Tentang Gagal dan Sukses Di Kampus

Siapa bilang orang yang sukses adalah orang yang tidak pernah gagal? Siapa bilang kegagalan itu buruk?

Kegagalan adalah anugerah, sebab kita diberikan pembelajaran ekstra. Jika kita bisa menyikapi kegagalan dengan positif, maka kita akan dapat menjadi sosok yang lebih tangguh dari sebelumnya. Persis seperti suku Saiya di komik Dragon Ball yang bertambah kuat jika hampir mati. Persis seperti apa yang dikatakan oleh dosen saya,

“What doesn’t kill you will make you stronger”

Segala kegagalan, selama kita masih hidup setelah kegagalan itu, akan bisa membuat kita jauh lebih kuat juga kita berhasil melewatinya. Saya sendiri merasakan hal itu di kampus. Mulai dari ditolak cewek, mengulang mata kuliah, gagal dalam pemilihan, gagal dalam lomba, semuanya membuat saya menjadi pribadi yang lebih tangguh, dan lebih kuat dari sebelumnya.

Dahulu, boleh dibilang hidup saya perfect. Kegagalan minor tidak pernah berarti dalam kehidupan saya, dan tak pernah mengusik zona nyaman. Saya pun terlena. Menduduki bangku kuliah, saya yang masih merasa sombong dengan hidup yang sempurna, mulai  menerima akibatnya. Segala usaha yang kurang membuat saya gagal. Dan bahkan saya gagal di bidang akademik. Dimulai dari ip semester pertama yang jauh dari target saya, lalu semangat saya yang mulai hilang untuk berkuliah. Saya bahkan merasa ingin pindah. Saya terlalu perfeksionis. Dan parahnya, ketika saya tidak berhasil mencapai kesempurnaan tersebut, saya memilih untuk lari.

Hasilnya adalah tingkat dua saya yang hancur. Bahkan semester empat saya lalui dengan NR dibawah 2.00. Itu adalah suatu pukulan yang berat buat saya. Ditambah lagi, mimpi saya untuk menjadi sesuatu pun gagal, dan juga ada beberapa masalah keluarga yang saya alami. Saat itu, saya merasa dunia sedang terjungkir balik. Saya merasa kecil, lemah, dan begitu terkungkung dalam keterbatasan. Saya ingin lari. Saya ingin memulai lembaran baru di kampus lain, dimana saya masih bisa mendapatkan ip yang sempurna, dimana saya ingin mendapatkan teman-teman baru yang belum memiliki asumsi apapun tentang saya, dimana saya bisa memulai mimpi-mimpi baru.

Ya, saya berpikir untuk kabur dan berlari. Saya berpikir untuk meninggalkan apa yang saya mulai. Saya sempat berpikir untuk menjadi pecundang yang berpikir bahwa dirinya sudah kalah, padahal sisa waktu yang ada masih banyak. Jika diibaratkan bermain billiard bola delapan, saya sudah ingin quit ketika lawan sudah memasukkan empat bola, dan saya belum memasukkan satu bola pun. Padahal toh saya masih bisa menang. Saya tidak memiliki daya juang. Mungkin saat itulah saat dimana saya mengalami down yang parah.

Beruntung. Lingkungan saya, terutama ibu dan eyang, selalu memotivasi saya. Kebetulan mereka selalu menyuruh saya untuk belajar bersyukur, dan salah satu cara untuk bersyukur adalah dengan tidak pernah berhenti berjuang. Peperangan melawan rasa malas, melawan ego, dan pesimisme adalah peperangan yang mulia. Jika kita hanya lari dari suatu keadaan yang buruk tanpa berusaha memperbaikinya, maka ketika ada di lingkungan yang baru pun kita hanya akan menjadi sampah. Dan lebih jauh lagi, sebenarnya, ini semua bukan tentang mengejar nilai yang tinggi, bukan tentang mendapatkan citra dan pengakuan di mata manusia, melainkan bagaimana kita bisa berjuang dalam ber-Tuhan. (jadi inget notes curcol http://www.facebook.com/note.php?note_id=62026805519_ dan http://www.facebook.com/note.php?note_id=104647870519)

Dan ya, waktu itu saya akhirnya mulai berpikir, ini adalah tentang perjuangan. Ini adalah tentang proses, bukan hasil. Bisa saja seseorang meraih hasil yang bagus karena memang dari awal dia tidak pernah berbuat kesalahan. Tapi, seseorang yang bisa bangkit dari kegagalan memiliki nilai tersendiri. Bangkit dari kegagalan dan keterpurukan itu bukan hal yang mudah. Di sinilah karakter sejati seseorang diuji. Dan bahkan Tuhan sendiri telah mengatakan bahwa setiap orang yang mengaku beriman, pasti akan diuji.

Ya, terkadang di dunia ini Tuhan menguji kita dengan kegagalan. Dia buat seluruh mimpi kita hangus. Dia jauhkan kita dari orang yang kita sayangi. Dia ambil apa yang selama ini terus menerus ada di pikiran kita, segala hal yang kita pikirkan siang dan malam, dari kepala kita. Diberikan oleh-Nya kegagalan, meskipun terkadang kita melakukan semua dengan benar, hanya untuk menguji, seberapa kita percaya akan Dia, seberapa kita bisa mengabdi kepada-Nya dan senantiasa mengingat-Nya.

Tapi, jika dipikir-pikir, sebenarnya kita perlu meninjau, apakah proses yang kita lakukan sudah benar atau belum. Kegagalan dengan kesalahan itu ternyata berbeda. Kegagalan adalah suatu kondisi ketika kita sudah berusaha melakukan yang terbaik tapi rencana kita tetap tidak membuahkan hasil. Sedangkan kesalahan adalah ketika kita belum berusaha maksimal. Meskipun keduanya berbeda, keduanya tetap merupakan ujian dari Tuhan.

Jika yang terjadi sesungguhnya adalah yang pertama, yang menjadi tantangan adalah, masihkah kita berprasangka baik kepada Tuhan? Jika yang terjadi adalah yang kedua, bisakah kita belajar dari kesalahan tersebut dan menjadi pengabdi yang lebih baik?

Hasil itu bukanlah akhir dari usaha. Gagal atau sukses dalam berusaha sebenarnya sama saja. Yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana kita bisa menyikapi kegagalan atau kesuksesan dalam mengerjakan rencana kita? Masihkah kita bisa berbagi dengan sesama baik itu di masa kita sedang di atas, maupun di bawah? Bagaimana kita bisa berbagi meskipun kita sendiri masih kekurangan? Bagaimana kita bisa tetap berbuat baik? Bagaimana kita bisa berbagi hikmah dengan sesama manusia?

Maka sejak saat itu, saya berubah.

Saya menjalani hidup dengan mental yang baru. Buat saya kesuksesan bukanlah pencapaian. Kesuksesan adalah sebuah kondisi mental dimana saya dapat menyikapi segala hal dengan positif dan menjalani hidup dalam suka cita. Dan, saat itu ada satu misi yang saya emban:

Saya harus jadi trainer SSDK

Saya ingin mahasiswa baru mendapatkan motivasi, tidak hanya dari orang yang selam hidup di kampus selalu lempeng dalam akademik dan tidak pernah terpuruk. Ya, saya ingin memberikan motivasi kepada mereka bahwa, hidup tak selamanya mudah. Bahwa roda tak selalu di atas, namun kita selalu bisa bangkit.

Dan hasilnya.. Tuhan mengabulkan doa saya. Akhirnya saya berhasil menjadi co-trainer untuk penerimaan mahasiswa baru. Nah, mungkin di sana semua orang mengira bahwa setiap yang menjadi trainer itu selalu ber-IP bagus dan tidak pernah dapet IP jelek. Pada saat training, kebetulan ada mahasiswa yang bertanya tentang bagaimana kalau kita gagal. Saya yakin rekan saya juga tidak pernah menyangka kalau saya pernah mendapatkan ip dibawah 2.00. Tapi saya rasa, saya perlu menceritakan ini buat mereka. Maka dari itu saya ceritakan sedikit tentang bagaimana cara untuk bangkit dari keterpurukan. Saya yakin, perlu ada contoh dari orang sukses yang pernah gagal. Jika semua orang sukses tidak pernah gagal, siapa yang bisa menjadi teladan bagi orang-orang gagal untuk bangkit dari keterpurukannya?

40515_415430599842_4364628_n

Foto bareng para trainer

Sekarang, kalau teringat masa-masa itu, saya hanya bisa tersenyum. Betapa Tuhan tahu bahwa keterpurukan itulah yang saya butuhkan agar saya bisa menjadi seperti sekarang 🙂

Sekarang boleh dibilang, apa yang menjadi visi saya tercapai. Saya mendapatkan ip di atas tiga, memperoleh beberapa penghargaan selama berkuliah, serta mendapatkan banyak kesempatan untuk belajar di organisasi yang saya ikut. Saya yakin semua ini ada hikmah dan kaitannya dengan tujuan penciptaan saya. Dan yang terpenting adalah, saya mulai belajar untuk lebih mengenal Tuhan 🙂

Dan pada akhirnya saya puas telah menimba ilmu di kampus ITB. Puas karena saya telah belajar banyak tentang kehidupan. Di sini saya tidak hanya belajar menjadi mahasiswa yang bisa mengerjakan ujian, mengerjakan tugas akhir dan lulus saja. Di kampus ini saya banyak belajar tentang bagaimana menjadi seorang manusia, dan segala pembelajaran yang saya dapatkan telah merubah definisi sukses dan gagal di kepala saya 🙂

Advertisements

Beberapa Keping Mimpi yang Tercecer di Kampus

*postingan diedit lagi pas lihat foto-fotonya ga bisa dibuka. tapi udah lupa juga fotonya apa aja 😦 akhirnya diganti video youtube aja deh

Di tahun ketiga saya, entah angin mana yang membawa saya, pada akhirnya saya bersama teman-teman yang saya kumpulkan ada pada sebuah keluarga baru. Di keluarga baru itu, kami berbagi gagasan tentang mahasiswa ITB yang semakin kreatif, imajinatif dan visioner. Yang kami bicarakan di situ bukan lagi banyak ribut tentang hal yang selama ini sering diperdebatkan, seperti masalah diksi, esensi, dan tujuan. Yang banyak kami bicarakan di sana adalah hal-hal gila. Ide gila.

Satu hal yang hingga kini saya imani dan yakini. Gagasan dan mimpi adalah awal dari segalanya. Saya sendiri tak pernah menduga bahwa gagasan-gagasan yang waktu itu saya temui, begitu mempengaruhi hidup saya. Sampai akhirnya ketika lulus, saya menyadari bahwa banyak di antara pencapaian penting saya adalah berkat pertemuan saya dengan ide dari mahasiswa-mahasiswa yang telah lebih dahulu meninggalkan kampus ini.

Ketika pertama kali saya didaulat menjadi Presiden I3M, saya mendapatkan warisan berupa ide-ide proyek yang direkomendasikan untuk dilanjutkan. Di antaranya adalah proyek “Multitouch-Screen”, “CampusChannel” dan “Inspire”. Ya, tiga proyek itu adalah proyek “lungsuran” yang sudah antah berantah keadaannya. Anggota proyek yang sudah berkelana entah kemana, atau pimpinan proyeknya susah dihubungi, dan kami saat itu benar-benar kesulitan untuk mem-follow up proyek lungsuran tersebut.

Tapi, ternyata memang benar, mimpi adalah kunci untuk menaklukkan dunia. Mimpi memberikan energi yang lebih bagi seorang manusia. Bagi seseorang yang bisa memiliki pandangan ke depan, mimpi bukanlah omong kosong. Mimpi adalah sebuah gagasan dengan tahapan pencapaian yang jelas. Nyata. Mimpi adalah masa depan yang bisa diprediksi. Dan masa depan ummat manusia, ditentukan oleh mimpi-mimpi yang ada saat ini. Peradaban ditentukan oleh apa yang sedang dikerjakan para ilmuwan, insinyur, sosiolog, pengusaha, pemerintah, dan seluruh lapisan masyarakat pada tempatnya masing-masing.

Continue reading “Beberapa Keping Mimpi yang Tercecer di Kampus”

7 Kesalahan Fatal Seputar Pembuatan Buku Tugas Akhir

Kebetulan saya baru saja mencetak dan menjilid tugas akhir. Ada beberapa pelajaran berharga yang saya ambil dari proses pembuatan buku tugas akhir ini. Saya rasa hal ini perlu saya share di sini agar tidak ada lagi orang-orang yang bernasib sama seperti saya. Inilah, 7 kesalahan fatal seputar pembuatan buku tugas akhir.

1. Salah menuliskan nama pada cover

Seberapa penting sih menuliskan nama pada tugas akhir? Tentu saja sangat penting, karena ini adalah tugas akhir Anda, bukan tugas akhir dari orang lain. Oleh karena itu nama dipampang pada cover tugas akhir.

Nah, jangan lupa untuk menulis nama Anda sesuai dengan akta kelahiran. Jika perlu, mintalah notaris untuk mengecek apakah nama yang Anda tuliskan sudah sesuai atau belum. Ini adalah kasus nyata yang saya alami, dimana saya kurang mengetikkan huruf ‘r’ sehingga nama saya tertulis sebagai “Fiki”.

Nama yang tidak sesuai akta

Kenyataan yang sangat menyakitkan adalah saya salah menuliskan nama sendiri pada cover draft Tugas Akhir. Walhasil, saya menjadi bahan tertawaan pada saat sidang berlangsung. Maka dari itu, pelajaran pertama yang paling penting adalah, cermati cover tugas akhir Anda. Cover adalah bagian terpenting dan dilihat pertama kali.

Ingat, ini adalah pelajaran pertama yang sangat vital dan mendasar!

2. Menuliskan nama pacar pada kata pengantar Continue reading “7 Kesalahan Fatal Seputar Pembuatan Buku Tugas Akhir”

Pelajaran yang Sulit untuk Diajarkan

Hikmah adalah ilmu tertinggi, sulit untuk diajarkan.

Siapa bisa melihat sisi positif dari sebuah perceraian? Siapa bisa melihat sisi positif dari sebuah kebangkrutan? Siapa bisa melihat sisi positif dari sebuah ketidaklulusan? Siapa bisa melihat sisi positif dari sebuah penolakan?

Satu. Lalu,

Pernahkah rasanya ada yang kurang, sekalipun kita berkecukupan? Pernahkah rasanya masih belum puas meskipun kita sudah menjadi yang terbaik? Pernahkah ada keluhan, meskipun semuanya serba nyaman dan penuh keberuntungan?

Nilai Sebuah Kejadian

Pada hakikatnya, setiap kejadian itu netral, tidak ada nilainya. Yang membuat sebuah kejadian menjadi baik atau buruk, benar atau salah, adalah mindset dan value yang kita anut. Ketika kita memiliki kerangka berpikir bahwa musibah selalu negatif, maka kita akan fokus kepada efek negatif dari suatu musibah. Dan tentunya ketika kita dapat memberikan nilai negatif kepada suatu kejadian, artinya kita memiliki informasi pendukung mengenai nilai negatif dari suatu kejadian.

Sebagai contoh, waktu kecil kita banyak mencoba berbagai hal. Sekali waktu, kita mencoba untuk memecahkan gelas. Ketika itu memecahkan gelas merupakan hal yang netral, kita belum memiliki pandangan dan memberikan value kepada aktivitas tersebut. Setelah gelas pecah, bisa jadi orang tua kita memarahi kita. Dari situ, kita mulai mendapatkan informasi dari luar bahwa memecahkan gelas adalah tindakan buruk. Namun, mendapatkan informasi ini bukan berarti menghentikan kita dari memecahkan gelas. Kita masih ingin memecahkan gelas untuk satu kali lagi. Gelas pun pecah kembali. Bedanya, kali ini pecahan belingnya mengenai telapak kaki kita. Hasilnya, kita berdarah dan merasakan sakit. Dari situ, akhirnya kita menyadari bahwa memecahkan gelas itu tindakan negatif yang membahayakan dan merugikan.

Seiring dengan berjalannya waktu, perasaan kita pun terasah. Kita mulai dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain terkait suatu hal. Empati pun mulai terbentuk. Empati ini yang dapat membuat kita turut bersedih ketika orang lain sedih. Sebagai contoh, seorang adik ikut menangis ketika kakaknya dimarahi oleh bapaknya. Munculnya empati ini juga membuat kita menjadi lebih gampang menerima informasi dari luar dan memasukkannya ke dalam value kita. Sehingga, ketika ada seseorang yang menangis, bisa saja kita menganggap orang tersebut adalah pihak yang tersakiti. Kita bisa saja menganggap seseorang yang sebenarnya salah sebagai orang yang benar karena kita berempati.

Dari kumpulan informasi dan empati inilah pola pikir, sudut pandang, serta nilai kita terbentuk. Kemudian dari sini, kita akan dapat memberikan “label” atau “nilai” terhadap segala kejadian yang menimpa kita. Ya, begitulah cara kita memandang dunia. Karena kita tak punya sudut pandang yang komprehensif atas segala sesuatu, kita hanya bisa menilainya secara parsial, sesuai dengan mindset serta value yang kita anut. Kamera kita hanya sebatas itu.

Continue reading “Pelajaran yang Sulit untuk Diajarkan”