawabannya.

Kedua, Pak Iwan menyayangkan mahasiswa yang tidak menyerahkan LPJ untuk dana yang diterimanya, padahal dana tersebut berasal dari DIPA. Tentu saja yang kelabakan apabila mahasiswa tidak bertanggung jawab atas dana yang diperolehnya adalah Pak Iwan dan kawan-kawan. Dan, tentu saja Pak Iwan dan kawan-kawan akan membagi kepusingan tersebut bersama Lembaga Kemahasiswaan.

“Apa sih masalahnya? Kenapa tidak dikomunikasikan, memangnya sesusah itu bikin LPJ?”

Ini satu hal yang memang saya akui sebagai kondisi nyata mahasiswa ITB. Memang yang namanya membuat LPJ itu lebih susah daripada menghabiskan uang yang diperoleh. Dan ya, salah satu kemampuan paling buruk dari mahasiswa ITB adalah kemampuan untuk berkomunikasi. Banyak hal-hal yang tidak dikomunikasikan dengan baik. Entah memang si orang tersebut tidak memiliki kesadaran untuk berkomunikasi, atau mungkin cara dia berkomunikasi salah. Dalam setiap aktivitas mahasiswa, sering saya menjumpai komunikasi yang salah, komunikasi yang berdasarkan asumsi dan prasangka yang belum dapat dibuktikan kebenarannya.

Ketiga, berbeda dengan Dana Masyakat, Dana DIPA harus digunakan sesuai proposal kegiatan. Pak Iwan mengatakan bahwa beliau menyadari bahwa anggaran ini masih belum dapat memenuhi kegiatan kemahasiswaan. Maka dari itu, tahun lalu ditutup dengan sisa Dana Masyarakat dari kegiatan yang tidak berjalan. Tapi, mau bagaimana lagi, dana yang diajukan dari ITB ke pemerintah belum tentu disetujui seratus persen. Dan salah satu hal yang menjadi masalah adalah, untuk tahun ini Dana DIPA akan terlambat turun karena untuk instansi pendidikan akan menjadi yang paling bontot dalam aliran birokrasi.

Keempat, beliau mengatakan, selayaknya orang perencanaan, bahwa seharusnya mahasiswa dapat merencanakan dengan baik kegiatannya. Apabila terencana dengan baik, bukan tidak mungkin bisa mendapatkan alokasi anggaran dari DM. Jadi seharusnya mahasiswa bisa mulai merencanakan anggaran untuk tahun depan dari bulan Maret tahun ini. Lebih cepat tentu lebih baik menurut orang perencanaan. Sayangnya pada prakteknya kemahasiswaan belum siap untuk hal ini. Mulai dari periodisasi hingga masalah profesionalisme.

Dari obrolan terkait poin ini saya mulai mengerti apa yang sebenarnya menjadi permasalahan. Permasalahannya adalah orang perencanaan bekerja atas data dan fakta berupa angka. Bagi mereka, angka yang logis adalah ketika semua terencana dan sesuai dengan anggaran tahun lalu. Padahal, fakta di lapangan berbeda. Kita tentunya tidak dapat memprediksi siapa yang menang lomba dan harus pergi menghadiri penganugerahan. Kita juga tentunya tidak dapat memprediksi seluruh lomba yang akan diikuti oleh mahasiswa dalam setahun. Dan ya, terkadang dibutuhkan dana-dana taktis dan dana talangan untuk kegiatan yang sifatnya sudah mendesak.

Dan bahkan, beliau juga mengusulkan agar mahasiswa dapat mengajukan barang saja untuk kepentingan lomba. Beliau mengajak mahasiswa untuk berpikir, “jangan nunggu uang, tapi sebenarnya apa sih yang mau dibuat?”. Pada kenyataannya, membeli barang untuk keperluan lomba akan lebih kompleks ketimbang membeli kursi untuk kantor di CC. Namun, saya sendiri tidka merasa Pak Iwan salah. Ya, beliau melaksanakan tugasnya dengan benar sebagai orang yang bertanggung jawab atas manajemen perencanaan. Tapi ya terkadang itu tidak sesuai dengan fakta di lapangan.

Setelah poin yang ingin saya diskusikan dengan Pak Iwan terjawab, saya langsung beranjak dari Annex setelah meminta nomer kontak beliau. Saya berjalan kaki menuju ITB. Lewat di PDAM saya membeli siomay di pinggir jalan setelah teringat bahwa saya belum makan dari pagi.

Sesampainya di kampus, tempat yang pertama saya tuju adalah koperasi KKP untuk membeli air mineral. Tepung-tepung siomay masih terasa menyangkut di tenggorokan. Kemudian, saya segera menuju basement CC Barat, berharap ada Pak Sandro atau Pak Jaji yang bisa saya ajak diskusi. Sayangnya Pak Sandro tidak ada dan sedang ada seorang mahasiswa berdiskusi dengan Pak Jaji di ruangannya. Saya pun menuju sekre KM dan berharap ada orang di sana untuk bisa diajak diskusi.

bersambung..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s