Catatan yang Tak Pernah Selesai

Bumi Medika Ganesha, 28 Maret 2012 2:33

Tak terasa, 7 April 2011 telah lama berlalu. Hari itu begitu berkesan bagi saya. Di hati itu, seorang PJS Ketua Kongres mengirimkan message facebook yang berisi surat keputusan kongres bahwa saya telah resmi menjabat sebagai PJS MWA Wakil Mahasiswa Periode 2011.

Tanpa terasa, waktu berjalan begitu cepat membawa banyak perubahan yang tidak terduga sebelumnya. Mulai dari saya yang berencana lulus Oktober 2011, MWA yang direncanakan akan berakhir di bulan September 2011, serta wacana mengenai akan disahkannya RUU PT di tahun tersebut. Setelah di bulan Januari 2012 lalu saya lulus sidang tugas akhir, kini status saya adalah calon wisudawan April 2012. Sejujurnya, saya sudah membayangkan dari bulan Februari 2012, bahwa perubahan ini terlalu cepat dan tak terduga sehingga apa yang saya takutkan kini terjadi. Yakni, MWA masih ada dan belum ada yang akan menggantikan saya meskipun saya sudah akan wisuda.

 Tak apa, ini merupakan bagian dari dinamika kemahasiswaan yang harus dihadapi. Dan, melalui tulisan ini saya hendak berbagi tentang sedikit pembelajaran, dan menceritakan sedikit cerita seru selama saya menjabat menjadi PJS MWA Wakil Mahasiswa 2011.

Pemira yang Gagal

Berbeda dengan MWA Wakil Mahasiswa beberapa tahun ke belakang, saya tidak mengikuti rangkaian pemira KM ITB. Pemira KM ITB di kala itu telah gagal memilih MWA Wakil Mahasiswa yang baru. Tidak seperti tahun sebelumnya, kali ini Presiden tak lagi diduetkan dengan MWA Wakil Mahasiswa. Entahlah, ketika itu kalau saya tidak salah dengar, alasannya adalah ranah kerja keduanya berbeda, dan juga karena sistem tersebut akan menghalangi calon presiden atau calon MWA yang tidak punya pasangan.

Alasan pertama mungkin benar. Ranah kerja keduanya berbeda, MWA WM merupakan representasi dari mahasiswa ITB di MWA sedangkan Presiden merupakan pimpinan eksekutif KM ITB. Keduanya memang berbeda, namun sangat berkaitan erat. Segala kebijakan yang dibuat di MWA akan memberikan pengaruh bagi KM ITB. Sedangkan yang memiliki wewenang untuk memimpiin dan mengkoordinasikan seluruh lembaga di KM ITB adalah kabinet.

Jika teman-teman mahasiswa mengharapkan ada dampak yang signifikan dari adanya mahasiswa di MWA, maka seharusnya MWA WM dan kabinet haruslah memiliki hubungan yang sangat erat. Harus ada konsistensi dari KM ITB dalam memperjuangkan aspirasi mahasiswa. Tidak heran, sebelum ini Presiden dan MWA Wakil Mahasiswa sempat dijabat oleh orang yang sama. Namun, ketika seseorang merangkap dua jabatan ini, ia haruslah memiliki skill manajemen yang baik dan bisa menempatkan diri dengan baik.

Kantin Salman 3:52

Sedangkan alasan kedua, bisa jadi relevan bisa jadi tidak. Apabila pemisahan keduanya justru mempersulit organisasi dalam mencapai tujuannya maka saya rasa alasan itu tidak relevan. Namun, apabila memang setelah pemisahan tidak terjadi permasalahan, seharusnya pemisahan tersebut tidak perlu dilakukan.

Faktanya adalah pemilu MWA WM mengalami kegagalan. Sedangkan menurut isu terkini kala itu, MWA akan segera berakhir pada September 2011. Oleh karena itu, akhirnya kongres memutuskan untuk menunjuk saya sebagai PJS MWA Wakil Mahasiswa periode 2011.

MWA Belajaran

Dari awal 

Keresahan

Catatan ini tak pernah selesai. Sama seperti petualangan saya yang belum selesai. Sama halnya dengan saya yang masih penasaran tentang banyak hal, tentang kemahasiswaan, tentang ITB, tentang Pendidikan, tentang Hukum, tentang Republik Indonesia. Namun, batas waktunya sudah tiba, selesai atau tidak selesai, catatan itu harus saya kumpulkan. Saya harus memulai sekolah baru, dengan kelas yang baru, pelajaran yang baru. Namun spirit dan roh ke-ITB-an tak boleh padam. Semua pelajaran dan kebijaksanaan yang dapat di masa lalu akan terus saya bawa dalam diri saya.

Semoga kelak catatan ini bisa selesai..

Advertisements

Sedikit Catatan tentang Wisuda Kemarin

Menjadi mahasiswa adalah suatu pilihan sekaligus keberuntungan. Sebagai minoritas, mahasiswa adalah masa dimana seseorang mendapatkan begitu banyak fasilitas lebih. Menjadi mahasiswa itu merdeka. Menjadi mahasiswa itu boleh salah, toh masih belajar. Menyandang status mahasiswa tak jarang membuat seseorang berlaku seenak jidat, merasa bahwa dirinya hebat dan lain sebagainya.

Tapi, status mahasiswa bukanlah status abadi. Jika bisa memilih, tentunya saya akan memilih untuk selamanya menyandang status mahasiswa. Menjadi mahasiswa begitu nyaman, begitu banyak memberikan kemudahan. Namun sayang, tidak seperti ini roda kehidupan berputar. Ada yang namanya batas waktu, ada yang namanya keadilan. Dan akhir dari garis waktu tersebut bernama wisuda.

Saya dan IBMers

Ya, setelah perjuangan yang begitu panjang, dan berbagai aktivitas luar biasa yang saya geluti di kampus, akhirnya saya harus melepas status sebagai mahasiswa. Setelah status mahasiswa ini membawa saya kepada berbagai pengalaman luar biasa, mulai dari seminar satelit, membuat macet eskalator mall, hingga dipanggil menjadi saksi ke kantor polisi, akhirnya status ini hangus juga. Dari yang semula gelar sarjana akan diberikan secara resmi kepada saya tanggal 7 April 2012, akhirnya saya menjalani sebuah seremoni bernama wisuda pada tanggal 14 April 2012.

Ketakutan yang aneh

Sejujurnya pergelutan pemikiran saya mengenai wisuda sendiri sudah berlangsung sejak lama. Tak jarang saya berpikir untuk tidak ikut wisuda. Sejujurnya ada beberapa alasan pribadi yang membuat saya takut untuk wisuda. Aneh ya? Tapi faktanya demikian. Semenjak tingkat dua, saya selalu berharap kelak saya tidak perlu ikut wisuda. Toh, wisuda ini hanya sekedar seremoni. Salaman dengan rektor? Yah sejujurnya saya sudah terlalu sering salaman dengan rektor. Lagipula, saya juga bingung, kenapa orang tua harus susah-susah mengikuti prosesi wisuda yang berbelit-belit dan membosankan. Continue reading “Sedikit Catatan tentang Wisuda Kemarin”

On Becoming a Better Person

I can’t take the speed it’s moving in
I know I can’t
But honestly won’t someone stop this train

Don’t know how else to say it, don’t want to see my parents go
One generation’s length away
From fighting life out on my own

Bait di atas merupakan potongan lagu John Mayer yang akhir-akhir ini begitu terngiang-ngiang di kepala saya. Selain karena saya sedang belajar memainkan lagu ini dengan gitar, saya juga sedang sering-seringnya berkontemplasi tentang lagu ini. Walaupun tidak sepenuhnya sama dengan kondisi saya, tapi lagu ini cukup mencerminkan mengenai perjalanan hidup seseorang. Bukan hanya tentang menjadi tua lalu mati, tetapi untuk berkembang menjadi lebih dewasa.

Tua itu pasti, dewasa itu pilihan. Saya tidak ingin menghabiskan waktu saya untuk menjadi orang yang sombong. Saya tidak ingin kelak, mungkin lima atau sepuluh tahun lagi, ketika saya memperoleh jabatan, harta, serta keluarga yang begitu diidamkan orang, saya menjadi sombong. Saya tidak ingin terjatuh dan mundur. Saya tidak ingin masa tua nanti saya habiskan dengan tidak mengenal arti perjuangan dan tanggung jawab. Kelak saya akan menjadi role model bagi anak-anak saya. Ya, saya memang masih muda, bahkan kepala dua saja pun belum. Tapi, bukan berarti saya harus berhenti belajar bagaimana menjadi manusia dewasa. Masih muda, bukan berarti saya bisa bersenang-senang saja dan larut dalam euforia jiwa muda.

Muda. Saya harus bersyukur. Di usia semuda ini saya telah diberikan berbagai contoh jahat dan baik. Beruntung saya telah mengenal dengan betul mana yang benar dan salah. Sayangnya, perjuangan tidak cukup berhenti sampai di situ. Tidak cukup untuk hanya bisa membedakan yang benar dan salah. Tantangan selanjutnya adalah, hidup memberikan kita pilihan, akankah kita mengikuti kebenaran atau kesalahan? Yang jelas, banyak orang berpikir bertobat itu menunggu tua. Banyak orang berpikir menjadi lebih baik adalah urusan nanti. Muda. Itulah mengapa Tuhan memberikan credit tersendiri bagi manusia yang semenjak masa mudanya telah terbiasa untuk membaca ayat-ayat-Nya serta mengisi hari-hari dengan menyebut nama-Nya.

Namun, lagi-lagi hidup adalah sebuah perjalanan. Hidup adalah tentang kemajuan. Hidup adalah tentang berkembang. Dan muara hidup hanyalah satu, yakni pengabdian kepada Yang Maha Esa. Namun, Tuhan pun telah menetapkan kehidupan manusia ke dalam berbagai tahapan-tahapan. Lahir, tumbuh, dewasa, tua, hingga mati. Sepanjang perjalanan itu, manusia mengalami berbagai fasa dalam hidup. Dan ya, saya merasa bahwa saya sedang berpindah fasa. Dan saya merasakan begitu banyak ketidaknyamanan?

Is it easy to leave our comfort zone? It never is. Finally, i really have to fight on my own. I have to stop complaining and just fight.

Dan saya, sejujurnya masih seorang tukang mengeluh. Apalagi di hari-hari sekarang. Saya yang sedang memulai fasa baru dalam hidup masih terbayang oleh banyak hal di fasa yang lampau. Saya belum bisa legowo untuk meninggalkan urusan-urusan yang telah menemui deadline. Saya mendengar dengan jelas bahwa Bapak Guru telah mengatakan,

“Selesai nggak selesai kumpulkan ya”

Tapi, saya masih belum bisa mengumpulkannya. Entahlah, yang jelas saat ini saya telah berada di kota yang baru. Saya memulai aktivitas baru, pekerjaan baru, teman-teman baru, dengan segala tantangan baru. Saya yang pemalas ini harus belajar untuk bekerja keras. Saya yang begitu semau gue, harus belajar untuk diatur. Sudah terlalu lama saya menjebak diri dalam zona nyaman. Nyaman dalam segala aturan yang dibuat sendiri, nyaman dengan segala kekurangan yang dapat direkayasa sehingga nampak seperti kelebihan.

Ikhlas? Ya saya masih belajar. Terkadang untuk menuruti perintah ibu saja saya masih belum ikhlas. Semalam misalnya. Saya baru datang jam tujuh malam di kos, lalu ibu saya yang sedang di apartemen om saya di Juanda menyuruh saya menginap di sana karena beliau sendirian. Saya sendiri sempat mengeluh. Saya banyak kerjaan, ada web yang harus dikerjakan, ada proposal riset yang mendadak harus dibuat, ada bahan-bahan yang harus dibaca; semalam saya baru datang di malam hari, sudah harus bekerja di malam hari; sebelumnya lagi saya baru dari Bandung; sebelumnya lagi saya baru saja rapat pimpinan KM ITB hingga dini hari; dan saya capek. Namun, jika mengingat apa sebenarnya muara kehidupan ini, saya pun belajar untuk tidak mendengarkan keluhan itu. Saya harus memaksa diri, keluar dari zona nyaman. Saya harus memaksa diri untuk mengabdi kepada orang tua, sebab Tuhan menyuruh saya demikian, dan seharusnya hidup saya untuk Tuhan.

Sesungguhnya, ketika kita tahu bahwa tidak ada yang sia-sia di dunia ini, tidak ada kebaikan yang tidak terbalas, tidak mungkin Tuhan membiarkan kita seperti ini tanpa alasan, maka kita akan malu untuk mengeluh. Ketika menyadari esensi bahwa hidup ini hanyalah sarana agar kita menjadi berpengalaman dalam ber-Tuhan, maka hidup akan terasa ringan. Sayangnya, kesadaran itu tak selamanya ada. Sayangnya kesadaran itu tidak tetap. Yah, sayangnya setan akan terus memusuhi kita hingga mati, dan keimanan pun akan naik turun. Ditambah roda kehidupan yang selalu memaksa kita untuk memilih dari begitu banyak pilihan, dengan investasi, konsekuensi, dan risikonya masing-masing.

Sebelum meninggal, perjalanan ini belum berakhir. Sebelum meninggal, kita tak boleh berhenti belajar. Dan untuk itu, kita tak boleh henti dan lelah berkontemplasi. Tiada boleh menyerah dalam berjuang. Tak boleh sedikit pun kita mengendurkan diri, sebenarnya. Sebenarnya.

Dan, perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.

..life is about progress on becoming a better person.  

Ditulis di McD, sebelum berangkat ke IBM, sambil minum kopi. Ditulis setelah memulai fasa baru sebagai peserta IBM Apprenticeship 2012, sebuah kenyataan yang harus saya syukuri. Alhamdulillah