Memantapkan Hati

Sulit untuk berpikir bahwa situasi ini akan terjadi. Situasi dimana saya akhirnya mendapatkan letter of offer untuk melanjutkan studi untuk Ph.D di NTU. Bayangkan saja, semasa kuliah, saya sama sekali tidak nampak seperti akademisi. Saya adalah tukang bolos yang banyak mengisi waktu perkuliahan dengan melakukan hal yang saya senangi, berorganisasi. Saya adalah mahasiswa yang lebih memilih kuliah yang tidak mementingkan absensi. Ya, saya hanyalah salah seorang mahasiswa yang pernah mengakhiri semesternya dengan nilai rata-rata di bawah 2.00.

Kalau sudah begini, rasa-rasanya saya hanya bisa meyakini bahwa Tuhan punya rencana buat saya. Saya yakin, kejadian ketika saya dilantik menjadi PJS MWA, mengikuti lomba roket, hingga terlambat mengurus nilai tugas akhir, punya maksud untuk membawa saya pada saat ini. Entah mengapa semua kejadian itu membuat saya harus tetap di kampus untuk menjalani semester sembilan. Hal ini memberikan kesempatan bagi saya untuk secara coincidence menghadiri presentasi NTU, mengambil Technical Proficiency Test dan English Proficiency Test. Dan bahkan, partisipasi saya di INAICTA, maupun keikutsertaan saya proyek ITB-SAT, telah membantu saya menuliskan tentang aktivitas riset saya yang juga saya cantumkan pada pendaftaran. Tentunya itu semua bukan kebetulan, pasti sudah ada yang mengatur ini semua. Siapa lagi kalau bukan Tuhan.

Sebenarnya dari beberapa minggu lalu, ketika mendapatkan email bahwa saya mendapatkan offer, saya masih merasa ini mimpi. Saya takut jika ini semua hanyalah ilusi dan saya terlanjur berekspektasi. Terkadang saya berkata dalam hati, “Tuhan, jika ini mimpi tolong segera bangunkan saya.”

Ya, saya sebegitu belum merasa ini masuk akal. Saya? Mendapatkan kesempatan untuk sekolah lagi? Bahkan S3?

Mungkinkah ini nyata?

Lalu, saya kembali berpikir, “Bukankah ini doa yang selalu saya panjatkan semenjak bulan desember?”

Ya Tuhan, jika NTU memang jalan terbaik bagiku maka tolong permudahlah jalanku kesana. Namun, jika bukan, maka tunjukilah aku jalan yang terbaik bagiku.

Dan, bukankah memang ini yang saya tunggu-tunggu. Bukankah memang ini yang setelah menimbang-nimbang beberapa hal, menjadi salah satu rencana yang selalu ada di dalam doa?

Ketika akhirnya telepon genggam itu berdering dan ibu saya berkata bahwa surat itu sudah sampai, saya pun mulai yakin bahwa ini bukan mimpi. Ini adalah kado ulang tahun dari Tuhan buat saya. Entahlah, karena sebenarnya saya merasa tidak pantas mendapatkan ini, saya jadi berpikir positif, mungkin ini adalah salah satu hadiah Tuhan supaya saya semakin beriman kepada-Nya dan wali-wali-Nya.

Lalu akhirnya, saya harus memantapkan diri sendiri. Jauh di lubuk hati yang terdalam, saya merasa takut. Ada perasaan takut gagal. Ini adalah salah satu kesempatan yang membuat saya takut. Ini bukanlah zona nyaman seperti biasanya, dimana saya telah yakin bahwa saya akan berhasil. Kali ini, saya merasa takut. Dan ketakutan inilah yang perlu segera saya hilangkan.

Memantapkan hati. Itulah yang harus saya lakukan sekarang. Saya harus yakin bahwa ini adalah satu langkah kecil untuk bisa mencapai cita-cita masa kecil saya.

Ilmuwan yang beriman

Tuhan dan wali-wali-Nya telah provide kesempatan itu untuk saya. Dan saya harus yakin. Tidak boleh setengah-setengah, tidak boleh takut, dan tidak boleh mengatakan tidak bisa. Saya harus optimis bahwa ini adalah salah satu wahana bagi saya untuk meningkatkan kualitas diri, agar kelak bisa lebih berguna bagi sesama.

Ya, saya pasti bisa. Toh, semua yang menuntut ilmu di sana juga manusia. Toh, ada juga kok orang Indonesia yang juga bisa lulus dari sana. Toh, ada juga orang Jogja yang survive di sana. Terkadang kita perlu melihat orang lain agar kita bisa termotivasi. Bukan untuk sombong, tetapi agar kita menjadi lebih respek kepada mereka dan agar kita punya semangat untuk bisa berusaha keras supaya bisa seperti mereka, bahkan lebih baik.

Sekarang ini saya harus banyak memantapkan hati, dan tentunya ini saat yang tepat untuk kembali kepada Tuhan, dan lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Semoga Tuhan senantiasa memberikan daya untuk itu. Amin

“Eyang lagi puasa nadzar karena cucunya keterima NTU,” kata mama saya via telepon, beberapa minggu lalu

2 thoughts on “Memantapkan Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s