Sedikit Catatan tentang Wisuda Kemarin

Menjadi mahasiswa adalah suatu pilihan sekaligus keberuntungan. Sebagai minoritas, mahasiswa adalah masa dimana seseorang mendapatkan begitu banyak fasilitas lebih. Menjadi mahasiswa itu merdeka. Menjadi mahasiswa itu boleh salah, toh masih belajar. Menyandang status mahasiswa tak jarang membuat seseorang berlaku seenak jidat, merasa bahwa dirinya hebat dan lain sebagainya.

Tapi, status mahasiswa bukanlah status abadi. Jika bisa memilih, tentunya saya akan memilih untuk selamanya menyandang status mahasiswa. Menjadi mahasiswa begitu nyaman, begitu banyak memberikan kemudahan. Namun sayang, tidak seperti ini roda kehidupan berputar. Ada yang namanya batas waktu, ada yang namanya keadilan. Dan akhir dari garis waktu tersebut bernama wisuda.

Saya dan IBMers

Ya, setelah perjuangan yang begitu panjang, dan berbagai aktivitas luar biasa yang saya geluti di kampus, akhirnya saya harus melepas status sebagai mahasiswa. Setelah status mahasiswa ini membawa saya kepada berbagai pengalaman luar biasa, mulai dari seminar satelit, membuat macet eskalator mall, hingga dipanggil menjadi saksi ke kantor polisi, akhirnya status ini hangus juga. Dari yang semula gelar sarjana akan diberikan secara resmi kepada saya tanggal 7 April 2012, akhirnya saya menjalani sebuah seremoni bernama wisuda pada tanggal 14 April 2012.

Ketakutan yang aneh

Sejujurnya pergelutan pemikiran saya mengenai wisuda sendiri sudah berlangsung sejak lama. Tak jarang saya berpikir untuk tidak ikut wisuda. Sejujurnya ada beberapa alasan pribadi yang membuat saya takut untuk wisuda. Aneh ya? Tapi faktanya demikian. Semenjak tingkat dua, saya selalu berharap kelak saya tidak perlu ikut wisuda. Toh, wisuda ini hanya sekedar seremoni. Salaman dengan rektor? Yah sejujurnya saya sudah terlalu sering salaman dengan rektor. Lagipula, saya juga bingung, kenapa orang tua harus susah-susah mengikuti prosesi wisuda yang berbelit-belit dan membosankan.

Agak freak ya? Tapi sejujurnya saya benar-benar menginginkan masa-masa wisuda itu ditunda entah sampai kapan. Intinya, saya punya ketakutan tersendiri tentang wisuda. Maka dari itu, saya sebenarnya takut datang ke auditorium sabuga sebelum saya diwisuda. Saya pun tidak pernah masuk ke sana, meskipun sebenarnya anggota MWA diundang untuk menghadiri wisuda. Yah, beberapa teman saya yang cukup dekat dengan saya mungkin sudah pernah saya ceritakan tentang hal ini dan mungkin bisa mengerti mengapa ini terjadi.

Ketakutan yang menjadi nyata

Sejujurnya, saya pun sering berdiskusi dengan ibu saya mengenai penting tidaknya wisuda. Mama saya menjawab, “Bener gak mau dateng wisuda? Nanti di akhir-akhir kamu nyesel lho. Mungkin sekarang kamu merasa wisuda nggak penting, tapi suatu saat nanti gimana?”

Ya, sejujurnya itu satu-satunya alasan saya mengikuti wisuda. Preventif. Saya hanya takut suatu saat nanti saya bangun di usia tua dengan penyesalan karena saya tidak datang wisuda. Menyesal karena saya tidak menyalami rektor sebagai wisudawan. Menyesal karena tidak membuat memori yang indah bersama teman-teman di akhir wisuda. Menyesal karena tidak memberikan kesempatan bagi keluarga saya untuk berkumpul bersama. Menyesal karena tidak memberikan kesempatan bagi eyang putri yang sudah begitu lanjut usia untuk datang ke wisuda salah satu cucunya.

Dan begitulah, semenjak sidang tugas akhir selesai, saya pun berusaha menghilangkan ketakutan tersebut. Saya berusaha memikirkan hal-hal positif tentang wisuda. Saya akan datang wisuda, membuat kenangan yang indah di akhir status mahasiswa, sebagai bentuk rasa syukur saya. Dan saya tak perlu takut…

salah satu yang saya lewatkan..

Tapi terkadang hidup tidak berjalan sebagaimana yang kita inginkan. Tentunya sebagian besar dari kita pernah mendengar konsep law of attraction. Di situ disebutkan bahwa hal-hal yang sering kita pikirkan dan rasakan akan memberikan perintah kepada alam untuk mewujudkannya. Nah, di sini akhirnya saya benar-benar merasakan efeknya. Menjelang wisuda, tiba-tiba saja saya jatuh sakit. Kebetulan saya sudah mulai magang di IBM Apprenticeship dan perlu banyak beradaptasi dalam pola hidup. Dan sejujurnya transisi dari mahasiswa menjadi sarjana bukanlah hal yang mudah, apalagi jika anda masih menyisakan banyak “hutang” di kampus. Karena kondisi fisik yang menurun dan stres emosional, akhirnya virus penyebab cacar air yang masih hinggap dalam tubuh saya pun bangkit menjadi cacar api atau herpes zoster. Saya pun akhirnya tidak mengikuti beberapa rangkaian acara syukwis, seperti foto toga bersama wisudawan yang lain.

Saya, mama, dan Ican

Tidak hanya sampai di situ. Meskipun saya sudah memesan tempat untuk 6 orang pada syukuran wisuda HME ITB, kecelakaan kecil terjadi. Kaki eyang putri terkena beling di hotel pada sore sebelum acara malam. Hal ini menyebabkan saya datang ke acara malam hanya bersama mama dan adik saya, Ican. Padahal acara malam ini keren banget. Sejujurnya saya merasa wisudaan akan garing jika tanpa ada acara malam yang diselenggarakan oleh HME ITB.

Contoh kerennya acara malam

No matter the circumstances, we can always fight!

Karena saya tidak ingin suatu saat menyesal. Itulah alasan kenapa saya ikut wisuda. Dan akhirnya…

Akhirnya saya menjalani wisuda dengan puas. Meskipun masih ada sedikit penyesalan karena tidak banyak berfoto dengan kawan-kawan dari jurusan lain.

Terima kasih kepada orang tua saya dan seluruh keluarga besar yang telah membantu saya selama ini, yang telah mendidik saya.. Terima kasih untuk teman-teman tercinta yang telah membantu saya menjadi lebih dewasa dan menjadi pribadi yang lebih baik.. Terima kasih untuk seluruh kawan-kawan yang aktif di kemahasiswaan ITB untuk memberikan banyak pengalaman berharga, bunga, dan coklat.. Serta terima kasih untuk ITB, rektorat, MWA, para dosen, para pegawai, yang telah menempa diri saya sehingga akhirnya saya bisa menyandang gelar sarjana.

Demikianlah sedikit catatan kecil yang begitu tidak penting tentang wisuda. Namun, rasa-rasanya kelak saya akan tertawa ketika membaca tulisan ini. Dan mungkin tersenyum. Sebab, pada akhirnya saya diwisuda😀

Salam hangat,

Syarif Rousyan Fikri, ST

Terima kasih Tuhan telah mengabulkan doa saya. Akhirnya ini adalah salah satu dari dua wisuda saya yang dihadiri oleh anggota keluarga lengkap. Terima kasih untuk mengabulkan segala doa, termasuk doa-doa remeh yang beneran tidak penting. Fakta bahwa akhirnya saya bisa berfoto bersama seseorang, adalah salah satu doa paling tidak penting, yang akhirnya Engkau kabulkan. 

One thought on “Sedikit Catatan tentang Wisuda Kemarin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s