Pelajaran yang Sulit untuk Diajarkan

Hikmah adalah ilmu tertinggi, sulit untuk diajarkan.

Siapa bisa melihat sisi positif dari sebuah perceraian? Siapa bisa melihat sisi positif dari sebuah kebangkrutan? Siapa bisa melihat sisi positif dari sebuah ketidaklulusan? Siapa bisa melihat sisi positif dari sebuah penolakan?

Satu. Lalu,

Pernahkah rasanya ada yang kurang, sekalipun kita berkecukupan? Pernahkah rasanya masih belum puas meskipun kita sudah menjadi yang terbaik? Pernahkah ada keluhan, meskipun semuanya serba nyaman dan penuh keberuntungan?

Nilai Sebuah Kejadian

Pada hakikatnya, setiap kejadian itu netral, tidak ada nilainya. Yang membuat sebuah kejadian menjadi baik atau buruk, benar atau salah, adalah mindset dan value yang kita anut. Ketika kita memiliki kerangka berpikir bahwa musibah selalu negatif, maka kita akan fokus kepada efek negatif dari suatu musibah. Dan tentunya ketika kita dapat memberikan nilai negatif kepada suatu kejadian, artinya kita memiliki informasi pendukung mengenai nilai negatif dari suatu kejadian.

Sebagai contoh, waktu kecil kita banyak mencoba berbagai hal. Sekali waktu, kita mencoba untuk memecahkan gelas. Ketika itu memecahkan gelas merupakan hal yang netral, kita belum memiliki pandangan dan memberikan value kepada aktivitas tersebut. Setelah gelas pecah, bisa jadi orang tua kita memarahi kita. Dari situ, kita mulai mendapatkan informasi dari luar bahwa memecahkan gelas adalah tindakan buruk. Namun, mendapatkan informasi ini bukan berarti menghentikan kita dari memecahkan gelas. Kita masih ingin memecahkan gelas untuk satu kali lagi. Gelas pun pecah kembali. Bedanya, kali ini pecahan belingnya mengenai telapak kaki kita. Hasilnya, kita berdarah dan merasakan sakit. Dari situ, akhirnya kita menyadari bahwa memecahkan gelas itu tindakan negatif yang membahayakan dan merugikan.

Seiring dengan berjalannya waktu, perasaan kita pun terasah. Kita mulai dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain terkait suatu hal. Empati pun mulai terbentuk. Empati ini yang dapat membuat kita turut bersedih ketika orang lain sedih. Sebagai contoh, seorang adik ikut menangis ketika kakaknya dimarahi oleh bapaknya. Munculnya empati ini juga membuat kita menjadi lebih gampang menerima informasi dari luar dan memasukkannya ke dalam value kita. Sehingga, ketika ada seseorang yang menangis, bisa saja kita menganggap orang tersebut adalah pihak yang tersakiti. Kita bisa saja menganggap seseorang yang sebenarnya salah sebagai orang yang benar karena kita berempati.

Dari kumpulan informasi dan empati inilah pola pikir, sudut pandang, serta nilai kita terbentuk. Kemudian dari sini, kita akan dapat memberikan “label” atau “nilai” terhadap segala kejadian yang menimpa kita. Ya, begitulah cara kita memandang dunia. Karena kita tak punya sudut pandang yang komprehensif atas segala sesuatu, kita hanya bisa menilainya secara parsial, sesuai dengan mindset serta value yang kita anut. Kamera kita hanya sebatas itu.

Kebijaksanaan

Nah, di dunia ini, konon ada yang disebut kebijaksanaan. Kebijaksanaan ini dimaknai sebagai penggunakan akal budi guna menilai sesuatu dengan lebih cermat. Kebijaksanaan adalah sesuatu yang membuat kita dapat melihat lebih komprehensif dan memiliki kamera yang lebih banyak dalam memandang kejadian yang ada pada hidup.

Sekarang, manusia mana sih yang tidak ingin bahagia? Semua manusia mengejar kebahagiaan, semua orang mengejar senyuman. Sepertinya tidak ada manusia berakal yang bangun dari tidurnya lalu berharap hari ini ia akan menjumpai kesedihan, kegelisahan, dan perasaan negatif lainnya. Perasaan negatif ini sendiri terbentuk dari pikiran-pikiran negatif. Pikiran negatif adalah proses pemaknaan negatif adalah suatu kejadian.

Sebaliknya, untuk dapat menjadi bahagia, seseorang harus selalu bisa mengisi perasaan dan pikirannya dengan hal-hal positif, untuk semua kejadian yang ia alami. Semua. Ya, ternyata hanya itulah satu-satunya cara untuk menang melawan hidup. Kita harus bahagia. Kita harus dapat mengambil sisi positif dari segala sesuatu. Sekalipun selama ini informasi yang kita dapatkan menyatakan bahwa sesuatu itu negatif, kelak ketika kita mengalaminya, kita harus bisa memaknainya dengan positif. Tentu saja keharusan itu menjadi ada ketika kita ingin mengejar kebahagiaan.

Namun, sekarang permasalahannya adalah, bisakah kita mengajarkan kebijaksanaan kepada orang lain? Bisakah kita mengajarkan hikmah yang kita peroleh kepada orang lain? Bahkan kalau di contoh anak memecahkan gelas tadi, si anak baru sadar setelah merasakan efek negatifnya. Itu kebetulan si anak sadar loh, bisa saja si anak tetap mencoba lagi meskipun gelas tadi sudah nyata-nyata melukainya.

Kebijaksanaan adalah ilmu hati. Dia tidak bisa diajarkan dengan matematika saja. Dia datang dari apa yang disebut hati nurani. Sekeras apapun kita belajar mengenai kebijaksanaan, jika hati kita tidak terbuka, maka kita tidak akan memperolehnya. Mungkin itulah kenapa hati disebut sebagai jendela penghubung antara Tuhan dan hamba. Di situlah Tuhan berikan secercah cahaya agar manusia dapat melihat dari sisi lain, dari sudut pandang yang lebih komprehensif, menyibak tabir rencana Tuhan.

Ah, entahlah,

kebijaksanaan buat saya masih menjadi sebuah misteri. Dia adalah misteri dibalik kalimat-kalimat klise yang sehari-hari kita dengar. Dan dari apa yang saya rasakan, kita sedang memiliki kebijaksanaan apabila kita dapat memaknai kalimat-kalimat klise itu sebagai sebuah realitas yang nyata. Karena ketika kita memaknainya sebagai realitas, artinya kita dapat mengakses kamera dari sudut pandang orang-orang yang mengatakan kalimat klise tersebut.

“Happiness is real only when shared”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s