On Becoming a Better Person

I can’t take the speed it’s moving in
I know I can’t
But honestly won’t someone stop this train

Don’t know how else to say it, don’t want to see my parents go
One generation’s length away
From fighting life out on my own

Bait di atas merupakan potongan lagu John Mayer yang akhir-akhir ini begitu terngiang-ngiang di kepala saya. Selain karena saya sedang belajar memainkan lagu ini dengan gitar, saya juga sedang sering-seringnya berkontemplasi tentang lagu ini. Walaupun tidak sepenuhnya sama dengan kondisi saya, tapi lagu ini cukup mencerminkan mengenai perjalanan hidup seseorang. Bukan hanya tentang menjadi tua lalu mati, tetapi untuk berkembang menjadi lebih dewasa.

Tua itu pasti, dewasa itu pilihan. Saya tidak ingin menghabiskan waktu saya untuk menjadi orang yang sombong. Saya tidak ingin kelak, mungkin lima atau sepuluh tahun lagi, ketika saya memperoleh jabatan, harta, serta keluarga yang begitu diidamkan orang, saya menjadi sombong. Saya tidak ingin terjatuh dan mundur. Saya tidak ingin masa tua nanti saya habiskan dengan tidak mengenal arti perjuangan dan tanggung jawab. Kelak saya akan menjadi role model bagi anak-anak saya. Ya, saya memang masih muda, bahkan kepala dua saja pun belum. Tapi, bukan berarti saya harus berhenti belajar bagaimana menjadi manusia dewasa. Masih muda, bukan berarti saya bisa bersenang-senang saja dan larut dalam euforia jiwa muda.

Muda. Saya harus bersyukur. Di usia semuda ini saya telah diberikan berbagai contoh jahat dan baik. Beruntung saya telah mengenal dengan betul mana yang benar dan salah. Sayangnya, perjuangan tidak cukup berhenti sampai di situ. Tidak cukup untuk hanya bisa membedakan yang benar dan salah. Tantangan selanjutnya adalah, hidup memberikan kita pilihan, akankah kita mengikuti kebenaran atau kesalahan? Yang jelas, banyak orang berpikir bertobat itu menunggu tua. Banyak orang berpikir menjadi lebih baik adalah urusan nanti. Muda. Itulah mengapa Tuhan memberikan credit tersendiri bagi manusia yang semenjak masa mudanya telah terbiasa untuk membaca ayat-ayat-Nya serta mengisi hari-hari dengan menyebut nama-Nya.

Namun, lagi-lagi hidup adalah sebuah perjalanan. Hidup adalah tentang kemajuan. Hidup adalah tentang berkembang. Dan muara hidup hanyalah satu, yakni pengabdian kepada Yang Maha Esa. Namun, Tuhan pun telah menetapkan kehidupan manusia ke dalam berbagai tahapan-tahapan. Lahir, tumbuh, dewasa, tua, hingga mati. Sepanjang perjalanan itu, manusia mengalami berbagai fasa dalam hidup. Dan ya, saya merasa bahwa saya sedang berpindah fasa. Dan saya merasakan begitu banyak ketidaknyamanan?

Is it easy to leave our comfort zone? It never is. Finally, i really have to fight on my own. I have to stop complaining and just fight.

Dan saya, sejujurnya masih seorang tukang mengeluh. Apalagi di hari-hari sekarang. Saya yang sedang memulai fasa baru dalam hidup masih terbayang oleh banyak hal di fasa yang lampau. Saya belum bisa legowo untuk meninggalkan urusan-urusan yang telah menemui deadline. Saya mendengar dengan jelas bahwa Bapak Guru telah mengatakan,

“Selesai nggak selesai kumpulkan ya”

Tapi, saya masih belum bisa mengumpulkannya. Entahlah, yang jelas saat ini saya telah berada di kota yang baru. Saya memulai aktivitas baru, pekerjaan baru, teman-teman baru, dengan segala tantangan baru. Saya yang pemalas ini harus belajar untuk bekerja keras. Saya yang begitu semau gue, harus belajar untuk diatur. Sudah terlalu lama saya menjebak diri dalam zona nyaman. Nyaman dalam segala aturan yang dibuat sendiri, nyaman dengan segala kekurangan yang dapat direkayasa sehingga nampak seperti kelebihan.

Ikhlas? Ya saya masih belajar. Terkadang untuk menuruti perintah ibu saja saya masih belum ikhlas. Semalam misalnya. Saya baru datang jam tujuh malam di kos, lalu ibu saya yang sedang di apartemen om saya di Juanda menyuruh saya menginap di sana karena beliau sendirian. Saya sendiri sempat mengeluh. Saya banyak kerjaan, ada web yang harus dikerjakan, ada proposal riset yang mendadak harus dibuat, ada bahan-bahan yang harus dibaca; semalam saya baru datang di malam hari, sudah harus bekerja di malam hari; sebelumnya lagi saya baru dari Bandung; sebelumnya lagi saya baru saja rapat pimpinan KM ITB hingga dini hari; dan saya capek. Namun, jika mengingat apa sebenarnya muara kehidupan ini, saya pun belajar untuk tidak mendengarkan keluhan itu. Saya harus memaksa diri, keluar dari zona nyaman. Saya harus memaksa diri untuk mengabdi kepada orang tua, sebab Tuhan menyuruh saya demikian, dan seharusnya hidup saya untuk Tuhan.

Sesungguhnya, ketika kita tahu bahwa tidak ada yang sia-sia di dunia ini, tidak ada kebaikan yang tidak terbalas, tidak mungkin Tuhan membiarkan kita seperti ini tanpa alasan, maka kita akan malu untuk mengeluh. Ketika menyadari esensi bahwa hidup ini hanyalah sarana agar kita menjadi berpengalaman dalam ber-Tuhan, maka hidup akan terasa ringan. Sayangnya, kesadaran itu tak selamanya ada. Sayangnya kesadaran itu tidak tetap. Yah, sayangnya setan akan terus memusuhi kita hingga mati, dan keimanan pun akan naik turun. Ditambah roda kehidupan yang selalu memaksa kita untuk memilih dari begitu banyak pilihan, dengan investasi, konsekuensi, dan risikonya masing-masing.

Sebelum meninggal, perjalanan ini belum berakhir. Sebelum meninggal, kita tak boleh berhenti belajar. Dan untuk itu, kita tak boleh henti dan lelah berkontemplasi. Tiada boleh menyerah dalam berjuang. Tak boleh sedikit pun kita mengendurkan diri, sebenarnya. Sebenarnya.

Dan, perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.

..life is about progress on becoming a better person.  

Ditulis di McD, sebelum berangkat ke IBM, sambil minum kopi. Ditulis setelah memulai fasa baru sebagai peserta IBM Apprenticeship 2012, sebuah kenyataan yang harus saya syukuri. Alhamdulillah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s